Gadis Hijau
Juni 6th, 2007 by karinizm
Orang-orang menyebutku gadis hijau.
Bukan, bukan karena kulitku hijau dan mengandung banyak klorofil… Bukan juga karena aku green- girl yang kemana-mana memakai dresscoat hijau sampai dikira bunglon.
Yang membuatku hijau adalah karena aku….
Mmm…
Aku…
Huff…
Aku…
Sangat kuper…
Kuper sekali….!
Terutama masalah lelaki, pacaran, seks, diskotik, mode, dkk yang berbau ‘dunia gaul’. Ya, mereka menganggapku sangat kuper tentang masalah itu..
Hey, mari kita garis bawahi :
menganggap.
Itu berarti, belum tentu aku benar-benar kuper kan…?
* * *
Waktu SMA kelas 3, saat guru Biologi menerangkan bagian-bagian vagina dalam bab reproduksi, aku si-anak-pintar-yang-rajin-bertanya dengan polosnya mengangkat tangan dan melontarkan pertanyaan bagus, menurutku, kepada Pak Enton,
“Pak, perempuan ‘kan dari sejak lahir selalu pipis, kenapa selaput daranya tidak sobek…?”
Langsung, mimik muka Pak Enton berubah kaget seketika. Kelas pun menjadi hening. Hm, mungkin pertanyaanku sulit dijawab, pikirku dengan perasaan bangga dalam hati. Tapi pikiran itu langsung lenyap ketika sepersekian detik kemudian teman-teman menunduk sambil berusaha menahan gelak tawa, yang akhirnya meledak seperti bisul yang sudah 7 tahun bersarang di pantat mereka.
Pak Enton berusaha menenangkan seisi kelas yang sulit ditenangkan itu. Sebenarnya sangat jelas terlihat bahwa beliau juga ingin memecahkan bisul, eh, tertawa seperti teman-teman. Tapi sebagai guru yang baik, tentu saja tidak boleh seperti itu. Dengan wajah yang ditenang-tenangkan, Pak Enton menjawab dengan bijak,
“Suci, lubang untuk mengeluarkan urine berbeda dengan lubang vagina dimana selaput dara berada..”
* * *
Tidak terasa kejadian itu sudah 3 tahun berlalu. Saat ini, aku berkuliah di salah satu universitas terkenal di Jakarta. Selain karena mahasiswanya pintar-pintar, kampusku juga terkenal sebagai ‘Kampus Gaul’. Ya, teman-teman di sini memang modis selalu, pergaulannya pun tingkat tinggi. Mulai dari kelompok dugem sampai kelompok metal tersedia, tinggal pilih yang mana. Mau ngangguk-ngangguk atau geleng-geleng? (untuk referensi jawaban, silakan lihat video klip Dugem VS Metal-nya Project Pop).
Sayangnya, aku tidak bisa masuk ke salah satu kelompok itu. Penyebabnya? Tentu saja :
“Gadis hijau… kita tuh bukannya nggak mau ngajak lo clubbing bareng, tapi lo terlalu baik untuk itu. Jangan sampe lo jadi ikut rusak kaya’ kita, okay?” ujar Rama mewakili geng clubbing. Aku pun mengangguk pasrah.
Semua ini gara-gara Dion, teman sekelasku waktu SMA. Saat ternyata kami berkuliah di tempat yang sama, dengan polosnya dia menyebarkan berita Si Gadis Hijau ke seluruh pelosok kampus. Dan ternyata, teman-teman di sini sangat perhatian kepadaku. Mereka selalu berusaha menjaga bahkan melestarikan kehijauanku.
Yang terbuka lebar untukku hanyalah kelompok anak rajin yang kegiatannya adalah belajar, belajar, dan belajar. Demi masa depan cemerlang, katanya. Tapi aku hanya tersenyum saat salah seorang personel anak rajin tersebut mengajakku bergabung,
“Ci, ikutan acaranya kita yuk ?! Belajar bareng… UAS kan tinggal 4 bulan lagi, makanya kita musti lebih intensif saling berbagi ilmu. Ayolah… masa’ seorang Suci yang selalu mendapat IP tertinggi nggak mau nularin pinternya ke kita-kita..?”
Seperti sudah kubilang, aku hanya tersenyum. Tidak mengiyakan, tidak juga menidakkan. Tapi yang pasti, aku tak pernah bergabung bersama The Shining-Future Group itu. Aku punya cara tersendiri untuk mempertahankan IP-ku…
* * *
Huff….
Akhirnya, pekerjaanku malam ini selesai sudah. Cukup melelahkan, tapi aku sangat puas, apalagi kalau mengingat gaji yang kudapat bisa membiayai seluruh kebutuhan hidupku. Ya, aku memang mandiri. Perkara tinggal jauh dari ayah yang pemabuk tidak bisa menyengsarakan hidupku. Buktinya, tanpa dinafkahi pun aku masih bisa hidup enak di apartemen yang lumayan. Dan tanpa didikan dari orang tua (ibuku sudah meninggal sejak aku kecil), aku masih bisa melanjutkan kuliah dengan baik, mendapat nilai tertinggi pula!
