Duduk tunduk dalam terjangan sunyi
terpekur menatap dinding kelam
Badan menggigil terhantam takut
Tak berdaya dalam kesendirian
Saat Sang Mata menatap tajam
Telanjangi setiap sendi
Mencopoti setiap gemeritik tulang
Setiap membran sel dan syaraf
teronggok dalam penantian abadi
Tak ada tempat sembunyi
bahkan untuk sisipkan sepi
titipkan seonggok di relung hati
ataupun derai tanggis yang mengiris
Tak ada tempat berlari
Bumi pun memalaingkan wajah tanpa daya
saat lolongan panjang mengaduk sukma
saat helaan nafas menggoreskan luka
saat nadi menyayat raga
Sang Mata terus lekat menatap
Tak sedetik pun lepas diri dari penglihatan
Mata Dewa…
Yang tidak pernah terpejam tidur
yang tak pernah mengenal akhir
Mata Dewa…
Saksi dari segala saksi
Hakim dari segala hakim
pemberi keadilan yang paling adil
tak secuilpun muslihat lepas
tak sebulir kebohongan
mengalir tanpa sepengetahuan
Sang Mata Dewa
Tak seorang pun lepas dari penghisaban
Saat zaman berakhir
Sang Mata mengetukkan palu
tanda hari perhitungan dimulai