Garis Putih
April 18th, 2007 by Nur Faishal
Tetaplah berjalan di atas garis putih yang kau tunjuk kemarin. Meski duri-duri memenuhi badan jalannya. Suatu waktu kau akan sampai ke peraduan yang kau impikan.
Kau pernah bercerita tentang hijau daun yang menggelantung di atap rumah kita. Menghiasi malam pengantin yang kau tawarkan bila kelak kita menikah. Tak ada kegamangan. Harapan seakan sudah di depan mata. Mengintip janji-janji yang kita patri di sebuah pelabuhan malam. Bertahun-tahun kita pegang itu. Hingga akhirnya sakit memaksa kita mengulum secuil pucuk duri yang kita temukan di tengah-tengah garis putih yang masih panjang untuk kita lalui.
Tetaplah berenang di atas garis putih yang kau lihat di atas amukan ombak yang menggulung itu. Walau tajam karang hendak menusuk-nusuk tubuhmu. Tetaplah mengapung. Pantai kebahagiaan itu pasti kau temukan.
Kau juga pampangkan derita itu. Kau bilang suatu saat kita pasti merasakannya. Kau tak perduli. Hatimu terasa puas bila mengarunginya bersamaku. Kau anggap derita itu manis madu yang manisnya tak berkesudahan. Segukan air pasang pernah pula menggerus dinding tenggorokanmu. Tapi, itu tak menciutkanmu. Kau tetap tersenyum meski teriakan “jangan!” dihantarkan beribu-ribu manusia yang mengasihimu.
Lalu jalinan jari tanganku dan tanganmu terlepas. Deburan ombak tak kuasa kita tahan. Tubuhku terguncang dan kulihat kepalamu memaksa mendongak, mengais serpihan angin yang mungkin bisa kau gapai. Tubuhku semakin menjauhi tubuhmu. Gulungan ombak membawaku entah kemana. Kulihat perahu kecil menghampirimu. Layarnya setengah melipat. Berhenti.
Tetaplah berjalan di atas garis putih yang kau tunjuk kemarin. Karena garis putih itu dulu aku menghampirimu. Menawarkan sejuta impian yang akhirnya tak mampu kuwujudkan. Dan kaupun percaya dengan mimpi-mimpi itu. Hingga akhirnya garis putih itu sempat memudar. Rupanya bubuhan debu hitam melekat di tubuh dekilku. Dan tanpa sengaja menumpangi warna putih yang terlihat di garis panjang itu. Kaupun terlihat ragu. Wajahmu mengkerut. Hanya keningmu yang tampak nyes dan bersinar. Aku melihat itu di dirimu, dari jauhpun. Lalu kita menjauh jarak. Beruntung, hujan turun di waktu yang teramat dekat. Dan putihpun kembali hadir di garis itu.
Tetaplah berjalan di atas garis putih yang kau tunjuk kemarin. Karena garis yang kau tunjuk itu aku setia mengikutimu. Kau pun tak bosan menuntuniku. Berulang-ulang lingir bambu sempat menhadang jalan kita. Mencoba memutuskan tali rambat yang kita pungut di lebatnya hutan puncak. Tali itu kita ikat ke tanganmu dan tanganku. Menyambung. Pernah putus dikunyah seekor kucing hutan yang kelaparan. Lalu kita sambung lagi. Hingga tak terhitung berapa sambungan yang kita jalin kembali.
Tubuhmu terlihat lemas dimakan jalan. Garis putih itu teramat panjang untuk kita lalui. Aku sendiri tak tahu dimana ujung garis itu. Kau mendengus kelelahan. Aku masih mencari tahu. Tetap tak pasti, hanya mengira-ngira. Wajahmu melihatkan keraguan. Mungkinkah? Aku tak tahu. Kurasa kau mulai tak tahan. Dan sejumput dedaunan pun tak juga kita dapatkan. Lalu bagaimana dengan hiasan hijau atap rumah yang akan kita gantungkan di malam pengantin kita? Aku mulai menemukan jawaban.
Aku harus berhenti. Atau kembali ke garis permulaan. Teruskanlah sendiri, pintaku. Hingga nanti kau akan temukan seorang muda membawakan serimbun daun hijau. Atau bahkan sekarung penuh.
Tetaplah berjalan di atas garis putih yang kau tunjuk kemarin. Kau pasti bertahan. Aku mengenali keteguhan jiwamu. Tak perlu mengeluh, karena alam tak menghendaki itu. Tak usah bertanya kenapa aku harus kembali, membiarkanmu berjalan sendiri mencari ujung garis putih itu. Aku hanya berharap ada seorang muda mengantarkanmu dengan tenang dan lembut. Aku yakin pasti ada. Seorang muda dengan kereta emas yang akan membawamu lebih cepat sampai.
Aku pernah menyusuli jejakmu kembali. Pandangan mataku rupanya tak mampu mengenali jalan untuk pulang. Aku tersesat di jalan yang salah. Gelap, pekat, penuh dengan warna hitam. Sepat air matamu pernah kutemukan. Tercecer di atas rambut panjangku yang mulai kusam. Angin rupanya membawa kesedihanmu ke hadapanku.
Dan aku urungkan untuk terus mencari jejakmu. Aku masih penuh dengan sakit dan letih. Kalaupun bertemu tak mungkin kakiku mampu mengantarkanmu hingga ujung garis putih itu. Dan denyut benar-benar tak ada. Aku tersimpuh rubuh. Pandangan tiba-tiba gelap.
