KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mimpi-mimpi Sunyi

Mimpi itu datang lagi. Tak peduli apakah Sunyi habis mabuk atau letih karena habis lembur, mimpi itu selalu datang lagi dan lagi.

Mimpi tentang kematiannya.

Kadang, settingnya adalah puncak gedung pencakar langit. Kadang, danau berair tenang. Kadang, parkiran kosong. Yang jelas, Sunyi tahu, ia akan mati disana.

Semalam, settingnya adalah kamar tidur Sunyi. Dalam mimpi itu, ia sedang terlelap. Namun meski hanya mengenakan sehelai gaun tidur tipis, entah kenapa ia merasa kepanasan. Peluhnya membanjir. Rasanya seperti…terbakar. Sunyi membuka mata dan segera menyaksikan sebuah pemandangan yang menakjubkan.

Luar biasa, kamar tidurnya yang mungil berubah menjadi lautan api. Buku-buku dan kertas digerogoti api sampai menghitam. Kepala boneka kesayangannya, Pak Beruang, telah terpisah dari tubuhnya. Dinding yang menghitam, sementara tirai-tirai yang menari-nari membelai wajah dan kulitnya yang terbuka. Sesuatu terdengar berderak-derak, tapi Sunyi tidak tahu itu apa. Ia melihat jendelanya terbuka, mengantarkan angin yang menerbangkan percikan-percikan api dan butir-butir abu yang masih hangat ke depan hidungnya. Ia bisa mencium wanginya. Ia bisa merasakan kehangatannya.

Pelan, Sunyi meraba dadanya. Damai. Damai sekali. Ia bisa merasakan lidah-lidah api itu menjangkaunya dengan rindu. “Kemari Sunyi, kemari…,” bisik mereka di telinganya. Suara berderak-derak makin keras terdengar, sepertinya makin dekat. Ia menatap langit-langit yang berkeretak dengan nyaring. Ah, suara yang merdu itu…

Dalam hitungan lima detik, langit-langit itu akan rubuh menimpanya. Sunyi menghela napas. Sambil memejamkan mata, ia mulai berhitung. Lima..empat..tiga..dua..Sunyi membuka mata dan mendongak. Ia sudah siap. Ia merentangkan tangannya. Ia sudah siap. “Satu…,” ucapnya.

********

Sejak berumur 7 tahun, Sunyi telah tahu bahwa ia akan meninggal pada umur 22 tahun. Ia sudah membaca surat pemberitahuan kematiannya. Di atas selembar kertas yang kini telah menguning dan lusuh. Disitu tertulis jelas hari, tanggal, dan tempat kematiannya. Selasa, 17 November 2006, jalan depan rumah. Tanpa dicantumkan penyebab kematian.

Sunyi tidak sendirian. Setiap orang di kota Larut tahu waktu kematian mereka dari surat pemberitahuan kematian masing-masing. Ketika seorang anak dinggap telah dewasa, mereka akan menerima sepucuk surat tepat di hari ulang tahun mereka. Tingkat kedewasaan ini sendiri berbeda untuk setiap orang. Seorang teman Sunyi misalnya, Sinar, baru menerima suratnya di umur ke-10. Adik Sinar yang meninggal pada umur 3 bulan malah tak sempat menerima suratnya. Namun, surat itu telah dititipkan pada ibu Sinar, sejak kandungannya masih berumur 6 bulan.

Tak seorangpun penduduk kota Larut yang tahu persis, sejak kapan orang-orang mulai menerima surat pemberitahuan kematian mereka. Mereka menerimanya begitu saja, meski di dalam surat tak pernah tercantum penyebab kematian. Bagi sebagian warga kota Larut, hal ini justru menguntungkan, karena mereka tak perlu dihantui tentang kematian mereka. Tapi sebagian lainnya justru bertanya-tanya. Dan Sunyi, adalah salah satunya.

********

Sementara pertanyaan-pertanyaan melintas di kepala Sunyi tanpa permisi. Apa ia akan mati dengan mata terbuka atau tertutup? Apa ada anggota tubuhnya yang terpisah? Berapa lama napasnya nanti akan tertahan? Bagaimana rupanya ketika mati nanti? Sedihkah? Marahkah? Damaikah? Siapa yang akan berada di dekatnya? Bagaimana ia akan mati nanti? Ya, bagaimana ia akan mati nanti?

Tak kunjung hentinya kepala Sunyi bertanya. Seperti hiruk pikuk sebuah kota, tanpa satupun rambu peringatan. Riuh bertabrakan satu sama lain. Kepala Sunyi nyaris meledak karenanya. Pelan-pelan dikuburkannya puluhan pertanyaan itu ke dalam alam bawah sadarnya. Dan sejak itulah, Sunyi mulai bermimpi.

Saat pagi menjelang, Sunyi terbangun dan menatap gelas air di samping tempat tidurnya. Bagaimana kalau ia terjatuh seperti gelas ini? Menyerahkan sepenuhnya pada gaya gravitasi dan terhempas dengan pedih tak terperi. Hancur berkeping-keping.

”Prang!”

Gelas itu terjatuh. Pecahannya terserak di kamar Sunyi. Perlahan Sunyi turun. Tangannya meraih sepotong pecahan. Membayangkan sisi pecahan kaca yang tajam itu menggores nadinya yang melintang biru, merasakan darah kentalnya meleleh keluar. Pelan-pelan. Pelan-pelan.

