KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sebuah Janji

Oleh : Adrinanzah Lihawa

Ayah mulai sakit-sakitan, dadanya kembang kempis bermuara dalam helaan nafas yang mukanya meringis kesakitan. Pemandangan meringisnya ayah, menjadi tatapan anak-anaknya di kala melewati pembaringannya. Apabila Husen kakakku tertua mendekatinya hanya sekedar membetulkan selimut, malah kena teguran ayah. “aku masih bisa sendiri! kau kira ayahmu sudah lumpuh tangannya” bentak ayah. Semenjak melihat kelakuan ayah, ibu selalu menyembunyikan tangisnya di depan ayah. Inilah keegoisan lelaki, yang menganggap dirinya adalah sebuah batu karang yang selalu menang melawan ombak. Bila terkena marah begitu Husen langsung menatap benci kepada ayah. Itupun hanya berlangsung sehari marahnya, besoknya lagi Husen tak pernah kapok memberikan perhatiannya untuk ayah. Dua tahun sudah ayah menemani pembaringannya. Nampaknya mukanya lebih kurus dari kemarin-kemarin. Mukanya tak bisa menyembunyikan sakit yang menderanya. Ibu dan ketujuh saudara-saudariku hanya bisa pasrah melahap kegetiran ini. Kami sekeluarga tak bisa kenapa-napa. Kata tetangga “bawa saja ke dokter!” dokter itu terlalu di angan-angan, lantas mau bayar pakai daun. Makan saja hanya mengandalkan hasil jualan kayu Husen di pasar.

***

Ketika magrib telah memanggil malam, ekstase memanggilku, mengapitku untuk menjelajahi dunia harapanku. Dunia yang dimana bisa aku membusungkan dadaku sambil berteriak-teriak “ayah ini anakmu dari kota seberang, sengaja datang ingin membebaskanmu dari penyakitmu. Ingin membiaskan derita yang telah menderamu, yang telah mengurungmu dengan deraan yang hebat.”

Ada nyala begitu terang di dalam pelukan sanubariku, ada semangat untuk menjemput sebuah jalan keluar. Aku harus merantau, iya hanyalah itu satu-satunya jalan. Mudah-mudahan ayah masih kuat menungguku dari kota peruntungan sebelah. Kota yang di namakan Manado. Kata mereka kota ini makmur. Harga cengkehnya begitu melambung tinggi. Itulah tanah harapan bagi masyarakat kampung. Bukan berarti tak kucintai tanah leluhurku. Aku tetaplah darah Gorontalo, sampai matipun aku tetap bangga dengan tanah airku. Sekali lagi aku bukan pengkhianat.

Awal September 1977. Manado akan memanggilku sebentar nanti. Ibu menatapku dengan rindu, rindu akan anaknya yang akan meninggalkannya. Semuanya merasa berat melihatiku. Tatapan mereka menunduk ke tanah, kebisuan merayapi rumahku, tak ada Tanya, tak ada suara. Hening dengan kebisuan kerinduan. Adik dan kakakku tak bisa menyembunyikan gelora kecemasan. Hari ini aku baru tahu ternyata telah terbit sebuah cahaya kecemasan, kerinduan dan harapan di balik roman ibu dan kaka dan adik-adikku. Ayah hanya membisu, namun sesekali membatuk kering. Malam ini tepat jam 12 malam aku akan menuju ke pelabuhan Kwandang. Ibu tak henti-hentinya menatapku. Adik-adikku yang perempuan mencoba menahan laju airmata mereka. mencoba menghibur hati mereka. Ibrahim kakakku yang kedua sibuk membelah kayu diluar sana. Dia cukup tenang dengan kayu bakarnya.

Dua potong kaus yang kuanggap layak, menggulung di dalam koper yang cekung di sana-sini. Inilah koper ayah, koper saktinya yang selalu menghiasi perantauannya ketika mencari nafkah. Koper yang telah layu di makan usia. Hartini adik perempuanku datang mendekat. “ayah memanggilmu” katanya pendek. Aku bergegas menuju pembaringan ayah. Kami berdua saling menatap, tak lama ada sebuah titik embun merayap dan menghilir jatuh ke pembaringannya. Dia sengaja membiarkannya, malah hilir airmatanya terus berjatuhan. “maafkan ayah tak bisa membuatmu betah, nak” suara parau ayah, kemudian lanjut beliau. “kamu tahu kehidupan di luar sana, saudara kamu tak punya, jagalah kejujuranmu, ingat kejujuran itu sungguh penting di tanah rantau. Dan jagalah kesehatanmu, karena sakit ini ayah dapat dari tanah rantau, karena tak bisa menghemat tenaga, karena menganggap bahwa tenaga tak akan pernah habis. Lihatlah sekarang ayahmu ini sudah kepayahan.” Sambil airmatanya laju menerjang. Basahlah sudah mataku, basah oleh kerinduanku akan sosok ayahku yang terbaring lemah. Yang sebentar lagi akan kutinggalkan.

