KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bicara Kepada Sunyi II

Ia kakukan kakinya, langkahnya terhenti. Memandang berkeliling. Sejenak menutup matanya merasakan melodrama angin yang menerpa segala rasanya. Ia berlahan duduk diatas rumput yang disinari matahari jam sembilan pagi. Bunga pukul sembilan sedang mekar-mekarnya pada jam ini, merah, putih, kuning.Ada yang sedang menhimpit didadanya, begitu berat, angkuh dan kokoh. Mulutnya terbuka sedikit mencoba bernafas. Ia kesulitan, mencoba menggapai-gapai udara. Berharap ada sebuah potongan disana yang bisa membuatnya tenang.

Kadang luka terlampau banyak untuk proporsi sebuah rasa. Akhirnya, Ia ingin diamkan saja. Menarik sedikit garis dibibirnya, tersenyum. Pada angin, pada setumpuk pepohonan dikejauhan, pada langit yang terlihat kesal dengan kesertaan awan, pada rerumputan, pada bukit

Juga pada sesuatu yang entah yang kadang memerlukan sebuah senyuman.

Ia diam. Mengingat. Melirik.

“10…9…8…7…” pelan, ia menghitung mundur.

“3..2…1…”

“”kau terlalu mendramalisir pergerakan!” suara sewot berbisik tajam

Ia tersenyum. Nah kan! Ada perdebatan.

“aku hanya ingin menjelaskan apa yang kurasakan dengan sebuah gambaran, pahit manisnya, mencoba memperlajarinya, merasakan seutuhnya, menikmatinya. Kalau itu yang kau anggap mendramalisir, kau sepertinya tipe (…) yang tidak bisa menikmati sesuatu!”

“Huh…Tidak realistis”

“bersiaplah dihimpit dunia yang begitu realistis dan kau akan terlihat idiot tanpa sebuah lelucon.” Ada rasa nakal dari kalimat itu, “kata orang pintar nih, hidup itu lelucon yang pahit loh..!”

Ia hampir tersedak mendengar kalimat itu.

“apa yang kau dapat dengan perasaanmu?” pertanyaan itu terlalu pelan, ia hampir tidak bisa mendengarnya dan ia pun harus menajamkan pendengarannya untuk jawabannya selanjutnya.

“perasaan tidak bisa dibeli, realistis bisa.”
Ia mengerutkan dahinya, rasanya aku tipe manusia yang lumayan mengagumi hal-hal yang tidak bisa dibeli. Hatinya bersuara pelan.

“langit indah ya!”

‘hei, kalau kalah jangan mengalihkan pembicaraan donk. Tidak sopan tahu!”

“terlalu sok kau!”

“kita sudah sama-sama tahu kan?” kalimat mengantung itu, ia sudah bisa menebak apa kelanjutannya, “kalau hal itu tidak akan ada habisnya bila kita bicarakan. Hampir tanpa akhir yang jelas. Semua akan terlihat baik bila kita menempatkannya pada porsi yang sesuai”

Wow..

Tapi, apa kau tahu? Bahwa ada kadang hal yang harus berulang-ulang kita bicarakan walaupun sudah kita tahu apa. Karna ada rindu. Ada juga sesuatu yang abu-abu! Hatinya riuh membisikkan hal itu.

“trus kau mau kemana nih?”

“jangan terlalu nyaring, dia mendengar!” sejenak ia merasa ditatap oleh yang saling berbicara. Ia pura-pura mencabuti rumput disampingnya.

Kemudian sunyi. Sepertinya semua sudah pergi

Ia membengkokkan kepalanya sedikit kearah kiri.

“hei, aku bosan mencatat dosa melulu..!!”

Hah!! Apa-apaan nih.

Sebelah kanan menanggapi “aku mencatatnya menjadi sebuah pahala karena dia membuatku santai!”

Bah..!!

Ia memeluk lututnya. Terdiam.

“hidup itu seperti sebuah satu jalan lurus dimana tidak ada titik baliknya dan kau tidak akan bisa kembali” (sinetron: Tagwa)
Jangan memikirkan itu.

“dalam hidup, kau diberi sebuah Mozaik yang hancur berantakan, kau berusaha menyusunnya. Dari awal. Untuk melihat gambar apa yang ada disana”

Dan pertanyaannya adalah…

“apakah gambar yang kau lihat seindah yang kau harapkan?”

Awan menertawakan langit karena tingginya jadi tidak terlihat sebab ada yang rendah menutupi.

Ia kaget. Tersadar. Ada sedikit angin yang berhembus.

“hei, bisikanmu sudah sampai sebelum kau hembuskan”

Sepi. Kosong. Sunyi

“hembuskan saja lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Dan…Lagi”

“akan kusampaikan”

“apa yang kau tulis?” ia melirik kekiri berharap kekanan.

“dirimu!”

“seperti apa?”

“sepertimu”

“mu itu seperti apa?”

“lihat harimu”

“lihat hatimu”

“hatimu”

Matanya bergerak liar.

“tidak terlihat!”

Kosong. “aku tidak tahu, tidak terlihat”

“kau tahu”

“kau melihat. Kau mampu melihat”

Tidak sunyi, tidak pada keramaian. Ia punya itu. Ia tahu.

Tetapi…

Big World: Small World, Sept 27th, 2006. 10:35pm

Background music top, “somewhere” by “ Emi Fujita” from her album “Rembrant Sky”

One Response to “Bicara Kepada Sunyi II”

  1. on 26 Jan 2008 at 19:50zes

    ass,sbelum qw tulis surat ini qw minta maf yang sbsar2,kpa mif.ranti mau ngash tau kpda mif lbh baik kta sudahi hubungan yg kta jalani krena jrak lah yg memsahkan kita dan ranti di banjarmasin sudah ada pengganti mif.kuharap mif ngertiin ranti.mafkan ranti ya.

Tinggalkan Komentar