Tiga Puluh Dua
Juni 6th, 2007 by haryobagushandoko
“Kreeek !”
Kain jarik Mbok Supiyah robek. Mbok Supiyah jatuh berdebum sesaat setelah kain jariknya tersangkut pagar depan rumah juragan Suparna. Bu Suparna berteriak kaget. Istri juragan Suparna itu hendak berlari membukakan pintu pagar depan. Tetapi ternyata semua sudah terlambat. Mbok Supiyah, pembantu rumah tangganya yang tidak sabaran sudah terlebih dahulu memanjat pintu pagar besi yang tingginya dua meter itu. Mbok Supiyah sudah berumur lebih dari lima puluh tahun. Wanita tua itu terkenal keras kepala dan mau menangnya sendiri. Tidak jarang ia sering membantah segala apa yang dikatakan oleh juragannya. Namun keluarga Suparna tak sampai hati untuk memecat Mbok Supiyah yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri. Kali ini ulah Mbok Supiyah membikin heboh seisi rumah. Mbok Supiyah pingsan ! Rupanya wanita tua itu hendak bermaksud pergi berbelanja pagi-pagi, namun kali ini ia sungguh jengkel karena pintu pagar depan belum juga dibuka, sedangkan ia lupa di mana terakhir kali ia menaruh kunci gembok pagar depan rumah juragannya itu. Akhirnya dengan nekad Mbok Supiyah bermaksud memanjat pintu pagar besi setinggi dua meter itu. Tentu saja di usianya yang sudah tua itu, ia tidak lagi selincah dirinya saat muda dulu. Ia langsung jatuh berdebum setelah terlebih dulu robek kain jariknya. Mbok Supiyah jatuh di halaman depan, bagian terluar dari rumah besar itu. Wanita tua itu langsung jatuh pingsan.
Bu Suparna datang tergopoh-gopoh. Ia datang terlambat. Mbok Supiyah sudah terlanjur jatuh dan pingsan. Bu Suparna baru menyadari bahwa pintu pagar depan masih dalam keadaan terkunci, lengkap dengan gemboknya. Para tetangga datang berkerumun menonton. Perasaan panik dan malu melanda hati Bu Suparna. Buru-buru ia masuk lagi ke dalam rumah. Ia bermaksud mencari kunci gembok. Cukup lama ia mencari, namun sang kunci belum juga ditemukan. Ia berteriak memanggil anak-anaknya. Seluruh anggota keluarga dikerahkan demi mencari kunci gembok pagar depan. Akhirnya putra bungsu Bu Suparna berhasil menemukan kunci gembok itu. Kunci itu terselip di antara majalah-majalah yang berserakan di atas meja di ruang tengah. Rupanya tadi malam Mbok Supiyah menaruh kunci itu di atas meja, diantara majalah-majalah yang berserakan. Pagi harinya ternyata ia lupa di mana terakhir kali ia menaruh kunci gembok pintu pagar depan, hingga akhirnya terjadilah kejadian yang menghebohkan itu.
Pingsannya Mbok Supiyah menimbulkan gosip yang cukup ramai di kalangan para tetangga. Beberapa bahkan berspekulasi bahwa Mbok Supiyah bermaksud melarikan diri dari penganiayaan juragan Suparna. Beberapa tetangga yang lain bahkan menuduh Mbok Supiyah bermaksud melarikan diri karena telah melakukan suatu kesalahan. Tak satu pun dugaan itu terbukti. Namun namanya gosip, ya tetap enak untuk dibicarakan. Alhasil, semakin banyak orang datang berkerumun di depan rumah juragan Suparna. Rudi, putra tertua keluarga Suparna bergegas membuka pintu pagar depan setelah Anton, adiknya berhasil menemukan kunci gembok pintu pagar itu. Pintu pagar pun terbuka, dan para tetangga ramai berceloteh dengan komentarnya masing-masing. Dasar cerewet ! Bukannya menolong Mbok Supiyah yang tertelungkup pingsan, justru mereka bisanya hanya menonton sambil menunjuk-nunjuk Mbok Supiyah. Ada yang tertawa, ada yang bergunjing, ada yang berbisik kasihan, ada yang berteriak marah menuduh keluarga Suparna berlaku kejam kepada pembantunya, dan ada yang hanya terdiam memandang Mbok Supiyah bagaikan seonggok tontonan.
