Mudik
April 1st, 2007 by haryobagushandoko
Sudah dua puluh tahun ini Tarjo Subagio tidak pulang ke tanah kelahirannya, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Sudah dua puluh tahun sejak kematian Emak, ibu yang sangat disayanginya. Kematian sang ibu saat itu begitu menggoncang diri dan jiwanya. Kematian karena kondisi kemiskinan yang begitu menghimpit keluarganya saat itu. Saat itu pula ia memutuskan untuk melupakan semua penderitaannya dan berusaha mengubah nasib dan peruntungan keluarga ini dengan pergi mengadu nasib ke negeri seberang lautan, Australia. Saat itu sahabatnya, Ruslan yang bekerja sebagai buruh pemetik apel di sebuah perkebunan apel di Australia, kebetulan sedang mudik ke tanah air. Ruslan pun mengajaknya untuk ikut mengadu nasib di negeri seberang lautan itu. Walau terasa berat meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya, adik-adiknya yang baru lulus SMA, Patmo dan Wati, namun Tarjo dengan segenap tekadnya ingin mengubah hidup dan masa depannya.
Ia sudah bosan terus menerus hidup dalam lingkungan yang sama, dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Maka ia pun langsung menyanggupi tawaran Ruslan saat mengajaknya ikut mengadu nasib ke negeri seberang lautan, Australia. Saat itu tergambar jelas di benak Tarjo bahwa ia akan bisa mengumpulkan uang dolar sebanyak-banyaknya di negeri makmur seberang lautan itu. Ruslan yang sudah bertahun-tahun bekerja di perkebunan apel di Australia itu panjang lebar menceritakan pengalamannya dan juga uang yang berhasil ia kumpulkan sehingga ia bisa terus mengirimi keluarganya dolar demi dolar dan juga membangun rumah berdinding tembok di desanya, rumah yang sangat indah dan termegah di desa itu. Ruslan bercerita bagaimana besarnya gaji yang ia terima setiap bulannya hanya dari bekerja sebagai buruh pemetik apel di Australia. Jumlahnya jauh lebih besar daripada gaji yang biasa diterima oleh Joko, sahabatnya yang lain yang juga mengadu nasib bekerja sebagai sopir pribadi sebuah keluarga kaya di Riyadh, Saudi Arabia.
“Orang-orang bule tidak sepelit orang-orang Arab di Saudi Arabia sana”, kilah Ruslan pada Tarjo.
“Setiap bulannya saja, aku bisa mengumpulkan uang dari gajiku sebagai pemetik apel, kurang lebih dua puluh juta rupiah, itu setelah aku konversi ke kurs mata uang rupiah”, jelas Ruslan panjang lebar.
“Belum lagi kalau aku di malam hari bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah kafe di kota terdekat di sana, aku bisa mengumpulkan dolar lebih banyak lagi, karena setiap jamnya aku dibayar paling tidak lima dolar Australia”, kata Ruslan menambahkan.
Mata Tarjo terbelalak mendengar begitu banyak dan mudahnya uang dolar yang bisa diperoleh di negeri seberang lautan sana. Apalagi saat itu Ruslan mudik ke desanya bersama istrinya yang cantik dan anak-anak mereka yang lucu-lucu. Istri Ruslan cantik seperti bintang film di televisi negeri ini, dia gadis bule yang sudah masuk Islam saat Ruslan menikahinya. Anak-anak Ruslan pun cukup unik, mereka berbicara dalam tiga bahasa, bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan tentu saja bahasa Inggris. Anak-anak Ruslan pun juga tetap menggemari berbagai penganan dan kue-kue khas Malang. Jadi walau sudah lama tinggal di negeri seberang lautan, mereka tetap tidak meninggalkan budaya, adat, sopan santun serta kebiasaan orang Jawa.
