Bayangan Lain
April 12th, 2007 by moch Arif Makruf
Semenjak anak pak haji Joni belajar dari satu pesantren kepesantren yang lain, beliau selalu membayangkan bahwa anaknya pasti sudah jauh pengetahuanya. Dia selalu memimpikan sehabis sholat mahgrib ada teman bicara tentang hal-hal yang terjadi di negeri ini, yang kadang-kadang membingungkan banyak orang.
Anak pak haji Joni akan pulang setelah berpisah dengan keluarganya kurang lebih sepuluh tahun. Upacara sederhana namun khidmat diadakan untuk menyambut putra satu-satunya.
Pak haji Joni selalu kelihatan di masjid. Paling sedikit lima kali sehari. Masjid yang merupakan warisan kedua orang tuanya dipelihara dengan baik. Lampu-lampu neon terpasang banyak sekali di masjid, lantai yang dulunya tanah berubah menjadi keramik. Sekarang anak-anak kampung banyak belajar di masjid itu sampai larut malam tanpa takut minyak lampu teplok akan habis.
Pada awal kedatanganya Anak pak haji Joni sangat rajin sekali menemani bapaknya ke masjid. Namun lama- kelamaan jarang terlihatan, apalagi semenjak di desanya terdapat sebuah rumah bordil. Semua orang sudah mengetahui kalau anak pak haji Joni lebih rajin kerumah bordil daripada ke masjid, tapi mereka selau diam mengingat pak haji Joni adalah orang yang paling dihormati di desanya.
Habis maghrib mas Karjo berjalan melewati rumah bordil setelah menjual hasil bumi milik orang tuanya.
“Mampir mas” teriak Tarji
Mas Karjo menoleh kemudian mampir dan duduk didekat Tarji.
“Gimana kabarnya, bingung saya manggilnya.”
“Bingung gimana” jawab mas Karjo dengan sedikit bingung.
“saya harus manggil apa sama situ. Gus, Mas, atau Den.”
“Wah nyindir nih.”
“Tidak mas, eh…, bener saya bingung.”
“Terserah kamu, semuanya kelihatanya tidak pantas. Dipanggil Gus memang benar karena aku anak seorang kyai, tapi aku kan sering mabuk. Dipanggil Mas juga tidak pantas, sebab aku tidak bisa ngasih contoh yang muda. Apalagi Den, lebih nggak pantas lagi karena aku bukan orang kaya.”
“Terus gimana.”
“Terserah kamu. Tolong aku disisain minumnya, nanti malem-maleman aku kesini gabung dengan kalian.”
“Gampang Mas, eh..jo.”
Mas Karjo berjalan melewati jalan-jalan gelap. Dari jauh tarji mengamati Karjo sampai bayangannya hilang ditelan malam
“Nglamun apa Ji, takut saya nggak datang.”
“Ah kamu Jo, bikin kaget saja.”
“Minumannya mana?”
“Ini masih dua, lainya habis maklum malam ini banyak tamu.”
Ketika malam bertambah larut seteguk demi seteguk membasahi tenggorokanya. Setiap dia melihat seorang membanting kartu semakin mempercepat minuman ketenggorokan. Semakin dia melihat seorang menambah minumanya semakin cepat ia mengosongkan gelasnya. Dan semakin jelas ia mendengar rintihan dari kaum ibunya semakin ingin cepat ia lari dari kesadaranya. Jika ia bangun ternyata di sekitarnya masih ramai dia selau mencoba tidur kembali sampai rumah bordir itu tidak terdapat kehidupan lagi.
Bisanya di sore hari mas Karjo selau kesawah mengantarkan jatah makanan buat para pekerja. Disawah itu biasanya pak haji Joni selalu bercerita tentang kakeknya mas Karjo yang berjuang dengan gigih melawan penjajah hingga akhirnya gugur. Dan sebagai ucapan terima kasih atas perjuanganya beliau diabadikan sebagai jalan utama di desanya. Tak ketinggalan pula pak haji Joni selalu bercerita tentang masjid warisan kakeknya Karjo yang dari waktu ke waktu bertambah megah. Mas Karjo sangat berharap bahwa bapaknya mau bercerita tentang rumah bordil yang ada didesa ini, bagaimana penduduk desa dapat melakukan panen lebih dari satu kali setiap tahun. Namun sampai hari ini ternyata bapaknya tak sekalipun bercerita tentang hal itu.
Usai maghrib mas Karjo meniggalkan rumah dan berjalan menuju rumah bordil. Dipesannya beberapa minuman beralkohol dan diminumnya seteguk demi seteguk. Belum habis satu botol pak Sarmin datang.
“Mas Karjo disuruh pulang bapak ada tamu, Pak haji Kirno.”
Mas Karjo seketika itu juga bergegas pulang. Dia langsung ingat bahwa bapaknya dulu pernah cerita, ketika pergi haji berkenalan dengan pak haji Kirno. Dan mereka berdua berniat mengikat tali persaudaraan.
“Pak Sarmin pulang dulu, nanti saya nyusul.”
“Cepat lho mas, ditunggu bapak.”
Setelah pak Sarmin berjalan, mas Karjo cepat-cepat membayar minumanya dan membawa beberapa botol dibalik bajunya. Dengan berjalan gontai mas Karjo sampai di rumah. Baru di depan pintu mas Karjo jatuh dan muntah, mulutnya bau alkohol. Bapak dan ibunya serta tamunya kaget sekali melihat tingkah mas Karjo yang melampui batas. Ibunya langsung masuk kamar dan menangis, sedangkan wajah bapaknya merah menahan marah. Dengan cepat diseret tubuh mas Karjo ke dalam rumah.
“Kamu ini kenapa Jo !” teriak bapaknya.
Dipukulnya kepala mas Karjo, namun dia diam saja. Diambilnya kayu pengunci pintu kemudian dipukulkan kemuka mas Karjo. Darah mas Karjo mengucur menutupi seluruh mukanya.
“Jahanam kau Karjo, jadi ini oleh-olehmu dari belajar kemana-mana !”
Tiba-tiba mas Karjo bangun dan menatap wajah bapaknya.
“Sebenarnya yang mabuk bukan hanya saya, tapi seluruh desa ini termasuk bapak.”
“Ngomong apa kamu ?”
“Bapak selalu cerita bahwa kakek pahlawan, yang mewarisi masjid dan sekarang bertambah baik. Tapi pernahkah bapak cerita bahwa disini ada rumah bordil, serta bagaimana susahnya petani di desa ini yang hanya bisa panen setahun sekali.”
“Sebenarnya apa maumu, Jo ?”
“Dosa bagi saya membiarkan bayangan lain lewat begitu saja di depan saya. Sedang saya dalam keadaan sadar tak mampu melakukan apa-apa buat mereka. Saya tak bisa menolong mereka hanya dengan do’a. Untuk itu saya memilih tidak sadarkan diri agar terhindar dari dosa ini yang makin lama menyesakkan nafas.” mas Karjo menjawab dengan menangis, air matanya bercampur darah.
Tiba-tiba mas Karjo mengambil minuman dari balik bajunya dan meneguknya sampai habis, kemudian dipecahkanya botol minumannya di dada bapaknya.
Pak haji Joni dan Pak haji Kirno diam tidak menjawab apa-apa. Pandangan mereka mengarah ke masa depan desanya.
Kauman, April 2006