Aku kembali menatap cermin berkali-kali dan memandangi wajahku dengan sangat keras. Hidup ini keras! Maka aku menganggap bahwa aku juga harus bisa menjalaninya dengan penuh ketegaran. Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi apa pun yang aku mau. Tidak ada yang boleh menyakitiku, walaupun hanya berwujud setitik air hujan.
Kadang aku bertanya mengapa aku bersikap seperti ini?? Pertanyaan itu terus menghantuiku dan bukan hanya aku yang bertanya, tetapi juga teman-teman yang sudah lama mengenalku. Lalu bagaimana dengan orang tua? Mereka seakan tidak pernah peduli akan hidupku. Bagiku, hidupku adalah hidupku! Tidak ada yang bisa mengatur apa yang akan terjadi termasuk kedua orang tuaku.
Itulah sebabnya aku tidak ingin lagi mengingat lagi kejadian-kejadian yang membuatku menjadi seperti ini. Kalau saja aku disuruh bercerita tentang hidupku, aku tidak tahu apa yang harus aku ceritakan… Rasa-rasanya aku tidak punya musuh..
Mudah untuk melupakan apa yang telah terjadi..
Itulah aku selama ini..
* * *
Tiba-tiba aku mendengar telepon rumahku berdering. Sebenarnya aku sangat malas untuk ke bawah hanya untuk mengangkat telepon. Hanya saja hari ini tidak ada orang di rumah dan mau tidak mau harus kuangkat.
“Hallo!” sapaku ketika aku mengangkat telepon dengan nada bersungut-sungut.
“Sus, duh, gua lagi ada masalah neh sama bonyok gua. Kayanya dia orang gak sayang ama gua. Gua tersinggung ama perkataan mereka. Gua gak tau musti ngapain lagi. Malah hari ini gua lagi berantem ama Andre! Gua cuma bisa cerita sama loe karena loe sahabat gua.” jawab Amel sambil menangis terisak-isak.
“Duh, Mel, please ya jangan pernah loe ngeluh-ngeluh yang kaga-kaga di depan gua! Apalagi sambil nangis-nangis segala macem! Loe cengeng banget sich?! Loe musti kuat! Jangan ampe orang anggep loe lemah gara-gara masalah sepele!” sahutku sambil menunjukkan nada suara seperti orang yang sedang darah tinggi.
* * *
Amel terdiam sejenak dan tidak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya bisa menahan tangisan di telepon namun aku yakin dia tidak mampu menahan tangisan itu. Tangisannyapun semakin kencang di telepon. Aku semakin kesal. Ingin kumaki-maki lagi dirinya, namun jujur sebenarnya aku tidak tega.
“Ya udah deh, sorry banget ya, Sus kalo gua uda ganggu loe. Gua lupa kalo loe punya prinsip gak mau nangis dan loe gak suka orang cengeng.” tutur Amel dengan terbata-bata karena menahan tangisan.
“Btw, thanks buat apa yang loe uda lakuin buat gua. Gua juga berharap bisa jadi orang kaya loe.” tambah Amel sambil menutup telepon.
* * *
Akupun kembali masuk ke kamar dan langung berbaring di atas tempat tidurku yang dibalut dengan sprei bergambar Hello Kitty yang berwarna merah muda. Gambar dan warna sprei itu terasa cengeng untuk orang seperti aku tetapi aku sendirilah yang memilih sprei itu untuk aku beli dan tidak ada yang memaksaku.
Di sisi lain aku merasa puas karena bisa menunjukkan bahwa aku adalah orang yang sangat kuat, tidak cengeng, bahkan sudah sangat lama aku tidak menangis lagi. Aku bisa menahan air mataku ketika mau keluar. Aku juga sudah lama tidak menonton film-film roman picisan yang kata orang bisa membuat hati tersentuh lalu menangis.
Namun, di sisi lain aku merasa sangat bersalah terhadap Amel tidak seharusnya aku berkata kasar kepadanya. Hal ini membuat aku terpaksa berpikir apa yang harus aku lakukan? Sambil memegang bingkai foto dan memandangi foto kami berempat, aku, Amel, Linda, dan Dina pada saat berada di Puncak sambil bergaya gila-gilaan, aku jadi ingat begitu berharganya persahabatan kami.
