Kalian Yang Tidak Tergantikan
Juni 4th, 2007 by khoiron
Saat itu aku masih duduk di bangku SMA, suatu masa yang sulit untuk dilupakan. Bukan saja karena kebahagiaan yang telah kualami namun juga kesedihan yang sering terbayang-bayang. Namaku Irwan, saat itu aku baru saja mengikuti Masa Orientasi Siswa di SMA. Ada yang membuatku tertarik pada salah satu acara tersebut. Demo Ekstrakurikuler merupakan salah satu bagian acara yang memperlihatkan apa saja ekskul-ekskul di sekolah baruku. Aku mulai melirik kegiatan Paskibraka yang begitu gagah, ya.. aku ingin masuk menjadi anggotanya. Kendati jarang teman-temanku yang berminat mengikuti ekskul tersebut, aku tetap semangat untuk ikut. Padahal saat itu sering aku mendengar bahwa latihan kegiatan itu sangat berat dibanding ekskul yang lain.
Aku berangkat ke sekretariat dengan maksud ingin mendaftar. Aku melihat ada salah seorang siswa seangkatanku yang juga berniat seperti aku. “Ingin masuk paski juga?” aku bertanya kepadanya, “Oh..iya, apa kamu juga sama sepertiku?” Ia balik bertanya. “Ya gitu deh…, siapa nama situ? Aku Irwan,” aku mulai akrab. Namanya Feri, sebetulnya ia tidak tertarik ikut paski, namun karena kakak-kakak kelas yang ikut paski melihat banyak bakat ada padanya, maka ia selalu didesak untuk ikut, hingga ia pun luluh. Feri adalah teman yang paling akrab untuk kukenal saat itu.
Hari-hari pun berlalu, sekitar tiga puluh calon anggota sudah terdaftar, Namun sayang, dari sekian banyak anak itu hanya ada sekitar delapan pria. “Wah, kalo cowoknya cuma segini, pasti kita yang cowok jadi bulan-bulanan kakak senior”, ia mulai berbisik padaku saat latihan. “Gimana lagi, sayang mundur di tengah jalan. Sebentar lagi kan kita mau ada Diklat,” jawabku. “Biarin aja, kalo aku nggak mood, aku akan keluar dari paski, berat latihannya”, kata Feri. “Oke, kita ikut aja dulu diklatnya, kalo masih gak enak ya.., saranmu tadi boleh juga”, aku membalasnya. Hingga akhirnya, pembacaan kelompok diklat pun diumumkan. Panitia membuat empat kelompok dan bisa dipastikan satu kelompok hanya ada dua pria. Bersyukurnya aku saat diberitahu hanya menjadi anggota, bukan sebagai ketua kelompok. Setahuku dari cerita-cerita yang beredar, menjadi ketua kelompok itu mempunyai beban khusus. Aries, salah seorang dari delapan calon anggota pria menjadi ketua kelompokku dan begitu kagetnya aku saat tahu Feri menjadi ketua kelompok. “Aduh, mau keluar tapi harus sulit dulu ya,” aku berkata dalam hati mengomentari apa yang dialami Feri. Mengetahui ia menjadi ketua kelompok, sebenarnya Feri lebih tidak tahan lagi berlama-lama mengikuti rangkaian kegiatan paski ini. Untung saja, Vino, satu-satunya pria yang menjadi anggota kelompok Feri selalu menyemangatinya dan tak ketinggalan aku berusaha membujuknya agar tetap bertahan.
Diklat kurang seminggu lagi. Seluruh kelompok harus bersiap-siap menyiapkan barang-barang bawaan. Berat sekali saat itu, barang yang disuruh panitia untuk peserta benar-benar sulit aku dapatkan. Mungkin barang bawaan pribadi dapat aku siapkan sendiri, tetapi barang bawaan kelompok itu loh.., berat banget. Aku bersyukur, teman-teman kelompokku sangat solid dalam menghadapi masalah seperti itu. Tetapi, aku melihat tidak begitu dengan kelompoknya Feri. “Gimana ini, banyak tugas yang belum selesai!” Feri bertanya padaku. “Mungkin, kamu kurang komunikasi sama anggotamu,” aku mencoba menenangkannya. “Cuma si Vino aja yang dapat kuandalkan,” kata Feri. Di saat yang sama kami berbincang-bincang, tiba-tiba datang teman kami Yuyun dan Novi yang juga anggota kelompok Feri. “Fer, gimana sih! tendanya udah dapat belum?” kata Yuyun kepada Feri. Mendengar perkataan itu, Feri hanya diam, dan sesekali aku melihat tanda-tanda kesal di wajahnya. “Kalo gak sanggup, biar kami aja yang cari,” sahut Novi. “Ya udah, terserah kalian,” balas Feri kepada anggota kelompoknya tersebut. Setelah itu, Novi dan Yuyun pun pergi meninggalkan kami. “Tuh kan, sebenarnya anggotamu juga bermanfaat kok, tinggal kamu saja mungkin kurang kurang komunikasi,” kataku pada Feri. “Udahlah, malas aku mikirin itu, ayo kita pulang!” ajak Feri. Saat itu aku menolak ajakan Feri karena Aris sudah sepakat sama aku kalau pukul satu nanti mau membeli lampu badai, kebetulan saat itu pukul satu tinggal sepuluh menit lagi. “Kalau kamu gak pulang sekarang, aku coba dulu diskusi sama teman-teman kelompokku tentang tugas yang belum selesai,” kata Feri. “Gitu dong, komunikasi itu berharga banget loh!” aku membalas ucapan Feri. Setelah itu, kami pun sibuk dengan kelompok masing-masing untuk menyelesaikan segala tanggungan.
