KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Maret 2007

Peristiwa Sahur

Kubunyikan kentongan di tanganku
Dan berkeliling ke segala penjuru
Tak lelah kulakukan itu semua
Bangunkan seluruh warga
Jarum jam menunjukkan pukul tiga
Suasana semakin ramai saja
Suara kentongan tiada henti
Dan bergema ke seluruh desa
Kentongan berbunyi dengan beragam suara
Tanpa kenal lelah kulakukan semua
Inilah cerita yang menghiasi hidupku
Takkan kulupakan dalam ingatanku
Suasana menjelang subuh tiba
Suara kentongan semakin menggebu
Membangunkan seluruh warga desa
Agar bisa sahur sama-sama

Bersama Pesan

Lautan merah hati mendobrak

separuh tubuh tersabit-sabit

memandang diri dalam cermin kehidupan

cermin kegagalan

Rangkaian peristiwa kudaki

Masa depan membelakangi

Merah landasanku

teruji tubuhku dalam

Bingkai kehidupan

Ampun…

Pesan-Mu tlah tersampaikan

Nikmat

Nikmat yang tiada henti
Tetap ‘kan turun selalu
Meski banyak manusia yang belum memahami di balik ini semua
Arti dari semua ini
Arti nikmat yang Kau beri
Adalah untuk membuktikan
Kuasa yang tiada tertandingi
Ketika nikmat-Mu
Merasuk ke dalam aliran darahku
Ku sujud pada-Mu
Ketika cinta-Mu
Memeluk hatiku
Kubiarkan lisanku
Menyebut nama-Mu
Nikmat datang padaku
Cinta pun menghampiriku
Membuat diri semakin merasa
Mendapatkan karunia sejati
Segala yang kurasa
Semua makhluk merasa
Adalah cinta yang tak bisa
Dibalas dengan apapun jua

Radio 2 Band

Dalam ruangan kamar yang hanya 2 meter kali 2 meter lebih sedikit, kulepaskan pandanganku ke atas sudut lemariku. Tampak olehku sebuah radio tua berbentuk persegi berwarna coklat gelap yang mulai pudar, kuputuskan untuk meraih radio di atas lemari kamarku itu. Senang juga rasanya hatiku mengingat ternyata aku masih mempunyai benda yang kuanggap berharga, meskipun aku teringat kata kawanku radioku itu sekarang sudah tidak ada harganya lagi karena radioku bukanlah radio digital. Apalagi itu digital, tanya dalam hatiku. Untuk seorang buruh tani sepertiku yang kutahu hanyalah kwintal karena penghasilanku tergantung pada berapa kwintal padi yang bisa kupanen. Dan untuk sekedar informasi, profesi ini dengan bangga kujalani karena profesi ini sudah menjadi tradisi keluargaku turun temurun. Ah sudahlah lupakan itu, saat ini aku hanya ingin mendengarkan radioku saja. Kunyalakan radio 2 bandku bekas peninggalan Paman Karjo yang sampai sekarang aku tak tahu dimana keberadaaannya. Yang kutahu hanyalah selain radio ini beliau meninggalkan puing-puing bangunan rumah semi permanen yang hancur saat langit memainkan nyanyian kesedihannya dan bumi pun menarikan tarian kemarahannya dalam irama 7.7 scala richter, menurut informasi dari bapak kawanku yang kerja di dekat kantor BMG di kecamatan desaku.

Bibir sungai berkata kepada bibir pantai saat keduannya bertemu di perbatasan sungai dan laut”Tahukah engkau kenapa kita tak pernah menyatu meski kita hidup bersama dalam kurun waktu yang lama ?”

Bibir pantai menjawab “Engkau tak memiliki kepekaan seperti kepekaanku yang asin, engkau terlalu bangga dengan kehidupan tawar yang ditawarkan pegunungan yang tinggi. engkau lupa bahwa ketinggian itu telah menghilangkan kepekaanmu terlahap dunia lautan yang lebih luas.

Mencintaimu

Sayang, mencintaimu begitu sederhana karena begitulah kamu
Sayang,memujamu begitu indah karena itulah kamu
Namun, begitu banyak kau ciptakan ruang untukku mengenalmu
Begitu banyak aral dan dimensi antara kita
Padahal, jika sedikit saja kau buka pintu hatimu kuyakin takkan ada goresan disana
Tolong buatlah mudah caraku menggapaimu
Karena kau begitu sederhana untuk dicintai

Persyaratan Calon Presiden Republik Indonesia Versi Rakyat:

  • Mempunyai kecintaan kepada Republik Indonesia dan seluruh rakyat Indonesia
  • Tidak mementingkan kepentingan partai dan kelompoknya
  • Tidak hanya sekedar berwacana namun juga mampu melakukan tindakan nyata
  • Rela tidak digaji dan tidak mendapatkan tunjangan
  • Rela kelaparan sampai seluruh rakyat bisa makan

“Andai ‘kutahu kapan tiba ajalku, ‘kuakan memohon,”Tuhan, panjangkan umurku…..”(Group band Ungu) 

Salah seorang teman saya bilang bencana itu seperti jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. Kawan yang lain membantah. menurutnya lebih mirip kuntilanak. Bila suaranya dekat berarti jauh, dan bila suaranya jauh berarti dekat. Ah, mereka terpengaruh film-film horor yang kini merajai sinema bioskop Indonesia, pikir saya waktu itu.  

“Wah! Akhirnya nyampe juga. Nyasar nggak?”

“Enggak, biasa turun di lexington

“Naik “R” train ya?”

“Iya lah … dari Queens ambil “G” udah gitu nyambung ke “R””

“Hebat-Hebat! Udah hampir 10 tahun yang lalu masih inget sama NYC subway

Ah, Jika saja Mereka Tahu…

Assalaamu ’alaykum…” tidak terdengar salam dari musholla bagian putri. …………………………. Tidak ada jawaban. Gak kedengeran sih!

Thok…thok…thok…..!!

Assalaamu ‘alaykum….” kali ini terdengar, karena lebih keras dan didahului ketukan keras pada hijab pembatas.

“Eh…. Wa ’alaykumussalaam wa rahmatullaah…” jawab Hasan setelah bergegas mendekati sumber suara.

« Prev - Next »