Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on Maret 16th, 2007 No Comments »
Tak sampai satu kilo dari istana yang megah
Berdiri deretan gubug liar
Jalan tol Cipularang megah melewati pegunungan
Jalan Lintas Sumatera rusak dan tak pernah diperbaiki
Mobil mewah berjubel di Jakarta
Orang Papua cuma bisa naik kuda
Anggota dewan tidur nyenyak dalam gedung
“Sebuah Kecemasan”
Ismail Marzuki (Fevro, 08.00.27.12.06.)*untukmu hidupku
Rintik air langit pagi ini mengingatkan indahnya tawa yang kulihat saat senja
Ku tahu itu dingin
Namun sangat menyejukkan hati gersang sang musafir yang telah berkelana dua puluh dua waktu
Aku semakin takut…
Aku semakin cemas…
Posted in Puisi on Maret 15th, 2007 No Comments »
butiran es yang menitik dari balik awan kehidupan,
memberikan kisah baru bagi perjalanan musim.
musim kemarau menemukan arti kesejukan.
musim hujan menemukan arti kekuatan.
musim semi menemukan arti kesucian.
dari putihnya salju sang melati tahu akan arti kesucian.
sang mawar tahu cinta ada disana.
Posted in Motivasi Diri on Maret 14th, 2007 No Comments »
Hidup ini tak semudah yang kau bayangkan….
Perlu harapan dalam menanti hari esok…
Perlu juga perjuangan dalam menghadapi hari esok…
Orang-orang melihat….
Menghakimi dengan pikiran mereka sendiri…
Untuk apa melihat ke depan…
Kata mereka, masa depan masih panjang….
Adakah yang tahu ketika saatnya tiba?
Posted in Puisi on Maret 14th, 2007 No Comments »
Bertengkar kembali
Dengan masalah sama
Membuat kita selalu gusar dan marah
Pernahkah mencoba
Mendinginkan kepala
Hilangkan rasa tegang
Redam amarah
Bila kita merasa
Kita bersaudara
Tak akan pernah ada
Pertengkaran antara kita
Ku ingin kita percaya
Kita bersaudara
Satu hati dan jiwa
Ku pinta tetaplah setia
Khianat tak ada
Karena kita saudara
Tak ada lagi yang diributkan
Genggamlah jemari ini
Bersama berdiri
Permanent link to this post (63 words, estimated 15 secs reading time)
Posted in Puisi on Maret 13th, 2007 2 Comments »
Ya kawan, suatu sore yang indah ini
Aku seperti biasa
Masih diberi kehidupan oleh Yang MahaKuasa
Bersyukurlah aku ini, kawan
Atas karunia dan kasih sayang Tuhan
Yang tidak bisa diukur dan dihitung
Oleh diriku ini sebagai hamba-Nya
Posted in Cerpen, Fiksi on Maret 13th, 2007 3 Comments »
Malam itu, aku baru pulang dari kampus. Seperti biasa, bagi aktivis kampus sepertiku pulang malam, bahkan tak jarang aku tidak pulang sama sekali. Pernah juga sampai dua hari. Ibu sering menanyakan; “nek ora mulih ngono kuwi le mu turu neng ngendi to Le?” (“kalau gak pulang gitu kamu tidurnya di mana sih Nak?”).
Posted in Puisi on Maret 13th, 2007 No Comments »
Engkau adalah pengembara
Yang menurutkan kata hatimu
Pergilah kemanapun Engkau mau
Telusuri lorong-lorong nilai kehidupan
Bersama mereka pelaku riuh cakrawala
Berpikirlah dari tempat kesunyian
Berbuat dan bekerjalah mengimbangi keramaian
Bersenandunglah lagu-lagu alam
Buatlah syair tentang indahnya kegetiran
Adukan semua pada Tuanmu
Yang mengajarkan asma-asma
Berdirilah tegak mengibarkan panji-panji
Walau tubuh ini remuk
Tak usah mengenal kata takluk
Posted in Puisi on Maret 12th, 2007 No Comments »
Senang ada di taman
Pandangi macam tanaman
Yang tumbuh dan berkembang
Lega datang padaku
Melihat semua itu
Dengan tak jemu-jemu
Hirup segar udara
Sejuk terasa di dada
Buat hati bahagia
Kini tiba waktuku
Untuk memulai menyiram
Tanaman yang berbunga
Betapa senang hatiku
Betapa bangga diriku
Lihatlah tumbuh tanamanku
Tumbuh besar dan tidak layu
Lihatlah tumbuh tanamanku
Berkembang dan tak layu
Permanent link to this post (61 words, estimated 15 secs reading time)
Bagai menunggu tetes air saat kemarau
Bagai menunggu panas saat dingin
Ku menunggu cintamu
Tanpa kepastian
Tanpa tahukan adanya
Ku coba bertahan…
Tetapi…
Semua itu tlah hancur
Semuanya telah hancur sebelum berkembang…
Hilang sebelum ku melihat…
Remuk sebelum ku sentuh…