KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Mei 2007

Aku tidak bisa melupakan lelaki itu. Bentakannya membuat duniaku

goyah. Dia menyumbat otakku dengan Lumpur. Memenuhi hatiku dengan kotoran

binatang. Menjejalkan tahi kambing kedalam mulutku.Bertahun-tahun aku melihat lelaki itu memakai sayap iblis dan aku. Aku juga memakai sayap iblis. Lelaki itu yang mengenakannya padaku. Sayap iblisYang hitam dan berat .Membuat remuk hari-hariku

SUNYI YANG BERBICARA

August 7th,2006.15:19
Apakah semua yang aku lakukan adalah karena sebatas pengharapan?

Bagian Pertama:

Bawa aku pada ketinggian yang tidak terlihat mata

Pada bingkai kebebasan, kita pertengkarkan, kita hempaskan

Dan aku bertanya, kenapa langit semakin tinggi dari pada dahulu? Hanya untukku?

Ia kakukan kakinya, langkahnya terhenti. Memandang berkeliling. Sejenak menutup matanya merasakan melodrama angin yang menerpa segala rasanya. Ia berlahan duduk diatas rumput yang disinari matahari jam sembilan pagi. Bunga pukul sembilan sedang mekar-mekarnya pada jam ini, merah, putih, kuning.Ada yang sedang menhimpit didadanya, begitu berat, angkuh dan kokoh. Mulutnya terbuka sedikit mencoba bernafas. Ia kesulitan, mencoba menggapai-gapai udara. Berharap ada sebuah potongan disana yang bisa membuatnya tenang.

Bicara Kepada Sunyi

Aku dan dia bertatapan erat dan lekat. Aku tersenyum tipis, ada luka dimatanya. Aku mempertahankan senyumku.

“kenapa kau tersenyum?”ia bertanya dan itu membuatku hampir tertawa.

“apa dalam kamusmu tidak ada lelucon?” aku memasang mata lebar menembak matanya

Pandangannya menusuk hatiku, mau tak mau aku membuang wajah mengalihkan pandangan sejenak. Menggigit bibir.

Aku ingin mati

karena aku kehilangan

aku ingin mati di depan rumahmu,

—- bila perlu

Tapi,

aku ingin mati

yang bisa hidup kembali

Untuk berjaga, mawas hati

bila saja walau mati

yang hilang tak jua

kau kembalikan

Aku ingin merunut, kemanapun

Nyaris

    Nyaris aku dapat pesonamu
    Nyaris asaku terputus dari simpulmu

    Nyaris aku alpa wajah ‘hulwu as sauda’-mu

    Nyaris aku dan kamu tertambat pada pesona masa lalu

    Nyaris genggam menjadi satu

    Nyaris semua semu

    Nyaris air mataku kaku membeku

    Nyaris rindu menjadi sendu

    Buntu (Tanpa Inspirasi)

    Pernahkah kamu berjumpa dengan kebuntuan, saat putaraan waktu, peredaraan darah, detak-an jantung sepertinya semua itu dihentikan oleh suatu perasaan yang disebut dengan putus asa. sudah hampir 150 jam lamanya aku hadapi ini, duduk diatas kursi beroda didepan layar flat 17, nikotin dan tar dari asap 20 batang rokok sudah masuk melebihi batas ke paru-paru. Apa yang kulakukan ? Canon sudah kuputar lebih dari 10 kali dari speaker 5.1. Mungkinkah aku menunggu ? ya mungkin, aku menunggu datangnya inspirasi dari surga, sel-sel yang ada di otak ini sepertinya sudah tidak berfungsi, tak ada satu kata pun tercipta. Ini kah batas dari usaha ? inikah maksimal? kebuntuan ?

    Wanita

    Wahai engkau wanita
    yang terlentang di tepi jurang kematian
    meraung-raung kesakitan saat berusaha melemparku ke dunia
    9 bulan kau sekap tubuh ini dalam sempit perutmu
    selama itu pula kau nikmati deritamu atasku

    mengapa semua tertawa saat aku keluar dari vaginamu?
    sedangkan aku, hanya menangis, teriak sekuat tenagaku
    dengan bermandikan darah segarmu
    “Akhirnya!”, jawabmu.
    dan 18 belas jam kau tak sadarkan diri di rumah sempit itu

    Protected: Ringkihku PadaMu

    This post is password protected. To view it please enter your password below:


    Risa merebahkan dirinya di atas ranjang. Capek rasanya. Sudah lama ia tak merasakan kasurnya sendiri yang empuk selama 4 tahun. Ia sibuk dengan kuliahnya di Jepang. Sampai-sampai saat liburan tak pernah pulang. Kalau liburan, Risa lebih suka bersenang-senang dengan teman-temannya di Harajuku atau Shibuya. Bahkan ia sempat liburan ke pantai Izu 2 kali. Hanya karena tak ingin ketinggalan rekreasi ke Jepang yang diimpikannya. Pulang-nya, tentu disambut oleh keluarganya dengan hangat. Tapi ada seorang anak kecil yang menatap dirinya tajam. Ketus sekali bicaranya, “Nggak usah deket-deket!” atau “Apaan sih. Jangan ganggu aku!” Dan rentetan kata-kata yang tentu membuat hati panas.

    Next »