Muntahan Siapa Ya ??
Juni 6th, 2007 by Mariska
‘Suram’. Ya, itulah kata yang paling tepat untuk kukatakan pada hari ini. Bagaimana tidak? Hari ini aku datang ke sekolah bisa dikatakan sangat telat. Sudah hampir 30 menit aku baru sampai di tempat tujuan. Belum lagi, ditambah dengan keadaanku yang sedang kebelet pipis. Sangat dongkol rasanya pada saat harus memohon-mohon pada ‘helder’ sekolah itu agar mau membukakan pintu gerbang.
“Eh, kamu lagi? Uda dua kali dalam satu minggu ini kamu telat!” tegur Pak Tukiman dengan sangat tegas sambil memegang rotan ‘pemukul anjing’nya.
“Hehehe.. maap, Pak! Supir saya hari ini telat datangnya, jadi saya telat dech.” jawabku dengan mengarang alasan yang ‘indah’.
“Ah, alasan! Dasar anak sekarang bisanya cuma ngandelin supir. Mangnya gak bisa ya, kalo brangkat sendiri?” tanya ‘helder’ dengan penuh curiga. Sepertinya ia sangat mahir dalam membedakan berbagai alasan.
“Duh, Pak saya lagi kebelet, nich. Saya dihukumnya di dalem aja, yah. Terserah mau diapain yang penting saya ke belakang dulu.” ucapku sambil menahan pipis sambil mengeluarkan gaya jongkok saking tidak tahannya.
“Ya udah, abis ke belakang kamu balik ke sini lagi yah! Ada hukuman yang uda disediain.” kata Pak Tukiman sambil membukakan pintu gerbang.
Lalu aku langsung berlari menuju WC yang terdekat..
“Aaaaarrgghhh…!” teriakku heboh, hampir saja kedengaran sampai ke atas.
Aku melihat pemandangan yang begitu indah di wastafel. Membuat mata ‘sakit’ dan ‘menyegarkan’ hidung. Ada muntahan di sekitar wastafel. Aku masuk sambil menepi dan menutup mata lalu langsung masuk ke pintu WC dengan sangat cepat. Kegiatan yang kulakukan di WCpun kulakukan dengan menutup mata. Aku keluar dengan sangat cepat, tentunya dengan ‘acara’ mentup mata pula.
Di satu sisi aku sangat lega karena keinginanku untuk ‘menyetor’ di WC sudah terpenuhi. Namun, aku menjadi sangat muak bila melihat ‘fenomena’ tadi. Seperti melihat usus binatang yang sudah diblender yang akan diperlombakan di pertunjukkan Fear Factor. Aku lebih baik memilih untuk bertemu hantu dalam layar lebar ‘Bangku Kosong’ daripada melihat itu.
* * *
Aku tersenyum lega. Ternyata, banyak juga yang telat hari ini. Aku merasa ada teman senasib dan tidak perlu merasa malu. Aku berharap hari ini aku tidak cukup sial untuk menerima hukuman yang tidak sanggup kutanggung.
Seperti biasa, setiap murid yang telat akan mengambil undian hukuman dari tangan Pak Tukiman. Sebuah gulungan kertas berwarna biru itu aku ambil satu dari gelas palstik air mineral yang dipegang olehnya. Entah kenapa, perasaanku jadi makin tidak enak, tanganku gemetar saat mengambil gulungan kertas itu.
Aku membuka gulungan itu pelan-pelan…
“Apeee? OMG! Hiks.. hua..” ekspresiku spontan ketika membaca hukuman yang akan kujalani.
“Kenapa kamu teriak-teriak?” tegur Pak Tukiman sambil melotot kesal. Murid-murid yang kena hukumanpun spontan melihat ke arahku sambil tertawa.
“Sudah-sudah! Ya sudah, kalian kerjakan masing-masing tugas ya! Abis itu baru bisa kembali ke kelas untuk belajar!” perintah Pak Tukiman seraya mengawasi kami semua.
Bagaimana aku tidak shock?! Hari ini aku mendapat hukuman harus membersihkan toilet perempuan lantai 1 yang aku ‘kunjungi’ tadi. Aku masih trauma melihat muntahan yang bertebaran di wastafel.