Tak terasa, hari dimana kami calon anggota paskibraka akan diberangkatkan untuk mengikuti segala latihan yang cukup berat di bumi perkemahan sudah ada di depan mata. “Akhirnya Wan, tugas bawaanku selesai juga. Sekarang tinggal pasrah aja deh mau diapakan,” ungkap Feri kepadaku. “Apa kita masih harus keluar dari paski setelah semua yang kita lakukan ini?” tanyaku pada Feri. Dia menjawab, “Gak tahu lah.., kita lihat saja ntar gimana.” Saat itu semua peserta dikejutkan dengan suara-suara para panitia, “Ayo semua masuk ke dalam truk!” kontan saja saat itu kami semua mulai berangkat ke bumi perkemahan Poncokusumo, tempat dimana kami akan ‘digembleng’. Kami akhirnya tiba dan betul berita-berita yang beredar sebelumnya, ternyata kami disambut dengan teriakan-teriakan khas para panitia yang sebelumnya sudah ada disana. Kami pun mulai disuguhi acara demi acara yang bisa dibilang sedikit militer. Ada yang berbisik dalam hati ini, tahu begini aku pulang saja.
Ada yang membuatku bersyukur ada disana. Jika sebelumnya teman yang akrab denganku hanyalah Feri, sekarang hubunganku dengan Aris sebagai ketua kelompokku juga lebih dari sebelumnya, dan itu pula yang terjadi pada Feri, dia juga lebih akrab dengan Vino. Suasana yang sedikit ‘srange’ memaksa kami antar peserta harus lebih solid, terlebih teman sekelompok. “Wan, tolong kamu gantikan aku jadi ketua kelompok saat mau jelajah malam nanti,” pinta Aris padaku. “Emang, kamu kenapa?” aku bertanya kepadanya. “Aku agak nggak enak badan, takut nanti jatuh di jalan,” jawabnya. Aku pun menyanggupi permintaannya. Sejak saat itu ada berbagai hal yang membuatku jauh mengenal Aris, dan aku merasa niatku keluar dari Paski bersama Feri sedikit kulupakan. Mengapa? Karena aku merasa perjuanganku bertahan dalam berbagai kesulitan telah sampai titik puncak, sayang jika harus kulepas. Aku juga melihat hal yang sama dengan Feri. Vino sebagai anggota kelompok Feri ternyata tahu niat Feri untuk keluar, dan ia berusaha meyakinkan Feri untu tetap bertahan. Kata Vino, sayang sekali jika ada yang mau keluar dari ekstrakurikuler ini, apalagi seorang pria. Ya, aku menyadari bahwa keberadaan pria diantara semua peserta sangatlah sedikit. Mungkin, pria akan lebih diutamakan dalam kegiatan semacam ini. Rangkaian acara latihan hampir selesai, suasana yang semula membuat fisik dan psikis kami para peserta lemah tiba-tiba membuat kami bangkit dan merasa bangga akan yang telah terjadi. Panitia mengadakan acara penutup dengan begitu indahnya. Kami antara peserta dan panitia berkumpul dan bercengkerama disertai dengan kegiatan membakar jagung di api unggun yang ada di tengah-tengah kami. Sungguh niatan aku dan Feri untuk lari dari paski benar-benar terhapus dari pikiran. Kami semua akhirnya pulang dari latihan yang cukup mengesankan itu. Kami pulang ke rumah masing-masing dan bersiap-siap untuk dilantik menjadi anggota resmi paskibra seminggu setelah itu. Bangganya kami saat dilantik, kami harap-harap cemas karena setelah itu kamilah yang akan menjadi para petugas upacara. Pakaian dinas upacara yang dulu sempat aku kagumi kini benar-benar dapat aku lekatkan pada badanku yang mungil. Badan mungil yang akhirnya menjadi konflik batin setelahnya. Hatiku serasa ciut saat aku tidak berkesempatan menjadi petugas pengibar bendera. Tinggiku tidak cukup untuk dipasangkan dengan teman pria yang lain. Diantara delapan orang tersebut aku ada di peringkat ke tujuh berdasarkan tinggi tubuh. Memang, di kegiatan semacam paski, fisik benar-benar tersorot dan diperhitungkan. Selama setahun kepengurusan kebanyakan aku menjalani tugas-tugasku di paski hanya sebagai penyiap peserta upacara. Seorang petugas yang dianggap remeh di paskibra sekolahku saat itu. Tapi sudahlah, hal itu tidak terlalu kuanggap penting. Ada hikmah dibalik itu semua, aku menemukan orang-orang yang akan mengisi lembaran kisahku di SMA. Dari ekstrakurikuler inilah aku mendapat sahabat-sahabat yang baik, pertemananku dengan Feri, Vino dan Aris semakin akrab saja.
