Lukisan di Atas Aspal
Juni 3rd, 2007 by ozatea
I
Hello, Is There Anybody In There ?
Adakah seseorang….
Di dalam sana ?
Adakah seseorang…..
Bentuk eksistensi yang tinggi
Yang bernafas dan HIDUP
Di dalam sana ?
Di dalam balutan kulit dan tulang yang membentuk apa yang kerap dikenal dengan tubuh..
Tak tahulah…
Jika definisi tentang manusia dan kehidupan itu haruslah berjiwa, berakal, sadar secara utuh mungkin matilah keadaannya saat ini….
Ia sendiri tidak tahu berapa banyak amphetamine, diamorfine, ..dll yang bersemayam dalam tubuhnya, yang ia tahu saat ini mungkin malah KETIDAKTAHUANdengan huruf kapital besar.
Yang jelas ia tahu - pasti
BUKAN
INI BUKAN KEMATIAN…
Ini hanya sekedar intermezo, siklus yang sama dengan apa yang ia rasakan kemarin dan juga hari – hari yang lalu….
Mabuk, melayang, lagi tinggi, on, tenge, jeprut, …Istilah dalam bahasa yang dikenal orang seusianya saat ini.
Ia sendiri juga punya istilah yang lain dari sekedar kata – kata tersebut
PEMBEBASAN ROH !!!
Suatu kondisi dimana batas antara mati dan hidup dihilangkan
Dan inilah yang kini ia rasakan.
Ia tak mati dan juga tak hidup ….Setidaknya untuk beberapa saat
Dan jika saat itu habis ia bisa perpanjang
SEBANYAK YANG IA MAU, SEBANYAK YANG IA BISA
Ini adalah moment dimana ia bisa merasakan longgarnya sendi sendi tubuhnya, merasakan setiap inci, centi maupun mili dari tubuhnya, untuk kemudian berada di suatu tempat dimana bahkan angin kecilpun akan terasa menusuk kulit.
Minumlah barang seteguk, dan akan kau rasakan air itu mengalir dalam kerongkonganmu masuk ke lambungmu dan beresemayam di sana
Hisaplah barang sesedot dan akan kau rasa asap itu masuk mengisi rongga rongga kosong di tubuhmu sampai kau rasa seluruh tubuhmu itu terisi
Suntikkanlah dalam dalam, telanlah,…
Injeksi yang lebih nikmat dari orgasme, konon….
Pembebasan itu mulai berakhir. Ia akan membiarkan kesadaran menjemput sejenak saja
Agar ia tahu
HIDUP
Untuk kemudian begitu lagi…
Meletakkan nyawa di batasan pudar antara hidup atau mati
Peduli setan..
Toh akhirnya manusia bakal MATI
Membusuk, mengurai dan menjadi makanan cacing !!!!
Dia, kita, kau , aku, mereka….siapa saja..presiden, tukang becak, mahasiswa, karyawan, perampok, kyai, biarawan maupun pastor..
Tidak lama belum lagi habis satu sisi pita kaset….
Suara ketukan keras di pintu,
Belum sempat Ia menggerakkan badan, si pengetok dengan sigap membuka pintu yang memang hampir tak pernah dikunci
Ia menggerutu dalam hati….meski ia biarkan juga si tamu masuk
Atas nama toleransi kesetiakawanan dan sosialisasi
Dan sosialisasi itu yang membawa tokoh kita ini berjumpa dengan sosok lain yang masuk ke kamarnya…kamarnya, kerajaannnya…
THE EMPIRE OF DIRT…
- Hey, kamu lagi high ya ?-
- Hmm-
- Hahaha, mana dong masak mau high sendiri aja… -
- Hmm –
Hmm yang kedua ini dilanjutkan dengan sodoran jarum suntik , si penerima jarum pun dengan sigapnya beraksi…Tanpa penataran yang diajarkan dokter – dokter atau mantri rumah sakit dengan mudah jarum menusuk kulit merobek daging dan menginjeksi urat syaraf.
