KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Glendoh berkali-kali berucap kepada para tahanan lain dari balik jeruji, dengan sedikit menjorokkan mulutnya ke luar. Seperti burung yang berkicau menyambut pagi, ia selalu berceloteh dari balik jeruji. “Pergilah, ubah hidupmu sebelum kematian menjemputmu.”

Glendoh adalah seorang tahanan yang akan dieksekusi. Kulitnya hitam legam. Badannya sedikit gemuk. Rambutnya yang panjang sebahu seperti menyatu dengan kumis dan jenggotnya yang panjang tak terawat.

Ia menerawang dan menatap bayangan barisan jantung
kota yang hijau, lalu lalang kendaraan serta para pedagang asongan dengan mata memerah. Bahkan ia tertegun menyaksikan perubahan
kota saat  melangakah menyusuri gang yang dipenuhi dengan sampah-sampah berceceran. Nampak anak-anak dengan pakaian compang-camping bermain bola plastik. Dan menepi setelah melihat Glendoh melangkah melewati gang itu. Raut mereka menunjukkan sikap asing.

Glendoh juga keheranan begitu menatap rumah-rumh kecil yang berdempet di antara angkuhnya mall yang sebelumnya adalah tempat ia bermain sejak masih kecil dengan tarian layang-layang yang mewarnai semburat putih mega-mega.

Namun burung perkutut dalam sangkar yang bergelantungan di depan pintu rumahnya, masih bersiul menyambut kedatangannya. Nampak seorang lelaki kecil menatap matanya tajam. Tiba-tiba saja laki-laki kecil itu berlari menuju belakang rumah. “mbah, ada tamu mbah!” Dan seorang perempuan setengah baya keluar dari balik pintu dapur.

“Ibu?”Segera ia mendekat dan memeluknya dengan tangis yang tak dapat lagi bersembunyi di balik pelupuk matanya. Dalam hatinya, Glendoh memastikan bahwa laki-laki kecil itu adalah Ganu, anak semata wayang hasil pergulatan malam pertamanya dengan Juminah, isterinya.


Ada yang berubah di rumah ini. Juminah kawin dengan Kofir, mantan camat itu. Rupanya dia tak tahan dengan kondisi seperti ini,” ucap ibunya dengan sedikit terbata-bata.

***

Ketika sore mewarnai langit, Glendoh mengajak Ganu menemui Juminah di rumah mantan camat yang yang kaya raya itu.

“Kau beri makan apa anakmu itu? Apa kau hanya akan terus bergantung kepada orang tuamu?” seru Kofir dengan sesekali mengipas-kipasi ketiaknya dengan koran. “hehhe… kau tak perlu cemburu! Sebab aku dan isterimu ini adalah sebuah hubungan mutualisme, yakni saling menguntungkan. Hehe… tapi jangan kau beritahu siapapun! Ingat bahwa aku ini seorang yang pada suatu masa pernah berjaya. Kau ingat? Aku pernah mendapat penghargaan the man of justice! Seorang yang sanggup dengan tegas mempersempit gerak para pencuri di kalangan kantor ini, masa berstatuskan duda,
kan saya jadi malu toh? Hehe….sekali lagi kau jangan cemburu buta! Sebab aku belum bahkan tak akan pernah dapat menyentuh isterimu itu. Sebab kau tahu? He…he.. aku ini hanya seorang, yah itu lah” ucapnya terbata-ata sembari menunjuk jemari manisnya ke arah resleting celananya yang kedodoran.