Waktu berjalan, kini aku telah menginjak kelas dua SMA, kegiatanku di Paskibraka telah banyak berkurang karena tergantikan oleh adik-adik kelasku. Persahabatan kami berempat semakin erat. Setiap ulang tahun diantara kami, pasti ada sesuatu kejutan dari yang lain. Aku masih ingat bagaimana mereka bertiga menyiapkan ulang tahunku. Saat itu aku baru pulang dari sepak bola di kampung, setiba di rumah ayahku memintaku untuk mengantarnya ke bengkel, “Wan, tolong antar ayah servis!”. Aku heran, baru saja seminggu yang lalu aku men’servis’ motor, mengapa sekarang harus lagi. Saat aku di perjalanan, tiba-tiba ayah menyuruhku untuk membelokkan motor ke sebuah rumah yang tidak pernah aku datangi. Saat aku masuk, “Happy birthday…!!” Wah… empat orang dihadapanku lansung memberikan kejutan yang begitu mengagetkan. Tepung terigu bercampur telur diusapkan kewajahku. Mereka bertiga, Vino, Feri dan Aris serta Novi yang saat itu menjadi pacar Aris adalah event organizer yang paling mengesankan bagiku. Ternyata rumah itu adalah rumah bude Novi. Mungkin itu hanyalah sekelumit kenanganku dengan mereka. Ada hal lain yang juga tidak kalah seru, waktu itu kami menjadi panitia diklat paskibra. Sudah menjadi kebiasaan jika akan mengadakan acara perkemahan, tentu para panitia harus menyurvai tempat kemah sebelumnya. Jumlah panitia yang mengikuti survai berjumlah tigabelas orang, lima perempuan dan delapan panitia pria. Saat malam hari, kebetulan sekali tempat yang kami gunakan untuk kemah kali ini diberitakan rada angker. “Ris, antarin ke sungai, aku mau buang air kecil!” pinta Feri kepada Aris. Memang diantara kami berempat, Feri bisa dibilang paling penakut sama yang namanya hantu. Tapi ketakutan itu menjadi hal yang nyata. Aris dan Feri kembali dari sungai dengan berlarian, apalagi alasannya jika tidak berhubungan dengan yang namanya hantu. Menurut mereka, terdengar suara-suara aneh di sungai. Saat itu juga para semua panitia panik dan ketakutan, mungkin termasuk aku. Kami bertiga belas hanya bisa menunggu malam di tenda, tiba-tiba Yuyun teman kami berkata, “Tolong anterin ke sungai, tadi sore HP-ku ketinggalan di batu besar dekat sungai, aku takut nanti diambil orang.” Tidak ada yang mau memenuhi permintaannya saat itu. Tetapi, ada jiwa kepahlawanan yang muncul dalam hati ini. “Ayo aku anter, tapi sama Vino,” kataku pada Yuyun. Awalnya Vino tidak mau, tapi setelah dipaksa akhirnya ia menyanggupi. Ternyata apa yang dialami dua temanku sebelumnya, kami bertiga juga mengalami. Ya, kami mendengar sura yang menyeramkan. Benar-benar kekompakan yang menakutkan. Pengalaman itu ternyata membuat persahabatan kita semakin manis. Sejak saat itu kami sering ditanya sama teman-teman yang lain, cuma kami dan Yuyun yang bisa menjelaskan. Benar-benar menjadi pengalaman menakutkan yang membanggakan. Masih ada segudang kisah yang menjadikan sahabat sangat berarti bagi hidupku. Saat kami sepak bola, saat main band, belajar bareng, saat menjadi panitia paski, bahkan saat kami berempat dengan pacar kami masing-masing nonton film bareng. Hampir setiap saat kami berkeluh kesah bersama. Kami pun sering dianggap teman-teman yang lain seperti empat bersaudara.
