KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bidadari Abu-abu

Sering aku merasa ganjil ketika dengan cara yang aneh aku merasa begitu dekat dengannya, perempuan dengan sosok sama denganku. Bertahun lamanya, meski aku tidak pernah benar-benar mengenal perempuan itu, dia yang kerap datang dan pergi di gedung tempatku bekerja, mencari entah itu berita foto atau sekedar berita agenda acara harian yang membosankan. Sepertinya dia tidak terlalu menghayati perannya, sering aku mendapatinya terlihat bosan dan bermuka masam. Tetapi selalu, besoknya dia akan tetap datang dan datang lagi. Mungkin dia hanya datang untuk bertahan hidup.

Seperti aku, dia punya rambut yang sama-sama terurai mayang dan gampang kusut. Rambut itu hanya terlihat rapi di pagi hari, dan akan terlihat kusut masai setelah menginjak pukul sepuluh. Seperti aku, dia juga terlihat tidak terlalu suka menyisir rambut, hem, mungkin kami juga mempunyai jadwal yang sama untuk menyisir rambut, selepas mandi pagi dan selepas mandi malam.

Tapi rambut itu selalu terlihat bersih, tidak berminyak atau berketombe, meskipun pada sore hari rambut itu menyerap keringat seharian, besok pagi rambut itu akan terlihat bersih kembali, aku jadi bertanya-tanya, apakah bahkan pilihan waktunya mencuci rambut pun sama denganku? Setiap hari, menjelang berangkat tidur.

Ah apakah itu juga alasan yang sama ketika kami sama-sama bersin-bersin di pagi hari dan baru hilang ketika terkena sinar matahari, saat penampilan kami sudah acak-acakan. Mungkin endapan air selepas mencuci rambut tadi malam, sama-sama menjelma pilek di ubun-ubun kepala saat kami menjemput bermimpi.

Pernah aku mencoba memandang matanya yang dilengkapi likaran hitam tanda kurang tidur, ah kenapa dia punya mata yang juga sayu sepertiku. Terpadu dengan tatapan tidak peduli dan galak. Pasti dia akan memandang segala sesuatu sama sinisnya denganku, sama-sama tidak memiliki orang yang dapat dia percaya.

Berkali-kali aku mengamatinya, aku seperti menemukan ari-ariku yang dikubur ibuku di pekarangan belakang, atau menatap cermin ketika berpapasan dengannya. Dia seperti hantu cantik yang hidup di antara semangat bertahan hidup dan kebosanan. Aku tidak pernah tahu nama aslinya, meskipun dia telah bertahun-tahun bolak-balik ke kantorku, aku tidak pernah mencari tahu dan tidak pernah berkeinginan untuk tahu. Di antara dirinya dan diriku seperti selalu ada hujan yang rapat-rapat menghalangi pandangan, dia menjadi tidak jelas, apakah putih ataukah hitam, dan aku pun menyebutnya Bidadari Abu-abu.

* * *

Membunuh rindu sering aku lakukan ketika ada hari di mana dia tidak datang, entah meliput di tempat lain, sakit atau apapun itu. Tapi semuanya akan kembali baik-baik saja ketika aku menemukannya kembali di antara kerumunan wartawan yang mencoba melobiku untuk selembar kertas berita agenda acara harian yang membosankan itu.

Yah, semua terasa baik-baik saja, selalu baik-baik saja, jika saja hari itu tidak datang.

* * *

Hari itu tiba-tiba teman wanitaku menyodorkan sebuah tiket pesawat PP Jakarta-Milan-Jakarta. Salah seorang teman dekatku yang kebetulan berbeda dalam kesadaran fashion. Sementara aku selalu merasa nyaman dengan celana dan kemeja katunku yang berpotongan standar, dia hadir dengan memasangkan gaun selutut koleksi Balenciaga yang penuh melambai dengan sepatu high heel feminim dari bahan sueded keluaran Christian Louboutin-Paris.

“Akhir pekan ini kita akan ke Milan. Aku dapat undangan khusus untuk lima orang, pas sekali bukan”

Kita adalah kami berdua, ditambah tiga orang lagi teman dekat kami.

Aku mengerutkan kening, “Tapi Aku…”

“Ini adalah bonus perusahaan atas ulang tahunku, masih ingat kan tanggal lahirku? ”

Aku mencoba bicara, “Ya, tapi… ”

“Berarti tidak ada alasan untukmu mengecewakanku,” tegasnya.

Lalu dia berlalu begitu saja, dan aku masih bengong di tempatku.

Aku tidak pernah keberatan untuk kumpul dengan teman-temanku, apapun acara dan kegiatannya, kecuali untuk acara yang satu ini, pagelaran busana.