Dalam hitungan menit keduanya pun seperti sedang merasakan sensasi yang sama….
Pelan pelan suara Elizabeth Fraser mengisi ruangan….
Waktu berjalan
Pelan..
Beberapa jam berlalu, dan apa yang disebut sebagai sosialisasi pun berakhir, sang tamu minta diri, berbasa basi dan angkat kaki…
SOSIALISASI BABI !!!
Ia tertawa sendiri, apa yang dia dapat ? atau yang didapat partner bersosialisasinya tadi
Kecuali deretan waktu yang mengantar mereka ke alam lain sejenak…
Ia tersenyum sendiri.
Persetanlah..dia juga bukan tipe orang yang cerewet bicara, bercerita, ngobrol ngalor ngidul gak keruan, mulai dari soal cewek, politik sampai ke rumah tangga artis
Ia berdiri , Ia pandang kaca…Ada refleksi wajah yang cukup kusut di sana, dengan mata khas pemabuk kelas berat, merah, sipit dan tidak bercahaya…
Ia ingat foto foto dia masa bocah…mata jernih hitam putih yang tidak dia milliki lagi…lagian di jaman kini, mata yang begitu mungkin hanya mutlak dikuasai kaum bocah…lewat masa Sekolah Dasar sinar mata manusia berubah..juga isi manusianya sendiri….
Ia intip jendela, huahhhhh..
Kusutnya jalanan di depan mata, macet, berasap dan kotor di luar sana…Di malam begini masih banyak manusia berkeliaran, sibuk dengan kehidupannya masing - masing
Hujan mulai mereda. Bau tanah yang segar kena air hujan sedikit tercium…
Ia ambil jaket lusuhnya dan mulai berfikir untuk melaksanakan sosialisasi kedua manusia…
Kontak dengan dunia luar – di luar kamar persegi empatnya
Kontak dengan tukang mie dan nasi goreng langganannya…
Dengan tukang kopi dan rokok dimana ia tumpuk bon utang
Kontak yang terutama dengan kebutuhan jasmani…kebutuhan primer umat manusia…makan
II
Seperti biasa, setelah perutnya kenyang diisi ia membiarkan langkah kali nya membawanya ke segala penjuru…
Berjalan..
Ke mana saja
Yang penting jalan .. kaki melangkah..bergerak…
Rokok, sekaleng bir murahan di tangan dan tentunya uang,meski tak banyak. Manusia gila saja yang keluar rumah tanpa bawa uang. Uang adalah hal yang mungkin paling dihargai dalam hidup, sekalipun seorang yang cerdas , pintar dan bahkan jika disertai tambahan kata paling di depannya..tanpa uang semua itu tak ada artinya.Suara hanya akan dianggap angin lalu, ide brilian hanya akan ditangapi sebagai mimpi siang bolong dan pernahkah anda membayar apa yang anda makan dengan sebuah kejeniusan ? rasanya hampir tidak mungkin, kemungkinan besar anda akan diusir dengan segera dari warung tersebut. Seperti halnya nasi yang anda makan adalah benda kongkrit maka uang adalah bentuk super kongkrit yang akan mengizinkan anda melahap benda kongkrit lainnya.
Ia terus berjalan hingga hamper sampai di tengah kota, lihat jam besar yang berdiri tegak di perempatan,tak terasa sudah lewat jam duabelas malam. Jalanan mulai sunyi senyap, kendaraan yang berseliweranpun mulai terhitung jari. Yang biasa dijumpai pada jam segini kecuali pedagang makanan di tengah kota, ya pedagang yang lain - Pedagang tubuh…
Yang ini biasanya dominasi kaum hawa, kaum pria konon punya trik yang lebih elegan soal berdagang tubuh…jarang dijumpai pedagang begini dari kaum pria yang nongkong di pinggir jalan…
Nah, belum apa apa sudah ada satu yang bertengger di pinggir jalan protokol. Menanti mangsa yang mendekat dengan mobil, atau motor, atau jika terpaksa – yang berjalan
Jenis yang terakhir ini yang biasanya sulit bernegosiasi,manusia pejalan seperti ia jelas notabene bukan dari kaum berada..Ia hisap rokoknya dalam – dalam – tak ada salahnya melewatkan sisa malam dengan orang lain.