Rudi, Marwan, dan Anton segera menghampiri Mbok Supiyah yang pingsan. Anton membawa minyak kayu putih, ia mengusap-usapkan sapu tangan yang sudah dituangi minyak kayu putih ke bagian hidung Mbok Supiyah supaya wanita tua itu terbangun dari pingsannya. Setelah beberapa saat, akhirnya wanita tua itu terbangun juga. Rudi dan Marwan segera menuntun Mbok Supiyah agar bisa bangun dan masuk ke dalam rumah kembali. Anton bertugas mengusir para tetangga usil yang bisanya hanya menonton tanpa berusaha menolong sedikit pun.
Rudi dan Marwan membawa Mbok Supiyah kembali ke kamar tidur pembantu tua itu. Mbok Supiyah dibiarkan tidur di tempat tidurnya. Bu Suparna datang ke kamar Mbok Supiyah sambil membawa parem kocok dan minyak tawon. Ia merasa khawatir dengan kondisi Mbok Supiyah yang hidup sebatang kara. Hanya keluarga Suparna satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Keluarga Suparna pun sudah menganggap Mbok Supiyah seperti layaknya anggota keluarga sendiri. Bu Suparna mengoleskan parem kocok dan minyak tawon ke seluruh tubuh Mbok Supiyah. Setidaknya itu akan mengurangi rasa linu dan sakit akibat terjatuh tadi. Mbok Supiyah hanya bisa meringis kesakitan setiap bagian tubuhnya diolesi oleh parem kocok dan minyak tawon. Anton menelepon tukang pijat urat yang sudah menjadi langganan keluarga mereka. Tukang pijat itu berjanji akan segera datang secepatnya.
Tak lama kemudian tukang pijat pun datang. Mak Siti namanya. Wanita setengah baya itu terkenal cukup piawai dalam bidangnya. Ahli pijat urut itu pun segera memijat dan membetulkan salah urat yang dialami oleh Mbok Supiyah. Mbok Supiyah mengerang kesakitan, namun Mak Siti dengan sabar berusaha menenangkan Mbok Supiyah yang mengaduh kesakitan. Akhirnya setelah kurang lebih satu setengah jam, Mak Siti telah selesai memijat dan membetulkan salah urat yang dialami oleh Mbok Supiyah. Tak lupa Mak Siti memberikan ramuan jamu berupa aneka macam akar dan rempah-rempah untuk direbus dan airnya diminumkan pada Mbok Supiyah.
Bu Suparna jadi repot merebuskan ramuan jamu itu. Setelah ramuan itu jadi, wanita itu pun segera mengantar segelas besar air rebusan jamu untuk diminumkan pada Mbok Supiyah. Ia pun membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya untuk sarapan pagi Mbok Supiyah. Mbok Supiyah mengucapkan terima kasih pada istri juragannya itu. Ia merasa sangat bersyukur telah bekerja di keluarga ini selama bertahun-tahun, karena mereka telah begitu baik mau menganggapnya seperti keluarga sendiri.
