KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

36 Kado

Hari ini hari ulang tahun Hiram. Pilar sudah menyiapkan semuanya. Tiram saus jeruk kesukaan Hiram, lasagna dengan banyak parutan keju mozarella, dan seloyang pie apel. Semua ditata apik di atas meja makan beralas selembar taplak biru. Warna kesukaan Hiram.

Tak lupa, Pilar juga menyiapkan piring-piring keramik dengan sendok garpu perak yang hanya dikeluarkan untuk acara-acara yang sangat khusus. Pilar tersenyum. Karena ini hari ulang tahun Hiram. Sekaligus hari ulang tahun pertama yang mereka rayakan bersama.

Tahun lalu, Pilar bertemu Hiram tepat 2 bulan setelah Hiram merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Waktu itu, Pilar sedang makan siang di kafetaria sendirian. Menunya siang itu adalah semangkuk spageti dingin dan segelas jus jeruk yang kelewat masam. Pilar sedang menuangkan sachet saus ke dua di atas spagetinya, saat Hiram menghampiri mejanya sambil membawa nampan makan siang.

Pilar ingat, waktu itu menu makan siang Hiram adalah sepiring kari yang kuahnya mengepul-ngepul dan dua potong pie apel dengan banyak lapisan gula di atasnya, yang menitikkan air liur Pilar. Sambil menimbang-nimbang untuk memesan pie apel itulah, Hiram mulai mengajaknya ngobrol. Tentang cuaca. Tentang lingkungan sekitar kafetaria. Tentang acara teve. Tentang film terbaru di bioskop. Tentang buku bestseller. Dan lusinan pertanyaan pembuka percakapan yang dijawab pendek-pendek oleh Pilar, bahkan tanpa Pilar merasa perlu mengangkat kepala.

Saat Hiram kehabisan pertanyaan dan mulai merasa canggung dengan keheningan yang ada, untuk pertama kalinya Pilar mengangkat kepalanya dan menatap mata Hiram. ”You know what? Percakapan ini tidak akan berjalan kemana-mana. Jadi kalau kamu merasa canggung karena gagal menciptakan satu percakapan menyenangkan, kamu boleh kembali ke meja teman-teman kamu.” ujar Pilar datar.

Pilar masih ingat betapa shock-nya ekspresi wajah Hiram yang kemudian terdiam lama. Pilar juga masih ingat Hiram yang akhirnya berhasil tersenyum. ”Well, sepertinya saya cuma bisa menawarkan pie apel ini ya?” ujarnya sambil menyodorkan piring pie apel.

Pilar tersenyum.

Makan siang hari itu menyisakan dua piring pie apel kosong. Dan satu keheningan panjang yang menyamankan.

******

Pilar menatap jam dinding. Masih ada 2 jam sebelum Hiram datang. Tapi saking gembiranya, Pilar sudah berdandan. Ia mengenakan gaun sifon perak yang disukai Hiram. Kata Hiram, ia tampak seperti peri dengan gaun berbahan melayang seperti itu. Ia juga sudah menata rambutnya. Pilar mematut-matut dirinya di kaca. Ia tersenyum.

Kata Hiram, ia cantik. Jauh lebih cantik dari istrinya. Pilar mengelusi rambut panjangnya, yang tak pernah dipotong sejak bertemu dengan Hiram. Ini karena Hiram paling suka menyelipkan jari jemarinya di sepanjang rambut Pilar. Merasakan helai demi helai rambut Pilar yang halus meluncur di jemarinya. Kemudian bibir Hiram akan mencari bibir Pilar, dan mengecupnya. Sempurna.

Semuanya sempurna. Mereka berdiskusi tentang perang Amerika dengan Irak. Tentang kesederhanaan tulisan Anton Chekov dan surprising ending dari O. Henry. Tentang perubahan gaya melukis Van Gogh saat pelukis ternama itu depresi. Mereka berdebat tentang detektif mana yang lebih baik dalam kisah Agatha Christie, Hercule Poirot ataukah Miss Marple. Mereka terbahak-bahak menonton Ali G dan film-film Leslie Nielsen. Mereka mengagumi cantiknya langit senja hari ini, dan bergandengan tangan saat hujan turun mengguyur permukaan tanah dan aspal jalanan menghitam karena basah.

