Dunia Gila
Mei 20th, 2007 by DP
DUNIA GILA
Hari ini tanggal dua puluh lima. Hari ulang tahun ibuku. Ibu kandungku. Entah dari mana tapi aku mendapat firasat kalau hari ini ibu akan datang untukku. Oh ibu aku rindu padamu. Kalau saja orang yang mengaku sebagai ayah kandungku itu tidak pernah ada, aku pasti akan membawa ibu pergi ke kota lain. Di sana kita bisa tinggal berdua. Ya, cuma berdua saja, tanpa pria itu.
∞
Tok tok tok.
Aku mengangkat mukaku dari berkas laporan harian yang sedang kuisi. ’Masuk.’ Kataku.
’Permisi, Dok.’
Sepasang suami istri yang segara kukenali sebagai pasangan pendeta terkenal di Bandung. Sang suami adalah seorang pria setengah baya, bertubuh kekar dan rambut yang sudah mulai memutih. Istrinya bertubuh kecil dengan wajah sendu dan sedikit rambut putih.
’Silakan duduk.’ Kataku pada kedua tamuku itu.
’Terima kasih.’ Sang suami mempersilakan istrinya duduk lebih dahulu.
’Ada yang bisa saya bantu, bapak ibu?’ tanyaku.
’Begini, Dok,’ kata sang suami. ’Kami kemari untuk menengok anak kami Arie.’
Arie adalah pasien baru di rumah pemulihan tempatku bekerja. Dia didiagnosa menderita schizophrenia. Tapi sejauh pengamatanku selama di rumah pemulihan dia tampak normal.
’Maaf, bapak ibu, tapi kebijakan kami di sini tidak memperbolehkan pasien ditengok sampai sebulan dari tanggal masuk.’
’Saya tahu, Dok,’ kali ini istrinya yang berkata. ’Tapi saya tidak tahan untuk bertemu Arie. Saya kangen sekali Dok. Tolong, Dok, saya mohon, izinkan saya bertemu Arie.’
Air mata mengalir dari mata sang istri. Dengan lembut suaminya mengeluarkan saputangan dan mengusap air mata itu. Aduh, aku paling tidak tahan kalau melihat wanita tua menangis.
’Baiklah, begini saja. Saya tetap tidak bisa mengizinkan Anda berdua bertemu Arie secara langsung tapi Anda boleh melihat Arie dari balik pintu kamarnya, bagaimana?’
’Terima kasih, Dok.’
’Baik, silakan ikuti saya.’
∞
Tuhan, terima kasih kalau aku masih Kau beri kesempatan untuk membalas dendam pada orang yang selama ini mengaku sebagai ayahku dan menyakiti perasaan ibuku. Aku janji Tuhan kalau aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Kau berikan ini. Berkati aku. Dalam nama Tuhan Yesus.
∞
Arie. Arie.
Aku ingin memanggilnya, tapi tidak bisa. Aku tidak mau mengganggu kekhusyukan doanya. Anakku, dia begitu khusyuk bersujud di tepi ranjangnya dan melipat tangannya. Aku senang dia berdoa. Aku tidak tahu apa yang dia doakan, tapi apapun itu, ibu mendukungnya, nak.
Aku menengok ke arah dokter wanita yang memberi kami kesempatan melihat Arie walaupun hanya dari balik jeruji seperti ini.
’Terima kasih, Dok.’ Kataku.
’Sama-sama, Bu. Sekarang mari ikut saya.’
Tidak. Tidak. Aku masih ingin bertemu Arie. Aku masih ingin berbicara dengannya. Tapi tangan suamiku menarikku. Aku pun mengikuti dokter wanita itu menuju ruangannya.
∞
Amin.
∞
Aku menyandarkan punggungku pada sandaran bangkuku. Terdengar suara derit pegas menahan beban berat tubuhku. Bangku ini tidak akan hancur kan. Tidak, aku kan tidak seberat itu.
Ah, senang sekali rasanya bisa santai sejenak dari semua beban pekerjaan ini.
Pertemuan yang aneh. Sang ibu tampak begitu merindukan anaknya sehingga langsung memeluknya. Wajar memang, ibu siapa yang tahan berpisah dengan putra kesayangannya walau hanya sebulan?
Sedang suaminya tampak tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya diam saja memandangi istri dan putranya saling berpelukan. Tak ada ekspresi apapun di mukanya.
Sementara sang anak yang selama ini dikatakan sakit jiwa, memeluk ibunya dengan hangat. Sepertinya pada detik itu, semua gejala kegilaannya mengilang entah kemana.
Setelah ramah tamah seadanya dengan dokter akhirnya mereka bertiga pulang dengan menggunakan mobil. Sang ayah duduk di belakang kemudi. Sementara sang istri dan anaknya duduk di kursi belakang.