ini boleh juga, Ia bersiul pelan
Dandanannya tidak norak dan wajah serta bodinya lumayan yahud, entah tersamarkan neon jalan yang redup.Ia lihat kiri kanan…tidak pake germo lagi….Ia bersiul lagi
ia memilih duduk di pinggir memandangi si nona dari jarak lumayan dekat…biar sajalah menunggu sampai sekitar jam dua pikirnya – jam segitu biasanya tarif ekonomis berlaku – lagian ini bukan malam minggu …malam malam biasa begini jarang ada pelanggannya…
Dan apa yang diinginkanpun terkabul, jam dua dan si nona masih berdiri dengan anggunnya. Ia sendiri dengan tekun dan sabar menunggu sambil membaca sobekan koran yang ia pungut. Ini saatnya, ia menarik nafas panjang dan mendekat,tidak banyak bicara ia buka kotak rokoknya dan ia sodorkan pada si nona…
Si nona ambil sebatang dan dengan sigap tangan kiri Ia menyalakakan lighternya.
Asap mengepul …
Si Nona memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki
- Kamu lagi butuh ditemani ?
Dan kesunyian pecah dengan segera…
- He eh .. Ia memandang tajam
- Dari tadi diam saja gw lihat di pinggir – baru putus cinta ya ?
Ia tak menjawab membiarkan si Nona menyimpulkan sendiri pertanyaannya
- Berani berapa ?
Ia membuka dompetnya, ada beberapa lembaran uang di situ
Ia sendiri tak tahu pasti jumlahnya yang jelas ada beberapa lembar puluhan ribu rupiah
- Cuman segitu ?
Yang bener aja
Kamu ditemanin kambing saja
Ia tersenyum tawar..
Kamu bisu ya? Gw bisa bikin kamu tereak tereak semalaman lho –
Ia tersenyum ….. Sedikit lebar
- Oke deh segitu juga, terus kita kemana nih tempat kamu apa di hotel ?
Ia balik badan,memberi tanda dengan telunjuknya, mengarah menuju kamar kostannya, yang sebenarnya cukup jauh,si nona pun tanpa banyak tanya mengikuti, sekalipun sambil megumpat umpat.Beberapa menit sampai jugalah mereka di kerajaannya, kamar petak berantakan yang lumayan sempit
Kerajaan yang disinggahi putri untuk malam ini
Putri yang tidak terlalu buruk rupa ….
Dan kalau make upnya yang berlebihan disingkirkan ada raut wajah yang lumayan enak dipandang di situ….
Well,ini saatnya….hujan mulai turun rintik rintik, Ia memutar compo polytronnya, dimasukkannya kaset lain, suara Brett Anderson yang ia pilih untuk malam ini
“..Here they come
The beautiful ones
The beautiful ones..”
Perlahan ia duduk di belakang si putri ia sandarkan kepalanya pada punggungnya, tangannya mulai menyentuh perlahan , memeluk…
III
Pagi hari, mendekati siang lebih tepatnya. Ia terbangun, kepalanya sedikit sakit, ia pandang ranjangnya yang sudah kosong, entah kemana perginya dan jam berapa tepatnya putrinya menghilang, tidak ada nota, catatan, atau apapun, yang tersisa hanya gelas yang dihiasi bekas lipstick murahan….
Yah, apa lagi yang ia harapkan ? uangnya toh hanya cukup untuk membayar putri kemarin untuk sejenak, dan mungkin sebenarnya kurang malahan…
Suara bising jalanan di seberang kamar mulai terdengar. ..
