Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Fiksi on April 27th, 2007 4 Comments »
Jauh dari keramaian kota dan manusia, di sebuah pulau kecil yang terasing dari kumpulannya. Ombak bergemuruh tiada henti, menyapa pantai dan seakan ingin mencumbunya. Sesaat meninggi, melaju hingga akhirnya ia terhempas lagi di tepian. Meninggi, menghempas kembali membawa butiran-butiran pasir dan buih. Pada tempat terjauh di mana lidah ombak menyentuh daratan, tergeletak sepasang manusia yang seakan tengah tertidur, atau mungkin telah mati. Wajah keduanya menatap langit meski matanya telah terpejam. Tak ada suara hembusan nafas, hanya suara desir angin yang menyentuh pakaian mereka yang terkoyak. Sepertinya mereka telah tenggelam dan ombak membawa mereka dari dasar samudra, menjauhkan dari karang-karang yang mengoyak tubuh dan pakaian mereka. Terkadang ombak menyapa mereka sampai ke atas dada, namun terkadang ia malu untuk menyentuh mereka, hanya membelai pergelangan kaki mereka.
Posted in Puisi on April 27th, 2007 No Comments »
Cylobyte demi cylobyte kutelusuri
Proxy demi proxy kujelajahi
Chanel demi chanel ku trus mencari
Demi memburu cintamu
Mencari jejak digitalmu yang tersisa
Jejak digital yang pernah kau ukirkan di relung hati digitalku
Saat kau dan aku bercinta dalam ribuan kata dan bahasa
Berselimutkan jutaan kode biner alam maya
Kuketuk dan kudengarkan pintu demi pintu
Demi mencari dirimu
Kutelusuri jutaan pintu berkode
Hanya untuk mencari dirimu
Jutaan Pintu digital teracak berhambur menyembunyikanmu
Jutaan kuadran semuanya semu
Menyembunyikan setiap jejak kehidupanmu
Sudah berapa ribu baris kode kujelajahi
Namun tak satupun jua menunjukkan jejakmu
Dimanakah engkau menghilang dewiku
Dimanakah engkau wahai Avatarku
Gadis Avatarku dari dunia digital yang semu
Dengan gaun cantik indah digital binermu
Yang memancarkan jutaan spektrum warnamu
Ku kan tetap mencarimu
Mencarimu di antara jutaan nanomikron spektrum warnamu
Ku kan tetap setia menunggumu
Seperti saat dulu kedua ujung telunjuk jari kita bertemu
Walau terpisah oleh ribuan ruang dan waktu
Di cylobyte dan kuadran terakhir aku menantimu
Permanent link to this post (157 words, estimated 38 secs reading time)
Posted in Puisi on April 27th, 2007 1 Comment »
Jadikan aku kosong
Agar angka-angka hidupku tidak gosong
Jadikan aku kosong
Yang bukan bilangan bukan angka
Sebab kosong dengan nol itu hanpir serupa
Jadikan aku kosong
Agar lelakiku yang sombong
Tidak seenak perutnya berbuat serong
Jadikan aku kosong
Sekosong rahim perawan
Posted in Cerpen on April 27th, 2007 1 Comment »
Aku membuka pintu kamarku yang tadinya terkunci. Ku amati sekelilingnya sebentar, lalu aku membuang tasku dan menjatuhkan tubuhku yang masih mengenakan sepatu ke atas tempat tidur.
Aku masih mengingat kejadian semalam sebelum aku tidur. Antara mimpi dan kenyataan, memang. Sesosok pria berbadan tegap dan tinggi datang menghampiriku ketika aku belum dapat memejamkan mataku. Tak begitu terlihat jelas, karena malam itu aku sudah mematikan lampu kamarku.
Posted in Intermezzo on April 26th, 2007 No Comments »
tak satu pun tak terlihat indah saat kita mengawalinya. kau seumpama gumul awan, mengawaniku saat terik matahari, dan memayungi dalam kuyup hujan. tak satupun terlewatkan bagian-bagian termanisnya. tanpa perlu memaksakan sesuatu yang tak harus. dan sebagaimana biasanya, kau menjadikannya luar biasa. menjadi termegah dalam ruang pribadiku. selalu.
Posted in Puisi on April 26th, 2007 15 Comments »

Hai gadis penumpang angkot, maaf mengganggumu, lagi
Aku hanya ingin bernyanyi dan minta dibayar
Dengan senyumanmu
Setiap hari;
Kan kuhirup asap knalpot dan udara kotor
Asal bisa menatap bening mata dan bersih hatimu
Tak apa paru-paruku tercemar polutan
Asal hatiku terisi bunga-bunga cinta karena melihatmu
Posted in Puisi on April 26th, 2007 No Comments »
PAGI
Sebelum surya beranjak datang
Semilir angin pagi berhembus bersama selimut kabut
Membelaiku untuk tidak segera beranjak dari ranjang
Menebarkan aroma kemalasan dan mentup semua panca indera
Seperti ombak lautan yang enggan menjumpai pantai
Kemudian,
Matahai mulai beranjak datang dengan sinarnya yang mengingatkan pada sebuah waktu
Posted in Puisi on April 26th, 2007 1 Comment »
aku berjalan menuju lorong yang gelap
dengan jiwa yang terikat
sinar terangpun terlihat
setitik cahaya menerangi jalan
matahari pagi menyinari alam
membuat aku mempunyai setitik harapan
dalam menjalani kehidupan
aku ingin terbang tinggi bebas menembus awan
mengarungi lautan langit biru yang menantang
Posted in Cerpen on April 25th, 2007 30 Comments »
Sebenarnya, tidak ada yang istimewa pada saya. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya senang bersenandung kecil saat sedang menjemur cucian di siang hari. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya juga sering merajut kala matahari mulai tenggelam dan saya tak menemukan pekerjaan lain untuk dikerjakan. Kala semua selimut sudah terlipat rapi, semua perkakas sudah dicuci, dan burung hantu mulai berjaga diselingi lolongan anjing.
This is a preview of
Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta Pada Hujan
.
Read the full post (1470 words, estimated 5:53 mins reading time)
Posted in Puisi on April 25th, 2007 No Comments »
Duh, senja lagi
Dan kau hanya sendiri
Mengukur ruas jejak pada ruas gelombang
Dan senja seperti ini. Gelombang pasang surut
Dan kau masih di situ
Menghela nafas dalam-dalam
Sementara dirimu
Tak yakin memburu senja pada waktu yang lain
Yogyakarta. 2007
Permanent link to this post (41 words, estimated 10 secs reading time)