Cowok Pilihan
April 22nd, 2007 by nita bintang
Namanya Karina. Ia seorang gadis muda jelita berumur 20 tahun kini sedang di jenuhkan oleh suatu hal. Bukan karena ia sedang sakit kepala. Bukan juga tentang masalah tugas-tugas dari dosennya yang memang sudah biasa menumpuk di meja belajarnya, tetapi dengan cepat ia dapat mengerjakannya. Karena ia adalah gadis yang cerdas. Tugas-tugasnya selalu diselesaikannya tepat waktu. Bahkan, terkadang ia mengumpulkan tugasnya kurang dari hari yang telah ditentukan. Tak heran kalau IP-nya dari semester pertama sampai sekarang ia memasuki semester 4, selalu di atas rata-rata.
Tetapi ia bimbang karena sesuatu hal yang sering dialami para remaja seusianya. Pacar! Itu dia yang Karina pusingkan saat ini. Sebenarnya, Karina adalah gadis yang sempurna. Ia cantik, manis, pintar, banyak teman, dan aktif dalam segala kegiatan di kampusnya. Mungkin karena ia terlalu sibuk dengan kegiatan kampusnya, sehingga ia belum kepikiran tentang hal itu. Atau, ia terlalu pemilih? Ah! Nggak juga! katanya dalam hati.
Karena satu masalah ini, semua kegiatannya jadi berantakan. Tugas-tugasnya kini sama sekali belum ia kerjakan. Padahal, lusa sudah mau dikumpulkan. Ia juga jadi jarang ikut rapat senat. Bilangnya, sih lagi nggak mood. Nilai quiz-nya juga jadi tambah jatuh.
“Sejak kapan nilai Statistik elo C? Biasanya, nilai elo paling jelek B?” tanya Elsa, sahabat setianya yang sekarang ini selalu temani Karina pergi, karena sampai sekarang, Karina masih sendiri.
Karina jadi malu sama teman-teman di kelasnya. Terutama pada Elsa yang nilainya A. Padahal sebelum quiz, Karina yang mengajari Elsa tentang mata kuliah Statistik itu.
Tadinya, Karina nggak mikirin banget tentang hal ini. Tetapi ketika Alya, teman semasa SMP-nya dulu, memberi tahu kalau Alya akan menikah minggu depan, spontan Karina makin resah. Bukan masalah kado atau amplop yang akan ia bawa minggu depan. Tetapi, siapa partner yang akan ia ajak. Kalo ngajak Elsa, kayaknya nggak etis. Harusnya, ia ngajak cowok dong! Apalagi Alya juga mengundang Nico, mantan Karina waktu SMP dulu. Malu kalo Nico bawa gandengan sementara Karina datang sendiri! Batinnya dalam hati.
Di perpustakaan kampus, belia cantik itu duduk sendirian di depan meja baca. Ia memang sedang membuka-buka halaman buku Manajemen. Tetapi pikirannya entah melayang kemana.
“Hei!” Elsa yang sedari tadi mengamati Karina yang sedang melamun itu, datang mengejutkan Karina.
“Ya ampun, El. Ngagetin gue aja deh.” ucap Karina sambil mengusap-usap dadanya.
“Lagian, elo baca buku tapi mata elo tuh kemana-mana,” jawab Elsa cengengesan.
“Besok, kan quiz Manajemen. Emangnya, elo nggak belajar?” kata Karina berusaha menutupi masalahnya.
“Oo… jadi elo lagi belajar. Gue kira, lagi mengkhayal! Supaya nggak dapet nilai C lagi, ya?” sindir Elsa. Wajah lembut Karina kini tampak terlihat memerah.
“Lagi pula, elo tuh salah baca, Rin. Besok tuh quiz-nya cuma sampe halaman 98. Kok elo bacanya sampe halaman 115? Keterusan atau kerajinan nih?” sambung Elsa.
Ups! Karina membuka buku Manajemennya halaman demi halaman kembali menuju lembar ke-98. Bukan memerah lagi wajah Karina saat itu. Untuk masak telur di atas kepalanya juga pasti matang. Just Kidding!
“Oh, iya! Gue lupa! Cuma sampe sini aja, ya?” tunjuk Karina ke buku Manajemennya.
