Radio 2 Band
Maret 24th, 2007 by rifcreative
Dalam ruangan kamar yang hanya 2 meter kali 2 meter lebih sedikit, kulepaskan pandanganku ke atas sudut lemariku. Tampak olehku sebuah radio tua berbentuk persegi berwarna coklat gelap yang mulai pudar, kuputuskan untuk meraih radio di atas lemari kamarku itu. Senang juga rasanya hatiku mengingat ternyata aku masih mempunyai benda yang kuanggap berharga, meskipun aku teringat kata kawanku radioku itu sekarang sudah tidak ada harganya lagi karena radioku bukanlah radio digital. Apalagi itu digital, tanya dalam hatiku. Untuk seorang buruh tani sepertiku yang kutahu hanyalah kwintal karena penghasilanku tergantung pada berapa kwintal padi yang bisa kupanen. Dan untuk sekedar informasi, profesi ini dengan bangga kujalani karena profesi ini sudah menjadi tradisi keluargaku turun temurun. Ah sudahlah lupakan itu, saat ini aku hanya ingin mendengarkan radioku saja. Kunyalakan radio 2 bandku bekas peninggalan Paman Karjo yang sampai sekarang aku tak tahu dimana keberadaaannya. Yang kutahu hanyalah selain radio ini beliau meninggalkan puing-puing bangunan rumah semi permanen yang hancur saat langit memainkan nyanyian kesedihannya dan bumi pun menarikan tarian kemarahannya dalam irama 7.7 scala richter, menurut informasi dari bapak kawanku yang kerja di dekat kantor BMG di kecamatan desaku.
Kuputar frekwensi gelombang radioku hingga terdengar suara seorang perempuan yang terdengar seperti orang yang sedang sakit flu dengan suaranya yang sedikit berat. Yah bagaimanapun di saat seperti ini bisa mendengarkan suara orang berbicara cukup menghibur buatku, disaat desa ini seluruh penghuninya seolah bisu. Mereka diam dan mulut mereka dibungkam oleh kesedihan mereka. Yah aku cuma bisa memakluminya karena aku pun merasakan seperti apa yang mereka rasakan. Kesedihan, tangis, dan keputus-asaan mengiringi setiap rasa dari kehilangan orang orang yang mereka cintai dan menjadikan itu semua menjadi lebih berat adalah keadaan dimana mereka tetap hidup. Aku pun kehilangan seperti mereka seperti halnya aku kehilangan Paman Karjo ku, bahkan sampai saat ini aku tak tahu beliau ada dimana. Kata Pak Sugih tetanggaku, pamanku telah meninggal dan jasadnya masuk kedalam lubang yang menganga seperti luka yang mengoyak-ngoyak perut bumi kelahiranku ini. Setengah percaya aku berusaha meyakini cerita Pak Sugih karena hanya itulah berita yang bisa kupercaya, yakni pamanku hilang ditelan bumi dan tak pernah kembali. Paling tidak, sekalipun Paman Karjo hilang ditelan bumi, aku pun masih bersyukur bumi pun masih mau menerimanya dan memeluknya dalam dekapannya, di saat keadaan tak lagi berpihak kepadanya, disaat bebannya tak lagi mampu ia pikul diatas pundak rapuhnya, meskipun senyumku dibalut air mataku kesedihanku.
Masih segar dalam ingatanku saat aku berusia 7 tahun dan kehilangan Bapakku yang meninggal karena separuh badannya tertarik ke dalam mesin penuai padi, dan Simbok yang 2 tahun setelah itu pun menyusul bapak karena sakitnya yang tak kunjung sembuh. Aku hanya seorang diri hingga saat adik bapakku, yakni Paman Karjo, mengasuhku dan menjadikanku anak. Semenjak itulah yang kutahu beliaulah yang orang yang telah merawat dan membesarkanku. Senyum beliau yang tak pernah luput menghiasi wajah lugunya terus membesarkan hatiku di saat aku merasa gundah. Keramahannya hingga seluruh penduduk desa sangat mencintai beliau, cerita-cerita beliau yang selalu menghibur seluruh desa, bahkan disaat sore hari rumah kami tak pernah sepi dari bocah-bocah kecil yang selalu meminta beliau mendongengkan sejuta kisah tentang dunia dimana tak ada orang miskin. Sejuta kisah dimana kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan, sejuta kisah dimana semua manusia saling menyayangi satu sama lainnya dan selalu ada tempat untuk keadilan dan hati nurani di setiap hati manusia. Dan di balik setiap kisah beliau aku belajar bahwa akan selalu ada harapan di setiap lapisan langit dan yang perlu kulakukan hanyalah jangan pernah melepaskan harapanku pada langit. Beliau mengajarkanku betapa hidup itu terlalu berharga untuk ditangisi. Beliaulah yang telah menuntunku dalam menjalani hidupku, memapahku di saat langkah kaki kecilku terseok-seok dan harus berjalan diatas tanah yang terjal dan menanjak. Beliaulah yang tak henti mengingatkanku agar aku terus berjalan karena kehidupan ini tidak mengenal jeda atau aku akan tertinggal ditelan waktu dan terperangkap dalam masa laluku sendiri. Beliaulah yang sekarang ini kutangisi. Selamat jalan Paman Karjo. Temukanlah kebahagiaanmu dalam dunia yang lain, dimana engkau tak perlu lagi berjalan karena waktu tidaklah lagi menjadi penjara bagimu, dan kebahagiaanmu dalam dekapan Penciptamu.
Perlahan suara perempuan di radio itu menghilang ditelan perasaanku yang hanyut entah kemana, mengambang dalam kehampaan dan ketidak pastian dalam gejolak dimensi pikiranku. Bagaikan terowongan waktu yang tak berujung, satu per satu kenangan demi kenangan terus melintasi dan memenuhi ingatanku hingga akhirnya kudapati diriku seperti radio 2 bandku yang hanya mempunyai dua gelombang frekwensi seperti layaknya makna hidupku dalam senyum dan dukaku, kesedihan dan kebahagiaanku, keputus-asaan dan harapanku, hitam dan putih kehidupannku. Namun warnaku tidaklah seperti warna radio tuaku. Warnaku adalah warna kehidupan yang akan berwarna cerah jika kau memandangnya dalam kegembiraan dan berubah menjadi gelap dan pekat bagaikan langit yang akan menghantarkan hujannya jika kau memandangnya dalam bingkai kaca mata air matamu. Dan satu hal yang masih kupegang yakni kehidupan terlalu indah untuk ditangisi dan aku akan mewarnainya dalam mimpi. Karena hidupku tidaklah lain dari sebuah mimpi-mimpi bagi hari esokku, dan aku akan terbangun dari tidur panjangku.