Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku tidak bisa melupakan lelaki itu. Bentakannya membuat duniaku
goyah. Dia menyumbat otakku dengan Lumpur. Memenuhi hatiku dengan kotoran
binatang. Menjejalkan tahi kambing kedalam mulutku.Bertahun-tahun aku melihat lelaki itu memakai sayap iblis dan aku. Aku juga memakai sayap iblis. Lelaki itu yang mengenakannya padaku. Sayap iblisYang hitam dan berat .Membuat remuk hari-hariku
SUNYI YANG BERBICARA
August 7th,2006.15:19
Apakah semua yang aku lakukan adalah karena sebatas pengharapan?
…
Bagian Pertama:
Bawa aku pada ketinggian yang tidak terlihat mata
Pada bingkai kebebasan, kita pertengkarkan, kita hempaskan
Dan aku bertanya, kenapa langit semakin tinggi dari pada dahulu? Hanya untukku?
Posted in Intermezzo, Khayalan on Mei 27th, 2007 1 Comment »
Ia kakukan kakinya, langkahnya terhenti. Memandang berkeliling. Sejenak menutup matanya merasakan melodrama angin yang menerpa segala rasanya. Ia berlahan duduk diatas rumput yang disinari matahari jam sembilan pagi. Bunga pukul sembilan sedang mekar-mekarnya pada jam ini, merah, putih, kuning.Ada yang sedang menhimpit didadanya, begitu berat, angkuh dan kokoh. Mulutnya terbuka sedikit mencoba bernafas. Ia kesulitan, mencoba menggapai-gapai udara. Berharap ada sebuah potongan disana yang bisa membuatnya tenang.
Posted in Intermezzo, Khayalan on Mei 27th, 2007 No Comments »
Aku dan dia bertatapan erat dan lekat. Aku tersenyum tipis, ada luka dimatanya. Aku mempertahankan senyumku.
“kenapa kau tersenyum?”ia bertanya dan itu membuatku hampir tertawa.
“apa dalam kamusmu tidak ada lelucon?” aku memasang mata lebar menembak matanya
Pandangannya menusuk hatiku, mau tak mau aku membuang wajah mengalihkan pandangan sejenak. Menggigit bibir.
Aku ingin mati
karena aku kehilangan
aku ingin mati di depan rumahmu,
—- bila perlu
Tapi,
aku ingin mati
yang bisa hidup kembali
Untuk berjaga, mawas hati
bila saja walau mati
yang hilang tak jua
kau kembalikan
Aku ingin merunut, kemanapun
Posted in Teruntuk on Mei 27th, 2007 No Comments »
Nyaris aku dapat pesonamu
Nyaris asaku terputus dari simpulmu
Nyaris aku alpa wajah ‘hulwu as sauda’-mu
Nyaris aku dan kamu tertambat pada pesona masa lalu
Nyaris genggam menjadi satu
Nyaris semua semu
Nyaris air mataku kaku membeku
Nyaris rindu menjadi sendu
Posted in Puisi on Mei 26th, 2007 No Comments »
Pernahkah kamu berjumpa dengan kebuntuan, saat putaraan waktu, peredaraan darah, detak-an jantung sepertinya semua itu dihentikan oleh suatu perasaan yang disebut dengan putus asa. sudah hampir 150 jam lamanya aku hadapi ini, duduk diatas kursi beroda didepan layar flat 17, nikotin dan tar dari asap 20 batang rokok sudah masuk melebihi batas ke paru-paru. Apa yang kulakukan ? Canon sudah kuputar lebih dari 10 kali dari speaker 5.1. Mungkinkah aku menunggu ? ya mungkin, aku menunggu datangnya inspirasi dari surga, sel-sel yang ada di otak ini sepertinya sudah tidak berfungsi, tak ada satu kata pun tercipta. Ini kah batas dari usaha ? inikah maksimal? kebuntuan ?
Permanent link to this post (107 words, estimated 26 secs reading time)
Posted in Puisi on Mei 25th, 2007 No Comments »
Wahai engkau wanita
yang terlentang di tepi jurang kematian
meraung-raung kesakitan saat berusaha melemparku ke dunia
9 bulan kau sekap tubuh ini dalam sempit perutmu
selama itu pula kau nikmati deritamu atasku
mengapa semua tertawa saat aku keluar dari vaginamu?
sedangkan aku, hanya menangis, teriak sekuat tenagaku
dengan bermandikan darah segarmu
“Akhirnya!”, jawabmu.
dan 18 belas jam kau tak sadarkan diri di rumah sempit itu
Posted in Puisi, Doa, Syukur dan Pujian on Mei 25th, 2007 Ketik password Anda untuk melihat komentar
Risa merebahkan dirinya di atas ranjang. Capek rasanya. Sudah lama ia tak merasakan kasurnya sendiri yang empuk selama 4 tahun. Ia sibuk dengan kuliahnya di Jepang. Sampai-sampai saat liburan tak pernah pulang. Kalau liburan, Risa lebih suka bersenang-senang dengan teman-temannya di Harajuku atau Shibuya. Bahkan ia sempat liburan ke pantai Izu 2 kali. Hanya karena tak ingin ketinggalan rekreasi ke Jepang yang diimpikannya. Pulang-nya, tentu disambut oleh keluarganya dengan hangat. Tapi ada seorang anak kecil yang menatap dirinya tajam. Ketus sekali bicaranya, “Nggak usah deket-deket!” atau “Apaan sih. Jangan ganggu aku!” Dan rentetan kata-kata yang tentu membuat hati panas.