Bubar Jalan
Mei 6th, 2007 by rinurbad
Menjelang ulang tahunnya yang ke-20, Alaia mengemban sebuah misi. Mengakhiri hubungannya dengan Sandro.
“Yang bener aja, Al?” July menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Baginya, rencana Alaia ini lebih heboh dan menggemparkan dibanding bencana banjir di Jakarta atau naiknya harga beras. Untuk yang terakhir disebut, July memang sangat tidak dapat diandalkan. Alasannya, ia merasa hanya menyantap nasi sebagai makanan pokok dan bukan beras.
Sebagai jawabannya, Alaia menyodorkan sebotol shampo anti ketombe merk baru.
July terkesima. Tapi diterimanya juga shampo itu, lalu dimasukkan ke dalam tas. “Emang Sandro salah apa?”
“Jadi mutusin pacar itu mesti punya salah dulu?”
“Nggak juga sih. Bisa aja kamu yang salah. Salah pilih, maksudnya.”
“Aku rasa juga begitu,” gumam Alaia.
“Hah?” July melotot. “Kamu yang salah makan. Dilihat dari segi manapun, Sandro itu serba berlebih. Kecuali lemaknya.”
Alaia sudah menduga argumen July selanjutnya. “Sandro tuh cakep, ganteng, gagah, baik, pinter..”
“Please deh, Jul. Nggak ada manusia sesempurna itu.”
“Oke, oke, aku yang berlebihan.”
Alaia memandang sepupunya. “Sandro tuh cakep, titik.”
“Jadi Sandro salah karena punya tampang keren?”
“Mana berani aku nyalahin Tuhan,” sungut Alaia. “Tapi Sandro tuh bener-bener hanya punya wajah ganteng. Nggak ada yang lain. Penampilan fisik kan nggak bertahan lama.”
“Kecuali pake balsem, gabung deh sama Firaun,” cetus July. “Apakah itu artinya kamu lebih pilih cowok yang nggak ada manis-manisnya sama sekali? Yaah, yang abis kelindes mobil kontainer barangkali?”
“Udah deh, pokoknya liat aja nanti,” Alaia bangkit dari tempat duduknya.
“Al! Al!”
“Jangan manggil-manggil. Niatku nggak akan berubah,” Alaia mengayun langkah dengan semangat pembalap F1. Tapi teriakan July malah bertambah nyaring.
“Baksomu belum dibayar, Al!”
Dari sebelah kanan, Alaia memandangi paras Sandro lekat-lekat. Dicobanya mencari setitik noda saja, tapi tak berhasil. Peribahasa gajah di seberang jalan tampak, sedangkan kutu di rambut sendiri kelihatan ternyata tidak berlaku untuk seorang Sandro. Alaia sempat berpikir untuk mencari mikroskop, menciutkan cowok itu sebesar semut dan mengamatinya dengan lebih seksama.
Mendadak Sandro menoleh. Ia mengembangkan senyum yang membuat cewek-cewek jadi teler karena nggak bisa tidur (sekaligus kebanyakan minum kopi). “Kenapa, Lai?” Panggilan mesra Sandro telah disiapkan khusus karena ia tidak ingin sama dengan orang-orang lain dalam kehidupan Alaia.
“Ng..nggak,” Alaia masih berpikir keras seraya mengalihkan pandangan ke layar kaca. “Dari tadi asyik banget nonton apa sih?”
“Ini, berita kriminal,” Sandro mengacungkan tangannya yang memegang remote.
“Wah, perampokan bersenjata,” Alaia berkomentar. “Detil begitu, apa nggak bikin orang yang nonton terinspirasi ya? Kamu jadi takut nggak sih jadi korban berikutnya?”
“Aku seneng sama presenternya aja kok,” jawab Sandro kalem. “Suara naratornya juga enak didenger.”
Itulah yang bikin Alaia ilfil berat. Biar cakepnya nggak ketulungan, Sandro susah diajak ngobrol. Segala topik yang dibuka Alaia nggak pernah nyambung, padahal sinyalnya penuh dan nggak lagi drop call.
