Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on April 25th, 2007 No Comments »
Dengan langkah gontai kususuri jalan berdebu ini
Sebuah jalan panjang yang berliku
Langkah demi langkah tapak demi tapak
Aku berjalan terus menuju cahaya
Menuju Matahari
Matahari dengan sinar terangnya
Sinar yang menyilaukan
Sinar yang penuh impian
Walau dengan tubuh lemah dan wajah kusut
Ku terus melangkah menuju sinar harapan
Sinar kehidupan
Walau mungkin semua hanya fatamorgana
Namun dengan tatapan lurus ke depan
Kucoba tetap tegak berdiri
Menggapai impian
Dengan langkah gontai kususuri jalan berdebu ini
Satu-satunya harapanku
Demi menggapai masa depan
Masa depan penuh harapan
Satu-satunya harapan yang aku punya
Hanyalah Kasih dan Pertolongan Tuhan
Semoga aku bisa terus bertahan
Menapaki setiap jalan kehidupan
Permanent link to this post (105 words, estimated 25 secs reading time)
Posted in Puisi on April 24th, 2007 No Comments »
Sesaat kan tiba….
Waktu dimana harus berpisah…
Rasa hati ini bergejolak
Resah…
Menghadapi kenyataan di depan mata
Aku….
Menyadari hari-hariku sekarang….
Suka…
Itulah yang ada dihatiku sekarang….
Jauh dari yang terdahulu di hatiku….
Setiap kejadian kurasakan dan enggan melepaskan…
Permanent link to this post (40 words, estimated 10 secs reading time)
Posted in Puisi on April 24th, 2007 No Comments »
Matikanku dalam rajam
doa-doa malam
Hantarkan pada tidur panjang
tanpa tepian
Biarkan tak berbentuk lagi asa
yang terlanjur kemarau
Bila saja hujan menyusup,
tetapkanku di pusara hatimu
Permanent link to this post (28 words, estimated 7 secs reading time)
Posted in Puisi on April 24th, 2007 No Comments »
Di sebuah ruang kelas, berlantai bumi beratap langit
( semoga Tsunami tidak transmigrasi ke sini )
Murid-murid kelas satu sebuah Sekolah Dasar Negeri
Maju satu persatu untuk menyanyi
Seorang bocah laki-laki maju mengawali
Tampaknya dia anak pendaki, dengan lantang ia menyanyi
Naik-naik ke puncak gaji / Tinggi-tinggi sekali
Posted in Puisi on April 23rd, 2007 No Comments »
Sore hilang
Disambut malam
Keramaian
Berangsur pudar
Pagi,
makin kelam
malam
harus panjang
esok,
tiada pilihan
air mata
tersimpan di keranjang
bertahan,
untuk harapan
:Sekantung emas di Matahari
Tetapi,
Luka menggandengnya
Setiap tahun
Tanpa Ampun
Mesin waktu
Posted in Puisi, Teruntuk on April 23rd, 2007 No Comments »
Gadis kecil…
Apa kabarmu? Dari balik pintu ruang tengah yang remang, kau berkata mengiringi tengah malam yang pamit menyelinap dibalik lipatan gegas waktu.
“Akankah esok, kau mengingatku sehangat kau berada disini? Besok keramaian adalah milikmu, adakah kau menyertakan aku didalamnya?
Namanya Karina. Ia seorang gadis muda jelita berumur 20 tahun kini sedang di jenuhkan oleh suatu hal. Bukan karena ia sedang sakit kepala. Bukan juga tentang masalah tugas-tugas dari dosennya yang memang sudah biasa menumpuk di meja belajarnya, tetapi dengan cepat ia dapat mengerjakannya. Karena ia adalah gadis yang cerdas. Tugas-tugasnya selalu diselesaikannya tepat waktu. Bahkan, terkadang ia mengumpulkan tugasnya kurang dari hari yang telah ditentukan. Tak heran kalau IP-nya dari semester pertama sampai sekarang ia memasuki semester 4, selalu di atas rata-rata.
Posted in Renungan on April 22nd, 2007 1 Comment »
Sebuah pengantar:
“Aduh….!”
seorang gadis menjerit dikegelapan bioskop. Suaranya tak terlalu terdengar tertelan suara musik sound track film yg diputar sudah mulai menggelegar.
“Kenapa, Say?” teman cowok yang datang bersama dia urung duduk, dan terlihat bingung.
“Ada sesuatu dibangku….aku merasa
Posted in Puisi on April 22nd, 2007 No Comments »
Kalau saja awan bisa menjemput inginku,
…tiupkan rasaku untuk sebuah sua yang dalam,
…mengapa tidak di lembayung itu aku segera…
titipkan sebentuk damai pada sang kala,
….meniti ternyata tak semudah jiwaku yang hampir mengering,
untuk tuntaskan saja kemarau di rinai pendar-pendar mataku yang hanya ingin menatapmu..
Permanent link to this post (47 words, estimated 11 secs reading time)
Posted in Puisi, Motivasi Diri on April 21st, 2007 No Comments »
Tubuh-tubuh lemah lunglai
Sepenuhnya bertumpu pada tungkai
Wajah kuyu dan tubuh sudah seperti bangkai
Tiada lagi semangat untuk memulai
Karena tangan dan kaki lemah sudah terkulai
Terseok-seok menyusuri pantai
Semua yang tersisa hanyalah dataran landai
Padahal dahulu semuanya indah permai
Samar-samar terdengar sorak-sorai
Orang-orang datang menolong beramai-ramai