“Karin, Karin. Elo ini kenapa, sih? Elo tuh jadi aneh gini deh! Nggak kaya biasanya! Elo lagi ada masalah?” tanya Elsa.
“Ah, eng…enggak kok, El. Gue… gue baik-baik aja. Iya… iya bener deh,” jawab Karina terputus-putus karena gugup.
Wajah Karina menunduk. Ia tak ingin Elsa melihat wajahnya yang kini merah padam. Takut-takut, dari wajahnya itu Elsa jadi tahu kenapa Karina berubah. Mending kalo berubahnya jadi baik, ini… ancur deh!
“Tuh, kan! Elo kok gitu sih sama gue? Cerita dong, elo kenapa? Tau, nggak sih? saat ini, elo jadi pusat perhatian temen-temen sekampus juga dosen-dosen. Masalahnya, gue yang jadi sasaran interview mereka. Kemarin, temen-temen tanya sama gue, elo tuh kenapa?! Belom lagi dosen favorit elo, tuh! Pak Hari. Dia nanyain elo terus. Dia juga bingung ngeliat mahasiswi kesayangannya tiba-tiba jadi murung. Yang lebih gawat lagi Rin, anak-anak Redaksi kampus! Nggak ketemu elo, gue yang dikejar-kejar. Biasa, mereka selalu cari berita semenarik mungkin. Gimana elo jadi berita yang enggak menarik? Sang aktivis kampus yang cerdas dan pintar ini, tiba-tiba menghentikan segala kegiatannya di kampus, dan bikin nilai-nilainya jadi tambah anjlok! Menariknya, belum jelas kenapa salah satu aktivis kampus itu jadi berubah. Apa… elo seneng masuk redaksi kampus dengan berita kayak gitu?” jelas Elsa panjang lebar.
Karina terdiam. Ia masih bimbang. Apa yang ia harus ceritakan pada Elsa? Jujur, atau cari berita yang lain? malu kan, kalo Karina masuk redaksi kampus dengan judul “Karina kini berubah karena masalah cowok?”, pasti nggak sedikit temen-temennya yang tertawa. Lebih jelas lagi, menertawakan dirinya.
“Sebenernya… gue lagi bingung, El. Minggu depan… temen SMP gue mau married,” ucap Karina terputus-putus.
“Lho?! emangnya elo bingung kenapa? Nggak punya duit untuk beli kado?” tanya Elsa. Karina menggeleng.
“Nggak tahu rumahnya?”
Karina menggeleng lagi.
“Atau… elo nggak tahu mau ngasih apa ke temen lo itu?” lanjut Elsa. Karina jadi capek menggeleng-geleng terus.
“Terus kenapa? Cerita dong, Rin. jangan geleng-geleng aja!” tanya Elsa lagi. Dia sendiri bingung sama sahabatnya yang tiba-tiba berubah tanpa alasan.
Nggak lama Ika, salah satu wartawan kampus masuk ke perpustakaan dan menyerobot pembicaraan Karina dan Elsa. Tanpa basa-basi, Ika menghidupkan tape-nya lalu ia berusaha mewawancarai Karina. Lalu ia menanyakan kepada Karina tentang gosip yang udah menyebar luas di seantero kampusnya yang terletak di Pusat Jakarta itu.
“Ini dia sumber berita kita! Dari tadi dicariin ke mana-mana, ternyata ada di sini! Karina, boleh wawancara sedikit, nggak? Elo kan, sekarang udah jadi salah satu aktivis beken di kampus kita nih. Katanya, nilai-nilai elo jatuh semua, ya? Terus katanya, elo juga berhenti jadi anggota senat, ya? Terus… elo juga ngundurin diri dari semua kegiatan-kegiatan elo di kampus, ya?” tanya Ika panjang.
“Kata siapa?” tanya Karina bingung. Kok jadi nyebar gini sih? Batinnya dalam hati.
“Ada-lah! redaksi kita kan, punya sumber berita. Kenapa tuh, Rin? Ada alasan khusus, nggak? Jawab dong, Rin!” desak Ika.
