Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
bisu
daun di bawah lantai
satu kata di bibir langit
kuulum senyum dalam secawan bisu
niscaya terulur tangan suci
di bisu matahari malam
kunyata tawa tak tanya
seumpama debu dibias relung jiwa
kuurat jemari waktu
ditelikung rasa dihitung rasa
Posted in Puisi, Intermezzo on Mei 21st, 2007 No Comments »
Betapa masih,
Aku berhitung tentang pahala dan dosa; seperti pedagang culas
Menakar-nakar apa yang telah kau beri;
apa yang kuberi?
O, betapa keserakahan, keangkuhan dan kepicikan
Lebih dekat dari detak jantung, hingga luput terlihat olehku…..
Ampuni hamba !
Permanent link to this post (39 words, estimated 9 secs reading time)
Izinkan aku menjadi lilin bagimu
Meski tak sebenderang matahari
Namun kuharap cukup berarti menyuluh gelapmu
Menjadi sedikit nyala dihati dan sekedar membantu mengenali arah kau melangkah
Aku tak pernah bisa menjadi matahari bagimu
Setidaknya, terimalah persembahan satu kerdipan api
Sepanjang cinta membakar seluruhku,
Maka,
Posted in Cerpen on Mei 20th, 2007 No Comments »
Aku sendiri… Berjalan di belantara kehidupan Menapaki ilusi jiwaku merenda impian kosong yang tak kunjung nyata Menanti kereta masa depan menjemput asaku Asa yang tak pernah kutemui titik cahayanya Yang dapat menerangi liangku esok Aku sendiri…. Berdiri tegak di tengah kekerasan Melapangkan dada di tengah kelemahanku Aku takut jika ketakutan makin membunuhku Perlahan…Namun pasti ! Semua terlihat jelas ! Bagaimana kehancuran akan datang padaku Menghampiri hidupku Aku sendiri… Di sudut ruang gelap merengkuh diri dalam kegelapan Menutup diri dalam tangisan derita Tanpa seorang pun tahu ! bagaimana aku harus kuat melawan semuanya Dengan kesendirian ? Aku sendiri… terpuruk…tersungkur…lalu terjatuh… Hei…! KAU….!! Padahal Kau tahu apa yang aku rasakan Tapi, mengapa kehidupan makin pahit kurasa? Kehidupan ini lebih pahit dari empedu Entah empedu manusia Atau binatang sekalipun ! Tak akan ada yang menyamainya Masihkah otak ciptaan-Mu ini dapat membantuku ? Bah ! Berfikir normalpun aku tak mampu Aku terlalu hancur dengan derita yang datang bertubi-tubi Katakan Padaku ! Apa yang sepatutnya aku lakukan ? Meratapkah ? Menangiskah ? Atau hanya diam saja ? Hanya untuk menunggu Malaikat Izroil-Mu Mencabut nyawaku dengan kasar ? Jawablah ! Aku mohon…! Aku tahu tidak sepatutnya aku menanyakan hal ini pada-Mu Pada siapa lagi ? Apakah harus pada matahari-Mu ? Hah ! Dia saja tak mampu memeprtahankan diri Pada saat senja menariknya tenggelam Apakah harus pada Rembulan-Mu ? Sama saja ! Dia tak akan mampu melewan fajar Atau hruskah pada selain-Mu ? Oh, tidak !!! Hanya Kau yang aku miliki Hanya Kau yang dapat membantuku Jika aku boleh memilih… Bolehkah aku tidur dengan damai dalam peluk-Mu ?
Permanent link to this post (262 words, estimated 1:03 mins reading time)
Posted in Puisi on Mei 19th, 2007 2 Comments »
Air kehidupan turun dari langit
Basahi bumi
Basahi pohon
Basahi udara
Basahi segala kekeringan
Segarkan segala kegalauan
Air kehidupan turun tanpa batas
Dalam kegelapan malam yang dingin
Semakin mendinginkan suasana
Dan membuat diri ini merinding
Air kehidupan turun dengan cinta
Membawa berkah yang tiada tara
Menyelamatkan jutaan makhluk bernyawa
Menghilangkan segala kegersangan yang ada
Air kehidupan adalah anugrah
Yang tidak ternilai dengan setumpuk harta
Air kehidupan yang luar biasa
Teruslah datang
Teruslah turun
Dan teruslah mengalir dengan deras
Agar kehidupan tetap berlanjut
Permanent link to this post (83 words, estimated 20 secs reading time)
Posted in Puisi on Mei 17th, 2007 No Comments »
Ayo naik kereta
Angkutan yang aman
Cepat dan murah
Ayo naik kereta
Ke kota mana saja
Pasti sampai tepat waktu
Walau telat berjam-jam
Atau tidak sampai tujuan
Kenapa?
Karena jadwalnya padat
Karena keretanya sudah tua
Atau karena relnya karatan
Atau anjlok lagi
Itu biasa
Namanya juga kereta
Pasti sering anjlok
Lalu terguling
Paling-paling penumpangnya luka
Atau cuma beberapa yang mati
Dan human error selalu jadi kambing hitam
Biasa banget!!!
Permanent link to this post (70 words, estimated 17 secs reading time)
Posted in Puisi on Mei 15th, 2007 3 Comments »
banyak diantara kita
mendapat kesempatan emas
untuk mendapat yang terbaik
dan kadang kita tak tanggap
terhadap keberuntungan itu
hati ini kadang sakit
bahkan sering
ya, terlalu sering
sehingga sulit untuk mengerti
arti kebenaran yang hakiki
jalan hidup seseorang
kadang lurus, dan
kadang membelok
dengan atau tidak disadari
begitulah…
yang terjadi dalam kehidupan
tak ada yang mengerti
mengapa kejadian ini
menimpa diri kita
Posted in Puisi on Mei 14th, 2007 No Comments »
Malam kian larut
Mata semakin mengantuk
Kegelapan menyelimuti
Udara dingin getarkan hati
Sunyi
Sepi
Tak ada kesibukan
Tak ada kegiatan
Hening
Serasa berada dalam damai
Tentram
Tanpa ada kerusakan
Segalanya menjadi sangat tenang
Hilanglah kepenatan
Hilanglah kebingungan
Karena diri ini ingin sendiri
Sendiri dan hanya sendiri
Hanya ada gelap
Hanya ada hening
Hanya ada sepi
Hanya ada sunyi
Dan sang jangkrik yang bernyanyi
Permanent link to this post (64 words, estimated 15 secs reading time)
Posted in Puisi on Mei 14th, 2007 1 Comment »
Aku rindu sepertiga malam
tapi kita tak bertemu malam ini
karena aku bersegera menuju jurang
dan papa dan nista
tak ada niscaya bagi malam-malamku
lagi, karena mimpi-mimpi tercerabut sendiri
aku menguji sejauh mana aku harus terseok-seok menghadap-Mu
karena tak ada lagi mukjizat di bumi carut-marut