Sekolah Itu Tidak Perlu
Juni 4th, 2007 by Stebby Julionatan
Mungkin saya terlalu ekstrim ketika pemerintah menggalakkan program wajib belajar 9 tahun, saya malah menyarankan kepada Anda untuk tidak bersekolah bahkan menyekolahkan anak-anak Anda. Kenapa demikian? Sedikitnya saya punya empat alasan mengapa Anda tidak perlu sekolah.
1. Pelimpahan Tanggung Jawab Orang Tua.
Pertama, orang tua –dalam hal ini bisa Anda sendiri ataupun orang tua Anda masih belum sadar akan kewajiban mereka terhadap anak-anak, terutama yang menyangkut masalah pendidikan mereka. Tidak ada bedanya antara orang tua menyekolahkan anak-anak mereka dengan “membuang” mereka ke sekolah.
Orang tua seakan melemparkan semua tanggung jawab mereka kepada sekolah sebagai pranata pendidikan, kepada guru-guru di sekolah. Orang tua sudah disibukkan oleh perkerjaan mereka dan segala urusannya, terutama yang berkaitan dengan usaha mengumpulkan materi demi kelangsungan hidup sehingga tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk sekedar “say hello” dengan anak-anak. Tidak pernah ada perhatian yang mereka tawarkan, tidak pula kasih sayang.
Pernahkah orang tua mendampingi putra-putri mereka belajar? Berapa jam waktu yang mereka luangkan bagi calon pemimpin bangsa? (Ingat mendampini, bukannya memanjakan anak-anak dengan memberi bocoran bahkan mengerjakan PR mereka.) Disisi anak-anak ketika mereka kesulitan dan memberi mereka solusi untuk memecahkan kesulitannya. Paling-paling orang tua malah melemparkan kembali tugas-tugas tersebut kepada guru-guru les.
Bisakah orang tua bersikap seperti Alexander Graham Bell, Thomas Alfa Edison dan Winston Churchill? Jauh sebelum teori Quantum Learning populer, mereka –para orang tua tersebut menyadari bahwa anak-anak mereka bukanlah anak-anak yang bodoh seperti yang dituduhkan sekolah dan lingkungan kepadanya. Mereka adalah anak-anak yang unik, yang beajar dengan cara yang berbeda dari yang lain dengan situasi dan kondisi mereka ciptakan senyaman mungkin.
2. Indoktrinasi Sistem Pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu –lebih tepatnya tahun lalu, dunia pendidikan di negara kita seperti disadarkan oleh dua kejadian yang susul-menyusul. Dua peristiwa tersebut seakan aib yang telah mencoreng muka dunia pendidikan di Indonesia.
Haryant, bocah asal Garut tampak putus asa dan gantung diri ketika orang tuanya tidak mampu membayar uang keterampilan yang hanya, sekali lagi hanya Rp. 2500,-. Lalu Wahyu Hidayat, seorang praja tingkat dua Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di Jatinangor, Jawa Barat harus kehilangan nyawa di tangan seniornya demi sebuah kata “penegakan disiplin”.
Quo vadis pendidikan kita? Selama ini orang tua mengharapkan sekolah sebagai suatu wadah untuk mengembangkan potensi dan bakat anak-anak mereka. Tapi selama itu pula sekolah tampil sebagai momok bagi potensi dan bakat mereka. Sekolah tidak pernah menghargai perbedaan pola pikir, perbedaan paradigma, dan sekolah tidak pernah menghargai keberagaman mereka. Anak-anak tidak pernah menunjukan keunikan mereka karena takut ditertawai teman-teman mereka. Syukur kalau masih teman-temannya, kadang gurunya sendiri pun ikut tertawa.
Percuma anak-anak bersekolah jika sistem pendidikan yang dipakai di negara kita masih menerapkan paham-paham behaviouristik, indoktrinasi dan ABS –asal bapak senang, Red. Guru mengajar karena mereka merasa tahu segalanya, sementara murid hanya menjadi kucing yang dikebiri. Mereka selalu salah, mereka adalah binatang bodoh yang harus berjalan menuruti kehendak sang majikan.
