KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Maret 2007

Kisah Negeri yang Jomplang

Tak sampai satu kilo dari istana yang megah

Berdiri deretan gubug liar

Jalan tol Cipularang megah melewati pegunungan

Jalan Lintas Sumatera rusak dan tak pernah diperbaiki

Mobil mewah berjubel di Jakarta

Orang Papua cuma bisa naik kuda

Anggota dewan tidur nyenyak dalam gedung

“Sebuah Kecemasan”

Ismail Marzuki (Fevro, 08.00.27.12.06.)*untukmu hidupku

Rintik air langit pagi ini mengingatkan indahnya tawa yang kulihat saat senja

Ku tahu itu dingin

Namun sangat menyejukkan hati gersang sang musafir yang telah berkelana dua puluh dua waktu

Aku semakin takut…

Aku semakin cemas…

Sejak Saat Itu

butiran es yang menitik dari balik awan kehidupan,

memberikan kisah baru bagi perjalanan musim.

musim kemarau menemukan arti kesejukan.

musim hujan menemukan arti kekuatan.

musim semi menemukan arti kesucian.

dari putihnya salju sang melati tahu akan arti kesucian.

sang mawar tahu cinta ada disana.

Hari Tanpa penyesalan

Hidup ini tak semudah yang kau bayangkan….

Perlu harapan dalam menanti hari esok…

Perlu juga perjuangan dalam menghadapi hari esok…

Orang-orang melihat….

Menghakimi dengan pikiran mereka sendiri…

Untuk apa melihat ke depan…

Kata mereka, masa depan masih panjang….

Adakah yang tahu ketika saatnya tiba?

Untuk Sesama Saudara

Bertengkar kembali
Dengan masalah sama
Membuat kita selalu gusar dan marah
Pernahkah mencoba
Mendinginkan kepala
Hilangkan rasa tegang
Redam amarah
Bila kita merasa
Kita bersaudara
Tak akan pernah ada
Pertengkaran antara kita
Ku ingin kita percaya
Kita bersaudara
Satu hati dan jiwa
Ku pinta tetaplah setia
Khianat tak ada
Karena kita saudara
Tak ada lagi yang diributkan
Genggamlah jemari ini
Bersama berdiri

Kesedihan dan Ketentraman Hati

Ya kawan, suatu sore yang indah ini
Aku seperti biasa
Masih diberi kehidupan oleh Yang MahaKuasa
Bersyukurlah aku ini, kawan
Atas karunia dan kasih sayang Tuhan
Yang tidak bisa diukur dan dihitung
Oleh diriku ini sebagai hamba-Nya

Banjir di Tengah Malam

Malam itu, aku baru pulang dari kampus. Seperti biasa, bagi aktivis kampus sepertiku pulang malam, bahkan tak jarang aku tidak pulang sama sekali. Pernah juga sampai dua hari. Ibu sering menanyakan; “nek ora mulih ngono kuwi le mu turu neng ngendi to Le?” (“kalau gak pulang gitu kamu tidurnya di mana sih Nak?”).

Wahai Sang Pengembara

Engkau adalah pengembara
Yang menurutkan kata hatimu
Pergilah kemanapun Engkau mau
Telusuri lorong-lorong nilai kehidupan
Bersama mereka pelaku riuh cakrawala

Berpikirlah dari tempat kesunyian
Berbuat dan bekerjalah mengimbangi keramaian
Bersenandunglah lagu-lagu alam
Buatlah syair tentang indahnya kegetiran

Adukan semua pada Tuanmu
Yang mengajarkan asma-asma
Berdirilah tegak mengibarkan panji-panji
Walau tubuh ini remuk
Tak usah mengenal kata takluk

Menyiram Tanaman

Senang ada di taman
Pandangi macam tanaman
Yang tumbuh dan berkembang
Lega datang padaku
Melihat semua itu
Dengan tak jemu-jemu
Hirup segar udara
Sejuk terasa di dada
Buat hati bahagia
Kini tiba waktuku
Untuk memulai menyiram
Tanaman yang berbunga
Betapa senang hatiku
Betapa bangga diriku
Lihatlah tumbuh tanamanku
Tumbuh besar dan tidak layu
Lihatlah tumbuh tanamanku
Berkembang dan tak layu

Bagai menunggu tetes air saat kemarau

Bagai menunggu panas saat dingin

Ku menunggu cintamu

Tanpa kepastian

Tanpa tahukan adanya

Ku coba bertahan…

Tetapi…

Semua itu tlah hancur

Semuanya telah hancur sebelum berkembang…

Hilang sebelum ku melihat…

Remuk sebelum ku sentuh…

« Prev - Next »