Tetaplah berjalan di atas garis putih yang kau tunjuk kemarin. Sumpah! Tak kan mampu kalau kau arungi denganku yang lemah ini. Jangan memaksaku, dengan isakan tangis pun.
Lalu kau pun mengangguk paham. Dan kau ceritakan seorang muda yang kau temukan di pagi buta. Hendak mengantarkanmu dengan kereta emas berpawai dayang. Oh, rupanya melebihi harapanku. Dan kau pamit sejenak padanya untuk menemuiku. Dia mengizinkanmu. Setia menunggu di tepian garis putih bersama iring-iringan dayang itu. Seorang muda itu teramat tenang. Kau ceritakan itu. Dadaku berdegup kencang. Aku ungkapkan kegetiranku dengan senyuman gamang. Kau tahu itu. Seorang muda itu juga lembut, seperti kapas yang baru mekar. Mengembang dan bergoyang mengikuti arah angin berhembus. Kaki dan sekujur tubuhku bergetar hebat. Aku rebahkan pantatku di atas bongkahan batu hitam. Kuraih sebatang rokok yang hampir memuntung. Aku tak ingin kegetiranku tampak terlihat di tubuh kecilku.
Entah berapa lama kau ceritakan seorang muda itu. Aku tak tahu. Pikiranku masih begitu pagi untuk menerima kenyataan pahit yang kurelakan menerpa tubuh dan jiwaku. Bagaimana dengan diriku kalau suatu waktu kau dipungut menjadi pengantin oleh seorang muda yang membawa kereta emas itu? Kau juga tanyakan itu. Aku mengangguk. Jempolku juga kuacungkan, pelan. Dadaku masih berdetak. Nyaris tak berirama ketukan. Dan kaupun tiba-tiba lenyap bersama setitik sinar yang terbang ke langit-langit lepas.
Tetaplah berjalan di atas garis putih yang kau tunjuk kemarin. Jangan ragu lagi, meski tanpaku. Itu memang jalanmu. Garis putih itu tak mungkin kita arungi berdua. Teramat banyak tajam duri-duri berdiri di badan tengahnya. Tak ada alas kaki yang bisa kusiapkan untukmu. Gerigi karang itu juga tak lemas-lemas. Amat riskan bila menusuk-nusuk tubuhmu. Aku takut merah darahmu merubah warna laut. Tak ada besi yang dapat kubuat baju untuk melindungi tubuh lembutmu. Apalagi besar ombak itu. Perahu kecil tak mungkin kudatangkan. Kau tahu itu meski tak lekas kau putuskan menyusurinya sendiri.
Hingga akhirnya kulihat gerombolan merpati putih beterbangan di atas langit. Banyak sekali hingga aku tak mampu menghitungnya. Cakarnya mencengkram seutas kertas bertali merah. Kureka-reka. Barangkali sepucuk surat. Kabar dari siapa yang begitu agung hingga mampu menyuruh ratusan merpati putih mengepakkan sayapnya hingga bermmil-mil. Ceplak. Satu tali surat berwarna merah jatuh di hadapan tempat aku berdiri. Tak ada surat. Mungkin talinya lepas disambar angin. Aku masih tak tahu apa yang dibawa ratusan merpati putih itu. Sedikit membungkuk kupungut tali merah itu. Aku terkejut. Kulihat namamu tertulis indah di tengah-tengah tali merah itu. Warnanya seperti sepuhan emas yang sudah matang. Di samping tulisan namamu, tertera nama lain. Aku tak mengenalinya. Di tengah-tengah antara tulisan namamu dan nama seorang yang tak kukenal itu, terukir gambar dua daun Waru, berdempetan tertusuk panah panjang. Warnanya hijau. Hijau benar. Mengingatkanku akan apa yang kau impikan. Bukankah warna itu yang akan kau gantungkan di atap rumah pengantinmu? Kau pernah memintanya padaku. Hingga akhirnya baru sadar, seorang muda pembawa kereta emas itu telah mengajakmu menjadi pengantin. Lalu, garis putih yang kau tunjukkan kemarin? Sudahkah kau temukan ujung garisnya?
Oh, garis putih itu masih menjulur jelas di depan matamu. Tetaplah kau jalani. Jangan berhenti. Di sana seorang muda telah mempersembahkan kereta emas yang siap melesat mengantarkanmu. Seorang muda tenang yang mampu merubah tajam duri menjadi untaian daun hijau yang akan kau pasang di atap rumah pengantinmu. Seorang muda lembut yang bisa menyulap gerigi karang menjadi butiran intan. Seorang muda teguh yang mampu menyihir gulungan ombak menjadi ranjang-ranjang pengantin. Dan bila kabar hijau atap rumah pengantinmu sudah kudengar dari jauh, bersama ribuan merpati putih yang akan mengiringi kereta emas yang kau tumpangi bersama kekasih hidupmu. akan kuucapkan seutas kata anugerah: “selamat!”.
Aku masih berharap kau tetap berjalan di atas garis putih yang kau tunjuk kemarin. Jangan kuatir tak sampai. Seorang muda dengan kereta emas yang menyuntingmu akan mengantarkanmu hingga ujung.
Surabaya, dini hari, 02 Juli 2006
Untuk nChus: “Selamat menempuh hidup baru”