* * *
Tujuh hari telah berlalu. Mbok Supiyah sudah sehat kembali seperti sedia kala. Hari ini ia berencana untuk pergi ke pasar. Persediaan bahan makanan dalam kulkas sudah semakin menipis. Ia harus segera berbelanja paling tidak untuk kebutuhan selama seminggu ke depan. Mbok Supiyah sedang sibuk mengingat dan mencatat setiap jenis barang yang akan dibelinya, saat Bu Suparna datang dan menyerahkan sejumlah uang belanja. Wanita itu berkata pada Mbok Suparna untuk membeli tiga buah celana untuk anak-anak laki-lakinya di toko pakaian dekat pasar. Bu Suparna memberitahukan ukuran celana itu. Semuanya berukuran tiga puluh dua, karena ketiga anak laki-lakinya itu semuanya berpostur tinggi besar. Mbok Supiyah pun segera mencatat pesanan Bu Suparna itu. Ia pun segera bergegas berangkat ke pasar.
Dua jam sudah Mbok Supiyah pergi. Bu Suparna menunggu pembantunya itu yang tak kunjung muncul. Ia merasa khawatir, jangan-jangan terjadi apa-apa pada pembantu rumah tangga yang sudah berusia renta itu. Ah, semoga Tuhan selalu melindunginya, demikian bisik Bu Suparna pada dirinya sendiri. Namun rasa gelisah tak kunjung hilang dari hati dan pikirannya. Bu Suparna sedikit khawatir, jangan-jangan pembantunya itu lupa jalan menuju pulang ke rumah ini, dia kan sudah tua, kalau pikun bagaimana ? Tapi untunglah yang dinantikan telah kembali dengan selamat. Mbok Supiyah datang dengan diantar becak. Ia membawa sekeranjang besar belanjaan dan sebuah tas plastik. Bu Suparna segera menghampiri Mbok Supiyah untuk membantu membawakan barang belanjaannya. Syukurlah wanita tua ini sampai di rumah dengan selamat, tak terjadi suatu apa. Bu Suparna menghela napas lega. Ia bersyukur kepada Tuhan. Masih teringat olehnya kejadian seminggu yang lalu, saat Mbok Supiyah terjatuh saat mencoba memanjat pagar. Semoga tidak terjadi kejadian seperti itu lagi. Terkadang pembantu tua itu begitu eksentrik dengan ulahnya yang aneh-aneh. Maklumlah semakin tua biasanya orang selalu bertindak semakin aneh.
Bu Suparna membantu membongkar belanjaan yang dibawa oleh pembantunya itu. Ia memasukkan sebagian sayur mayur dan bahan makanan lain ke dalam kulkas besar yang ada di dapur. Mbok Supiyah pun turut memindahkan barang hasil belanjaannya ke dalam kulkas. Hari ini ia akan memasak sup ayam istimewa, lengkap dengan jamur kancing dan sayur mayur. Mbok Supiyah pun segera menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya untuk menu makan hari ini. Ia pun sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Bu Suparna kembali ke ruang tengah, hendak menelepon sahabat-sahabatnya. Mereka berencana untuk pergi menengok salah seorang kawan yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Lama juga ia berbicara di telepon. Saat selesai menelepon, tiba-tiba ia teringat akan celana panjang untuk anak-anaknya. Tadi ia menitipkan sejumlah uang pada Mbok Supiyah untuk dibelikan tiga buah celana panjang untuk anak-anaknya. Ketiga celana panjang itu berukuran tiga puluh dua. Bu Suparna pun segera menghampiri Mbok Supiyah untuk menanyakan tiga buah celana untuk anak-anaknya itu. Tak lama kemudian Mbok Supiyah segera menyerahkan sebuah tas plastik yang berisi bungkusan rapi berisi barang titipan istri juragannya itu. Bu Suparna pun segera membuka bungkusan itu. Kini ia terbelalak melihat apa yang ada dalam bungkusan itu. Isinya tak lain adalah tiga buah celana dalam berukuran tiga puluh dua, ukuran celana dalam yang sama sekali bakal tidak akan muat buat ketiga anak laki-lakinya yang bertubuh tinggi besar itu. Celana dalam itu begitu kecil, karena hanya berukuran tiga puluh dua.
Tokoh-tokoh dan kisah cerita ini sifatnya fiktif dan tidak nyata. Bilamana ada kemiripan nama dan kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan saja !