Akhirnya setelah berpamitan kepada seluruh adik-adiknya, para tetangganya, para paman dan bibinya, Tarjo pun berangkat ke Australia bersama Ruslan dan keluarganya. Saat itu Tarjo nekad hanya bermodalkan uang tabungannya yang sebesar lima ratus ribu untuk uang pegangan. Uang itu sudah ia tukarkan ke dalam mata uang dolar, jadi bisa dibayangkan betapa sedikit dan tidak berartinya jumlah uang yang dibawanya saat sudah berubah menjadi uang dolar. Jumlah yang sangat kecil, namun hanya itu satu-satunya uang yang dimilikinya. Ruslan-lah yang membayar semua keperluan persiapannya, mulai dari pengurusan paspor, visa hingga tiket pesawat. Bolak-balik Ruslan menelpon ke Australia, ke perusahaan perkebunan tempat ia bekerja. Rupanya ia berkonsultasi dan meminta persetujuan bosnya yang kebetulan sedang mencari tambahan tenaga kerja baru untuk bekerja di perkebunan. Bolak-balik pula Ruslan dan Tarjo harus pergi ke Jakarta untuk mengurus surat-surat ijin kerja dan visa kerja ke kantor kedutaan Australia di Jakarta. Rupanya perusahaan perkebunan apel tempat Ruslan bekerja juga terus menghubungi kantor kedutaan Australia di Jakarta untuk melengkapi berbagai persyaratan, surat-surat perijinan, dokumen job order, dokumen sponsorship, dan juga mengenai masalah kontrak kerja. Mereka juga bersedia memberikan sponsorship penuh atas biaya keberangkatan Tarjo ke Australia, tentu saja setelah mendapat referensi penuh dari Ruslan yang sangat mengenal diri Tarjo dengan baik. Ruslan pun bersedia menjadi penjamin bagi kehidupan Tarjo nanti di Australia saat ia belum menerima gaji. Walau pun urusan pengurusan ijin kerja dan berbagai hal lainnya tidak mudah dan cukup rumit, namun akhirnya Tarjo bisa berangkat juga ke Australia.
Itu dua puluh tahun yang lalu. Sekarang Tarjo bukan lagi bekerja sebagai buruh pemetik apel. Ia sudah menjadi juragan apel ! Tarjo menikah dengan anak dari pemilik perkebunan apel itu dan ia pun turut mengurusi bisnis perkebunan apel milik keluarga istrinya tersebut ! Tarjo yang sekarang sudah sarjana ! Ia meneruskan pendidikannya sampai ke jenjang sarjana di sebuah perguruan tinggi ternama di Australia sana. Tentu saja dengan biaya dari keluarga istrinya yang pemilik perkebunan apel itu. Tarjo sekarang adalah sarjana agribisnis dan ia sekarang bahkan akan berencana mengambil gelar doktor dalam bidang yang sama di universitas di Australia sana. Tapi itu nanti setelah sekembalinya dari Indonesia. Tarjo yang sekarang bisa berbicara bahasa Inggris dan Perancis, selain bahasa ibunya, bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Istrinya adalah seorang warga negara Australia keturunan Perancis, jadi mau tidak mau akhirnya ia pun mulai belajar bahasa Perancis dan Inggris. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang ia cukup fasih dan mudah bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan Perancis, sefasih dirinya saat berbicara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
Tarjo mudik ke Malang bersama istrinya, Mary Granier, dan kedua anaknya, Jeff dan Steven. Lengkapnya : Jeffrey Granier Subagio dan Steven Granier Subagio. Sama seperti Ruslan, Tarjo pun akhirnya menikahi wanita Australia. Istri Tarjo sangat cantik, berambut pirang, bermata biru dan berkulit putih mulus bagai mutiara. Anak-anak Tarjo berperawakan tinggi dan tegap, berkulit putih, bermata biru dan berambut pirang. Bentuk rahang dan alis mereka mirip dengan rahang dan alis tarjo. Namun hidung mereka mancung, tidak seperti Tarjo yang berhidung pesek. Kedatangan Tarjo cukup menghebohkan warga desa. Mereka kaget karena kedatangan Tarjo yang tiba-tiba dengan membawa anak dan istrinya dari Australia. Mereka juga keheranan melihat anak-anak Tarjo yang berpenampilan serta berperawakan seperti turis. Mereka seakan tak percaya bahwa dalam diri anak-anak Tarjo juga mengalir darah Indonesia, darah bapaknya yang orang Jawa asli, penduduk desa itu dua puluh tahun yang lalu. Anak-anak Tarjo saat ini masih kuliah di sebuah universitas ternama di Australia, mereka mengambil jurusan agribisnis, sama seperti Tarjo. Mungkin kelak merekalah yang akan meneruskan bisnis perkebunan keluarga seperti yang dilakukan oleh Tarjo saat ini.
