Pulau Pasir
Juni 5th, 2007 by Stebby Julionatan
-surat untuk Uit-
Sudah habiskah ruang pemangku kegelapan
dimana sinar berhenti memantulkan bayangmu?
Meski di Pulau Pasir tempatku
sekarang berdiri jejalang yang menghirup senja
namun purnama duduk di atas pasang ombak kemudian.
Singgasananya menghembuskan berkas cahaya dan menyisakannya.
Ada semilir angin datang meniupkan awan
ke arah purnama; serta pekik hewan
yang bersembunyi di antara rimbun
daun menekan deru ombak sesaat.
Akhirnya…
Kutinggalkan jejak kakiku di Pulau Pasir
dimana ombak datang melibas kenangan
akan dirimu kubawa pergi.
April, 2006.
(tamat)