“Eh, Ka! wawancaranya nanti aja, ya. Kita mau ngomong serius dulu nih. Nanti semua pertanyaan lo kita jawab, deh! Promis deh, promis…!” jawab Elsa. Karina yang harusnya nge-jawab pertanyaan Ika malah diem aja.
Tetapi, untungnya Elsa berusaha meyakinkan Ika untuk menunda wawancara. Setelah itu, suasana kembali aman.
“Huh! dasar wartawan! nggak di TV, nggak di kampus, sama aja. Mereka tuh tau… banget sama yang namanya sumber berita,”
“Mereka tau dari mana sih, El? Kok tau-taunya udah nyebar aja?”
“Elo kan tau sendiri! Di kampus ini, tembok itu punya mata, angin dapat berbicara. Hmmh! Lanjut deh, Rin. Gue minta, elo jujur sama gue. Untuk ceritain apa adanya. Semuanya. All!” ujar Elsa.
“Tapi elo nggak akan cerita ke siapa-siapa, kan? Gue kan, malu kalo berita gue masuk redaksi,” ucap Karina.
“Iya, iya! Kayak kita baru sahabatan sehari aja. Rahasia elo yang mana sih, yang pernah bocor ke temen-temen atau anak-anak redaksi? Nggak, kan?” ucap Elsa meyakinkan.
“Gue… lagi bingung cari partner untuk gue ajak ke resepsi Alya. Elo kan tau, gue belom punya cowok,”
“Oo… itu! Ya ampun, Karin! Gue kira masalah apa! Gue kira, masalah elo udah gawat banget sampe-sampe nilai-nilai elo tuh jeblok semua. Ternyata itu?” Elsa memberi komentar sambil tertawa kecil.
“Tuh, kan. Elo aja ketawa. Apalagi nanti masuk majalah. Apa kata temen-temen?”
“Karina, di kampus ini, elo kan bintang! Siapa sih yang nggak kenal Karina Marcheline? Mahasiswi Hukum semester 4 yang sekarang jadi salah satu aktivis beken di kampus? Hampir semua mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di sini tuh kenal sama elo!” ucap Elsa membesarkan hati Karina.
“Tapi… gue harus ajak siapa dong ke pestanya Alya? Pokoknya, tuh cowok harus lebih ganteng dari mantan gue yang dulu.” ucap Karina sambil memasukkan buku Manajemennya ke dalam tas.
“Nico yang pernah elo ceritain itu? Mantan elo waktu SMP dulu? Wah, nggak salah, Rin! Elo harus cari temen cowok yang lebih perfect dari Nico! Apalagi elo pernah bilang kalo dia tuh arogan, sombong, sok kaya, ih! Nyebelin banget punya cowok kaya gitu!” Elsa yang tadinya duduk berseberangan dengan Karina, kini makin mendekat ke bangku di sebelah Karina.
“Iya. dia juga diundang sama Alya. Malu gue kalo dateng sendirian, sementara dia sama ceweknya. Bakalan puas banget ngeliat gue dateng sendiri!” terang Karina. Ia bingung dan nggak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang. “Trus gimana dong, El? gue bingung banget. bantu gue dong!” kata Karina memelas.
“Karin, Karin! Elo tuh kalo masalah cowok nggak up to date banget, sih?! Elo tinggal pilih satu cowok di kampus ini buat elo ajak ke resepsi Alya. Pasti nggak ada yang nolak deh! Yakin!”
“Menurut elo, gue harus ajak siapa?” tanya Karina polos.
“Heh! Anton aja! Dia juga oke! Pasti mau deh nemenin elo.” saran Elsa.
“Anton? Nggak deh. Dia emang oke, tapi dia tuh pendiem banget. Gue pasti jadi bete di sana,” dengan tampang bete, Karina meletakkan kedua tangannya di dagunya.
“Kalo Indra? Dia pasti mau terima ajakan elo dengan senang hati,”
“Iya! apalagi di sana banyak makanan. Udah deh! Tersalurkan tuh hobi makannya! elo tuh nggak bisa milih yang gaulan dikit, ya El?” ujar Karina sedikit kesal.
“Mm… gimana kalo Haikal?” kata Elsa makin ngoyo.
“Gila! Dia tuh salah satu anggota redaksi! Bisa mati gue kalo ketahuan sama dia!”