Klakson mobil
Penjaja makanan yang berteriak menawarkan dagangannya.
Ibu – ibu paruh baya yang menggosip dengan volume cukup keras.
Suara anak-anakyang bermain dengan ributnya.
Waktu berjalan lamban saat kita berada dalam kondisi normal..pikirnya
Ia memeriksa kotak penyimpanannya. Masih ada sisa …tak ada salahnya untuk disuntikkan masuk lagi..atas nama kedamaian…ketenangan dan kesenangan
i
n
j
e
c
t
!!!
Dan kembali pembebasan roh itu mengambil alih kesadarannya.
Ia sendiri sudah tak ingat kapan ia mulai menyenangi dunia itu..dunia yang membuatnya lupa akan dunia sesungguhnya…
Entah masalah apa yang membawanya ke sana, ia pun sudah tak ingat…tepatnya tak mau mengingat
Mungkin karena keluarganya yang sudah tak peduli lagi akan nasibnya..entah pertengkaran demi pertengkarannya dengan orang tuanya..entah otaknya yang rasanya tak mampu mencerna semua mata kuliah di universitas…entah perlakuan orang orang yang buruk padanya..entah pergaulannya…
Semuanya jadi entah yang bersambung dengan entah lagi…
Dan saat entah itu semakin banyak dan menusuk dada ,hanya akan membuatnya seperti susah bernafas, ….dan nafas yang ia nikmati hanyalah saat nafas itu tiba di dunia lain…
Dunia yang membuatnya merasa tenang, damai tanpa ada yang bisa mengganggu…dunia yang ia saja yang mengerti, atau orang orang yang hidup juga dengan dunia itu….
Ia tahu pandangan orang orang, teman sekampusnya yang memandang jijik pada orang orang seperti dia, menghabiskan usia tanpa guna….
Orang orang yang tak peduli nasa depannya..
Masa depan apa ?
Masa depan Tai Anjing dengan “T” besar
ia tertawa sendirian
“No future
No future
for you
No future
No future
for me”
bukannya ia tak pernah coba menghentikan hidup begitu, tapi begitu ia mencoba menginjak dunia nyata, yang konon lebih beradab dan nyaman semestinya, yang ia temukan hanyalah orang orang yang sikut sana sini untuk menang, injak sana sini, hajar sana sini,…munafik, dan penuh topeng….
Maka ia pilih begini, tidak mengganggu orang lain, biar saja semuanya larut ,larut dan larut terus….
Siapa tahu ada saatnya semua ini berhenti, and ia juga akan berhenti menarik nafas.Ia ingat lagi saat ada teman kampusnya mengajaknya bicara soal agama, baginya itu memusingkan..keberadaan tuhan, segala macam kitab dan aturan mesjid gereja kuil vihara. Ia bahkan berfikir bahwa Tuhan itu mungkin tak pernah ada,,,,dan kalau adapun apa hubungannya dengan dia ?
Bah…
Ia ambil kuas dan mulai melanjutkan lukisannya, pesanan ..seperti biasanya. Dari sini satu - satunya ia bisa mendapatkan uang. Orang - orang suka lukisannya, ia biasa melukis kembali foto, memindahkannya ke kanvas.Peniru yang hebat.Ia bisa meniru detail foto dan sekejap memindahkannya ke atas kanvas dengan cat minyak, kadang dicampur jelaga, charcoal ataupun arang….
Ia juga paling senang melukis wajah, yang tersenyum, tertawa, sok wibawa atau cemberut.Ekspresi manusia, inilah mungkin satu - satunya yang menarik dari manusia,,manusia punya ekspresi yang mewakili sikap dan pandangannya dalam hidup.
Ia sendiri punya ekspresi khas dengan “hmmmm” nya….
