Subuh
Posted in Puisi on April 30th, 2007 No Comments »
subuh meneriakkan namaMu
pada langit pucat
dan sebuah bintangnya;
akan datang hari lagi
dan kalah tak akan jadi alasan.
060801
Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on April 30th, 2007 No Comments »
subuh meneriakkan namaMu
pada langit pucat
dan sebuah bintangnya;
akan datang hari lagi
dan kalah tak akan jadi alasan.
060801
Posted in Jeritan on April 30th, 2007 No Comments »
Duduk disini dengan banyak pikiran
tak banyak yang bisa kulakukan, hanya berharap dan menghayal
akhirnya akan kembali ke pola pikir manusia sok berfikir
“mengapa aku dilahirkan ?”
Dengan segenap perasaan ingin dikasihi dan diperhatikan
Posted in Puisi, Khayalan on April 30th, 2007 2 Comments »
Entah karena lelah
Entah sebab lain yang entah
Pada suatu malam
Mpu Prapanca bertamu dan bermalam
Di bilik imajiku yang temaram
Entah karena lelah
Entah sebab lain yang entah
Mpu Prapanca muntab dan marah-marah
Sebuah muntah dia lempar ke wajahku yang masih mentah
Posted in Cerpen on April 29th, 2007 3 Comments »
Sesuara dan saya tidak pernah bersahabat. Awalnya saya kira, sesuara hanya sekedar bersikap dingin. Maka pada suatu pagi, saya mencoba menyapanya dengan ramah, mengajaknya ngobrol ringan saat sarapan. Tapi dia cuma mencibir dan berlalu pergi, meninggalkan sepiring pancake hangat berlumur madu, yang saya kira tadinya akan sangat disukainya. Pernah suatu kali juga, saya melihatnya sedang duduk diam-diam di suatu pojokan kepala saya. Saya kira dia sedang sedih, maka saya dekati dia. Saya duduk diam-diam di sampingnya, mencoba menciptakan satu keheningan yang menyamankan, yang tadinya saya kira akan cukup menyejukkan baginya. Tapi dia hanya menatap saya dengan satu tatapan benci yang amat sangat, lalu meninggalkan saya duduk diam-diam sendirian.
Posted in Puisi on April 29th, 2007 No Comments »
Gaji sudah naik
Tunjangan juga banyak
Rumah dikasih
Mobil juga dikasih
Fasilitas lengkap
Ruang kerja ber-AC
Bisa tidur lagi
Kerjanya cuma duduk
Entah duduk entah tidur
Katanya sedang memikirkan rakyat
Wow, hebat sekali!
Kemudian merasa kinerjanya kurang
Perlu tambah sesuatu
Posted in Puisi on April 29th, 2007 No Comments »
Saat Allah memanggilku
untuk mensyukuri pagi hari-Nya
Aku masih terbuai
di bawah sejuknya pendingin ruangan
di kamarku
Melewatkan panggilan Al Waduud
pemilik segala kesejukan
melebihi dinginnya kamarku
Bagaimana bisa
aku berharap akan mengawali pagiku
dengan tenang, tanpa persoalan duniawi?
Saat Allah memintaku
beristirahat sejenak di siang hari
untuk melepas lelah dan bercengkrama dengan-Nya
Posted in Puisi, Jeritan on April 28th, 2007 No Comments »
Seperti Dewi Sukesi, bumi kami melahirkan darah
pulau-pulau pecah
laut menggelegak
beradu dengan api yang memerahkan
hutan-hutan
bukit dan gunung runtuh
angin beliung mengoyak rumah-rumah
lumpur mengubur angkara
yang hendak menembus tanah
alir hulu kehilangan muara
dan air bah menyerakkan sampah
Posted in Puisi on April 28th, 2007 No Comments »
Tiada suarga, penuhi rongga
Kering ibunda kerongkongannya,
beriak salam suci pada Sang Maha
Tubuh tergugu tertampar prahara
Bulan memerah, melesat kabut berparas melati
Ribut angin kerap berebut salam, berpagar nista
Jiwa pun terkubur, tak kuasa menantang arah
Derap kaki tak sepadan, menimang kelabu
Posted in Puisi, Teruntuk on April 28th, 2007 No Comments »
By : James_boy099
Ku teringat senja di pelupuk mata
di kala itu sang mentari bercahaya bak kilau permata
di sisiku jantung hatiku, cintaku, sayangku, istriku
kita berpelukan……………..
Tak mungkin dapat aku pungkiri
kesejukan itu merasuk hingga ke tulang sumsumku
entah kapan ku hinggapi lagi rasa sejuk ini
tak terasa kini di pelupuk matapun tak tampak
Posted in Puisi on April 28th, 2007 No Comments »
When I was young
I saw little green Pasteur and prairies
Grass waved happily in a sunny day
Trees on the hillsides exposed their fresh greenly leaves
Butterflies danced around the rosebuds
Enchanted the world with their beauty
Nature sang a beautiful song