KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cowok Itu Pamanku

“ Apa yang tuhan harapkan dengan menciptakan manusia seperti dia? ”. Tepat sekali, itu adalah kata pertama yang terbersit olehku ketika pertama kali melihatnya. Mungkin terdengar kurang sopan, apalagi mengingat dia adalah pamanku sendiri. Pada dasarnya, kami tak mempunyai hubungan darah. Silsilah keluargaku memang dapat di kategorikan rumit mengingat kakekku sendiri menikahi dua orang wanita, tentu salah satunya adalah nenekku dan satunya lagi bibinya om`arya. Yang di sini berarti om`arya merupakan paman tiriku.
Melihat penampilan om`arya yang begitu urakan aku kembali teringat perbincangan beberapa waktu sebelumnya. Baik, sopan, ramah, kira-kira begitulah yang diilustrasikan ayah mengenai saudara tirinya itu. Namun, nyatanya dari luarnya saja sudah beda sama apa yang dikatakan ayah.
“ Oh…ini yang namanya Angger, udah kelas berapa? “. Pertanyaan standar, pikirku. Aku hanya tersenyum tipis lalu berjalan menuju dapur. Setelah usai menyiapkan minuman, aku pun kembali ke ruang tamu dan menemuai om`arya.
Siang yang sangat panas dan terasa begitu panjang. Aku duduk di sebuah kursi kayu dan terus saja memperhatikan om arya yang duduk di depanku. Entah kenapa aku memperhatikannya. Seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa damai setiap menatapnya. Banyak hal yang kami bicarakan. Awalnya, aku memang malas buat ngobrol dengan orang yang berpenampilan tidak jelas seperti om`arya, tapi lama-lama aku mulai merasa nyaman berbicara dengannya. Walaupun ia sembilan tahun lebih tua dariku, tapi dia tidak menganggapku sebagai anak remaja yang tidak tau apa-apa. Tutur katanya jauh berbeda dari penampilannya yang urak-urakan itu.

Ya… tuhan, mengapa aku jadi terpesona dengan pamanku itu? Bahkan, awalnya aku benci dia. Mungkin benar kata pepatah, “jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja “. Akhir-akhir ini, om arya semakin sering datang ke rumahku dan kami pun semakin sering ngobrol. Aku semakin mengenalnya dan semakin yakin betapa sempurnanya ia untukku. Masa bodoh dengan penampilannya, yang pentingkan hatinya, pikirku.

`Cinta atau Cuma kagum
Cinta dan rasa kagum memang sulit dibedakan. Awalnya aku cukup ragu bahwa apa yang kurasakan kali ini adalah cinta. Tapi kalau bukan cinta, mengapa aku harus menangis jika tak bertemu dengannya sehari saja? atau mengapa aku harus tertawa ketika mendengar ceritanya yang bahkan adikku yang baru berumur sebelas tahun saja menganggap gurauannya itu basi banget. Pernah di suatu siang aku dan om`arya duduk berdua di ruang tamu. Waktu itu aku merasakan betul segala kesempurnaan yang dimiliki oleh om`arya. Kami mulai menceritakan masalah pribadi kami. Entah kenapa aku merasa nyaman saat curhat dengan om`arya.

“ Ini bukunya Angger?? “ Lontar om`arya.
Aku terdiam sejenak, sambil memperhatikan buku bercoverkan F4 yang saat itu berada di tangan om`arya. ASTAGA, pikir ku. Itu buku harian ku!!

Gimana kalau dia membaca buku itu?
Gimana kalau dia tau aku menyukainya?
Gimana kalau…????
Aku segera merampas buku itu dari tangan om`arya. TELEDOR` bagaimana aku bisa membiarkan buku yang paling secret ini tergeletak begitu saja di ruang tamu?? Bagaimana kalau ada orang lain yang membacanya??

Hal itu membuat ia tercengang sejenak, kemudian kembali melontarkan sebuah pertanyaan
“ Angger suka F4 juga?? “
“ jadi om`arya juga suka? “ Sesuka-sukanya aku ma F4, aku lebih menyukai om`arya, pikir ku.
“ gak, yang suka itu Desi( adik om`arya ), selain itu cewek-cewek di kampusnya om juga banyak yang sering nyanyiin lagunya ” lontarnya sambil mematikan putung rokok.

***

“ Angger…. “, suara ibu dari arah ruang tamu. Dengan tampang malas-malasan, aku berjalan ke arah sumber suara. Raut wajahku seketika berseri setelah melihat om arya duduk di ruang tamu. Berbeda dari biasanya, ia tampak rapi dan sopan.. Ternyata kali ini, om arya tidak datang sendiri. Orang tuannya juga ikut.
Pandanganku tiba-tiba saja tertuju pada seorang gadis berwajah indo yang duduk di sebelah om arya. Wanita yang cantik dengan rambut panjang terurai. Ia melepaskan senyum manisnya ke arahku.
“ Mba desi yah? “ cetusku ramah.
Om arya, menggenggam tangan wanita itu, “ bukan ngger, mba` desinya ada urusan jadi nggak bisa ikut. Ini mia tunanganku. Makanya aku ke sini buat ngenalin dia karena sebulan lagi kita bakalan menikah “.
Tunangan om arya???? Aku membulatkan mataku dengan penuh bingung. Jadi om arya sudah bertunangan.
Perasaanku benar-benar kacau. Aku cepat-cepat berlari ke dapur dengan alasan mau menyiapkan minuman. Entah minuman macam apa yang dapat aku suguhkan saat perasaanku seperti ini. Aku bahkan lupa berapa sendok gula yang harus kumasukan. Pikiranku benar-benar kosong. Yang terbayang hanyalah jika om arya menjadi suami orang lain. Hatiku semakin hancur membayangkan hal itu walau aku tau pasti kalau itu pasti akan terjadi. Om arya dan mba`mia akan segera menikah. Malam ini, aku menangis sejadi-jadinya.

Tinggalkan Komentar