Ganu mengikuti Juminah di halaman rumah itu. Seolah dengan sengaja, Glendoh  membiarkannya bermain di luar. Sedangkan Glendoh masih tak henti-hentinya menatap tua bangka karatan itu. Sebatang pipa cerutu kini menusuk belahan bibir Kofir yang berkeriput. “Setelah keluar dari penjara ini kau mau cari kerja apa? Aku dengar dari Juminah, kau cuma tamatan SMP, SMA saja kau tak kelar. Bagaimanapun juga kau sudah tahu
kan, kau sudah cukup tahu bahwa aku ini impoten. Meskipun begitu, aku masih memiliki daya hidup, masih berkobar dalam dadaku ini akan suatu obsesi. Perlu kau tahu! Seluruh kampung ini , terutama yang orang-orang yang sebaya denganku. Mereka tahu persis, bahwa aku ini adalah salah satu tokoh yang berjuang menumbangkan kejayaan lama, dan mencetuskan kejayaan baru. Maka tak heran jika para gali, polisi dan tentarapun akan selalu membukakan topinya bila bertatap muka denganku.”

Suara-suara yang keluar dari mulutnya yang setegah miring itupun tak henti-hentinya mengorok-orok telinga Glendoh.

ah begini saja, dari pada kamu malu dengan status pernikahanmu yang tidak jelas itu, maka aku berikan tawaran yang tentu saja sangat kau butuhkan. Dan perlu kau pikir lebih dalam. Kau tidak akan susah-susah melamar sani-sini. Lagi pula kau cuma tamatan SMP, belum kau pikirkan masa lalumu yang pernah dijebloskan penjara…ha…hahaha…ha..ha.”

“Aku yakin masih ada pekerjaan lain.”

“Hanya jadi tukang sablon?”

“Tidak, ada yang lain saja. Pasti aku mendapatkannya.”

“hahahaha perlu kau tahu, jaman ketika sebelum kau masuk penjara dengan jaman kau keluar dari bui sekarang ini, sangat lain. Lapangan kerja susah. Apakah kau mampu mengumpulkan modal untuk kerja di luar negri, tidak
kan? lagi pula kau pernah terlibat perkara kriminal.”

***

Dari balik jendela besi yang dipegangnya erat, ia menatap dirinya sedang dengan bersama Kofir.

“Hanya satu pekerjaan pokokmu, dan kau tinggal menunggu perintah saja. Mengerti maksudku?” Glendohpun menganggukkan kepala. “
Ada sekelompok orang yang mencoba ingin membuatku miskin, bahkan lebih dari pada itu, reputasi. Reputasi bagi mantan camat yang revolusioner ini tentu sangatlah penting. Ya tidak? dan sekelompok orang itu adalah para pemuda yang sering demonstrasi secara blak-blakan di depan rumahku ini! Serta para wartawan yang dengan sengaja meliput kegiatan itu. Seandainya demo itu tidak ditulis oleh para kuli tinta di halaman-halaman sosial, tentu orang-orang tidak bakalan tahu tentang kasusku!”

“Kalau begitu, apa pekerjaanku?”

“Kau bunuh orang-orang itu!” jawabnya lirih dengan nada datar. Suaranya bergetar. Nafas Glendoh tiba-tiba saja terhenti. Dahinya berkernyit. “hehh orang tua, aku sudah cukup muak dengan bui.”

“Tenang saja! aku akan sediakan pemain cadangan dalam hal ini, kau tak perlu khawatir!”

***

Matanya menerobos dinding penjara yang angkuh dengan hembusan nafas panjangnya. Bayangan Ganu dan raut muka ibunya terlihat larut dalam kepasrahan. Sehingga ia tak kuasa menolak tawaran Kofir. Bahkan saat ia terngiang kata-kata ibunya. “Hutang Ibu semakin menumpuk, Juminah sama sekali tidak pernah kirim uang atau susu untuk anakmu.” Seketika itu pula isi perutnya hampir keluar dengan pengapnya ruang tahanan lantaran terbayang tubuh Kofir yang kurus seperti tokoh Sengkuni dalam pewayangan.

“Heh kali ini kau mesti perhatikan segala tetek bengeknya yang akan kita atur!” seru Kofir di ruang tamu sebuah villa yang dia sewakan. Bungkusan rokok dari berbagai merek serta enam botol arak yang sudah terbuka penutupnya terkapar di atas dan  siap untuk ditenggak.