* * *

Ternyata liburan ke Milan beberapa waktu lalu itu tidak hanya sebagai bonus untuk temanku, tapi juga peringatan untukku. Melalui mereka, akhirnya aku tahu, kalau perusahaan mencoba menyogokku, kalau bukan mengancamku, untuk merubah gaya dan penampilan ku. Ini sebuah kasus khusus, karena mereka sangat menyukai isi otakku tapi tidak dapat menerima gaya berpakaianku yang bagi mereka di bawah standar. Sama sekali tidak mendukung citra perusahaan yang berkelas Internasional.

Ketika aku bicarakan dengan suamiku mengenai tuntutan mereka merubah cara berpakaianku, dia langsung menyuruhku pindah pekerjaan.

“Apa dengan kapasitas otakmu itu, kamu mau saja didikte untuk menjadi boneka-boneka mereka itu? Sudahlah cari perusahaan lain yang lebih menghargai kepribadianmu dibanding penampilanmu”

Aku merenungkannya berhari-hari, berdiskusi dengan teman-temanku yang kemudian memutuskan apa salahnya tampil fashionable, toh kapasitas otakku tetap sama.

* * *

Berubah penampilan tampaknya tidak sesederhana itu. Menjadi fashionable ternyata harus dibareng dengan, jadwal rutin ke salon, spa, berbelanja baju model terbaru dan memantau perkembangan mode. Dalam beberapa waktu aku mulai menikmati gaya hidupku yang baru, lengkap dengan kongkow di café dan pilihan jenis makanan yang biasanya tidak terlalu aku sukai.

Semua orang terlihat senang dengan perubahan gayaku, sebenarnya tidak semua orang, suamiku justru terlihat tidak suka dengan gaya baruku. Tapi aku tidak ambil pusing, pikirku, mungkin dia hanya cemburu. Dan dia pun semakin sibuk dan malas ngobrol denganku. Memang pembicaraan kami telah semakin berbeda. Aku dengan obrolan fashion-ku, sementara dia dengan isu-isu yang sebenarnya dulu kerap aku lahap.

Ada hal lain lagi yang aneh, aku naik jabatan, padahal aku tidak membuat peningkatan apapun selain di bidang gaya hidupku yang semakin tinggi. Sehingga tidak hanya suamiku yang semakin sibuk, aku pun kerap kehabisan waktu untuk sekedar mengiriminya sms, bahkan untuk waktu semenit di pagi hari, semenit di siang hari dan semenit di sore hari, yang dulu tidak pernah aku lewatkan.

* * *

Sore ini tidak biasanya aku keluar rumah menjelang magrib, biasanya pada jam segini aku baru akan memasuki kota bogor untuk mudik akhir pekan, tapi tadi aku sampai lebih awal dan menghabiskan sore di rumah orangtuaku. Sementara suamiku masih sibuk sampai hari Sabtu, sehingga dia baru akan menyusul selepas kerja untuk menghabiskan hari Minggu bersamaku di kota Bogor.

Sesampainya di tempat yang kutuju, hiruk pikuk akhir pekan telah memenuhi mall tempat janjianku dengan beberapa teman wanitaku. Dari sms salah satu dari mereka aku tahu mereka sedang menungguku di sebuah cafe kue yang baru dibuka di lantai dua.

Sambil menaiki eskalator yang penuh sesak, mataku jelalatan ke banyak orang yang berdandan cantik dan wangi sambil memasang wajah ceria, penampilan khas akhir pekan, buatku malah membuat mata capek dengan keindahan.

Jadi ketika di antara mereka muncul sebentuk muka masam dengan dandanan yang sangat biasa, tiba-tiba seperti oase untukku, dia menjadi titik paling berbeda dan menarik, rambut yang kusut masai tanda belum disisir, mata dengan lingkaran hitam akibat kurang tidur dan dahi berkerut-kerut lantaran selalu berpikir, persis sekali dengan aku di masa lalu, aku mengulum senyum, merasa sangat familiar dan memicu kenangan.

Akhirnya aku sadar dan mengenali si muka masam yang sedang dipeluk mesra seorang laki-laki yang mendaratkan bibirnya di kening wanita itu, dia, si Bidadari Abu-Abu yang menghilang beberapa waktu lalu.

Tidak ada lagi kesamaan di antara kami. Tapi ternyata aku salah, sedetik kemudian, kurasakan pandanganku berkunang-kunang dan badanku meringan, ketika mendapati sebuah kesamaan baru yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Kesamaan yang membunuhku. Kesamaan yang berdiri di sampingnya.

Entah sejak kapan, ternyata selama ini kami telah memeluk laki-laki yang sama, laki-laki yang selalu masih sibuk sampai hari Sabtu, sehingga dia baru akan menyusul selepas kerja untuk menghabiskan hari Minggu bersamaku.

Tinggalkan Komentar