Semuanya sempurna. Pada Pilar, Hiram menceritakan kisah-kisah masa kecilnya. Tentang sepeda kesayangannya yang kemudian dijual orang tuanya pada anak tetangga. Tentang masa kecilnya yang serba kekurangan sehingga untuk membaca buku ia terpaksa berjalan kaki sejauh 2 km ke perpustakaan. Kondisi serba kekurangan ini pula yang dulu membatalkan niat Hiram untuk mendaftar sebagai pemain klub sepak bola sekolah, karena ia tak sanggup membeli sepasang sepatu bola. Pada Pilar jugalah Hiram berbagi kisah cinta pertamanya. Saat Hiram diam-diam memotret wajah gadis pujaannya dan mencetaknya ke dalam puluhan lembar kertas. Lalu wajah Hiram akan berubah sendu saat kisah itu berakhir dengan penolakan si gadis. Saat seperti itu, Pilar akan menghiburnya. “It’s ok, sweetie. Sekarang kamu punya saya, dan saya tidak terlalu suka di potret.” Dan hanya pada Hiram lah, Pilar berbagi ciuman pertamanya.

Setiap pagi, Pilar akan mengirimkan 1 sms selamat pagi yang bisa dibaca Hiram saat ia bangun tidur. Pilar selalu menyapanya dengan 30 nama julukan untuk 30 hari yang berbeda. Kemarin pagi, Pilar memanggilnya “Gorgeus”. Dua hari lalu “Sunshine”. Dan panggilan favorit Pilar adalah “Precious.” Karenanya, meski langsung dihapus, namun salam pagi Pilar itu selalu berhasil membuat Hiram tersenyum sepanjang hari. Sambil bekerja di depan komputer, mereka akan mengobrol sepanjang hari, hingga jam kerja usai pukul lima sore. Kemudian, Hiram akan mengantarnya pulang selama 45 menit. Tepat jam sebelas malam, saat istri Hiram terlelap, Hiram akan menelponnya. Dengan suara rendah, Hiram akan berbisik ”Saya kangen kamu, bidadari.” Seminggu sekali, saat istri Hiram arisan keluarga, berdua mereka akan menonton film sore hari di bioskop, sesekali teater malam hari saat istri Hiram sedang pergi ke luar kota.

Semuanya begitu sempurna.

*******

 

Pilar sedang merapikan tumpukan koran, ketika matanya tertumbuk pada sehelai kartu bertuliskan namanya. Kartu dari Hiram. “Hey perempuan cantik yang rajin membereskan koran! Cuma mau bilang ‘I love you’! Yours.” Pilar tersenyum.

Hiram tidak selalu punya ide cemerlang untuk suatu kejutan manis, tapi Pilar tahu dia berusaha sekuat tenaga. Pernah suatu kali, mereka bertengkar hebat. Tentang cincin kawin Hiram. Hiram tak pernah melepas cincinnya, sementara Pilar keberatan kalau Hiram mengenakan cincin saat mereka sedang bersama. ”Ini adalah hubungan yang tidak wajar, Sayang. Saya tidak bisa memajang foto kamu di screen saver komputer saya. Saya tidak bisa mengajak kamu ke resepsi pernikahan teman dan saudara. Saya bahkan tidak pernah dikirimi bunga di kantor. Tapi saya tidak mengeluhkannya. Saya cuma minta kamu melepas cincin itu saat sedang bersama saya, karena benda itu mengingatkan saya bahwa saat itu kamu seharusnya tidak bersama saya. Bukan milik saya. Dan itu sakit. Sangat.” ucap Pilar pelan sebelum menyuruh Hiram pulang dan membatalkan rencana mereka pergi sore itu.

Keesokan harinya, saat makan siang, kubikel Pilar mandi bunga. Meja kerja kecilnya dipenuhi sedikitnya seribu bunga. Ada puluhan buket bunga mawar, aster, lily putih, tulip, dan banyak lagi lainnya. Dan ada secarik kartu dari Hiram. ”Sorry, I don’t know your favourite, so I bought you a thousand. Yours.” Lalu malamnya mereka makan malam bersama, dengan tangan kiri Hiram yang bersih tanpa cincin.

