KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sesuara

Sesuara dan saya tidak pernah bersahabat. Awalnya saya kira, sesuara hanya sekedar bersikap dingin. Maka pada suatu pagi, saya mencoba menyapanya dengan ramah, mengajaknya ngobrol ringan saat sarapan. Tapi dia cuma mencibir dan berlalu pergi, meninggalkan sepiring pancake hangat berlumur madu, yang saya kira tadinya akan sangat disukainya. Pernah suatu kali juga, saya melihatnya sedang duduk diam-diam di suatu pojokan kepala saya. Saya kira dia sedang sedih, maka saya dekati dia. Saya duduk diam-diam di sampingnya, mencoba menciptakan satu keheningan yang menyamankan, yang tadinya saya kira akan cukup menyejukkan baginya. Tapi dia hanya menatap saya dengan satu tatapan benci yang amat sangat, lalu meninggalkan saya duduk diam-diam sendirian.

Sesuara juga kerap datang dan pergi sesukanya. Pernah suatu kali, saya sedang makan siang dengan pacar saya. Tiba-tiba saja sesuara hadir, dengan licinnya menyelinap di sela-sela kepala saya seperti belut. Pelan-pelan mulut berbisanya meracuni kepala saya dengan potongan-potongan kenangan rekaannya. Seperti kenangan malam-malam saat saya bersembunyi di kolong tempat tidur untuk ditemukan pacar saya. Atau kenangan malam-malam yang dihabiskan pacar saya menunggui saya yang terbaring lemas di bangsal rumah sakit, dengan perut terpompa habis. Sesuara akan terus-menerus menyisipkan cerita karangannya seperti jeda iklan yang pekak. Ia akan mengulang-ulang pikiran tentang betapa sakitnya saya, betapa menyulitkannya saya, betapa mengganggunya saya. Betapa hinanya saya, pelacur rendahan yang lebih nista dari seonggok sampah. Dan betapa ketergangguan dan ketidakbahagiaan saya telah membuat pacar saya begitu merana.

Sering kali sesuara dan saya jadi bertengkar hebat. Karena ia tetap tak mau berhenti meracau, meski saya sudah memintanya diam, atau berteriak, atau menangis, atau bahkan membentaknya menyuruhnya pergi meninggalkan saya dan pacar saya makan siang dengan tenang. Pernah satu kali saya mengancam akan mengiris kuping saya. Dan sesuara cuma tersenyum mengejek. Katanya, saya tak akan berani. Katanya, toh, apapun yang terjadi, saya tetap tak bisa lari. Saya tetap akan mendengarnya. Di dalam kepala saya. Dimana-mana. Dimana-mana.

Dan sesuara betul-betul menepati ikrarnya.

Saat saya bersepeda pagi hari keliling rumah misalnya, ia akan berbisik membujuk saya untuk menabrakkannya pada truk gandeng yang melintas. Begitu pula saat menyeberang jalan, ia akan menggoda saya untuk berhenti tepat di tengah jalan, menunggu mobil-mobil melindas saya. Menggilas tubuh saya, sampai bunyi rem berdecit-decit.

Saat saya naik lift, ia akan menjejali pikiran saya dengan imaji saat lift ini jatuh dan menghancurkan tubuh saya. Begitu juga saat saya sedang di puncak gedung. Ia akan merayu saya dengan berbagai bayangan tentang kaki-kaki saya yang melangkah, dan terjun. Menyerahkannya sepenuhnya pada gravitasi.

Saat saya berbaring diam-diam di kamar, sesuara akan berpura-pura bersikap perhatian dengan menyodorkan pada saya segenggam obat, yang katanya bisa meringankan sakit kepala saya. Karena saya tahu betapa liciknya dia, saya menolak. Tapi sesuara tetap bersikeras.

Bahkan saat saya tak mau mendengarkan.

Ia akan mengetuk kepala saya. Saat saya bungkam, ia akan mulai menggedor kepala saya dengan tak sabar. Lalu akan mulai berteriak, dan menjerit dengan suaranya yang melengking. Katanya, ia tak akan kalah dengan cara ini. Katanya, ia tak akan pergi. Sampai saya dihantui imaji untuk membenturkan kepala dan isinya yang busuk ini ke tembok kamar, sampai retakannya terserak satu persatu di bawah kaki saya.

Dan saat saya tertidur, dia akan mengirimkan mimpi tentang neraka.

Tanpa henti-henti.

******

Pacar saya yang baik hati kerap menyarankan saya untuk berbaikan saja dengan sesuara. Saya cuma diam. Saya tahu, bahwa sesuara sering pura-pura meratap minta maaf, setelah bertengkar hebat dengan saya. Dengan liciknya, dia berusaha mencuri hati pacar saya.

Meski begitu, saya tetap tidak percaya pada sesuara. Kali lain dia datang tanpa diundang saat saya sedang berduaan dengan pacar saya. Seperti biasa, saya akan memintanya pergi dengan sopan. Seperti biasa juga, saya akan menyuruhnya diam, dengan mengancam akan mengiris kuping saya. Sesuara pun tertawa mengejek seperti biasanya juga. Bahkan sampai saya betul-betul mengiris kuping saya pun, saya masih bisa mendengar samar tawanya yang terkekeh-kekeh. Meninggalkan sepasang mata pacar saya yang bersinar ngeri, dan kuping kanan saya yang mulai kehabisan darah.

Malamnya, saat saya terbaring lemas di bangsal rumah sakit, sesuara datang menjenguk saya. Ia bicara dekat-dekat kuping kiri saya. Ia mencaci saya, memaki saya, meludahi saya, mencacah saya dengan kata-kata tentang betapa tidak bergunanya hidup saya. Lalu ia akan memaksa saya membuka mata, menunjukkan pemandangan pacar saya yang sedang tergolek kuyu di lantai rumah sakit. Pemandangan kabur yang sudah berkali-kali saya lihat, tanpa pernah saya tahu lagi apakah itu hasil rekaannya atau bukan. Pemandangan yang sama, seperti malam-malam sebelumnya, sejak saya bertemu pacar saya.

Lalu sesuara akan pamit dengan terkekeh-kekeh, menyisakan satu irisan panjang di kuping kiri saya.

********

3 Responses to “Sesuara”

  1. on 30 Apr 2007 at 11:46rakhma

    aku nggak terlalu mengerti…

  2. on 03 May 2007 at 11:52retnadi

    nggak papa rahma, cerita ini memang cerita surealis..
    basically, ini ttg penderita skizofrenik yg mengalami halusinasi auditori, dan saya cuma berusaha mem-personifikasikan halusiansi itu. suwun utk komennya…

  3. on 22 Jul 2007 at 10:59Linna

    Apa maksudnya?
    Yang namanya Sesuara thu orang atau apa sih?
    Aku bingung..

Tinggalkan Komentar