Aku jadi tersenyum sendiri dan aku sangat tidak ingin kehilangan mereka, termasuk Amel. Pasti amel sangat shock karena perkataanku. Aku yang selama ini sangat ramah, suka bercanda, suka tertawa sangat kencang, dan aku juga pendengar yang baik tiba-tiba menjadi…
Hal ini tidak akan bisa mengubah prinsipku untuk tidak cengeng. Biarlah mereka tahu aku seperti apa. Mereka juga harus bisa menerima diriku apa adanya. Kupikir itu sangat penting dalam persahabatan. Namun, mengapa aku menjadi sangat egois?? Aku ingin mereka menerima diriku yang tidak suka menangis, keras dan tidak bisa menghargai perasaan orang lain tetapi aku tidak dapat menerima Amel yang apa adanya dengan sifatnya yang sangat ‘berperasaan’ itu.
“Praaanggg!” ternyata pajangan berbentuk aquarium kecil kesayanganku tempat menaruh seribu bangau pecah karena aku tidak sengaja menyenggolnya.
Kupandangi seribu bangau warna-warni yang beberapa tahun lalu pernah kubuat sebagai tanda bahwa aku punya harapan yang banyak dan suatu hari bisa terkabul. Tiba-tiba aku merasa sangat cengeng akan hal itu. Mana mungkin hanya dengan membuat seribu bangau dan mengucapkan harapan-harapan, impian bisa terkabul? Sangat tidak realistis. Akhirnya aku harus membersihkan pecahan aquarium dan ini sangat menyita waktu tidurku!
“Hoaamm!” akupun menguap dengan sangat kencang dan kupikir memang sudah waktunya tidur.
Sambil melihat ke arah jam dinding yang berdesain Barbie Swan Lake ternyata sudah pukul 11 malam. Lagi-lagi aku memandang jam dinding itu sangat cengeng. Sangat tidak cocok dengan jiwaku yang keras. Namun, mengapa aku yang mau membelinya??
* * *
“Gubrakkkkkk!!!!! Arggghhh!!!! Kurang ajar setan apa yang membuatku terbangun dengan cara konyol seperti ini?” teriakku ketika terjatuh dari ranjang.
Kepalaku sangat berat.. “Jam berapa sekarang?” tanyaku dalam hati.
“Duh, gelap sekali!” keluhku.
Aku melihat ke HPku. Ternyata, waktu masih menunjukkan pukul 04.00 pagi dan bukan waktu yang tepat untuk bangun pagi karena biasanya aku bangun pukul 05.30 pagi.
Lagi-lagi aku melihat hal yang cengeng karena casing HPku bermotif pinky pig yang seharusnya aku hindari karena aku bukan orang cengeng seperti cewek-cewek pada umumnya.
Kalau aku bangun sepagi ini, pasti nanti di kelas aku akan ngantuk setengah mati. Aku memutuskan untuk tidur lagi. Namun, terasa begitu berat dan sulit untuk tidur lagi. Jika aku tidur lagi mungkin bisa kebablasan dan telat lagi. Benar-benar tidak bisa untuk kembali tidur lagi.
“Ah, cengeng sekali rasanya!” ungkapku kesal.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 05.30 pagi dan alarm HP pun berbunyi. Sekarang baru terasa kalau aku tiba-tiba kembali ngantuk dan rasanya sangat berat untuk sekolah.
“Duhhh… aduh!” sungutku.
Lagi-lagi aku mengalami pagi hari yang tidak ceria karena kurang tidur dan harus menghadapi pelajaran yang membosankan. Namun, aku baru ingat bahwa aku harus tegar dan tidak boleh cengeng dalam menghadapi masalah seperti ini yang sebenarnya bukan masalah besar.
* * *
Karena sifatku yang tidak mau rugi, aku sampai di kelas dengan waktu yang sangat mepet dan pas-pas an. Kupikir yang penting tidak telat dan kena hukuman satpam yang sangat pelit untuk mengizinkan pintu pagar dibuka. Lagipula, hari ini tidak ada PR yang harus kukumpul. Sehingga, tidak perlu datang pagi-pagi untuk membooking PR dan menyalinnya dengan cepat.
