“Bunting lagi si Jamila, tak cukupkah anaknya Heri si sulung itu!” gerutu bu Wati tetanggannya dengan muka marah.. Orang lain memperhatikan Jamila berbadan dua, pasti ada-ada saja umpatan yang akan di terimanya. Bahkan tak jarang ada yang melemparinya dengan batu kerikil dan di akhiri ayahnya yang sudah tua itu ; mencoba-coba menghalang-halangi batu lemparan warga. Jamila adalah anak satu-satunya pak Ahmad, dia menjadi gila sejak umur 19 tahun. Tak ada yang mengetahui apa penyebabnya menjadi gila. Tiba-tiba saja sabtu pagi 6 tahun lalu dia berlarian telanjang kesana-kemari. Dan sampai sekarang cericaunya dan senyumnya masih melekat kental di romannya. Sebenarnya dia gadis cantik dengan tubuh yang tinggi dan pantat berisi. Kulitnya putih bersih terlihat menarik hati bila di tambahi rambut yang panjang terjatuh. Rambutnya itu seperti iklan shampo sunsilk. Rambutnya selalu sengaja di belai-belai oleh angin. Bila dia berjalan pantat dan rambutnya ikut menari-nari, Bahkan lelaki-lelaki di kampung sering menelan ludah belingsatan bila melihat gaya jalannya.
Karena tubuhnya yang sintal banyak sekali pemuda-pemuda sekampung kepingin mencicipinya, ada yang terang-terangan dengan jalan melamarnya, ada yang main belakang dengan cara mencuri-curi waktu apabila pak Ahmad tak lagi di rumah. Karena kelakuan para pemuda-pemuda di kampung membuat pak Ahmad larut dengan kesedihannya. Apalagi sekarang ini pak Ahmad sudah sakit-sakitan. Dan pak Ahmad juga tak mempercayai semua yang di kampung ini. Sekalipun itu adiknya Wani tak dipercayainya. Siapa lagi ayah yang di perut Jamila ini? Tanya warga sekampung penasaran. Dan sekarang ini warga kampung kepingin mengusut anak-anak yang dilahirkan Jamila. “ini akan meresahkan kampung kita” kata mereka di hadapan pak lurah. Pak lurah mencoba-coba menenangkan para warga yang berkumpul di rumahnya. “kita jangan bertindak ceroboh” nasehat pak lurah. “tapi sampai kapan kita akan menunggu” tanya yang satu dengan kemarahan.
Pokoknya persoalan Jamila telah membikin pusing sekampung, bahkan warga kampung bersumpah bila menemukan siapa pelakunya, akan mereka bakar hidup-hidup. Dan kandungan Jamila semakin hari semakin besar, malah sekarang telah memasuki 8 bulan. Warga kampung semakin kesulitan mencari pelakunya. Bila ada kesempatan bertemu dengan Jamila, mereka langsung mencegatnya, menghadiahi dengan umpatan dan pertanyaan. Akhirnya Jamila lari sambil meluncur deras airmatanya dan berteriak-teriak. Pak Ahmad semakin bersedih oleh kelakuan warga kampung. Satu waktu pak Ahmad dilarikan ke rumah sakit, karena penyakit jantungnya telah kambuh. Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh warga kampung. Lebih dahulu yang berkunjung ke rumahnya adalah kaum ibu-ibu. Jamila di interogasi. “siapa ayah anak-anakmu, ayo jawab” bentak mereka. anak Jamila yang berumur tiga tahun menatap warga ketakutan dan memeluk ibunya sekuat-kuat. “kalau tidak ngaku, kami akan merajammu sekarang” ancam yang lain. Semakin dia tersudut akhirnya dia berteriak-teriak ketakutan. Maka berhamburlah pukulan mengenai muka dan tubuhnya. Dia di keroyoki di depan anaknya berumur tiga tahun. Dan untungnya pak lurah beserta dengan hansip kampung segera berlarian mencegah amukan warga. Para hansip mencoba melerai satu persatu ibu-ibu yang marah kesetanan. Bahkan sampai azan isya berkumandang di tiga masjid kampung, tetap saja mereka tak menghiraukan.
