Aku dan Waktu
April 26th, 2007 by moch Arif Makruf
PAGI
Sebelum surya beranjak datang
Semilir angin pagi berhembus bersama selimut kabut
Membelaiku untuk tidak segera beranjak dari ranjang
Menebarkan aroma kemalasan dan mentup semua panca indera
Seperti ombak lautan yang enggan menjumpai pantai
Kemudian,
Matahai mulai beranjak datang dengan sinarnya yang mengingatkan pada sebuah waktu
Lapisan kabut mulai menggeliat tersapu sedikit demi sedikit
Gerak waktu terus melaju
Manusia mulai terlepas dari tidurnya
Membungkus mimpi dan melemparkanya pada sebuah kamar mandi
Saatnya,
Air mulai menenggelamkan semua yang terjadi semalam
Melepaskan salam perpisahan kepada semilir angin dingin dan kabut
meremas-remas tubuh,tetapi tidak bisa mengeluarkan sperma
Sabun datang menghangatkan suasana
Membuat jadi lebih beraroma
Busa-busa keluar bersama kotoran
Handuk datang sejenak, menjumpai sisa air yang melekat pada tubuh
Kemudian lembaran-lembaran kain mengambil sebuah martabat
Akan menjadi sebuah tanda sebuah perbedaan bagi manusia yang beda dengan makhluk lainnya
(hewan tidak pernah memikirkan sesuatu pakaian melekat pada tubuhnya)
Semburan minyak wangi datang sebagi pelengkap telah hilangnya aroma manusia pada tubuh
Hidung akan menjadi sebuah saksi mata
Dan mata akan menjadi sebuah saksi hidung
Pintu sudah mulai terbuka
Kemudian terkunci setelah derap kaki yang telah di bimbing oleh mimipi pada malam hari.
“besok pagi akan datang kembali, bersama mimpi yang lain lagi”
Ketika langkah telah maju kemarin adalah sejarah,tidak mungkin waktu menyerah
Ke depan adalah harapan,penghabisan adalah nyawa yang telah hilang dari peredaran
Perjanjian dengan waktu adalah sebuah perjalanan yang terus melaju
SIANG
Matahari akan datang tepat diatas, tegak lurus dengan ujngnya seperti tombak yang tidak berhenti menginjak kita
Semuanya serba tidak pasti
Kepastian adalah sebuah langkah yang terus maju bersama dengan waktu
Tidak banyak yang akan tercatat dalam waktu ini
Semuanya bergerak sendiri
Seperti mesin yang bergerak dan kemudian berhenti karena kehabisan sumber energi
Aku terus mengarungi waktu
Di temani sinar matahari yang semakin lama semakin layu
Matahari akan segera berganti
“Tuhan menggantikan dengan bulan”
MALAM
Setelah melepaskan diri dari dinginya pagi dan teriknya sinar matahari
Aku mulai menghitung hasil dari jerih payah
Duduk di beranda di temani senja
kemudian menghargai kelamin yang tertunda karena sebuah tuntutan
Dengan sisa energi,aku sempatkan bersenandung lagu bagimu negeri
Yang tidak pernah berhenti menyiksa diri
Untuk yang takut dosa,malam digunakan tangan atau sabun untuk menikmatinya
Bagaimanapun rasanya sama saja ketika sebuah cairan telah keluar dari asalnya
Untuk yang tidak takut terhadap dosa, letakkan ujung kelaminmu pada rupiah
Akan segera datang pasanganmu menyambut kelaminmu
Asu !!
Puisi mimpi telah mengajak mengajakku ke dalam dunia yang tidak pasti
Aku yang penganggur terpekur.
Bogor, Maret 2007