Aku sangat tidak heran hari ini sangat berisik sekali di kelas. Maklum, hari rabu pagi adalah pelajaran geografi yang diajar oleh ibu Rina Ronald yang suka telat sampai setengah jam lebih. Pelit nilai pula dan lebih sayang dengan anak cowok dibandingkan anak cewek. Sangat centil dan menurutku dia adalah guru cengeng yang haus belaian pria.
Sudah jam 07.30 tetapi ia belum datang juga. Di kelas aku selalu bosan karena aku tidak sekelas dengan ketiga sahabatku itu. Aku lebih sering ngobrol dengan Billie, teman sebangkuku yang menurutku sangat madesu, culun, takut tinggi pula. Sangat cengeng untuk ukuran anak cowok, menurutku. Namun, ia teman yang baik, selalu menghiburku di saat aku sedang BT dan menjadi andalanku jika mengerjakan soal ulangan yang sulit.
“Oei, Sus, kok kayanya hari ini tampang loe pucet abiz kaya orang yang kurang tidur, trus kok mata loe merah? Ada apa gerangan? Huahahaha.” tanya Billie usil.
Aku terdiam sejenak.. Kalau soal wajah pucat yang kurang tidur, aku yakin dia pasti tau kebiasaanku yang suka tidur malam.. Kalau soal mata merah?? Mungkin aku bisa membohongi orang lain tetapi tak bisa kupungkiri bahwa aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku sebenarnya sedang menahan tangis karena masalahku dengan Amel kemarin. Aku sangat takut kehilangan sahabatku karena keegoisanku. Berkali-kali aku berusaha menahan agar air mata tidak keluar, capek sekali rasanya. Berpura-pura mengucek mata dengan alasan sedang mengalami iritasi mata.
“Gak, kenapa-napa kok.. kan loe tau gua suka tidur malem. Ude gitu kemarin gua lupa copotin softlense jadi ya beginilah akibatnya. Hehehe.” jawabku sambil tersenyum kecil.
“Ouw gitu.. Makanya jangan kebiasaan tidur malem-malem. Bahaya tau kalo lupa copotin softlense. Hehehe.” tegur Billie sambil menepuk pundakku.
“Loe kalo ada masalah cerita-cerita ya, sama gua! Kan gua pendengar yang baek. Gua tau dibalik sifat gahar dan judes loe yang gak suka dengan kecengengan, sebenarnya loe punya hati yang lembut dan loe sangat menghargai persahabatan..” ucap Billie sambil menyodorkan tissue ke arahku.
Kata-kata Billie sangat membuatku tertemplak. Sepertinya, ia sangat peka akan apa yang aku alami. Namun, ia tidak ingin membuatku malu di depannya. Hanya saja aku yang terlalu bodoh! Tidak berani mengungkapkan perasaaan yang sebenarnya. Aku tidak berani berkata apa-apa lagi karena jika aku melawan kata-katanya atau mengatakan sejujurnya aku pasti akan menangis kejar di dalam kelas.
Beberapa menit kemudian, ibu Rina Ronald datang dengan memakai baju renda-renda berwarna merah menyala, dihiasi dengan kalung mutiara besar-besar, bawahan rok panjang seperti yang dipakai oleh Shan Cai dalam serial Meteor Garden berwarna hijau tua, dan memakai sepatu balet berwarna pink. Hal itu membuat anak-anak tertawa kecil dengan gaya meledek. Aku hanya tersenyum sedikit, tidak bisa tertawa riang karena aku berusaha melawan tangis.
* * *
“Teng.. Tong.. Teng.. Tong!” bel pulang sekolah pun berbunyi.
Inilah saat-saat yang paling ditunggu oleh anak-anak sekolah dimanapun. Akupun juga demikian.
Dari awal pelajaran, istirahat, sampai pulang sekolah, aku tidak berani menghampiri ketiga sahabatku. Aku seperti seorang pengecut yang tidak berani mengaku salah. Amelpun dari tadi kelihatan sangat takut untuk menghampiriku. Bahkan, Dina dan Linda sangat cuek dan tidak berkata apa-apa kepadaku. Aku yakin, mereka pasti lebih berpihak pada Amel yang dalam kasus ini berada dalam posisi lemah karena ditindas olehku.