Sayang, keceriaan kami tidak berlangsung lama. Mungkin kurang tepat jika disebut kami, karena saat itu akulah yang paling merasakan ketidaknyamanan dalam persahabatan ini. Di pertengahan kelas tiga, kami mulai bercerita kemanakah akan melanjutkan studi selepas SMA ini. Benar-benar kekompakan yang luar biasa, kami semua tidak ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Konsep-konsep militer mungkin telah menancap pada kami melalui kegiatan Paskibra yang dulu pernah diikuti bersama. Tujuan kami selepas SMA sama, ingin menjadi seorang TNI. Hari-hari pendaftaran semakin dekat, hingga informasi yang meluluhkan semangatku itu tiba. Sebuah pengumuman tentang syarat-syarat calon TNI. Salah satu syarat yang betul-betul tidak dapat aku penuhi, apalagi kalau bukan tinggi badan. Aku tidak memenuhi kriterianya. Lain halnya dengan mereka bertiga yang mempunyai tinggi serta postur tubuh yang mendukung. Sungguh saat itu aku malas atau mungkin iri jika bertemu dengan mereka. Aku sadar diri dan aku katakan pada mereka bertiga bahwa ada salah satu progam studi di perguruan tinggi yang menarikku dan keinginanku masuk TNI telah berkurang. Mereka heran dan mungkin mereka tidak sadar alasanku sebenarnya. Memang, ada kekecewaan di wajah mereka, tetapi biarlah dari pada aku menyesal kemudian. Mereka bertiga mulai melalui tahap demi tahap penerimaan anggota TNI, hingga akhirnya Aris lah yang lolos menjadi TNI sebenarnya. Aku senang melihatnya. Aku bangga punya sahabat seperti Aris, namun aku juga merasa senang melihat Vino dan Feri yang berniat ikut SPMB. Memang tidak selayaknya aku senang melihat kegagalan dua temanku, tapi itulah yang aku rasa saat itu. Kami bertiga mengikuti SPMB bersama, hingga saat pengumuman hanya aku yang diterima. Feri memutuskan mencoba program diploma dan ia pun diterima. Lain halnya dengan Vino, ia memutuskan ikut seleksi sebuah akademi lain yang bersifat semimiliter. Emang sih, lulusannya nanti bukan jadi TNI, tetapi baik syarat dan kegiatan pendidikannya tidak terlalu jauh beda dengan apa yang sudah dilalui Aris. “Tadi aku lihat ada pengumuman pendaftaran TNI tahap dua, aku mau ikut, apa kamu nggak?” tanya Feri padaku. “Loh, apa kamu nggak sayang. Kamu kan sudah jadi mahasiswa. Aku gak tertarik tuh ama yang begituan,” jawabku. Ternyata apa yang dikatakan Feri bukanlah basa-basi. Ia rela mempertaruhkan status mahasiswa yang disandangnya untuk meraih kembali cita-cita yang sempat mengalami kegagalan. Feri pun mulai berusaha lagi dan Tuhan pun melihat kesungguhan itu. Feri lolos, ia pun mulai menyusul jejak Aris dan Vino. Akhirnya, kini cuma aku sendiri yang gagal mewujudkan cita-cita awal kami. Mereka bertiga telah jauh berada dari kota tempat kami menyiam persahabatan. Hanya aku lah yang melanjutkan hidup di perguruan tinggi. Berita mereka pun semakin lama semakin jarang terdengar. Sepertinya semua begitu cepat berlalu. Sampai saat ini aku di semester empat, tidak pernah aku temui sahabat seperti mereka. Kami hanya bertemu saat lebaran, itupun tidak lagi seperti yang dulu. Pembicaraan kami sangat kaku, bahkan bercanda pun terasa garing. Seringkali aku rindu saat-saat ceria itu. Meskipun aku tahu, itu tidak lagi dapat kutemui. Sungguh, kalian adalah sahabat-sahabat yang tidak tergantikan.
persahabatan yang indah
aku cuma ingin bilang…ku juga pernah merasakan hal yang sama kayak kamu…bahkan sampai sekarang…ketika TNI dipilihnya sebagai jalan hidupanya….semua kisah kami berubah…aku tak tau dimana dia,kayak apa….gimana keadaannya…smua kabur ..selama mengikuti pendidikan….jarang banget kami bisa komunikasi apalahi bertemu,….entah cinta apa yang kini ku jalani kadang jika kurenungi ..sakit itu menikam-nikam ditambah keluarga KAMI YANG TAK MENYETUJUI hubungan ini….batin dan raga ini kadang lelah…lelah banget…..tapi kenapa hati ini masih tetap mengharapnya,masih tetap terselip dia dalam doa-doa yang kupanjatkan…..agar dia selalu terlidung,agar dia terhindar dari masalah dan bahaya….walau kini kku tak tau dimana dia….mungkin dengan cinta ini saja ku masih dapat bertahan…jalani hari-hari kelamku tanpanya…ntah sampai kapan