Kadang “hmmm” nya bernada seperti ingin tahu, kadang seperti nada yang sinis, gembira,bingung, dan mungkin ratusan jenis ekspresi yang dikandung kata “ hmm” dimilikinya
“Hmmmm” dan “hmmm” itu juga yang mengantarnya mendapat predikat orang gila di kalangan kampusnya dulu. Ia sendiri merasa jarang sekali mengucapkan kata ( kalau hmm itu bisa disebut kata ) yang lain…
Anehnya ia masih punya kenalan , teman mungkin dan bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan sekian banyak “hmmm” Tak perlu kata lain, selama masih bisa “hmm” maka “hmm” itu saja sudah cukup….
- all I ever wanted
- all I ever needed
- is here in my arms
- words are very unnecessary
- they can only do harms
Enjoy The Silence – Depeche Mode
Selesai juga satu pesanan dalam beberapa jam, tinggal mengantarkan pada si pemesan, yang kebetulan kenalannya pas kuliah dulu. Meski lukisan yang dia pesen jelas jelas bukan lukisan wajahnya, mungkin adiknya, pacarnya atau ibu mungkin neneknya saat masih muda.
Entahlah, peduli amat…Ia ambil recehan dan bergegas ke telepon umum, dalam sekejap si pemesan sudah melesat ke rumahnya dengan sedan biru yang kelihatannya cukup mewah. Beberapa lembar puluhan ribu dengan segera berpindah tangan. Cukup untuk melewati beberapa hari lagi, batinnya…tidak banyak tapi sangat cukup….
IV
Hari itu Ia terdiam di kamarnya, kejenuhan melanda otaknya, sedikit kegelisahan menggerogoti, mungkin karena badannya meronta - ronta disertai fikirannya yang cukup lama tidak dikenai zat - zat tertentu.. Tanpa disadari tangannya memegang - megang dan menoreh - noreh kanvas, padahal tidak ada pesanan hari itu…
Kali ini kejenuhan yang membuat motor tubuhnya bergerak, menstarter tangannya untuk bergerak, juga otaknya..
Tangannya menari di atas kanvas..bergerak dan mereka - reka, menoreh dan memulas…
Ia tertawa sendiri saat melihat goresan - goresannya..wajah wanita…entah siapa..Dan ajaibnya, wanita itu mirip banyak orang, ada mata ibunya di situ, ada bibir mantan pacarnya saat kuliah, ada rambut artis favoritnya, ada hidung pembantu rumah tangganya dulu, tapi seluruhnya membentuk kesatuan..suatu raut wajah yang biasa..sangat biasa..tidak cantik tapi tidak jelek..
Biasa tapi menggairahkan - menurut batinnya…
Entah bagaiman menjelaskannya dan entah bagaimana gairahnya seperti mulai terpacu … Goresan berikutnya membuat wajah itu kini sedang tersenyum, goresan selanjutnya membentuk raut cemberut dan tak lama kemudian entah sudah berapa ekspresi dihasilkan…Ia tertawa sendiri..
Wanita
Wanita apa ini
Gadis
Perawan
Apa ini
Apakah raut wanita idamannya secara bawah sadar ?
Ia tak peduli
Bahkan saat ia harus merelakan sisa uangnya untuk membeli kanvas baru
V
Esoknya kenalannya memesan sebuah lukisan
Dibayar di muka. Ia siap siap memulai pekerjaannya. Mulai bergerak dan bergerak..
Gerakan demi gerakanya dalam menyapukan kuas berakhir dengan gagal
Hal biasa baginya.Bukan masalah, ia akan memulai lagi
Mulai …bergerak…dan bergerak..
Gagal
Mulai …bergerak…dan bergerak..
Gagal !!!
Gagal untuk berkali kali. Dengan geram dicampakkannya kanvas.
Apa yang terjadi dengan tangan otak dan pikirannya
Hasilnya selalu berbeda…
Selang seminggu
Kini ia mulai putus asa…lukisan itu tidak mirip jua dengan aslinya..malahan raut wajah si wanita misterius itu yang membayangi. Ia serasa jadi gila…
Mungkin karena sama - sama wajah wanita - batinnya
Ia mulai mencoba membuat lukisan yang lain. Ia ambil contoh dari foto penyanyi favorinya yang berkelamin pria .