Dari pagi aku hanya bisa menahan tangis. Walaupun kurang tidur, dan menghadapi rasa kantuk yang berat tetapi kegiatan menahan tangisku mengalahkan rasa kantukku. Aku tidak berani menatap wajahku di cermin. Pasti sangat jelek dan pucat. Orang-orang saja sangat heran menghadapi tingkah lakuku hari ini. Ada yang ‘prihatin’ karena ‘iritasi’ mataku, dan ada juga yang cuek.
“Sus, hari ini pulang sama siapa? Mau bareng gak?” tawar Billie sambil membereskan alat tulis dan bukunya.
Buku Matematikanya terjatuh..
“Thanks, gua hari ini pulang sendiri aja, gak usah repot-repot. Heheheh..” jawabku sambil mengambilkan buku Matematikanya yang terjatuh sembari tersenyum ringan.
“Mangnya hari ini gak pulang bareng Amel, dkk?” tanya Billie heran.
“Ehmmm… Gak, mereka ada urusan laen jadi ya gitu dech.” jawabku dengan penuh kebohongan.
Aku langsung pergi meninggalkan Billie. Lagi-lagi aku membohonginya pada hari yang sama. Perasaan bersalahpun muncul dan aku sungguh merasa tidak pantas bergaul dengan orang baik seperti Billie.
* * *
Aku memutuskan untuk pulang jalan kaki dan tidak mempedulikan betapa teriknya sinar matahari yang membakar tubuhku. Berjalan kaki sambil menahan tangis sangat tidak menyenangkan, namun aku membiarkan diriku sendiri tersiksa. Aku terus bertekad untuk tidak menangis walaupun tidak ada yang melihat.
Aku hanya bisa berjalan menunduk dan akupun tidak sengaja menabrak seorang gadis kecil. Aku melihat dari atas ke bawah, tubuh gadis kecil itu penuh dengan lebam-lebam yang berwarna ungu, kebiru-biruan, bahkan ada yang sedikit berdarah. Aku melihat dengan heran dan aku merasa sangat kasihan. Air mata menetes sedikit di pipiku. Langsung kuhapus agar tidak berlanjut menjadi tangisan cengeng.
Hal ini membuatku bingung harus berbuat apa. Secara reflek, aku mengeluarkan semua uang saku yang ada pada dompetku dan memberikannya pada anak itu karena aku melihat sepertinya ia sangat lapar. Lalu aku langsung berlari karena jika aku berbincang-bincang pada anak itu, aku takut akan menangis sejadi-jadinya.
* * *
Aku sangat lega ketika aku sudah sampai di rumah dan langsung menuju ke kamar. Bebas dari pelajaran yang membosankan dan kegiatan menahan tangis. Aku sudah tidak bisa menahan air mata jatuh keluar dan aku menangis sekejar-kejarnya di atas bantal hati yang berbulu halus itu. Aku merasa sangat nyaman.
Tiba-tiba ada bisikan di hatiku untuk membuka laci kedua dari bawah pada meja belajarku. Di dalamnya terdapat sebuah buku yang kuberi judul sendiri: ‘Luka Batin’. Aku membaca setiap lembar demi lembar untuk mengingat kembali apa saja yang kuisi di buku bergambar daun-daun yang berguguran di taman yang hanya ada seorang anak kecil, yang menurutku sangat malang nasibnya. Banyak luka, kekecewaan, pelecehan, trauma, dan kejadian lain yang membuat dadaku sakit ketika membacanya.
HP dari dalam tas sekolahku bergetar.. dengan cepat aku mengeluarkannya dari tas. Ternyata.. SMS dari Billie yang berbunyi: Keterbukaan dan mengampuni adalah awal dari pemulihan. Hati yang lembut dan mudah tersentuh bukanlah kelemahan dan bukan hal yang CENGENG. Kamu adalah sahabatku yang tegar namun punya hati yang lembut dan belas kasihan. God bless.. : )
Aku tersenyum kecil walaupun air mata tidak berhenti mengalir di pipi dengan deras. Namun, kini aku tahu apa yang harus aku lakukan.. Aku harus bisa terbuka dengan sahabatku dan harus bisa mengampuni orang-orang yang pernah melukaiku. Dan yang paling penting, aku harus punya keberanian untuk langsung menelepon Amel. Sekarang juga!