“Lho? Katanya mau yang ganteng? Gaul? Haikal, kan cowok ter-cute di kampus kita. Gaul pula,” kata Elsa.
“Ganteng sih, ganteng! Gaul juga banget-banget. Elo tuh kayaknya seneng deh, kalo gue masuk redaksi,” sindir Karina pada Elsa.
“Emang, elo maunya yang kayak gimana sih, Rin?!” Elsa jadi ikut-ikutan bingung.
“Yang… gimana, ya? Gue pinjem Aira-elo aja deh,” ucap Karina pada Elsa.
“Wah! Makan temen itu namanya. Cowok gue diembat juga. Jangan dong, Aira is mine! Gimana kalo… Toni aja!” usul Elsa. Bukannya senang, wajah Karina yang manis malah makin diselimuti awan kelabu.
“Ah! Dia kan, ember. Cowok cerewet! Kalo nanti dia lagi ngobrol-ngobrol sama Nico, terus dia cerita kalo dia bukan cowok gue, gimana? belom lagi kalo dia cerita ke redaksi, abis deh gue!” ujar Karina. Dia jadi makin bingung. Cowok pilihan Elsa nggak ada yang sreg di hatinya.
* * *
Tak terasa, seminggu telah di lewati Karina. Sampai sekarang, ia belum menemukan siapa cowok pilihan yang akan ia ajak ke pesta resepsi Alya. Tetapi, ia tetap bertekad, malam ini ia harus sudah mendapatkan cowok pilihannya itu untuk mendampinginya Sabtu malam ini.
“Gimana, Rin? Udah ada temen?” tanya Elsa sambil mengaduk es jeruknya.
Kantin memang tempat yang cocok untuk ngobrol-ngobrol bukan hanya ngobrol, ngerjain tugas pun, kantin jadi salah satu tempat yang paling nyaman selain di perpustakaan.
“Belum. Gue masih bingung, El,”
“Hei! lagi asyik, ya? gue boleh gabung, nggak?” tanya Dimas menghampiri meja yang ditempati Karina dan Elsa. Ia membawa mangkuk berisi soto yang sudah di pesannya. Karena nggak ada meja yang kosong lagi, jadinya Dimas ikut gabung bareng Elsa dan Karina.
“Boleh aja!” ucap Karina dan Elsa hampir berbarengan.
Ah! Gimana kalo Dimas aja! Pembawaan dia kalem. Cocok buat gue nih! Ia pintar, baik, sederhana dan tegas. Ini dia! Kenapa nggak kepikiran ke situ, ya?! Pikir Karina sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Eh, Rin! Gue tinggal dulu, ya.” kata Elsa berbasa-basi. Dari senyuman Karina tadi, Elsa sudah tahu apa yang sedang dipikirkan Karina saat ini.
“Elo mau ke mana sih?” tanya Karina pura-pura nggak ngerti. Tapi ia juga sedikit gugup berada di depan Dimas.
“Buku gue ketinggalan di kelas! Nanti gue balik lagi, oke?!” jawab Elsa sambil mengedipkan sebelah matanya. Karina tahu itu adalah sebuah kode untuknya.
Setelah Elsa pergi, yang ada di depan meja kantin itu hanya diam. Dimas memesan teh manis pada ibu kantin. Habis itu, tak ada satu huruf pun yang terucap diantara mereka. Tetapi, tak lama kebisuan itu terpecahkan oleh ucapan Dimas pada Karina.
“Soto, Rin?” tawar Dimas pada Karina.
“Makasih. Gue baru aja selesai makan.” jawab Karina pelan. Ia sedang memikirkan kalimat ajakan yang kayak gimana yang akan ia ucapkan ke Dimas nanti.
“Elo sekarang jadi lain deh, Rin.” ucap Dimas sambil menyendok nasi sotonya.
Rupanya, Dimas juga merasakan hal itu? ucap Karina dalam hati.
“Lain? Lain apanya? Gue ya, gue.” ucap Karina sekenanya. Kayaknya, kalimat tadi nggak enak didengar sebagai jawaban deh. pikir Karina. Abis, nervous sih!