Benar-benar keluarga yang aneh.
Aku mengambil pulpen dan map yang berisi berkas Arie. Di bagian depan map itu aku tulis keterangan: sudah pulang atas permintaan keluarga. Aku beri tanggal hari ini dan tanda tanganku.
∞
Akhirnya dokter mengizinkan kami membawa Arie pulang. Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya dan mempersiapkan kamar Arie. Suamiku bagun agak siang. Dari air mukanya aku tahu kalau dia tidak senang kalau Arie akan pulang hari ini. Bagi dia Arie adalah nila setitik yang merusak susu sebelanga.
Tapi aku tidak peduli. Arie adalah anakku. Aku akan memperlakukan dia sebagaimana aku memperlakukan anakku yang lain.
Jam 9. Kami, aku dan suamiku, sudah berada di kantor dokter wanita yang selama ini menangangi Arie. Dokter wanita itu dengan telaten memberi tahu kami hal-hal apa saja yang harus kami perhatikan setelah Arie pulang. Tapi aku terlalu senang sehinga tidak mendengarkan apa yang dikatakannya. Aku cuma ingat, ’Pastikan Arie mendapat situasi yang kondusif, ya, pak, bu.’ Aku cuma mengangguk.
Arie. Arie. Ibu datang nak.
Tepat jam 9 lewat 5, pintu terbuka dan Arie masuk dikawal oleh dua orang pria berpakaian putih. Dia tampak lebih kurus. Kasihan Arie, pasti mereka tidak merawatnya dengan baik. Mereka pasti tidak tahu makanan kesukaannya. Mereka pasti tidak tahu pola makanan sehat yang selama ini aku terapkan pada Arie.
Arie. Aku langsung berdiri dan memeluknya. Arie juga langsung memelukku. Arie, ibu rindu nak.
Ibu. Aku rindu.
Arie. Arie. Kamu ingat ibu? Oh senangnya hati ibu.
’Terima kasih, Dok.’ Kataku sambil menghapus air mataku.
’Sama-sama, bu.’
Ayo, kita ke mobil, nak. Biar ayah yang menyelesaikan urusan dengan dokter. Dengan patuh Arie mengikutiku menuju mobil.
∞
Tuhan, sucikan pisau ini. Kuduskan dari setiap kejahatan. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
∞
Sudah semingu Arie pulang. Dan selama itu aku tidak memperhatikan ada sesuatu yang aneh. Dia tampak normal. Diajak ngobrol pun nyambung. Terima kasih Tuhan Kau telah sembuhkan Arie.
∞
Ayah, kalau aku masih boleh menyebutnya ayah, ada di ruang kerjanya, sedang asyik mempersiapkan khotbah minggu. Biasanya kalau sedang asyik seperti ini dia paling tidak mau diganggu siapapun termasuk ibuku.
Tok tok tok.
’Masuk,’ kata ayah dari dalam ruangan.
’Ada apa Arie?’ tanyanya begitu tahu ternyata aku yang menganggu keasyikannya. Aku tidak segera menjawab. Sebaliknya aku memandang isi ruang kerja ayah. Masih sama seperti dulu. Rak buku yang dipenuhi buku, meja tulis kayu jati tempat ayah biasa menulis, lampu meja yang dibelikan ibu waktu liburan ke Hongkong. Tidak ada yang berubah di tempat ini. Bahkan baunya masih sama seperti dulu ketika aku masih kecil. Untuk sesaat aku teringat masa kecilku ketika ayah biasa mengasuhku di tempat ini. Benarkah dia bukan ayah kandungku? Kalau memang bukan kenapa dia begitu baik padaku waktu aku kecil?
’Hei, Arie, ada apa kamu mengganggu ayah?’ tanya ayah agak ketus.
Kenangan masa kecil yang indah itu langsung menguap. Dia bukan ayah kandungku. Ayah kandungku tidak akan membentakku.
’Maaf ayah, aku ada sedikit urusan dengan ayah.’ Kataku.
’Baik, cepat saja. Ayah lagi sibuk.’ Jawabnya sambil lalu.
Benar dia bukan ayah kandungku. Ayah kandungku tidak akan tidak peduli pada anaknya seperti itu.
’Bisakah ayah kemari sebentar?’ pintaku.
’Ada apa sih?’ gerutunya, tapi dia bangkit juga.
Tanpa curiga ayah berjalan ke arahku. Ini dia saat yang kutunggu. Tanganku sudah siap mencabut pisau yang kuselipkan di belakang pinggangku.
Sedikit lagi. Satu langkah lagi dan kau akan merasakan pembalasan yang setimpal karena telah menipuku dengan mengatakan aku anakmu. Kau akan menerima pembalasan karena telah membuat ibuku bersedih. Kau akan segera merasakannya.