Gagal juga !!
Gagal lagi !!!
Putus asa, ia menelepon si pemesan meminta maaf dan menolak beberapa tawaran lukisan yang lain.
Gelisah..bingung…Ia terhenyak di atas tempat tidur..
Bagaimana aku hidup ? .. Tepatnya bagaimana aku mendapatkan uang..
Ia mulai khawatir
Tapi sisi lain dari dirinya tak kenal khawatir
Matipun, toh dia gak perduli …
Kebingungan dan kejanggalan yang terlalu menjejali otaknya harus dilampiaskan..tak ada lagi uang untuk heroin..tak ada lagi uang untuk rokok, bir..tak ada lagi untuk hal - hal seperti itu…
Kesumpekan di otak mengalir ke tangan yang memandunya untuk kembali menyapukan kuas.Dia mulai mengambil beberapa barangnya yang bisa dijual ke tukang loak, seperti beberapa kaset, CD, jaket..
Menyusul tape compo
TV
Kulkas kecil
Kompor kecil
Tempat tidur
Selang dua bulan isi kamar yang tersisa hanya lukisan - lukisan wajah wanita itu, baik dalam kanvas, kertas , ataupun sobekan kain yang dibuat dengan cat poster, arang, pensil, kecap bahkan saos. Ia bahkan nekad melukis di tembok kamar kost nya sampai ke langit – langitnya. Ia bahkan tidak berani menerima teman - temannya yang mengunjungi, kamar dikuncinya rapat – rapat. Jika ada yang sempat masuk kamarnya sudah pasti dia akan dipaksa - paksa masuk rumah sakit jiwa
Gilakah ia
Ya - ini bukan kerjaan orang waras paling tidak menurut pandangan kebanyakan orang…
Dia tertawa sendiri
Dan lukisan - lukisan itu mulai ia ajak berbicara.
Wajah yang cemberut ia goda goda
Wajah yang tertawa ia ajak bercanda
Wajah yang diam dan hambar dia ajak bermuram bersama
VI
Entah sudah berapa hari, minggu atau bulan ia lalui hidup begitu sampai akhirnya pemilik tempat kost mulai bersikap keras. Menyikapi eksistensinya yang tak lagi diharapkan dikarenakan tak lagi mampirnya sejumlah uang ke tangan si pemilik kost. Maka diusir keluarlah dia plus lukisan lukisannya, yang di tembok tentu dengan segera dicat lagi oleh si empunya kostan, tanpa rasa kagum atau takjub atas hasil jerih payahnya..
Ia kini lontang lantung di taman kota, di masjid - masjid ,di gereja, vihara, mana saja yang bisa ia tidur dengan aman dan gratis untuk isirahat.
Wajah si wanita itu dilukisnya di mana mana
Di kotak rokok bekas
Di bangku taman
Di tiang listrik
Di rambu lalu lintas
Di pohon tua
Di semen yang masih basah
Dengan potongan arang
Dengan bekas potongan pensil
Dengan lumpur
Dengan sisa - sisa zat berwarna apa saja yang bisa ditemui di jalan
Dengan apa saja..
Di mana ia bisa dan ada medianya
Di setiap tempat yang ia lalui
Ia makan dari tong sampah dari manapun yang bisa dan masih cukup layak dimakan
Di negara yang sampah sedemikian banyak dan orang suka berhambur hambur, ia merasa tak mungkin mati kelaparan. Rongga - rongga otaknya yang sudah menjerit - jerit meminta suntikan yang dulu biasanya tiap hari diinjeksikan tidak dia hiraukan
Kesehariannya dilalui dengan melukis, melukis dan melukis.
Dari belasan wajah yang ia lukis di jalanan kini menjadi puluhan
Dan dari puluhan menjadi ratusan
Dan kini mungkin ribuan
Ia tertawa - tawa sendiri saat berkeinginan melukis di pohon - yang kemudian ia dapati ternyata pohon itu telah ia lukis dahulu dengan wajah wanita itu..