Saat mencuci wajah, Sunyi bermimpi sedang menenggelamkan dirinya, membiarkan paru-parunya menggembung bengkak, merasakan dingin air membasuh kulitnya.

Saat sarapan, Sunyi bermimpi untuk sarapan dengan teh dan segenggam Veronal. Mencecap rasa pahit dengan lidahnya, dan damai dalam lelap yang akan tercipta.

Saat berada dalam lift, Sunyi bermimpi lift itu terjatuh dari lantai 46, membanting tubuhnya dengan suara hantaman yang menggetarkan tulang-tulang persendian.

Saat menyeberang jalan, Sunyi bermimpi sebuah truk kontainer akan melindas tubuhnya, meremukkan kepalanya, dengan suara rem yang berdecit-decit. Lalu orang-orang akan merubungi seperti lalat sambil bergumam-gumam ”Waktunya sudah tiba..”

Dan Sunyi bermimpi, dan bermimpi, dan bermimpi….di setiap detik sisa hidupnya.

Sampai waktunya tiba.

********

Tentu saja, situasi ini juga bukan pertama kalinya terjadi. Puluhan orang mengamuk saat menerima surat mereka. Puluhan lagi menangis menjadi-jadi dan menderita depresi berkepanjangan.

Dulu, pernah ada sejumlah orang yang mencoba berpikir logis dengan melacak alamat kantor pos pengirim. Mereka gagal. Kantor pos itu tak pernah ditemukan. Surat-surat terus berdatangan, dan ratusan orang yang menjadi gila terpaksa dikirim ke rumah sakit jiwa. Menunggu waktu mereka disana.

Tapi seiring dengan bergulirnya waktu, orang-orang ini mulai sadar betapa sempitnya waktu yang mereka punya. Satu persatu mereka mulai pulang, menata hidup bersama orang-orang yang mereka cintai. Meminta maaf atas semua hal buruk yang telah mereka lakukan. Dan berterima kasih atas semua hal baik yang telah mereka dapatkan.

Begitulah waktu berjalan dengan damai di kota Larut, hari demi hari….

******

17 November 2006, dini hari.

Sunyi terbangun dengan perasaan segar. Hari ini adalah waktunya. Ia segera bersiap-siap mandi. Lalu mengenakan gaunnya yang terbaik, yang sudah diseterika sampai licin semalam. Sekilas ia menatap langit dari jendela. Ia selalu suka pagi hari.

Sambil sarapan semangkuk sereal, ia menatap sekitarnya. Rumah sudah dirapikan. Sampah sudah dibuang. Ia sudah berdoa di gereja. Semua sahabat, dan teman kantor sudah menghubungi untuk mengucapkan selamat berpisah. Kemarin, ayah ibunya juga sudah datang. Katanya, mereka sudah menyiapkan sebuah nisan dan satu upacara pemakaman sederhana, pada keesokan harinya.

Kemarin, bersama-sama, mereka juga sudah melihat peti-nya. Tempat tidur Sunyi yang terakhir. Untuk selama-lamanya. Peti itu sederhana, tanpa ukiran apapun, tapi terbuat dari kayu yang kuat. Di dalamnya, Ibu Sunyi sudah menyiapkan Pak Beruang kesayangannya.

Semuanya sudah siap.

Sunyi menatap jam dindingnya. 05.00. Mungkin, lebih baik kalau ia berjalan-jalan sebentar. Ia segera menyambar jaket dan dompetnya, lalu mengunci pintu. Di luar, hari masih pagi. Waktu penuh kedamaian.

Jalanan masih lengang. Para penjual sayur dan buah sedang memilih-milih dagangannya yang busuk. Beberapa pria bercelana pendek sedang lari pagi. Tukang parkir depan rumahnya tampak terkantuk-kantuk. Sekilas mereka bertatapan, dan tersenyum maklum. Ia tahu. Hari ini adalah waktunya Sunyi.

Kaki-kaki Sunyi berbelok di tikungan.

Matanya masih sempat menangkap kilatan cahaya terang yang menyilaukan. Samar-samar telinganya mendengar suara klakson mobil. Dan bunyi rem yang berdecit-decit.

******

Tikungan jalan depan rumah Sunyi banjir darah. Gaun putih Sunyi tampak memerah karena darah yang merembes. Orang-orang mulai merubungi seperti lalat. Tak seorang pun memanggil ambulans. Tak seorang pun memanggil polisi. Tak seorang pun menyalahkan pengemudi truk kontainer. Mereka cuma bergumam-gumam dengan bising. ”Waktunya sudah tiba…”

Setengah jam kemudian, orang tua Sunyi datang. Dengan sigap, mereka segera mengambil mayat Sunyi yang berkepala remuk, lalu membawanya pulang ke rumah duka. Sementara kerumunan orang mulai bubar.

Pengemudi truk kontainer kembali menyalakan mesinnya. Para penjual sayur dan buah mulai membuka kiosnya. Beberapa pria bercelana pendek kembali melanjutkan lari pagi. Dan tukang parkir depan rumah yang masih terkantuk-kantuk, mulai menyalakan peluitnya. Semua kembali bertugas. Semua kembali terjaga.

Di kota Larut, pagi ini masih satu pagi yang damai.

********

Tinggalkan Komentar