###
“Ada kuda putih melucuti bajuku” teriak jamila. “benar, dia datang, kamu tahu itu kenanganmu” teriak salah satunya. “bukan dia akan menjemputku, dia akan membawa terbang aku jauh mencapai lapis langit yang ke tujuh”belanya. Akhirnya jambak-menjambak, tarik-menarik tercipta. Perawat segera saja mendekat dan mencoba melerai mereka berdua. Malah perawat yang satu kena garukan Jamila. Yang satu lagi kena tamparan Jamila. Karena kekesalan kedua perawat itu akhirnya dibiarkanlah kedua pasien rumah sakit jiwa itu bergumul menjadi satu. Di sudut sel bagian luar ada beberapa pasien meneriaki memberi dukungan, malah perempuan yang berbadan besar menangis tersedu-sedu. Setelah agak lama bergumul di lantai datanglah tenaga medis yang lain mencoba melerai. Akhirnya terpisahlah keduanya dengan rambut yang awut-awutan. daster keduanya sobek di sana-sini, yang paling parah adalah hidung Jamila berdarah. Matanya lebam, dan bajunya terbuka setengah telanjang. Riuh riak sorakan yang lain masih menggema bahkan di ikuti tepuk tangan. Jamila di seret ke ruangan yang lain, mereka berdua di tempatkan di tempat yang berbeda-beda.
Kelihatannya sekarang dia mulai agak tenang, tapi riak di mukanya masih berombak keras, bahkan angin yang membawa riak-riak di mukanya masih kencang. Perawat masih membiarkan sendiri bergelut dengan nafasnya yang masih menggeram. Tiba-tiba saja dia berteriak-teriak, bahkan teriakannya semakin menjadi-jadi. “darah, darah, anakku” teriaknya berulang-ulang. Dan memang benar! Di kakinya darah mulai meleleh, lelehan itu lambat-lambat terus merayapi kakinya. Dia berteriak-teriak sejadinya. Tak ada yang pedulikan dia, perawat seakan-akan tak mengetahui apa yang diteriakinya. Sebuah sosok berbadan gelap menemuinya. Jamila semakin takut, takut akan sosok yang bertubuh tinggi. Lemparan senyum ke arahnya, membuat dia semakin mundur ke belakang menempel ke dinding sel. Matanya dicoba untuk membuat singkapan di pandangannya.”jangan! jangan! Kau ambil anakku. Tolong, jangan ambil anakku” ucapnya ketakutan. Tetap saja sosok itu tak segan melangkahkan kakinya, lama-lama semakin dekat, memeluknya hingga kehilangan nafasnya sebentar. Dia tergagap-gagap berbicara. Serasa sempit laju nafasnya, tak ada lagi nafas yang kedodoran seperti dia waktu berkelahi tadi. Akhirnya dia terkulai lemah menghadap tanah.
Jamila pingsan, ketika ada perawat yang berlalu-lalang memperhatikannya, perawat itu terkejut, karena banyak darah yang menggenangi tubuhnya. Segera saja perawat melaporkan kepada temannya yang lain. Akhirnya empat perawat datang menolongnya. Sementara Jamila masih pingsan dengan raut yang pucat. Seperti kuda putih seputih salju.
###
Jamila berlari-lari kecil di sebuah sawah yang padinya putih sekali, pakaiannya pun putih sekali, tapi karena becek-becek yang menggenang di sawah akhirnya dia terpeleset jatuh. Ketika dia bangkit berdiri, bajunya telah dibasuh oleh noda-noda, bahkan lama-lama noda itu menjadi warna merah. Seketika dia berontak, dan samar-samar dia melihat semuanya menjadi normal kembali. Sekarang dia di hadapan para perawat yang berperawakan tua, mirip ibunya dahulu tersenyum teduh kepadanya. Dia sekarang dirawat, dan perutnya telah kempis. Tak ada lagi calon bayi di perutnya. Dia menangis kembali, tapi tak se-brutal seperti kemarin. Dia menangis layaknya anak kecil di depan ibunya. Perawat itu memeluknya dan dia menangis sepuasnya di dada perawat.”menangislah bila kamu merasa itu pedih” kata perawat tua itu.