Sudah enam bulan mereka jalan bareng, tapi Alaia merasa kering. Gurauan Sandro lebih payah daripada July kalau lagi tulalit.
Televisi menayangkan iklan yang dihiasi sebuah lagu merdu. Alaia menyukai lagu itu sampai Sandro ikut menyanyikannya.
“San, kalau diem aja kamu tuh lebih cakep deh.”
Alaia kehilangan kendali. Sandro terlanjur sakit hati.
Cowok itu ngambek berhari-hari. Seharusnya Alaia senang karena tujuannya tercapai lebih cepat dari yang diharapkan. Tetapi ia malah gelisah.
“Plin-plan kamu,” kata July ketika Alaia curhat padanya suatu malam.
“Aku kepingin bubar baik-baik, Jul. Salaman, balik kanan, grak. Bukan dengan cara yang bikin reputasiku ternoda kayak gini.”
“Sok politikus. Mikirin reputasi segala. Lagian mana ada bubaran yang baik-baik?”
“Ya udah, aku yang mulai nyalain api. Aku juga yang akan padamkan.”
“Al, kenapa sih harus menargetkan sampai ulang tahun kamu?” suara July berubah penuh selidik. “Jangan-jangan ada cowok lain.”
“Piktor.”
“Jadi bener?”
“Bigos.”
“Nggak dijawab berarti bener.”
“July gila!”
Didorong rasa bersalah, Alaia menemui Sandro di rumahnya. Cowok itu tak pernah terlihat di kampus. Ia juga tidak mau menerima telepon.
Mata Alaia melebar. Sebelah pipi Sandro agak bengkak dan ditempeli koyo.
“Ya ampun.. jadi selama ini kamu sakit gigi?”
“Tadinya kiri-kanan,” Sandro meringis. “Aku sama sekali nggak bisa ngomong.”
Dalam hati Alaia menertawakan prasangka konyolnya.
“Tapi seperti harapan kamu, aku bener-bener tutup mulut. Mungkin ini bisa bikin kamu lebih sayang sama aku.”
“San, aku nggak bermaksud kasar. Tapi..”
Sandro mengangkat tangannya. Ia terlihat tenang. “Lai, cukup gigiku aja yang rusak. Jangan sampai aku cangkok hati sekalian.”
“Ini memang bukan saat yang tepat.”
“Sebenernya nggak akan pernah ada saat yang tepat,” mendadak Sandro berubah sebijak para suhu. “Aku baru menjalani masa percobaan, proses adaptasi, ternyata harus dapat surat PHK secepat ini.”
“Tapi lebih baik luka sesaat, daripada nunggu infeksi dan harus amputasi,” Alaia berusaha meyakinkan.
“Kalau memang harus begini, apa boleh buat,” Sandro terlihat pasrah. “Lai, kamu harus janji satu hal sama aku.”
“Apa?”
“Kalo rasa sedihku nggak hilang dalam seminggu, kamu harus meninjau ulang keputusan pisah kita.”
“Nggak seminggu, deh. Aku kasih perpanjangan waktu sampai sepuluh hari.”
“Sepuluh hari aku masih sedih dan inget kamu, kita sama-sama lagi ya.”
“Kan udah kukasih kelonggaran. Yang optimis dong.”
“Pokoknya harus.”
“Kalau nggak?”
“Aku bakalan bunuh diri dan hantuku gentayangan ngejar-ngejar kamu.”
lucu juga. banyak lawakannya
good n inspiratif
ceritanya menyegarkan.tapi kurang relistis kali ya.ko si sandro ga da marah2nya atau nanya kenapa diputusin.tapi selebihnya bagus banget.aku suka ma banyolannya.yang bikin cerita pasti juga lucu.lam kenal aja.
Lawakannya asyik bgt.. Seru thu ceritanya..
Kembangin bakat and Chayo!!
Terima kasih, masukannya sangat berharga. Jadi makin semangat, nih.
Salam kenal.
sandroooooooooooooo…. i loph u!!!