Kabar kedatangan Tarjo segera menyebar dengan cepat. Dan saat Tarjo dan keluarganya sampai di depan rumah peninggalan orang tua Tarjo, adik-adiknya, Wati dan Patmo sudah lama menanti mereka di depan rumah lengkap bersama keluarga mereka. Segera saja kedua adiknya itu berhambur memeluk diri Tarjo dan menghujaninya dengan ciuman karena rasa kangen yang sudah tertimbun begitu lamanya, dua puluh tahun ! Waktu yang tidak sedikit ! Walau mereka sering berkomunikasi lewat telepon dan e-mail, namun rasa rindu tak akan bisa tergantikan hanya oleh suara dan tulisan. Rasa rindu yang begitu indah tak tergambarkan saat bisa bertemu pandang, berpelukan serta bertatap muka langsung dengan anggota keluarga yang begitu dicintai dan disayangi !
Patmo, adik Tarjo sekarang adalah juragan sapi. Dia beternak dan berdagang sapi. Berkat modal bantuan uang yang dikirimkan oleh Tarjo sejak bertahun-tahun yang lalu, usahanya kini semakin berkembang dan mengantarkannya menuju kesuksesan. Anak-anak Patmo, laki-laki semua, dan saat ini mereka mulai kuliah dan mengambil jurusan ilmu peternakan di Fakultas Peternakan – Universitas Brawijaya, Malang. Rupanya mereka ingin meneruskan bisnis usaha ayahnya kelak saat mereka lulus kuliah. Istri Patmo, Susanti, mempunyai usaha bordir dan membuka butik kecil-kecilan, butik busana muslim dengan bordiran indah. Cukup laris dan maju pula usaha istri Patmo itu.
Wati, adik Tarjo yang bungsu sekarang mempunyai usaha depot dan katering. Berkat Tarjo pulalah, ia bisa mengembangkan usaha di bidang makanan. Anak-anak Wati, kedua-duanya perempuan dan sekarang masih duduk di bangku sekolah menengah. Mereka mengambil studi di sekolah kejuruan tataboga dan ilmu gizi. Rupanya kelak mereka juga ingin meneruskan usaha depot dan katering ibunya. Suami Wati, Imron, seorang dosen di Universitas Negeri Malang. Mereka bertemu saat Wati dengan usaha kateringnya sedang melakukan persiapan konsumsi dan hidangan untuk acara seminar yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang. Kebetulan saat itu Imron bertindak selaku panitia dalam kegiatan acara tersebut. Keduanya kemudian semakin akrab dan sering bertemu, hingga suatu hari Imron melamar Wati. Karena kedua orang tua Wati sudah tiada, maka yang bertindak sebagai wali dalam pernikahan Wati adalah Patmo. Kejadian itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Kini anak-anak Wati sudah besar dan sudah duduk di bangku sekolah menengah. Prestasi sekolah mereka tidak pernah mengecewakan dan mereka adalah anak-anak yang giat dan tekun serta tidak biasa diam berpangku tangan, sama seperti ibu mereka.
Setelah melepas rindu satu sama lain, akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah, dan meneruskan obrolan kangen mereka yang tertunda selama dua puluh tahun ini.