3. Growing Old Not Growing Up.
Kita –saya dan Anda sendiri pernah merasakan bahwa kita hanya menjadi tua di sekolah. Sekolah tidak pernah membuat kita menjadi dewasa. Tidak ada mata pelajaran yang benar-benar berguna bagi kita jika kita sendiri tidak kreatif. Bahkan setelah lulus dan menyandang gelar akademis kita masih merasa menjadi losser. Sebab gelar akademis tidak mengubah banyak keadaan finansial kita.
Seperti kata Larry Ellison, CEO Oracle di sebuah acara wisuda sarjana di Universitas Yale, September 2000. “In fact, as I look out before me today, I don’t see a thousand hopes for a bright tomorrow. I don’t see a thousand industries. I see a thousand losers.” Atau tidaklah salah orang-orang di kampung tempat saya tinggal, berkata “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti juga nganggur.”
Intinya keberhasilan kehidupan bukan terletak dari gelar akademis. Kehidupan membutuhkan orang-orang yang berpikir proaktif. Orang-orang yang tidak selalu melemparkan tanggung jawab, orang-orang yang tidak selalu menyalahkan keadaan –bahkan menyalahkan pemerintah dengan menyempitnya lowongan kerja, seperti karyawan PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) yang berunjuk rasa karena tereliminasi dari perusahaan yang telah lama membuai gaya hidup mereka.
Kendali ada di tangan kita. Orang yang proaktif tidak bernah takut untuk gagal. Mereka bukan beo-beo aparatur negara dan aparat keamanan, apalagi hanya sekedar beo-beo majikan. Orang proaktif adalah pribadi yang unik yang selalu bertanggung jawab atas diri mereka sendiri.
4. Jaminan Kualitas Penghafal.
Untuk alasan yang terakhir ini, kita hanya perlu melihat sekeliling kita tentang bagaimana cara anak-anak belajar. Mereka menghafal tanpa pernah tahu makna dan tujuan dari mata pelajaran yang mereka hafalkan. Akibatnya ketika guru mengadakan ujian, begitu soal tersebut dirobah sedikit, ulangan anak didik mereka pasti hancur.
Hal ini menandakan bahwa sekolah adalah pendidikan masyarakat penghafal. Sekolah adalah wahana plagiat masyarakat. Untungnya akhir-akhir ini saya masih bisa bangga terhadap Faiz, putra cerpenis Helvi Triana Rossa, yang perasaannya begitu peka terhadap kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Ia belajar tak hanya dengan menghafal tapi dengan merasakan melalui keenam indranya.
Setelah membaca uraian diatas sebagian dari Anda pasti kebakaran jenggot dan menggerutu tentang apa sih sebenarnya mau saya. Menjadi Manusia Pembelajar –meminjam ungkapan Andrias Harefa adalah satu-satunya jalan akan pertanyaan ini. Menurut Andrias Harefa manusia pembelajar adalah:
Setiap orang (manusia) yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni: pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistendial seperti “Siapakah aku?”, “Dari manakah aku datang?”, “Ke manakah aku akan pergi?”, “Apakah yang menjadi tanggungjawabku dalam hidup ini?”, dan “Kepada siapa aku harus percaya?”; dan kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang “bukan dirinya”.
Menjadi manusia pembelajar berarti menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Ia sangat unik. Ia belajar apa saja yang ia perlukan untuk menjadi dirinya yang unik itu. Ia bukan berlajar karena terpaksa. Ia belajar karena butuh untuk belajar pada Universitas Besar Kehidupan –lagi-lagi meminjam istilah Andrias Harefa.
Memang untuk sementara waktu, di awal proses pencarian jati diri, seorang manusia pembelajar memang terpaksa, untuk sementara waktu, bergantung pada faktor-faktor di luar dirinya. Sama seperti anak-anak yang bergantung pada orang tua dan lingkungannya. Akan tetapi hal itu semua bersifat sementara. Ia harus bertumbuh menjadi semakin dewasa, menjadi semakin mandiri, menjadi semakin berdaya, menjadi semakin merdeka, menjadi semakin dekat dengan hakikat diri dan legenda pribadinya.
