KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan April 2007

Jalan Kehidupan

Dengan langkah gontai kususuri jalan berdebu ini
Sebuah jalan panjang yang berliku
Langkah demi langkah tapak demi tapak
Aku berjalan terus menuju cahaya
Menuju Matahari
Matahari dengan sinar terangnya
Sinar yang menyilaukan
Sinar yang penuh impian
Walau dengan tubuh lemah dan wajah kusut
Ku terus melangkah menuju sinar harapan
Sinar kehidupan
Walau mungkin semua hanya fatamorgana
Namun dengan tatapan lurus ke depan
Kucoba tetap tegak berdiri
Menggapai impian
Dengan langkah gontai kususuri jalan berdebu ini
Satu-satunya harapanku
Demi menggapai masa depan
Masa depan penuh harapan
Satu-satunya harapan yang aku punya
Hanyalah Kasih dan Pertolongan Tuhan
Semoga aku bisa terus bertahan
Menapaki setiap jalan kehidupan

Sesaat kan Tiba

Sesaat kan tiba….

Waktu dimana harus berpisah…

Rasa hati ini bergejolak

Resah…

Menghadapi kenyataan di depan mata

Aku….

Menyadari hari-hariku sekarang….

Suka…

Itulah yang ada dihatiku sekarang….

Jauh dari yang terdahulu di hatiku….

Setiap kejadian kurasakan dan enggan melepaskan…

Doa

Matikanku dalam rajam

doa-doa malam

Hantarkan pada tidur panjang

tanpa tepian

Biarkan tak berbentuk lagi asa

yang terlanjur kemarau

Bila saja hujan menyusup,

tetapkanku di pusara hatimu

Nyanyian Bocah Dewasa

Di sebuah ruang kelas, berlantai bumi beratap langit

( semoga Tsunami tidak transmigrasi ke sini )

Murid-murid kelas satu sebuah Sekolah Dasar Negeri

Maju satu persatu untuk menyanyi

Seorang bocah laki-laki maju mengawali

Tampaknya dia anak pendaki, dengan lantang ia menyanyi

Naik-naik ke puncak gaji  /  Tinggi-tinggi sekali

Buruh Pabrik

Sore hilang

Disambut malam
Keramaian

Berangsur pudar
Pagi,

makin kelam

malam

harus panjang
esok,

tiada pilihan

air mata

tersimpan di keranjang
bertahan,

untuk harapan

:Sekantung emas di Matahari
Tetapi,

Luka menggandengnya

Setiap tahun

Tanpa Ampun
Mesin waktu

Untuk Gadis Kecilku 2

Gadis kecil…

Apa kabarmu? Dari balik pintu ruang tengah yang remang, kau berkata mengiringi tengah malam yang pamit menyelinap dibalik lipatan gegas waktu.

“Akankah esok, kau mengingatku sehangat kau berada disini? Besok keramaian adalah milikmu, adakah kau menyertakan aku didalamnya?

Namanya Karina. Ia seorang gadis muda jelita berumur 20 tahun kini sedang di jenuhkan oleh suatu hal. Bukan karena ia sedang sakit kepala. Bukan juga tentang masalah tugas-tugas dari dosennya yang memang sudah biasa menumpuk di meja belajarnya, tetapi dengan cepat ia dapat mengerjakannya. Karena ia adalah gadis yang cerdas. Tugas-tugasnya selalu diselesaikannya tepat waktu. Bahkan, terkadang ia mengumpulkan tugasnya kurang dari hari yang telah ditentukan. Tak heran kalau IP-nya dari semester pertama sampai sekarang ia memasuki semester 4, selalu di atas rata-rata.

Think About This

Sebuah pengantar:

 “Aduh….!”

 seorang gadis menjerit dikegelapan bioskop. Suaranya tak terlalu terdengar tertelan suara musik sound track film yg diputar sudah mulai menggelegar.

 Kenapa, Say?” teman cowok yang datang bersama dia urung duduk, dan terlihat bingung.

 Ada sesuatu dibangku….aku merasa

Sebuah Sua

Kalau saja awan bisa menjemput inginku,

…tiupkan rasaku untuk sebuah sua yang dalam,

…mengapa tidak di lembayung itu aku segera…

titipkan sebentuk damai pada sang kala,

….meniti ternyata tak semudah jiwaku yang hampir mengering,

untuk tuntaskan saja kemarau di rinai pendar-pendar mataku yang hanya ingin menatapmu..

Janganlah Berputus Asa

Tubuh-tubuh lemah lunglai
Sepenuhnya bertumpu pada tungkai
Wajah kuyu dan tubuh sudah seperti bangkai
Tiada lagi semangat untuk memulai
Karena tangan dan kaki lemah sudah terkulai

Terseok-seok menyusuri pantai
Semua yang tersisa hanyalah dataran landai
Padahal dahulu semuanya indah permai
Samar-samar terdengar sorak-sorai
Orang-orang datang menolong beramai-ramai

« Prev - Next »