KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan April 2007

Fabel: Kematian yang Indah

Jauh dari keramaian kota dan manusia, di sebuah pulau kecil yang terasing dari kumpulannya. Ombak bergemuruh tiada henti, menyapa pantai dan seakan ingin mencumbunya. Sesaat meninggi, melaju hingga akhirnya ia terhempas lagi di tepian. Meninggi, menghempas kembali membawa butiran-butiran pasir dan buih. Pada tempat terjauh di mana lidah ombak menyentuh daratan, tergeletak sepasang manusia yang seakan tengah tertidur, atau mungkin telah mati. Wajah keduanya menatap langit meski matanya telah terpejam. Tak ada suara hembusan nafas, hanya suara desir angin yang menyentuh pakaian mereka yang terkoyak. Sepertinya mereka telah tenggelam dan ombak membawa mereka dari dasar samudra, menjauhkan dari karang-karang yang mengoyak tubuh dan pakaian mereka. Terkadang ombak menyapa mereka sampai ke atas dada, namun terkadang ia malu untuk menyentuh mereka, hanya membelai pergelangan kaki mereka.

Di Cylobyte Terakhir

Cylobyte demi cylobyte kutelusuri
Proxy demi proxy kujelajahi
Chanel demi chanel ku trus mencari
Demi memburu cintamu
Mencari jejak digitalmu yang tersisa
Jejak digital yang pernah kau ukirkan di relung hati digitalku
Saat kau dan aku bercinta dalam ribuan kata dan bahasa
Berselimutkan jutaan kode biner alam maya
Kuketuk dan kudengarkan pintu demi pintu
Demi mencari dirimu
Kutelusuri jutaan pintu berkode
Hanya untuk mencari dirimu
Jutaan Pintu digital teracak berhambur menyembunyikanmu
Jutaan kuadran semuanya semu
Menyembunyikan setiap jejak kehidupanmu
Sudah berapa ribu baris kode kujelajahi
Namun tak satupun jua menunjukkan jejakmu
Dimanakah engkau menghilang dewiku
Dimanakah engkau wahai Avatarku
Gadis Avatarku dari dunia digital yang semu
Dengan gaun cantik indah digital binermu
Yang memancarkan jutaan spektrum warnamu
Ku kan tetap mencarimu
Mencarimu di antara jutaan nanomikron spektrum warnamu
Ku kan tetap setia menunggumu
Seperti saat dulu kedua ujung telunjuk jari kita bertemu
Walau terpisah oleh ribuan ruang dan waktu
Di cylobyte dan kuadran terakhir aku menantimu

Kosong

Jadikan aku kosong

Agar angka-angka hidupku tidak gosong

Jadikan aku kosong

Yang bukan bilangan bukan angka

Sebab kosong dengan nol itu hanpir serupa

Jadikan aku kosong

Agar lelakiku yang sombong

Tidak seenak perutnya berbuat serong

Jadikan aku kosong

Sekosong rahim perawan

Jasad Bagus yang Hilang

Aku membuka pintu kamarku yang tadinya terkunci. Ku amati sekelilingnya sebentar, lalu aku membuang tasku dan menjatuhkan tubuhku yang masih mengenakan sepatu ke atas tempat tidur.

Aku masih mengingat kejadian semalam sebelum aku tidur. Antara mimpi dan kenyataan, memang. Sesosok pria berbadan tegap dan tinggi datang menghampiriku ketika aku belum dapat memejamkan mataku. Tak begitu terlihat jelas, karena malam itu aku sudah mematikan lampu kamarku.

Kisah Kita Berbicara

tak satu pun tak terlihat indah saat kita mengawalinya. kau seumpama gumul awan, mengawaniku saat terik matahari, dan memayungi dalam kuyup hujan. tak satupun terlewatkan bagian-bagian termanisnya. tanpa perlu memaksakan sesuatu yang tak harus. dan sebagaimana biasanya, kau menjadikannya luar biasa. menjadi termegah dalam ruang pribadiku. selalu.

Syair Cinta Seorang Pengamen

Pengamen Pasteur
Hai gadis penumpang angkot, maaf mengganggumu, lagi
Aku hanya ingin bernyanyi dan minta dibayar
Dengan senyumanmu

Setiap hari;
Kan kuhirup asap knalpot dan udara kotor
Asal bisa menatap bening mata dan bersih hatimu
Tak apa paru-paruku tercemar polutan
Asal hatiku terisi bunga-bunga cinta karena melihatmu

Aku dan Waktu

PAGI

Sebelum surya beranjak datang

Semilir angin pagi berhembus bersama selimut kabut

Membelaiku untuk tidak segera beranjak dari ranjang

Menebarkan aroma kemalasan dan mentup semua panca indera

Seperti ombak lautan yang enggan menjumpai pantai

Kemudian,

Matahai mulai beranjak datang dengan sinarnya yang mengingatkan pada sebuah waktu

Keinginanku

aku berjalan menuju lorong yang gelap

dengan jiwa yang terikat

sinar terangpun terlihat

setitik cahaya menerangi jalan

matahari pagi menyinari alam

membuat aku mempunyai setitik harapan

dalam menjalani kehidupan

aku ingin terbang tinggi bebas menembus awan

mengarungi lautan langit biru yang menantang

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa pada saya. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya senang bersenandung kecil saat sedang menjemur cucian di siang hari. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya juga sering merajut kala matahari mulai tenggelam dan saya tak menemukan pekerjaan lain untuk dikerjakan. Kala semua selimut sudah terlipat rapi, semua perkakas sudah dicuci, dan burung hantu mulai berjaga diselingi lolongan anjing.

Bertutur Senja

Duh, senja lagi

Dan kau hanya sendiri

Mengukur ruas jejak pada ruas gelombang

Dan senja seperti ini. Gelombang pasang surut

Dan kau masih di situ

Menghela nafas dalam-dalam

Sementara dirimu

Tak yakin memburu senja pada waktu yang lain

Yogyakarta. 2007

« Prev - Next »