Semua orang yang berkumpul di villa itu memberi salam kepada Kofir. “Aktivis-aktivis dan wartawan-wartawan itu tidak henti-hentunya memojokkan kita. Apa perlu kita tawari uang, atau kita siapkan pengacara sekaligus untuk meruntuhkan koran-koran itu,” seru mantan camat sembari menjatuhkan tubuhnya yang kerempeng dan berkeriput itu di atas sofa berwarna biru.

“Begini den Kofir, sesuai kesepakatan sebelum den Kofir datang, kita sudah berjanji akan segera menculik mereka,” ucap seseorang berperawakan gemuk. “Jangan gegabah! Satu hal yang harus kita perhatikan terlebih dahulu adalah kerapian. Dalam permainan ini, jangan asal mengetok palu. Alangkah lebih baik kita dekati dulu mereka. Ya dengan jalan damai saja. Itu kalau mereka mau, kalau tidak? Aku siap bertanding di meja hijau atas pencemaran nama baik. Namun jika kita masih saja kalah, apa boleh buat. Mereka kita culik!” seru Kofir sembari menyelipkan sebatang cerutu di belahan bibirnya yang kisut.

Rapat telah usai. Puluhan orang-orang berperawakan gemuk dengan kaos ketat itu langsung menenggak berbotol-botol arak hingga berjalan berkeleyotan sembari menikmati alunan musik dangdut. Di tengah-tengah mereka, melenggok tubuh seorang penyanyi dangdut ibu
kota. Tak jarang mereka mengusap bahkan menyentuh pinggang penyanyi itu. Penyanyi ibu
kota. Yah penyanyi ibu
kota itu melenggok mengikuti irama rancak ditengah sesaknya udara karena asap rokok serta aroma arak bercampur keringat.

Mendung semakin menyelimuti udara pegunungan. Muka Kofir  mulai memerah. Agaknya ia sudah tak tahan lagi dengan arak yang bergemerucuk di dalam perutnya. “Ayo kita pulang!”seru Kofir sembari berjalan bergeleyotan.

***

Tembok beku itu tiba-tiba saja seperti roboh digempur tatapan mata Glendoh. Dan nampaklah Kofir dengan dandanan perlente ala mafia hongkong keluar dari pintu mobil dengan dikawal seluruh anak buahnya saat berjalan menuju ruang sidang pengadilan. Ia duduk tepat di depan para hakim. Pertanyaan, demi pertanyaan dari mulut sang hakim, jaksa maupun para pembela bermunculan. Sanggahan demi sanggahan saling menampar, seperti bola pingpong, tuntutan balik melontar dari mulut para pembela, sementara saksi tetap duduk dengan tenang.

Suara teriakan para demonstran terdengar saling bersahutan diantara lalu lalang kendaraan, serta debu-debu yang disilaukan terik panas matahari. Kilat lampu kamera para juru foto semakin mewarnai suasana jalannya persidangan putusan itu. Pada detik terakhir, sang hakim berkata. “Saudara tersangka tahanan rumah. Dalam persidangan ini, kami selaku hakim memutuskan bahwa saudara ditetapkan sebagai terpidana empat tahun kurungan penjara.”

Setelah palu diketok, para demonstran berteriak, dan bertepuk tangan. Sementara orang-orang berperawakan gemuk berkaos ketat tadi, langsung menggerudug bahkan tak henti-hentinya mengayunkan pukulan tepat dimuka para saksi, dan demonstran. Kamera-kamera para wartawan disahut lalu dibanting dan diinjak-injak hingga hancur. Puluhan alat perekam suara tak juga luput dari amukan para bodyguard Kofir yang telah menjadi terpidana karena terlibat dalam penjualan roti beracun yang sempat membunuh puluhan kampung. Sedangkan para hakim berlari tunggang langgang menghindari pukulan salah sasaran.

