Hujan.
Hal yang sudah biasa di kota ini.
Hampir setiap petang dia menemuinya, dulu. Kadang rintik, kadang deras. Gerimis atau lebat, kadang petir, kilat, seperti menjilat langit yang makin menghitam.
Seperti cahaya sesaat dari balik gumul awan.
Seperti terluka.
Dia tetap di tempat itu.
Menunggu tak jauh dari halte bus, antara pergi lagi atau kembali.
Tak pernah terlalu ramai di sana.
Hanya segelintir orang, sekadar berteduh sebentar, sebelum akhirnya memutuskan beranjak.
Tapi jarang sekali.
Orang-orang larut dalam diam.
Tapi dia berbicara pada titik-titik hujan itu.
Mewadahinya dalam sebentuk cawan.
Kata-katanya tawankan nelangsa.
Bagaimana pilihan-pilihan membuatnya harus menjawab.
Setengah perjalanannya mengambang, entah sampai kapan.
Tapi, dia di sini, akhirnya.
Di kota yang terlalu biasa dengan hujan.