“Jamilah adalah ibuku, ibu kandungku yang menanggung sakitnya bertahun-tahun. Ibu yang membawa berlari rahasianya hingga ke dalam rumah sakit jiwa itu. ibu yang membungkam mulutnya hingga tak ada sebuah kata; kata yang memberitahukan siapa ayahku. Itulah dia dengan perangainya. Tapi kenapa nanti sekarang semuanya terkuak? Kenapa nanti aku sebesar ini?” Semua pertanyaan menghujani seluruh fikiran dan rasanya. Pelan-pelan air mata yang hilir mudik dari bola matanya tertidur lemas di pipinya yang letih. Hembus nafasnya mendera, bahkan tarikan nafasnya serasa berat. Ini akibat sebuah surat; surat yang membuatnya terkulai lemah menatap pijakannya. Keseimbangannya sedikit goyah, Heri mulai terhuyung-huyung mencari sebuah tempat sandaran. Dalam benaknya sosok Winda menari dengan tarian pencinta; yang tak bisa dia lupakan sumur hidupnya. Wanita itulah yang di cintanya siang dan malam, dengan susah payah dia mengalahkan hati perempuan itu, tapi kenapa sekarang menjadi begini. Winda adalah anak kesayangan ibu Isna. Ayahnya telah meninggal setahun lalu. Fikir Heri bahwa ayahnya Winda selalu merintangi hubungan mereka berdua, tapi kenapa setelah rintangan berlalu, datang lagi sebuah rintangan yang berbentuk ombak besar dan tak bisa dia lawan. Karena di balik ombak ada rintangan pembatas akidah. Yang haram menurut syariat. Surat itu di bukanya kembali. Surat yang menegaskan semuanya. Surat yang di kasih adik kakeknya bernama Wani. Surat yang menancapkan ribuan belati merobek sukmanya.
“teruntuk anakku: Heri tercinta
Heri belahan jiwaku! surat ini ibu tulis terburu-buru. Mengingat umur ibu tak lama lagi, karena kanker telah menggerogoti badan ibu. Maafkan ibu tak ada waktu melihatmu tumbuh besar. Kita telah terpisah nak! Dan kau mungkin sekarang telah besar. Pasti bu Surya memeliharamu dengan baik. Dia adalah sepupu ibu yang sukses, karena ibunya ; ibunya mampu tak seperti kakekmu. Dan tak gila seperti ibumu. Maafkan ibu karena tak bisa melahirkan adikmu. Dia telah gugur di medan rahim ibu. Itu juga salah ibu; ibu yang sinting ini. Bila Wani pamanmu bisa memegang janjinya, pastilah surat ini akan sampai ke tanganmu apabila ibu telah tiada. Dan satu rahasia yang ingin ibu berbagi kepadamu; itu nak! tentang ayahmu. Pasti selama ini kau bertanya-tanya siapa ayahmu? Sekali lagi, maafkan ibu telah menyimpan rahasia ini. Kamu pasti ingat pak Lurah kita di kampung kita yang dulu, namanya Pak Kifli. Dia itulah ayahmu sebenarnya. Carilah dia sekarang, mungkin dia tak di kampung itu lagi. Karena ibu dengar kampung kita yang dahlu telah tergusur. Tergusur oleh zaman. Dan kenangan kita juga telah hanyut. Hanyut bersama di sulapnya kampung kita menjadi sebuah kompleks ruko.”
Dadanya bergetar kembali bahkan menyembul dengan air mata mulai meleleh deras. Dan kembali lagi dia membacanya untuk yang kedua kali.
