Rian…Rian… dan Rian…
Mei 23rd, 2007 by Hortenshia
Risa merebahkan dirinya di atas ranjang. Capek rasanya. Sudah lama ia tak merasakan kasurnya sendiri yang empuk selama 4 tahun. Ia sibuk dengan kuliahnya di Jepang. Sampai-sampai saat liburan tak pernah pulang. Kalau liburan, Risa lebih suka bersenang-senang dengan teman-temannya di Harajuku atau Shibuya. Bahkan ia sempat liburan ke pantai Izu 2 kali. Hanya karena tak ingin ketinggalan rekreasi ke Jepang yang diimpikannya. Pulang-nya, tentu disambut oleh keluarganya dengan hangat. Tapi ada seorang anak kecil yang menatap dirinya tajam. Ketus sekali bicaranya, “Nggak usah deket-deket!” atau “Apaan sih. Jangan ganggu aku!” Dan rentetan kata-kata yang tentu membuat hati panas.
“Rian…” Risa memanggil-manggil nama anak kecil itu dalam hatinya. Sampai pada akhirnya ia tertidur lelap. Dia bermimpi menjadi dirinya 5 tahun yang lalu. Saat ia masih menjadi anak sekolahan yang bersiap untuk mengikuti ujian masuk progam kuliah di Jepang. Ingat… dia ingat saat itu, dia begitu akrab dengan Rian yang masih balita. Lucu sekali. Dia sangat polos dan lugu, “Rian…Rian…” Panggilnya, lalu Rian memeluknya dengan erat. Badannya penuh luka memar. Risa baru pulang dari sekolah, namun Risa masih menyempatkan dirinya untuk tersenyum lembut. Sejumlah anak-anak nakal yang menggencet Rian pergi. Mereka takut pada Risa yang akrab dengan Rian. Mereka mengira Risa akan menghajar mereka. Walau pada akhirnya Risa hanya menggendong Rian ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa. Hanya tersenyum seraya memandang Rian yang masih menangis dan merintih kesakitan.
Hal itu tak berlangsung lama. Pada akhirnya, Risa pergi juga ke Jepang. Sebenarnya Rian tak rela. Mungkin masih takut karena tak akan ada lagi yang dapat melindunginya dari rasa takut, “Tenang saja. Mbak akan pulang cepat, janji…” Kata Risa, “Janji yaaa…???” Tanya Rian yang masih menangis sesenggukan. Risa mengangguk.
Risa membuka matanya, “Aku ingat!” Ujarnya. Ia lalu keluar kamar, waktu di jam digital Risa menunjukkan angka 04.30 am. Masih pagi sekali, tapi Rian sudah asyik main PS. Yaaa… itulah kesenangan anak-anak. Tak mengenal waktu, asalkan senang. Risa tersenyum seraya berkata, “Rian…” “Apa!” Jawab Rian ketus, “Kamu masih marah sama Mbak?” Rian terdiam. Ia terus main. Risa duduk di sebelah Rian. Rian mulai berbicara. Dengan nada yang sedikit lebih lunak, “Mbak jahat! Kenapa ninggalin Rian sendiri. Mbak kan tahu Rian nggak punya temen selain Mbak,” Risa terdiam. Terbesit ada rasa menyesal di hatinya,”Sebenarnya Rian terus nunggu Mbak pulang. Tapi Mbak nggak pulang-pulang. Rian nggak punya teman berbagi selain Mbak…” Rian terus berbicara. Ia tetap menatap lurus layar monitor TV. Risa memeluk Rian dengan erat. Tentu saja Rian tak terima, “Apaan sih Mbak! Sesaaakk!!! Tuh kan! Jadi kalah nih. Lepasiiinn…!!!” Rian meronta-ronta sambil terus berceloteh. Tapi Risa tak peduli, “Maafin mbak ya Rian,” Akhirnya Rian diam. Sang ibu yang ada di dapur menatap mereka dengan lembut, “Risa, Rian terus menunggumu,” Ujar Ibu dalam hati.