KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan April 2007

Subuh

subuh meneriakkan namaMu

pada langit pucat

dan sebuah bintangnya;

akan datang hari lagi

dan kalah tak akan jadi alasan.

060801

Untuk Resahku

 

 

Duduk disini dengan banyak pikiran

 

tak banyak yang bisa kulakukan, hanya berharap dan menghayal

 

akhirnya akan kembali ke pola pikir manusia sok berfikir

 

“mengapa aku dilahirkan ?”

 

Dengan segenap perasaan ingin dikasihi dan diperhatikan

Entah karena lelah

Entah sebab lain yang entah

Pada suatu malam

Mpu Prapanca bertamu dan bermalam

Di bilik imajiku yang temaram
Entah karena lelah

Entah sebab lain yang entah

Mpu Prapanca muntab dan marah-marah

Sebuah muntah dia lempar ke wajahku yang masih mentah

Sesuara

Sesuara dan saya tidak pernah bersahabat. Awalnya saya kira, sesuara hanya sekedar bersikap dingin. Maka pada suatu pagi, saya mencoba menyapanya dengan ramah, mengajaknya ngobrol ringan saat sarapan. Tapi dia cuma mencibir dan berlalu pergi, meninggalkan sepiring pancake hangat berlumur madu, yang saya kira tadinya akan sangat disukainya. Pernah suatu kali juga, saya melihatnya sedang duduk diam-diam di suatu pojokan kepala saya. Saya kira dia sedang sedih, maka saya dekati dia. Saya duduk diam-diam di sampingnya, mencoba menciptakan satu keheningan yang menyamankan, yang tadinya saya kira akan cukup menyejukkan baginya. Tapi dia hanya menatap saya dengan satu tatapan benci yang amat sangat, lalu meninggalkan saya duduk diam-diam sendirian.

Gaji sudah naik

Tunjangan juga banyak

Rumah dikasih

Mobil juga dikasih

Fasilitas lengkap

Ruang kerja ber-AC

Bisa tidur lagi

Kerjanya cuma duduk

Entah duduk entah tidur

Katanya sedang memikirkan rakyat

Wow, hebat sekali!

Kemudian merasa kinerjanya kurang

Perlu tambah sesuatu

Astagfirullaah

Saat Allah memanggilku
untuk mensyukuri pagi hari-Nya

Aku masih terbuai
di bawah sejuknya pendingin ruangan
di kamarku

Melewatkan panggilan Al Waduud
pemilik segala kesejukan
melebihi dinginnya kamarku

Bagaimana bisa
aku berharap akan mengawali pagiku
dengan tenang, tanpa persoalan duniawi?

Saat Allah memintaku
beristirahat sejenak di siang hari
untuk melepas lelah dan bercengkrama dengan-Nya

Seperti Dewi Sukesi, bumi kami melahirkan darah

pulau-pulau pecah

laut menggelegak

beradu dengan api yang memerahkan

hutan-hutan

bukit dan gunung runtuh

angin beliung mengoyak rumah-rumah

lumpur mengubur angkara

yang hendak menembus tanah

alir hulu kehilangan muara

dan air bah menyerakkan sampah

Dalam Rengkuh Bunda

Tiada suarga, penuhi rongga

Kering ibunda kerongkongannya,

beriak salam suci pada Sang Maha

Tubuh tergugu tertampar prahara

Bulan memerah, melesat kabut berparas melati

Ribut angin kerap berebut salam, berpagar nista

Jiwa pun terkubur, tak kuasa menantang arah

Derap kaki tak sepadan, menimang kelabu

Kesejukan Terindah

By : James_boy099

Ku teringat senja di pelupuk mata
di kala itu sang mentari bercahaya bak kilau permata
di sisiku jantung hatiku, cintaku, sayangku, istriku
kita berpelukan……………..

Tak mungkin dapat aku pungkiri
kesejukan itu merasuk hingga ke tulang sumsumku
entah kapan ku hinggapi lagi rasa sejuk ini
tak terasa kini di pelupuk matapun tak tampak

My Greenly Homeland

When I was young

I saw little green Pasteur and prairies

Grass waved happily in a sunny day

Trees on the hillsides exposed their fresh greenly leaves

Butterflies danced around the rosebuds

Enchanted the world with their beauty

Nature sang a beautiful song

Next »