KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Entah karena lelah

Entah sebab lain yang entah

Pada suatu malam

Mpu Prapanca bertamu dan bermalam

Di bilik imajiku yang temaram
Entah karena lelah

Entah sebab lain yang entah

Mpu Prapanca muntab dan marah-marah

Sebuah muntah dia lempar ke wajahku yang masih mentah

Anak muda, maafkan aku nenekmoyangmu

Gara-gara kata-kataku di kitab itu

Menjadi begini wajah majapahit di eramu

Aku melongo, sebuah pertanyaan tolol kusampaikan

Ada apa Mpu

Kok resah, kok muntah-muntah, kok merasa bersalah

Apa ketika itu Mpu ngantuk

Sehingga Mpu keliru menulis naskah?
Bukan anak muda, tetapi

Kata-kata yang dijadikan semboyan

Dan jiwa majapahitmu sekarang

Seharusnya tidak kutuliskan

Seharusnya kusembunyikan
Mpu, kataku, bukankah kata-kata itu indah?

Bukankah kata-kata itu berwarna cerah?

Indah gundulmu

Cerah ndasmu

Kata-kata itu bisu, dibisukan

Kalau sekadar dijadikan semboyan, Okelah

Tapi oleh punggawa-punggawa majapahitmu itu

Kata-kataku dijadikan bunker; persembunyian

Maksud Mpu?
Kautahu makna kata-kata itu

Berbeda-beda tetapi satu jua

Dengan makna itulah pembesar-pembesar majapahitmu

Menyembukan “satu” mereka
Apa “satu” itu Mpu?
Satu itu nafsu

Jadi, meski berbeda-beda cara

Ciri mereka satu: nafsu singgasana
Kalau begitu Mpu, beri aku restu untuk mampu

Memotong sepasang kaki garuda

Yang mencengkeram cakram kata-katamu itu

Baiklah anak muda

Restuku untukmu

Tapi aku tak bisa menjadi pengacaramu

Seandainya nanti kau jadi terdakwa kasus mutilasi

Sebab, sebagaimana garuda itu

Aku pun hanya seonggok mayat

Kemampuanku terbatas pada wilayah ayat

Terimakasih atas restumu Mpu

Itu sudah cukup bagiku, sebab bagaimanapun

Majapahit di eraku

Tidak mengenal istilah pengacara

Yang dikenal hanyalah narapidana dan penjara

Yang sangat terkenal adalah para penguasa

Zling.

Hening.

Kuning.

Mpu hilang, aku tertilang

Seorang prajurit mengalungi leherku dengan celurit

“titip sidang atau sekarang?”
Jetak-caruban, 20.10.06, 05:10

4 Responses to “Dialog Mpu Prapanca dengan Seorang Anak Muda”

  1. on 04 Dec 2007 at 21:35joto

    saya salah satu penggemar mpu prapanca, siapapun
    bisa berbagi informasi

  2. on 22 Mar 2008 at 16:29Isyana Paramitha Oktasari

    Ceritanya bagus !!!

  3. on 23 Oct 2008 at 16:42ressa

    APA INI PUISI ATAU \CERPAN?
    GW ORG DAYK GAK SETUJU BANGET
    INI LAH YANG BISA MEMBUAT PERTUMPAHAN DARAH

  4. on 26 Jan 2009 at 15:44bintang_girlss

    hy

Tinggalkan Komentar