Ups, cukup sudah sombongnya. Sekarang aku harus mengeluarkan HP dan menelepon seseorang,
“Bos, udah selesai..”
“Gue udah di depan kok. Lo ke sini sekarang ya!”
“Ok..”
Aku pun bergegas untuk keluar. Sebelum mencapai pintu depan aku harus melalui ruang tengah yang selalu ramai. Berusaha, aku melewati kerumunan orang sambil sedikit-sedikit menyapa karena sebagian dari mereka adalah rekan kerjaku.
Akhirnya pintu besar itu berhasil tergapai, tapi sebelum kudorong tiba-tiba sebuah tangan besar menarik lengan dan menyandarkan tubuhku ke dinding.
“Hey cantik…! Sendirian ya? Abang juga nih. Tuh, di balik sana ada tempat enak buat saling nemenin..” ujar seorang pria berbau alkohol sambil menunjuk tempat dimana ‘ruang kerja’ku tadi berada.
Eh? Aku mengenal orang ini. Dia kan Rama…? Ugh..dengan susah payah aku berusaha melepas cengkraman tangannya di bahuku. Tapi tangan itu terlalu kuat, badannya bahkan makin mendekat dan mulai menekan tubuh kecilku. Hidungnya disentuhkan lembut sambil mengendus leherku. Huh! Dasar orang mabuk! Sampai-sampai dia tidak mengenali teman satu angkatannya ini. Tapi….
Oh iya! Ini kan malam, dan aku baru selesai bekerja. Jadi ya wajar kalau dia tidak mengenaliku. Suci di malam hari bukanlah Suci si mahasiswi pintar yang kuper. Suci saat bekerja tidak pernah mengikat rambut dengan kuncir murahan dan memakai kacamata setebal tutup toples seperti yang dilakukannya setiap ke kampus. Setelannya pun bukan kemeja garis-garis dengan rok panjang hitam polos dipadu sepatu kets jelek.
Saat ini Rama melihat sesosok makhluk cantik yang seksi dan menggoda. Sangat cantik, bahkan bisa dibilang, dia itu perpaduan Nicole Richie dan Beyonce. Kulitnya memang gelap, tapi seksi. Ditambah dengan mini dress + high heels merah yang dipakainya, makhluk itu terlihat menggoda. Jadi, wajar kalau Rama pun merasa tertantang untuk menikmatinya. Dengan kata lain… menikmatiku.
Tapi aku sudah terlampau capek. Rasanya malas sekali kalau harus meladeni pria ke-3 malam ini. Cukup 2 saja, toh bayaran yang kudapat sudah cukup untuk biaya makan seminggu plus membeli sebuah gaun mahal di butik terkenal. Aku pun berusaha keras lagi mendorong Rama, tapi sia-sia. Untunglah tidak lama kemudian Si Bos masuk dan menemukanku yang tidak berdaya ini. Dengan sigap dia memukul Rama,
“Heh! Apa-apaan lo?” raut muka Rama merah seketika,
“Elo yang apa-apaan? Berhenti gangguin dia atau gue hajar lo!”
“Emang lo siapanya dia sih?” Rama mengepalkan tangan sampai akhirnya menyadari sesuatu,
“Eh, lo Dion kan?”
“Lho? Rama? Jadi ni tempat nongkrong lo? Sorry man, dia cewek gue. Jadi tolong jangan gangguin lagi..”
“Oke, oke! Sorry juga, tadi gue kira dia ‘barang’ baru di sini..”
“Ya udah, maaf udah mukul. Gue cabut duluan ya!”
Dion menarik tanganku dan bergegas keluar. Sesampainya di mobil, kami tertawa terbahak-bahak.
“Si Rama bener-bener gak ngenalin elo kan?” tanyanya lagi untuk meyakinkan.
“Ya nggak lah…! Siapa sangka Si Gadis Hijau kerja di kantor bernama night club, diskotik, atau hotel..? Hahaha….!!”
Ya, siapa pun tidak akan menyangkanya kan? Dramaku bersama Dion selama ini benar-benar sempurna. Sejak pertanyaan konyolku waktu SMA dulu, Dion mulai membantuku untuk lebih maju, dalam artian tidak kuper dan polos lagi. Dia juga yang mengajarkan cara berpakaian dan berdandan dengan baik, serta cara mencari uang dengan itu. Aku benar-benar terbantu. Hidupku jadi jauh lebih makmur dibandingkan saat aku masih bekerja sebagai penjaga perpustakaan umum. Apalagi, dia bisa membuat skenario yang baik untuk menjaga imejku di depan teman-teman yang lain. Imej ‘Suci Si Gadis Hijau’. Padahal jelas sekali aku tidak hijau, dan tentu saja sudah bukan gadis lagi.
Drrrt…drrrt….
Tiba-tiba Hpku bergetar. Sebuah sms :
Thx ya Suci sayang…. malam ini om bener2 puasss…!!
Jadwal selanjutnya hari Senin ya?
Soal nilai tenang aja… semester ini om jamin kmu jadi yang
terbaik lagi.. sebaik cara kmu muasin om…hehe.
Oh…ternyata dosen wali-ku..
* * *