*****

Ada 36 kado terbungkus cantik di atas meja. Ada kado paket DVD film yang akan sangat disukai Hiram. Ada paket buku yang bisa dibaca Hiram saat menemani istrinya ke dokter gigi, atau saat terjaga di malam hari diselingi gonggongan anjing. Ada jam tangan, karena jam tangan Hiram yang lama sudah rusak. Ada satu paket aftershave yang wanginya selalu mengingatkan Pilar akan aroma Hiram. Ada kaleidoskop cantik, yang bisa diletakkan Hiram di atas meja kerjanya, dan pasti akan membuat Hiram kagum dengan permainan potongan cermin di dalamnya. Ada sweter putih yang Pilar tahu akan sangat pas di tubuh Hiram. Ada dasi polos warna merah marun yang pernah dilirik Hiram saat mereka berjalan-jalan di mal. Ada sekantung biji kopi untuk digantung di mobil Hiram. Ada MP4, dengan rekaman lagu-lagu yang dipilihkan Pilar khusus untuk Hiram. Mulai dari musik dengan beat cukup menghentak untuk memberi semangat di pagi hari, musik jazz yang lembut untuk didengarkan saat Hiram pulang kantor, musik pop berlirik romantis saat Hiram sedang merindukannya, musik klasik saat Hiram sedang bekerja, dan rekaman tetes hujan saat Hiram sedang merasa lelah dan terasing. Sebuah kejutan yang sangat istimewa. Karena hari ini hari ulang tahun Hiram.

”Saya ingin memberi hadiah untuk setiap tahun yang sudah kamu lewati tanpa saya, tahun-tahun yang membentuk kamu menjadi salah satu makhluk terindah yang pernah saya temui,” begitu alasan yang disiapkan Pilar saat kekasihnya bertanya untuk apa 35 kado lainnya.

Pilar tak pernah tahu, bahwa kekasihnya tak akan pernah bertanya. Pilar belum tahu bahwa saat ia tengah memandangi 36 kado yang terbungkus apik di atas meja, Hiram sedang menghibur istrinya yang baru saja menemukan salah satu sms Pilar yang lupa dihapus. Sambil terisak, wanita itu berujar pelan “Saya tahu sekali, apa adanya saya, lahir batin bukan yang terbaik untuk kamu. Tapi mohon jangan tinggalkan saya. Saya tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Dan saat Pilar tengah terbuai khayalan tentang malam yang akan dilewatkannya bersama Hiram, saat itulah Hiram meraih tangan istrinya, memeluknya erat-erat, dan minta maaf untuk semuanya. Sekaligus berjanji pada istrinya. “Sudah kelewat sering saya bohong sama kamu. Tapi kali ini, saya janji untuk menjaga kamu dan tidak akan menyakiti kamu lagi seumur hidup saya,” ujar Hiram.

Pilar belum tahu bahwa malam ini dan malam-malam berikutnya, Hiram tak akan pernah datang. Pilar belum tahu bahwa 10 jam dari sekarang, dia akan menerima sepotong sms pendek dari Hiram yang memutuskan hubungan mereka. “Kamu akan selalu jadi satu-satunya wanita yang saya cintai sedalam itu, Pilar. Tapi saya tahu, kamu akan baik-baik saja tanpa saya. Dia tidak. Dan saya tidak bisa meninggalkan dia, jadi maafkan saya, maafkan saya.” ketik Hiram. Sms yang nantinya akan langsung dihapus oleh Pilar setelah membuang 36 kado yang sudah terbungkus cantik ke dalam tong sampah depan rumah.

Tapi saat ini Pilar belum tahu itu semua. Sambil mengagumi 36 kado yang terbungkus cantik, sesekali ia menatap jam dinding, menghitung mundur setiap detik yang berlalu. Dan menunggu.

*****

2 Responses to “36 Kado”

  1. on 21 May 2007 at 10:45eddy

    bagus…
    jadi inspirasi ni…

  2. on 08 May 2008 at 15:49oem

    indah…

Tinggalkan Komentar