“kejadiannya waktu itu bulan dzulhijjah, musim manusia menunaikan haji. Dan istrinya Isna menjadi jemaah haji. Pada minggu malam selepas magrib, dia datang ke rumah ibumu, awalnya pura-pura mencari kakekmu. Ibu karena tak tahu akal bulusnya itu, akhirnya dengan polos menyilahkan masuk ke dalam. Dan tak terlalu lama dia mendekap ibu dan sekalian menggagahi ibu. Dan setelah itu dia mengancam ibu; karena takutibu tutup mulut ibu rapat-rapat. Sampai kakek memergokiku dengan kain telah robek di sana-sini. Ibu tak bersuara. Pokoknya ibu tetap menjaga nama baik keluarganya. Maafkan ibu nak. Pasti kau sudah besar dan pasti mirip ayahmu. ! Dan kau mungkin sekarang telah besar. Pasti bu Surya memeliharamu dengan baik. Dia adalah sepupu ibu yang sukses, karena ibunya ; ibunya mampu tak seperti kakekmu. Dan tak gila seperti ibumu. Bila surat ini telah selesai kau baca, cari dan temuilah ayahmu;Kifli, katakan padanya bahwa kau anak Jamilah.
Tertanda : jamilah.
Kenapa, kenapa harus pak Kifli, bukannya orang lain, kenapa Winda harus mempunyai ayah, ayah yang bernama Kifli. Ayah yang lurah kampung kita dahulu. Tak adil tuhan kepadaku, memberikan sebuah cobaan ketika aku akan melamar Winda setelah wisudaku besok. Aku benci ibu! Benci sekali. Benci merusak kebahagiaan anaknya.
###
Malam itu Heri pulang, pulang dengan sebuah seretan kaki berat, matanya agak terhuyung. Tatapannya nanar. Dia masuk tanpa salam, malah sambutan senyum bu Surya tak diindahkannya. Buru-buru dia menuju kamar dengan surat masih di genggamnya hingga kusut. Pagi-pagi persiapan untuk ke acara Wisuda, Bu surya yang tak punya anak itu telah menggedor-gedor pintunya. Karena dari dalam kamar suara pecah telah tercipta dari subuh. Karena kekhawatiran bu Surya memanggil-manggil tetangga untuk mendobrak pintu Heri. Setelah pintu terbuka, raut Heri nampak menakutkan. Rambutnya telah di gunting tak berbetuk, dia malah menerjang pak Rahman tetangga sebelah. Mereka bergumul dan menimbulkan keributan. Dan pagi-pagi pukul tujuh semuanya telah terkumpul tetangga-tetangga terdekat. Dan tak lama setelah bu Isna menutup gagang telefon. Mobil putih masuk parkir di depan rumah dan membawa paksa Heri. Dia di bawa kesebuah tempat. Tempat yang di dalamnya banyak kerangkeng-kerangkeng tersedia. Dan salah satu sel dia di masukkan. Dia masih beringas dengan berontak, kakinya menghentak, tangannya berusaha melepaskan diri dari genggaman beberapa perawat laki-laki. Setelah pintu tertutup. Dia memukul-mukul kerangkeng itu hingga tangannya berdarah. Dan darah itu meleleh di surat yang masih di genggamnya semalam. Di iringi tatapan bu Surya yang meratapinya dengan mematung sesaat di hadapan kerangkeng. Heri menertawakan bu Surya menangis. Lantas bu Suryo lari keluar dengan tangan membekap mulut.
“aku mencintai Winda, Jamilah, siapa dia. Bangsat dia. Aku benci dia. Kifli, biadab. Biadab. Mampus kau di siksa di neraka. Biar mampus.” Suaranya mencoba mengalahkan cericau yang di seberang kerangkeng lain.
“kamu yang bangsat” celetuk yang lain.
Heri marah, marah kepadanya, mencoba menggapai untuk keluar. Ingin dia memukul penghuni kerangkeng sebelah.”bangssaaaat kau” celetuknya sambil berteriak.