“Hahaha - sungguh tak pernah jauh kau dari diriku…” Ia tertawa senang.
Beberapa dinding di kota itu, tentunya kecuali dinding rumah - rumah besar atau gedung - gedung tinggi yang ada anjing galak atau satpam, bersih dari lukisannya .Masih ada sisa kewarasannya yang berupaya menyelamatkan dirinya dari gigi si anjing atau pentungan si satpam.
“ Aku bercinta dengan hantu
Dengan mahluk yang tidak jelas keberadaannya
Hanya di hatiku dia hidup
Maka akan kuhidupkan dia di dunia ini”
Gairah ini baru dia rasakan
Gairah hidup
Baru kali ini ia ingin tidak mati begitu saja
“ Aku tidak akan mati “ – ia berteriak
“ Sampai seluruh pojok kota ini dan bila perlu seisi dunia ini dilukisi wajahmu “
Dan seakan baru kali ini ia merasa punya fokus dalam hidup
Dan energi yang tak henti henti.
Tidak ada yang cukup berani menghentikannya, bahkan saat ia kepergok melukis di dinding rumah walikota. Ia bahkan melukis di dalam sel, pukulan reserse atau rekan satu sel tak ia hiraukan, tangannya tetap bergerak.
Energinya teru saja muncul entah dari mana…
Mulutnya entah sudah berapa lama tak ia gerakkan.Hanya tangan dan pikiran, ketajaman mata yang membuatnya hidup,jika itu masih bisa dibilang hidup
VII
Baru kali ini Ia merasa tak ada yang perlu dirisaukan
Tak perlu apapun
Hanya media
Dan kerja
Hanya media
Dan kerja
Tak peduli lagi soal apapun
Utopia ciptaanya sendiri’, kerajaannya di semesta adalah wajah wanita yang entah siapa.
Yang tak ada keberadaannya kecuali dalam pikirannya
Ia semakin kerap bercinta dengan lukisan - lukisannya
Dengan wajah - wajah menggoda yang ia ciptakan
Dengan kerlingan manja yang ia sapukan
Hingga hari itu saat wajah itu terlihat nyata berdiri di seberang jalan. Memandang lurus ke arahnya dan tersenyum manis. Tidak ada kejanggalan ia rasa, Ia tersenyum lebar membalas ” Akhirnya kau datang jua” Ia bergumam.
Kakinya bergerak perlahan menghampiri. Kaki yang bergerak dengan penuh semangat dan gairah. Kaki – kakinya terus melangkah, bahkan saat terdengar suara benturan keras yangs eakan memecah gendang telinganya, ia tak peduli - kakinya terus juga melangkah…
Dan tak lama kemudian matanya hanya melihat kegelapan – seakan gerhana datang menikam.Ia mulai mendengar sayup - sayup suara teriakan di sekitarnya.
Dari kegelapan itu…
Remang - remang ia masih dapat melihat …
Wajah wanita
Yang sangat ia kenal
Tersenyum
Kemudian memudar
Memudar bagaikan cat air basah yang terkena hujan deras
Meleleh
Seperti menangis
Dan sebelum kegelapan yang menghampiri ia kini datang untuk selamanya, jarinya yang berlumuran darah ia paksakan menggores ke atas aspal
Membentuk muka
Rambut
Mata
Dan bibir
Lalu pandangannya kembali pudar
Bahkan nafasnya mulai terasa terhenti
Ia rasanya kenal betul dengan saat saat begini
PEMBEBASAN ROH
Dan ia tertawa saat dia sesaat melihat tubuhnya sendiri bermandikan darah di bawah sana berbarengan dengan kerumunan orang yang menjerit, meludah dan menutup mata.
Dan sosok wanita yang rasanya ia kenal itu ada begitu dekat di sampingnya, tersenyum…
TAMAT