Aku melangkah dengan tidak bersemangat..
“Tau gini, mendingan bolos aja.” ucapku dalam hati sambil bersungut-sungut.
Aku begitu muak membersihkan ‘sampah’ ini. Sepertinya, aku sekolah di sini tidak untuk membersihkan toilet, apalagi ada sesuatu yang aneh di sini.
“Huh, sapa sich cewe yang muntah di sini? Cewe-cewe kok jorok, ya? ujarku dalam hati lagi.
“Sebel… sebel… sebel…!” sungutku.
* * *
Aku masuk ke kelas dengan perasaan sebal, apalagi rok bagian bawahku agak basah karena habis membersihkan toilet sialan itu..
“Permisi, Bu, maaf saya datang terlambat.” sapaku pada ibu Nurlela yang sedang mengajar akuntansi seraya menuju tempat dudukku di belakang.
“Eh.. eh, maen seenaknya masuk. Mangnya saya sudah suruh kamu duduk?” kata ibu Nurlela dengan tidak senang.
Akhirnya aku terpaksa bangkit dari tempat dudukku dengan malas-malasan dan harus berhadapan dengan ibu bawel itu.
“Huh, hari ini emang bener-bener sial!” keluhku dalam hati.
“Iya, Bu ada apa? Kan saya tadi udah jalanin hukuman dari Pak Tukiman. Jadi saya boleh ikutin pelajaran dong?” ucapku sambil membela diri.
“Saya cuma mau nanya? Kenapa kamu telat lagi?” tanya ibu Nurlela memandang sinis ke arahku.
“Supir saya telat, Bu datangnya. Jadi saya telat deh. Lagian Ibu jangan marah-marah terus nanti cepat tua. Hehehehe..” jawabku dengan gaya bercanda, anak-anak satu kelas tertawa dengan riang.
“Apa? Kamu bilang saya bisa cepat tua? Saya ini masih muda tau, jadi awas, ya! Jangan nyumpahin saya cepat tua donk!” ucap ibu Nurlela sambil merapikan rambut disambut dengan tawa geli anak-anak.
“Sudah-sudah! Ayo anak-anak kita mulai pelajaran lagi!” tegas ibu Nurlela.
* * *
Bel istirahatpun akhirnya berbunyi dengan nyaringnya. Akhirnya aku bisa menghirup udara ‘bebas’.
“Mbak, pesen kue tiau goreng satu, coypan satu! Oh, iya minumnya air jeruk aja! Gak pake lama, ya!” pintaku pada mbak kantin saking laparnya.
“Hah? Gak salah loe pesen makanan banyak hari ini? Laper ato doyan?” tanya Tasya dengan nada heran.
“Gua tadi kan bangunnya kesiangan, trus gak sempet ngapa-ngapain lagi, trus telat pula makanya laper banget.” jawabku sambil berpangku tangan.
“Berarti tadi loe bohong donk? Bilang ama si bawel supir loe telat?” kata Joni sambil melahap nasi goreng yang baru saja dipesannya.
“Hehehe.. Iya, terpaksa. Dosa deh gua.” jawabku tanpa ada perasaan bersalah.
Pada saat aku ingin melahap makanan yang baru saja diantar, tiba-tiba saja nafsu makanku hilang dan kenyang seketika.
“Napa gak dimakan? Tumben, biasa kalo soal makanan cepet banget.” sahut Joni bingung melihat keadaanku yang melamun sambil menelan ludah.
Sebenarnya aku ingin cepat-cepat menghabiskan makanan tetapi aku mendadak teringat akan kejadian tadi pagi di toilet perempuan.
Secara reflek, mulut bawelku tergerak untuk bercerita kejadian tadi pagi pada Joni dan Tasya.
“Apee? Pantesan tadi rok loe rada basah gitu. Ude gitu tampang loe BT abiz, gak kaya biasanya walopun telat tapi tetep ceria. Hahaha.” tanggap Tasya diikuti tawa Joni.