∞
’Apa maksud ayah aku tidak akan dimasukkan ke sekolah alkitab?’ tanyaku.
Sudah menjadi tradisi di dalam keluarga besar kami kalau anak laki-laki tertua harus meneruskan jabatan pendeta yang dipegang ayahnya. Untuk mencapai tujuan itu maka setiapa anak laki-laki tertua dalam keluarga kami setiap generasinya setelah lulus SMU akan dimasukkan sekolah alkitab. Tapi tidak denganku. Kenapa?
’Keputusan ayah sudah bulat. Adikmu yang akan masuk sekolah alkitab.’ Jawab ayah.
’Tapi kenapa?’ tanyaku histeris.
’Diam. Ayah tidak pernah merasa punya anak seperti kamu, yang kerjanya membantah apa kata orang tua.’
Apa? Aku bukan anak ayah? Berarti anak siapa aku? Siapa ibuku? Siapa ayahku? Tidak! Tidak! Jadi orang yang selama ini kuanggap sebagai ayah dan ibuku bukan ayah dan ibuku. Tidak!
’Sekarang keluar. Ayah mau kerja.’ Usir ayah.
Aku keluar dengan perasaan kacau. Di depan ruang kerja aku bertemu ibu yang langsung memelukku.
’Nggak apa-apa, Rie,’ hibur ibu sambil terisak. ’Kamu itu anak ibu. Kamu anak kandung ibu. Ibu yang mengandung dan melahirkan kamu.’
Ibu. Ibu adalah ibu kandungku. Tapi siapa ayah kandungku. Tidak mungkin orang itu kan? Tidak mungkin dia. Tidak mungkin dia.
’Ibu, siapa ayah kandung Arie, bu?’ tanyaku.
Tapi ibu tidak menjawab. Dia hanya menangis. Ibu, jangan menangis lagi. Aku janji tidak akan menanyakan pertanyaan itu lagi. Aku janji
∞
Ah banyak hal yang telah terjadi di ruang kerja ini. Ruang kerja ini telah menjadi saksi bisu dari banyak kejadian rupanya.
Empuk sekali kursi ini. Pantas orang itu sulit sekali disuruh bangun kalau sudah duduk di kursi ini. Tapi sekarang sudah tidak ada bedanya lagi. Dia tidak akan pernah bisa menduduki kursi ini lagi. Dia juga tidak akan pernah terlalu malas untuk bangun dari kursi ini.
∞
’Pak, seharusnya bapak jangan terlalu keras pada Arie, kasihan dia.’ Kataku pada suamiku seringkali. Tapi dia hampir tidak pernah mendengarkan aku. Hanya karena dalam keluargaku ada keturunan orang yang sakit jiwa bukan berarti Arie bukan keturunannya. Bukan berarti Arie bukan anaknya. Arie adalah anak kandungnya dan dia tahu itu, tapi setiap kali dia ingat kalau Arie menderita sakit jiwa, dia akan selalu menyalahkan aku dan menyebut Arie bukan anaknya.
Ah, suamiku memang begitu. Orangnya keras. Kalau sudah membuat keputusan sulit dirubah. Seperti hari itu ketika aku bertanya tentang keputusannya untuk tidak menyekolah alkitab-kan Arie.
’Sudah kubilang keputusanku sudah bulat, bu,’ katanya dengan suara keras. ’Arie tidak akan aku masukkan sekolah alkitab. Yang akan menggantikan posisiku nanti adalah anak kita yang kedua.’
’Tapi, pak, kenapa dengan Arie?’ tanyaku setengah memelas.
’Ibu tahu sendiri,’ jawabnya sambil memalingkan muka.
Ya, aku tahu, pak. Aku tahu dia menderita kelainan. Aku tahu kau tidak suka kalau anak laki-lakimu yang kau harapakan akan menggantikanmu ternyata sakit jiwa. Aku tahu, pak, aku telah mengenalmu cukup lama untuk menebak jalan pikiranmu.
Yang aku tidak tahu adalah kalau Arie ternyata mendengar pembicaraan kami hari itu.
∞
Kenapa Tuhan, hatiku terasa kosong. Bukankah aku sudah melakukan yang Kau perintahkan? Tapi mengapa aku merasa ada sesuatu yang hilang dari hatiku?
Aku mengamati foto hitam putih yang berbingkai kayu di atas meja kerja. Itu foto aku dan ayah tiriku waktu masih kecil. Aku tersenyum di foto itu. Bahagia sekali. Ayah tiriku juga tampak bahagia.Tiba-tiba saja air mata mengalir dari mataku.
Selamat tinggal ayah.
Bandung, 10 February 2006