“Ngipi opo yo aku tadi malam ?” (Mimpi apa ya aku tadi malam ?) kata Wati membuka pembicaraan. “Ujug-ujug katekan dayoh saka adoh” (Tiba-tiba kedatangan tamu dari jauh), demikian tutur Wati sambil membawa baki yang penuh dengan cangkir berisi coklat susu. Di belakangnya diiringi oleh anak-anaknya dengan membawa berbagai makanan dan jajanan buatan sendiri. Kebetulan hari ini hari Minggu, jadi anak-anak Wati sedang libur sekolah, sehingga mereka bisa turut pula bergabung bersama reuni keluarga ini. Patmo beserta istri dan anak-anaknya juga turut berjejal-jejal dalam ruang tamu yang tidak seberapa besar itu. Akhirnya karena terlalu penuh, anak-anak mereka memutuskan bergabung dengan anak-anak dari Wati dan juga anak-anak dari Tarjo yang sedari tadi sedang asyik mengobrol, bersenda gurau sambil memberi makan ikan di kolam ikan yang ada di halaman belakang rumah.
“Wis suwi yo ora ketemu, malih pada pangling” (Sudah lama ya tidak bertemu, jadi semua pada pangling), ucap Padmo tiba-tiba. “Rasane ora kateg yen ora ketemuan langsung. Ora kateg yen mung tilpun-tilpunan utawa surat-suratan liwat e-mail wae” (Rasanya kurang puas kalau tidak bertemu langsung. Kurang puas kalau hanya ngobrol lewat telepon saja atau surat menyurat lewat e-mail saja), sambung Padmo lagi. Tarjo yang tak kalah rindunya kepada kedua adiknya itu pun segera menyahut, “Lha wong pancene, urip nang monco, adoh saka endi-endi, banjur kepriye ? Luwih becik ngirim dhuwit timbangane bola bali mulih nanging ora nggowo opo-opo” (Ya memang kita hidup di negeri manca, jauh dari mana-mana, lalu bagaimana ? Lebih baik mengirim uang daripada kita sering mudik tanpa membawa apa-apa, kan lebih baik kalau uangnya dikirim saja untuk membantu modal usaha kalian), jawab Tarjo sambil tertawa. Kedua adiknya pun mengangguk mengiyakan.
Wati yang dari tadi seakan tak percaya bahwa kakak tertuanya sudah bisa berkumpul kembali bersama mereka, kemudian tersadar bahwa dari tadi ia belum mengajak tamu-tamunya makan siang. “Oalah, sampek lali aku. Ayo padha dhahar ! Dhaharane wis tak cepakno ndik ruang makan. Ayo monggo sedaya ! Sepurane lek rasane ora pati enak, wong pancene panganan ndeso ! Ayo monggo sedaya padha dhahar, monggo . . . (Oalah, sampai lupa aku. Ayo kita semua pada makan siang ! Hidangannya sudah aku siapkan di ruang makan. Ayo semua dipersilahkan makan ! Mohon maaf kalau rasanya kurang enak dan kurang berkenan, maklum hidangan di desa, seadanya ! Ayo silahkan semuanya, kita makan siang sama-sama, ayo .. . .).
Mereka pun berbondong-bondong menuju ruang makan sambil terus berbincang-bincang melepaskan rasa rindu yang selama ini begitu memenuhi dada. Walau terpisah oleh jarak dan waktu akhirnya keluarga ini bisa berkumpul kembali seperti dahulu, walau tidak untuk selamanya, namun paling tidak mereka bisa melewatkan tahun baru bersama-sama di negeri kelahiran mereka, Indonesia. Selamat tahun baru 2007 ! Semoga harapan baru dan masa depan lebih baik segera menyongsong di depan kita !
Tokoh-tokoh dan kisah cerita ini sifatnya fiktif dan tidak nyata. Bilamana ada kemiripan nama dan kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan saja !
Seru bangeeet mba……cerita wong ndeso nyak sukses tapi g lupa keluarga n kampung halaman, meskipun dah bercampur dengan produk luar nagari……
Dear moderator……
AKu juga kepingin kerja ke australia, kemarin dapet tawaran tapi harus keluar fee dulu Rp. 50jt.
Kalo boleh dikenalkan dengan mas tarjo untuk minta sara2nya buat gawe ke australia.
Thank you so much…….
ceritanya datar, kurang menarik, hanya menjual mimpi…
woy w minta yang bahasa inggris ………………
SEKARANG !!!!!!!!!!!