(tamat)
Saya sgt stuju dgn pendpt tersebut,masih ada ribuan alasan lg untuk menyatakan sekolah itu tdk perlu,klw ingin pintar,otodidak pasti lebih baik.
perlu dilihat dulu sekolahnya seperti apa?ga mw sekolah ga diperluin ko. buru buru menyimpulkan itu bukan keputusan yg tepat lho..
Jujur, ketika membaca tulisan ini, saya menjadi berbesar hati dan senang akhirnya saya menemukan orang yang memiliki kesamaan pandangan terhadap sekolah. Awalnya saya kira saya satu-satunya orang yang merasa gerah dengan lingkungan sekolah, mengingat teman-teman seangkatan saya terlihat begitu menikmati sekolah, padahal kalau saya perhatikan mereka itu semakin lama semakin seperti robot saja.
Saya setuju dengan poin ketiga bahwa sekolah membuat seseorang growing old bukan growing up. Miskin kreatifitas. Guru-guru diperlakukan atau memperlakukan dirinya sebagai dewa. Murid-murid semakin pintar menjadi penjilat dan kerbau penurut yang tengik. Tidak ada perkembangan, tapi justru pembodohan pelan-pelan. Sekolah hanya menghasilkan orang pintar tanpa nyali yang hanya menghamba pada kekuasaan bodoh.
Saya sependapat dengan Ivan Illich mengenai Deschooling Society (Masyarakat tanpa sekolah) dan tentu saja dengan anda juga. Semoga masyarakat indonesia dapat menjadi masyarakat dunia yang lebih maju dan berinovasi!
makasih buat coment2nya
saya tidak setuju dengan pendapat diatas, tidak semua sekolah berdampak negatif, tidak semua orang tua sibuk dengan Aktifitas masing-masing, juga tidak semua mata pelajaran benar-benar berguna bagi kita sendiri tidak kreatif, dan juga tidak semua pelajaran membutuhkan penghafalan.!!!itu semua tergantung pada diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita!!!!!generasi mudalah yang dapat mengubah kehidupan negara lebih maju!!!!kal0 bukan kita??????siapa lagiiiiiiiiiiiiiiiii………..!?!!!!
buat iin,
nah itulah sebabnya…
sebagai generasi muda, yang kita punyai hanyalah semangat… semangat untuk maju, mengembangkan dan membenahi kesalahan yang telah diperbuat oleh pendahulu2 kita.
dan terus terang, (maaf) menurut saya… komentar anda juga merupakan bukti bahwa dunia pendidikan kita masih lumpuh dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.
kalau anda tidak setuju dengan saya, buatlah pula tulisan (disertai dengan bukti2 akurat) yang menentang tulisan saya… sekaligus memberi jalan keluar bagaimana kita harus menyikapi kelumpuhan dunia pendidikan kita. OK!
selamat menulis
sekolah itu memang dibutuhkan!!! mungkin yang penulis beberkan adalah kelemahan dari sitem pendidikan kita dan pribadi kita. bila sudah tau kelemahannya kenapa tidak mau memperbaikinya. khususnya bagi para orang tua pendidikan itu bukan satu arah saja dari tempat belajar, tapi dua arah !!pikirkan secara baik-baik sebagai generasi muda apa yang harus dilakukan jangan hanya mengkritik saja. thanks
SETUJUUUUUUUUU!!!
mungkin sekolah itu masih penting bagi orang2 yang yang masih berfikir bahwa sekolah itu penting, klu menurutku BELAJAR itu lah yang lebih penting.. bukan sekolahnya…
Kalo mau nunggu sistem jadi sempurna, gak bakalan ada pendidikan di indonesia, mencacat lebih mudah bung, kalo tau knapa tdk diperbaiki, kasih solusi dong
Saya Makin Setuju Lagi Sekolah Itu DIPERLUKAN!!
Karena Membuat Kita Pintar. Ingat Tidak Semua Pelajaran Membosankan TIDAK SEMUAAA!!!!!!!