“Sial.. sial.. sial.. sapa sich yang muntah pagi-pagi?!” teriakku di kantin sampai-sampai semua mata memandang ke arahku.
Aku hanya bisa tertunduk malu dan Joni tanpa rasa bersalah memakan semua makananku dengan lahap. Aku memandangi mukanya Joni sambil membayangkan betapa miripnya Joni dengan muntahan yang tadi pagi kulihat.
* * *
Badanku terasa tidak enak, pusing dan lemas. Mungkin karena dari pagi belum sempat makan. Ditambah tidak nafsu makan karena mengingat kejadian itu. Aku tidak bisa konsentrasi dalam pelajaran hari ini.
Ingin sekali rasanya cepat pulang ke rumah dan tidur sepuasnya agar kenangan itu cepat terlupakan. Namun, masih 4 jam lagi aku harus berada di sekolah ini. Keputusanku sudah bulat, aku harus segera ke UKS. Percuma saja ikut pelajaran tetapi pikiranku melayang-layang dan bolpenku jatuh terus ke lantai.
“Pak, saya mau minta izin ke UKS ya. Kepala saya benar-benar pusing.” izinku pada Pak Bambang yang sedang mengajar di kelas.
“Mukamu pucat sekali. Ya sudah, Bapak izinkan. Banyak-banyak istirahat ya!” kata Pak Bambang sambil menandatangani surat izin.
“Terima kasih, Pak!” sahutku sambil tersenyum.
“Oh, iya Bapak pikir perlu satu orang yang akan menjaga Vivi di UKS. Siapa yang bersedia?” tanya Pak Bambang.
“Saya aja, Pak.” Sissy menjawab sambil berdiri dari bangkunya.
Dalam hatiku, aku berpikir sejenak tumben sekali Sissy yang biasanya kurang begitu dekat denganku menawarkan diri untuk menjagaku di UKS. Namun, ya sudahlah mungkin ia sedang bosan mengikuti pelajaran hari ini.
Sissypun menyodorkan jaketnya yang terbuat dari bahan katun berwarna kuning itu untuk dipinjamkan kepadaku. Akupun menerimanya dengan senang hati dan kamipun bersama-sama menuju ke UKS.
“Thanks ya, Si, loe baek banget mau bantuin gua. Tadinya gua pikir loe bosen ama pelajaran makanya bantuin gua di sini. Hehehe.” ucapku dengan gaya selengean.
“Duh, loe bisa aje. Gak lah gua cuma pengen bantuin loe aja. Dari tadi gua liat muka loe uda pucat-pucat gitu gak jelas.” Ucap Sissy sambil menggosokkan miyak kayu putih ke dada dan perutku.
Perutku sangat kembung dan sepertinya masuk angin. Aku bingung melalui tangannya yang lembut itu aku tidak lagi merasakan muak karena ‘pemandangan’ tadi pagi. Akupun bisa makan sedikit roti regal untuk mengisi perutku yang kosong.
“Gua kayanya uda mendingan. Tinggal tidur aja bentar. Loe kalo uda mau balik ke kelas, balik aja. Gak apa-apa kok.” sahutku.
“Ya udah, loe tidur bentar deh di sini. Btw, ada sesuatu yang penting yang mau gua omongin ama loe. Tar pulang, gua ke rumah loe. Oce.” ujar Sissy sambil tersenyum dan langsung keluar.
Baru saja aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya ingin ia bicarakan tetapi apa boleh buat, belum sempat bertanya, dia sudah pergi. Aku jadi makin penasaran ingin cepat-cepat pulang sekolah. langsung saja dalam sekejap, aku tertidur pulas.
* * *
“Oei, Vi bangun-bangun!” panggil Tasya sambil menepuk pundakku.
“Duh, masih ngantuk. Mangnya hari ini sekolah ya?” responku dengan setengah sadar.
“Hahaha.. Ngaco loe! Ini kan di UKS. Kayanya loe trauma bangun pagi ya? Hahaha..” kata Joni.
“Oh, iya gua lupa. Hahaha..” sahutku ketika sadar.
