KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bicara Kepada Sunyi

Aku dan dia bertatapan erat dan lekat. Aku tersenyum tipis, ada luka dimatanya. Aku mempertahankan senyumku.

“kenapa kau tersenyum?”ia bertanya dan itu membuatku hampir tertawa.

“apa dalam kamusmu tidak ada lelucon?” aku memasang mata lebar menembak matanya

Pandangannya menusuk hatiku, mau tak mau aku membuang wajah mengalihkan pandangan sejenak. Menggigit bibir.

“kau besar dalam pengasingan dimana ada pendapat bahwa kehidupan yang saat itu kau jalani tidak bisa diterima orang!” kali ini dia yang tersenyum tipis, bukan senyum mengejek. Dia hanya sedang menikmati fakta yang baru saja dilontarkannya. Dia ada dibagian itu dan tak mau dilupakan begitu saja. Aku mencoba tersenyum

“ulurkan tanganmu!” pintaku.

“Hah..!!”

“ulurkan tanganmu!!” aku mengulangi. Tangannya terulur kedepan, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Aku sendiri masih dengan pandangan beku.

“Bukankah kau menyentuh sesuatu?” kata-kataku itu membuat alisnya berkerut sedikit. “sesuatu yang tidak kita lihat, sudah berdiri tegak disitu. Aku ataupun kau tidak bisa mempungkiri hal itu!” aku masih punya senyum datar ketika menjelaskan hal itu. Ada rasa jauh, rasa sesuatu yang tidak akan bisa kembali lagi. Pedih. Perih.

Dagunya sedikit bergetar. Bibirnya bergerak halus. Tatapan matanya kosong.

Aku melihat air matanya.

“Inikah pilihanmu?” ia memandang kearah kiri kanan bahunya. Pelan, kemudian beralih pandangan kedepan. Padaku. Menunggu jawaban. Sejenak aku memandang keatas. Menarik nafas, berharap ada sisa-sisa ruang kosong dalam dadaku. Terlalu sesak. Aku memandang sekelilingku, menatapnya dengan pandangan datar seakan ingin menunjukkan bahwa aku orang yang tegar.

Aku berucap pelan, seakan hanya untuk dia dan angin saja. Mungkin juga pada dinding yang ada diantara kami. “ini bukan pilihan, ini adalah ketetapan!”

Aku menatapnya lekat. Bukan pada dia. Tetapi pada apa yang mengelinginya. Aku rindu.

Aku menyipitkan mata. Berkonsentrasi pada pandangnku.

Ada sesuatu dibalik kabut. Dibalik punggungnya.

Aku berharap salah lihat.

Ia menengok kebelakang sekilas, “kau tidak salah dengan apa yang kau lihat. Dewimu bertahan disini dan memberikan hatinya sepenuhnya denganku”

Kelopak mataku tertutup separo. Aku tidak mengantuk.

“dengan semua luka, dewimu bertahan bersamaku bahkan saat kau sedang mencari obatnya, dia sudah berhasil mengobatinya dengan hanya menerima”

“MENERIMA…???” tanpa sadar aku memekik idiot.

Dia mengangkat alis “dia sudah menerima sesuatu hal yang sangat ingin kau ubah!”

Perutku terasa mual. Aku merasa ada yang berputar cepat.

Dia tersenyum dengan faktanya, aku terluka dengan faktanya.

“hal apakah yang sangat ingin kau lampaui?” dia bertanya dengan pertanyaan yang kesekian.

Aku menatapnya dengan goresan tajam.

“Kau..!” dingin dan kaku, itu keluar dari mulutku yang terasa kering.

Ia sinis. Dan aku tidak terlalu suka dengan harus menerima kesinisannya dengan diam saja. Aku tertawa nyaring. Nyaring, sangat nyaring.

“apa yang membuatmu tertawa?” itu menurutku sebuah pertanyaan tolol dan tentunya aku akan memberikan jawaban bodoh.

“Pohon ketapi yang ada disamping pundak kirimu!”

Mau tidak mau ia mengalihkan pandangnya sejenak pada pohon ketapi dengan buah lebat dimana ia berpijak diatas sungai dengan air berwarna kemerahan. Air payau.

“semakin lama, kau semakin tidak bisa kukenali” nada sedih itu buncah dari mulutnya. Aku bisa merasakan kesedihannya. Aku tahu lukanya.

“sebab aku tidak pernah benar-benar ingin dikenali…”

Apa dia juga tahu…

“kalau begitu kau tidak akan benar-benar bisa menemukan cintamu” seakan, dia sedang memberiku saran. Tapi untuk apa? Dia mengatakan untuk hal yang sudah sangat diketahuinya. Aku yakin itu.

Dan, sedikit saja. Aku seakan tersenyum.

“kita sudah menjadi bagian-bagian…” ia mengeleng-gelengkan kepala. “kenangan.. Rindu…Air mata”

Aku hanya diam. Diam saja. Membagi apa yang kurasakan pada sepintas satu daun yang jatuh dan menyentuh ujung kakiku. Sungguh, aku ingin diam saja.

“apakah normal menyenangkan?” kalimat pertanyaan itu berhamburan diantara kami. Entah sadar atau tidak, secara bersamaan kami mengeluarkan pertanyaan yang sama.

Aku. Dia. Tertawa. Kemudian patah. Kami sunyi.

Aku menarik nafas dalam. “aku sudah harus pergi” tanpa menunggu komentar darinya aku membalikkan badan. Dan mulai berjalan. Aku merasa dia sedang menatap pundakku dan kakiku yang berjalan kaku.

“hei, jika kau menemukan kepinganmu…”
“…sisipkan pada kantongmu yang paling dalam agar jangan menghilang”
Aku tertawa tertahan. Aku berbalik. Menatapnya sambil berjalan mundur. Tersenyum lebar dengan tatapan kabur. Tanpa kata berbalik lagi. pergi

Satu daun menyentuh ujung kakiku.

Ada setetes air diujungnya. Kulirik langit. Biru cerah.

Setes kini ada dijung daguku.

Bukan aku yang tergugu.

Tapi, egoku.

Kamar sunyi, Sept 26th, 2006. 10:15pm

Background music yang paling berkesan : Ho gaya hai tujkho (from Indian movie “Dilwale Durhania Le Jayengge” Guess Starring: Shahruk Khan, Kajol, Farida Jalal, Anupam Kher)

Tinggalkan Komentar