Biasanya Dia Menyapu Pagi-pagi…
Juni 14th, 2007 by tia
Untuk anda yang masih punya orang tua, rawatlah dan kasihilah mereka…sebelum semuanya terlambat…
Masih kuingat jelas setahun yang lalu saat pagi menjelang, sosoknya yang tinggi besar sibuk menyapu jalanan depan rumahnya. Tak dihiraukan debu-debu beterbangan yang mungkin akan menyerbu ke dalam pernafasannya.
“Rajin sekali Pak, pagi-pagi begini sudah menyapu jalan.” Sapa Ibuku yang kebetulan lewat sehabis shalat Shubuh berjamaah.
“Kan biar kalau Ibu Wuri (nama samaran) lewat, jalanannya sudah bersih,” canda Pak Sony (nama samaran). Aku yang saat itu menemani Ibu, ikutan tersenyum. Pak Sony memang hebat, daun-daun yang berserakan di jalanan disapu habis oleh beliau. Gayanya bahkan mengalahkan tukang sapu jalanan yang paling rajin sekalipun..
Namun, kami tidak akan pernah melihat sosoknya lagi di pagi buta dengan sebatang sapu ijuk di tangannya. Ya..tetanggaku itu, Pak Sony atau biasa dipanggil Pak Son (nama samaran) atau Oom Son sudah meninggalkan kami semua pada hari Selasa tanggal 16 Juli 2007 jam 11 pagi. Sejak sakit keras yang dideritanya, Pak Sony harus rela menjalani operasi otak dan ternyata, keadaannya makin memburuk pasca operasi tersebut. Mulai tahun lalu hingga menjelang kepergiannya, Pak Sony lebih sering tinggal di rumah ditemani kursi rodanya dan istri tercinta. Selasa itu, beliau meninggal dunia dengan tenang tanpa ditemani putri kesayangannya yang sedang bermukim di Inggris. Hanya cucunya Alan (nama samaran) yang menangis tersedu-sedu menyaksikan sang kakek meninggal dunia tanpa menunggunya pulang sekolah.
Sayang memang…pria ramah itu harus pergi dalam keadaan sakit dan menderita seperti itu tanpa ditemani putri tercinta yang tak pernah pulang ke Indonesia semenjak ia sakit keras. Apakah itu memang jalan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa? Atau, mungkinkah seharusnya ada ‘effort’ yang lebih dari keluarga dekatnya untuk merawat beliau?
Rasanya, miris hati ini melihat beliau yang dalam keadaan payah, tidak ditemani oleh anak-anaknya. Padahal, beliau memiliki dua putra dan satu putri. Dua putranya sudah berkeluarga dan mereka tinggal hanya berjarak satu rumah dari Pak Sony. Namun menurut Ibu mereka, dua putranya itu sibuk dengan keluarga mereka masing-masing. Sementara, putrinya yang tinggal di Inggris dan bekerja di sana, menolak pulang dengan alasan akan sulit mendapat visa lagi kalo kembali ke Indonesia. Ah..mengingatkanku pada Kisah sinetron “Hidayah” di televisi, tentang anak yang d*rh*ka, yang lebih mementingkan duniawi daripada merawat orang tua yang sedang sakit.
Naudzubillamindzalik…mudah-mudahan, kejadian ini tidak menimpa keluargaku…