“Kayanya loe uda baekan dikit, ya? Hari ini loe pulang bareng gua aja. Tadi gua uda telepon nyokap loe certain keadaan loe. Trus nyokap loe juga bilang sopir loe gak bisa jemput loe soalnye mobil mau dipake.” ujar Tasya sambil memegang keningku.
“Ya udah, yuk kita cabut dech. Akhirnya pulang juga.” sahutku dengan nada senang.
“Eit.. eit, tadi kok loe orang jahat banget gak nemenin gua di UKS? Malahan si Sissy yang nemenin gua di sini.” protesku dengan sedikit kesal.
“Heh, sapa yang gak mau nemenin loe di sini? Ada juga kita kalah cepet ama Sissy. Kok tumben sich dia gak ada angin, gak ada hujan temenin loe di UKS?” sambar Joni saking herannya.
“Gak tau, tapi dia emang baek sich orangnya. Malah tar katanya dia mau ke rumah gua kalo uda pulang dari skull.” ujarku.
* * *
Kubuka halaman demi halaman majalah sampai akhirnya aku menemukan bacaan tentang Paris Hilton yang baru-baru ini ditemukan sedang menyetir dalam keadaan mabuk.
Baru saja ingin membaca paragraf pertama artikel tersebut, tiba-tiba..
“Tok.. tok.. tok..” suara ketukan pintu kamarku rupanya.
“Iya, masuk aja.” jawabku spontan.
“Eh, loe Si, ayo masuk aja. Sori nich kamar gua lagi berantakan. Hehehe.” cetusku sambil membereskan tumpukkan majalah yang bertebaran.
“Ah, gak apa-apa kok. Nich, buat loe.” ucap Sissy seraya memberikan kue tart berukuran kecil untukku.
“Duh, thanks banget. Gak usah repot-repot kali.” sahutku sambil tersenyum.
“Gua dateng ke sini sebenernya mau minta maaf.” ucap Sissy seraya duduk di sampingku dengan perasaan bersalah.
“Hah, minta maap buat apa?!” sahutku bingung.
“Soal yang tadi pagi itu. Tadi pagi gua liat loe BT banget trus kesel pula karena baru aja bersiin muntahan di wastafel toilet cewe lantai 1. Gua mau ngaku, kalo gua yang muntah.” ujar Sissy dengan mimik wajah yang menunjukkan perasaan bersalah.
“Hah? Apee? Loe serius?” tanyaku kaget dan boneka babi yang barusan kupeluk-peluk jatuh ke lantai.
“Mengapa Sissy bisa sejorok itu?” tanyaku dalam hati.
“Mangnya loe muntah napa, Sis? Mang loe tadi pagi sakit?” tanyaku dengan nada sangat pelan.
“Ehmm.. gua gak kenapa-napa tapi gua yang bikin diri gua ndiri sakit. Gua kena bulimia, Vi..” jawab Sissy dan air matanya menetes di pipi.
Badanku lemas mendengar hal itu. Pantas saja Sissy selalu langsung ke WC jika sudah selesai makan. Badannya pun juga sangat kurus, dan sangat tidak segar penampilannya.
“Tadi gua bener-bener gak sempet bersiin itu wastafel soalnya gua bener-bener buru-buru. Bel uda bunyi, uda gitu gua gak bisa lama-lama di WC takut orang curiga. Sori ya, gara-gara gua loe ampe gak bisa makan trus sakit. Gua emang bodoh! Gua Cuma cewek yang takut jadi gemuk. Tiap liat kaca gua selalu cemas bakal jadi gendut.” lanjut Sissy dan air matanya terus menetes.
Tadinya aku ingin memaki-maki orang yang muntah tadi pagi tetapi ketika aku tahu hal ini, kemarahanku lenyap rasanya. Melihat Sissy yang menangis terus, aku menggigit ujung jariku karena bingung harus berbuat apa.
Dengan spontan aku memeluknya dan membiarkan ia menangis di punggungku. Dalam benakku, tersimpan harapan bahwa aku bisa membantunya. Ya, membantunya agar bisa sembuh dari penyakit ini. Aku melihat adanya suatu harapan untuk Sissy. Aku ikut menangis..