“Elo beda banget. Elo nggak kayak Karina yang gue kenal. Sampe-sampe, anak redaksi sibuk bikin berita tentang elo. Akhir-akhir ini, elo juga jarang kelihatan di setiap kegiatan kampus. Gue nggak nemuin Karina yang ceria, smart, banyak temen dan ngumpulin tugas tepat waktu lagi. Sekarang, elo kebanyakan diem, murung, nggak suka gabung sama temen-temen, elo jadi suka sendirian. Ada apa, sih?” tanya Dimas tiba-tiba. Lalu Karina menundukkan wajahnya.
“Perasaan elo aja kali? Gue nggak kenapa-kenapa, kok.” jawab Karina sambil menyembunyikan wajahnya yang tanpa senyum.
“Kalo elo cerita, mungkin… gue bisa bantu.” Dimas tetap berusaha mendesak Karina untuk bercerita.
Tadinya, Karin pikir mau nolak terus. Tapi, takut Dimas nggak nawarin diri untuk bantu dia lagi akhirnya, ia pura-pura menyerah.
“Kenapa sih pake’ malu segala? Terbuka aja sama gue,”
Ini timing yang tepat buat ngomongin hal itu, pikir Karina. Jadi tanpa buang-buang waktu, Karina langsung ceritain masalahnya pada Dimas.
“Mmm… emang sih, gue lagi butuh pertolongan. Tapi, apa elo bisa bantu gue?”
“Buat elo, apa sih yang nggak bisa?” jawab Dimas pede. Duh, jadi ge-er nih! Batin Karina dalam hati.
“Mmm… malem minggu ini… elo… ada acara, nggak?” ucap Karina akhirnya.
“Kayaknya… enggak, deh. Emang kenapa?” jawab Dimas sambil meminum teh manisnya.
Pas banget! Karina langsung menceritakan semuanya pada Dimas. Karina percaya pada Dimas kalau ia tidak akan membocorkan rahasianya pada siapa pun. Apalagi sama anak-anak redaksi. Untungnya tanpa perlu memohon-mohon, Dimas mau menolong Karina untuk menemaninya ke pesta Alya. Sekaligus pura-pura jadi cowoknya Karina selama di depan Nico. Gimana Karina nggak senang? Akhirnya, ia menemukan pasangan untuk datang ke pesta resepsi Alya. I’m not alone anymore! batinnya dalam hati.
Pastinya, ia juga cerita pada Elsa tentang hal ini. Elsa juga senang mendengarnya. Sebenarnya, Elsa dan Karina sedikit ragu pada perjanjian ini sama Dimas. Karena Karina belum tahu Dimas sudah punya pacar atau belum. Kalau sudah, apa Dimas rela memberikan satu kali saja malam minggunya pada Karina? Gimana sama pacarnya nanti ya…? Pikir Karina.
Sore menjelang malam, Karina bersiap-siap untuk pergi. Ia janjian sama Dimas di depan persimpangan jalan pancoran. Tampak Dimas yang terlihat lebih tampan dari hari-hari biasa. Apalagi badan tinggi tegapnya dipadukan dengan kemeja biru laut yang makin… wah!! Beneran! Karina pangling sama penampilan Dimas malam ini. Begitu juga Dimas. Kalo Karina nggak menyapa Dimas duluan, mungkin Dimas nggak tahu kalo yang menyapanya itu Karina. Dengan gaun malamya yang anggun dan rambutnya yang tersanggul rapi membuat Dimas sempet bengong lalu berkata : “Elo cantik banget malam ini, Rin!!” Otomatis Karina jadi malu.
Pesta berjalan lancar. Alya pun sedikit terkejut melihat kedatangan Karina bersama Dimas.
“Kurusan deh, Rin! Dulu waktu SMP, elo gemuk. Siapa nih, Rin? Kok nggak dikenalin sih?” komentar Alya saat itu.
“Oh iya. Sorry, gue lupa, Al. Ini Dimas, temen kuliah gue.”
“Temen? Beneran temen nih? Temen ketemu gede kali?” sindir Alya.
“Ah, bisa aja lo, Al.” sesaat, Karina menoleh ke arah Dimas. Tanpa berbicara, Dimas hanya tersenyum kecil di depan Alya dan suaminya.