Tubuh-tubuh berjatuhan terkena hantaman, tendangan bahkan pukulan tanpa arah.
Para demonstran dan para wartawan juga turut menjadi sasaran amukan para bodyguard hingga wajah-wajah mereka lebam. Teriakan demi teriakan saling bersahutan. Tak jarang para polisi yang menjaga jalannya sidang melepas tembakan ke atas sebagai tanda peringatan.

Di tengah kekacauan itu, sekelebat Glendoh berlari mengkuti arah Kofir yang berjalan mengendap-endap menuju mobil yang sedari awal persidangan diparkir di depan pintu keluar area pengadilan.

Bersama seorang sopir, Glendoh dan Kofir meluncur dengan mobil mercy itu. “Begitulah arti dari perjuangan. Perjuangan untuk mempertahankan daya hidup, perjuangan mempertahankan harga diri,” ucap Kofir sembari meletakkan pistolnya di jok mobil. Jantungnya berdegub kencang. Nafasnya tersengal-sengal.

“Kita kembali ke villa, ternyata hakim tidak bisa diajak kompromi. Edian. Apakah ia yakin dengan keputusannya itu. Setan alas! Percuma aku membayar
lima pengacara itu!” Namun saat mobil yang kami tumpangi tiba di depan gerbang villa, Glendoh langsung menyahut pistol Kofir yang masih tergeletak di atas jok mobil. Tanpa menunggu waktu, ditariknya picu pistol itu tepat ke arah kepala Kofir. Kofirpun langsung tergeletak tak bernafas. Sedangkan sopir itu langsung turun dari mobil dan berlari tunggang langgang entah ke mana.

Glendoh mengemudikan mobil itu menuju kembali ke
kota. Sesampainya di halaman kantor polisi di
kota itu, ia mematikan mesin. Beberapa polisi pun tak ayal lagi langsung mengarahkan pistolnya tepat ke arah Glendoh, dan siap melepaskan picunya jika tiba-tiba saja Glendoh beraksi. Tiba-tiba Glendoh menghentikan langkahnya. Ia lemparkan pistol itu di antara puntung-puntung dan abu bekas rokok dalam sebuah asbak usang yang tergeletak di atas meja.

“Mau apa kau?” tanya mereka.

“Pak, saya mohon ditangkap sekarang juga. Tidak usah diperiksa Pak!.” ucap Glendoh dengan nafas tersengal. Kepada polisi, ia menyerahkan kedua pergelangan tangannya untuk siap diborgol.

***

Di dalam jeruji itu, iapun pasrah saat jeruji-jeruji menatapnya sombong. Saat tembok-tembok yang kaku semakin membuatnya merasa dalam himpitan yang tak juga berhenti. Melalui komat-kamit doa yang keluar dari mulutnya, ia mengharap anaknya tidak akan menyusuri jejaknya sebagai pembunuh.

Suara langkah sepatu fantofel semakin mendekat. Tinggal berapa menit ia hidup, dan tinggal berapa menit lagi ia menyisakan harapan. “Berubahlah! Sebelum kalian mati!” kembali ia berucap kepada seluruh tahanan yang satu persatu menatapnya dengan melambaikan tangannya. Seperti anak kecil yang mengigau dan merengek meminta minum susu dari tetek ibunya. “Berubahlah sebelum kalian bebas seperti aku. Aku telah bebas. Sebab di luar
sana telah terbangun penjara-penjara yang tanpa kita ketahui telah menjerat kita kepada jeruji yang lebih abadi lebih memuakkan dan menakutkan….haha…ha.. Aku telah bebas…Aku telah bebas.”

Ruang tahanan itupun sepi.
Para terpidana duduk termenung menunggu kabar dari suara tembakan.

Solo, Juli 2005

 

Tinggalkan Komentar