Acara malam ini jadi lebih mirip reunian SMP. Karena di sana Karina juga bertemu temen-temen gank-nya dulu. Ada Risa, Anti, Fitri, Kemal, juga Irfan. Ketua kelas waktu di kelas 3 SMP dulu, bahkan dia sudah membawa anak! Banyak betul kawan-kawan Karina yang kawin muda! Sementara dirinya, punya pacar aja belum.
Ketika mau pulang, Karina sempat bertemu Nico. Bener juga. Dia masih seperti dulu. Masih sombong dan pamer ini-itu. Cewek yang dikenalkannya pada Karina juga terlihat sama sombongnya dengan Nico. Untungnya, pas lagi ngobrol sama Karina, Dimas juga bantuin jaga image Karina.
“Pulang, yuk.” ajak Karina yang udah kebawa sama bete-nya suasana malam itu. Padahal, Dimas masih terlihat asyik di sana. Tetapi, karena ini undangan Karina, maka Dimas nurut aja.
“Gue anterin pulang, ya!” tawar Dimas.
“Nggak usah, Dim. Anterinnya sampe di sini aja. Gue balik sendiri juga nggak apa-apa, kok. Makasih ya, elo udah temenin gue.” jawab Karina.
“Emangnya… gue cuma boleh jadi cowok bohongan elo?” ucap Dimas tiba-tiba.
“Maksud elo?” tanya Karina. Dia bener-bener nggak ngerti sama ucapan Dimas barusan.
“Jadi, gue nggak boleh jadi cowok beneran elo?”
Deg! Hati Karina jadi berdebar nggak karuan. Cowok beneran? Apa itu tanda Dimas nembak Karina? Masih nggak yakin deh! Ucap Karina dalam hati.
“Nanti… ada yang marah, lagi.” canda Karina.
“Marah? Siapa?”
“Siapa lagi? Ya, pacar elo.” jawab Karina sambil tertawa kecil.
“Gue belom punya pacar, Rin.” balas Dimas dengan gayanya yang sok cuek di depan Karina.
Kalimat yang dilontarkan Dimas barusan udah bikin Karina nggak bisa ngomong apa-apa. Suasana Sabtu malam ini kembali sunyi.
“Mm… gue… gue…” ucap Karina terputus-putus.
“Malam ini, gue jatuh cinta sama elo, Rin.” ucap Dimas memotong kalimat Karina yang emang dia sendiri nggak tahu harus ngelanjutin ngomong apa.
Tapi begitu Dimas bilang jatuh cinta padanya, Karina jadi tambah bengong. Mulutnya tiba-tiba terkunci.
“Elo… mau kan jadi cewek beneran gue?” sambung Dimas. Di satu sisi, Karina tertawa dalam hati. Kenapa jadi main ‘cewek beneran’ dan ‘cowok bohongan’, sih? lucu aja. Tetapi di sisi lain, ia nggak tahu harus jawab apa. Akhirnya, Karina memutuskan untuk menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan di tengah jalan ramai itu, Dimas memeluk tubuh mungil Karina.
nt
setelah memeluk tubuh kecil karina,,,trus ngapain? pasti dech…mmmmmmmmmmmmm…jadi malu…lanjut dunk
Benarkah ini cerita gadis-gadis mahasiswa?
Kesannya cerita kurang dewasa…
seru banget ceritanya, sayang……….. kurang perfect endingnya.
asli,nama gw karina, masuk semester 4, n ancur karena cowok…
kaget bgt baca ni cerpen…
setiap bagian diri kita memang dipengaruhi oleh satu bagian yang sangat vital. jika padanya terdapat suatu ‘kerusakan’ seluruh tubuh bisa rusak.
-_-
tapi ada penawar untuk itu….
thanks ^_-
hehe…si karina ge-er tuh. disangkanya cerpen ini kisahin dia. cerpennya…..hmmmm……..not bad buat pemula. hehe..kayak yang hebat aja. maaf lho nita. walau bukan penulis tapi saya menilainya seperti seorang yang mahir menulis aja. tapi memang lumayan kok.
ceritanya bagus tapi endingnya tidak sampai
apa seterusnya
mahu tahu juga de
sambung ka good luck