Pintu telah terbuka dan diluar hanyalah gelap. Aku tak takut dengan kegelapan ini. Dengan langkah mantap aku keluar dan tak pernah menoleh kebelakang. Dadaku bergemuruh dan sesak, terasa ada yang menghimpit nafasku. Mataku panas, ada terasa seperti terkena merica. Langkah kupercepat, semakin sesak langkahku. Tanah lapang yang menjadi tempat untuk menggembalakan kambing ayah dua tahun lalu, terasa begitu merajam hatiku. Aku menangis, menangis tanpa menoleh ke tanah lapang. Aku mencoba mengesampingkan bayangan tanah lapang. Selamat tinggal tanah airku, selamat tinggal saudara-saudaraku, selamat tinggal kenanganku.

Tiket telah berada di genggamanku. Terompet kapal telah berteriak-teriak. Aku sujud di tanahku. Dengan berat hati aku memasuki kapal dengan nyala sebuah harapan.

Pukul 2 dini hari kapal angkat sauh, dan kapal mulai bergerak menggiringku ke Manado. Manado tunggu aku! Kataku berbisik

***

Menjelang siang aku kaget dengan desingan nyalak suara-suara. Kata yang lain ”5 menit lagi kita sampai.” Aku bangun berlarian ke arah anjungan kapal. Di anjungan kapal sudah sesak oleh orang-orang. Aku mencoba menerobos himpitan agar ingin melihat pelabuhan Manado. Setelah puas melihat pelabuhan asing Manado, seketika menelusup bayangan ayah di benakku. Ada semacam tanya menghujani batinku. Ada juga semacam ketakutan menghinggapi pikiranku. Ketakutan akan mati kelaparan di tanah peruntungan baru. Cepat-cepat kurapikan ketakutan yang menggantung di fikiranku. Kapalpun menyentuh bibir pelabuhan, penumpang semuanya berduyun-duyun meninggalkan kapal. Aku menunggu agar sedikit kelonggaran untuk turun. Dan akhirnya aku menginjakkan kaki di Manado.

Seminggu aku mulai belajar membaca situasi. Ternyata banyak juga orang yang dari Gorontalo merantau ke sini. Walaupun hanya tinggal di emperan pasar, aku tetap bahagia. Aku mencoba mengangkut-angkut barang pedagang lain. Dari situ aku mencoba mengumpulkan uang agar bisa dijadikan modal untuk jualan tomat dan cabe. Dua minggu aku sudah bisa berjualan sendiri, pokoknya aku bisa menjemput beberapa rupiah. Nyatanya aku tak kelaparan, sebentar lagi aku harus mencari kontrakan kamar. Karena tak baik tinggal di emperan pasar begini, apalagi dengar-dengar ada pemukulan bila telah menjelang larut malam. Aku takut menjadi korban pemukulan gratis. Akhirnya aku beralih jualan, sekarang aku jualan ayam hidup. Aku belinya di luar kota manado. Pernah sekali aku hamper di amuk massa, waktu itu karena kemalaman akhirnya aku menginap di poskamling yang tak terpakai lagi. Dan sungguh sialnya malam itu aku teledor, karena dua ekor ayam terlepas. Akhirnya di tengah malam yang buta aku kejar-kejaran dengan ayam. Ayam itu menggiringku ke arah perkampungan, dan sungguh sialnya aku di kira pencuri ayam. Masyarakat sekitar berkumpul dan menangkapku. Untungnya lurah di situ mengenalku, karena aku selalu membeli ayam darinya. Maka selamatlah aku dari amukan massa.

Sejak kejadian itu aku pindah jualan, bukan ayam lagi, tapi pakaian jadi, tapi hanya terbatas. Pakaian itu aku beli di Manado, dan menggelarnya di pasar-pasar pedalaman. Alhamdulillah, hasilnya lumayan. 3 bulan aku menekuni berdagang pakaian, aku sudah mempunyai untung mencapai ratusan ribu. Tas gendong besar yang menampung pakaian jadi hanya dalam tiga hari ludes. Apalagi sekarang ini panen raya cengkeh. Dalam jualanku aku tidak saja menerima uang tunai, aku juga menerima tukar menukar barang diantaranya cengkeh. Dasar nasib baik berpihak kepadaku, aku mengalami keuntungan yang banyak. Akhirnya aku berfikir aku harus pulang dulu ke kampung sebentar. Dengan kemeja yang rapih, aku berangkat pulang kampung. Aku ingin membawa ayah ke dokter yang paling baik. Karena aku punya uang. Aku ingin menunjukkan bahwa aku hanya butuh 8 bulan untuk bisa menunaikan janji kepada keluargaku.

Dalam jarak kerinduan, aku tak bisa memejamkan mata di atas kapal ini. Ingin rasanya cepat-cepat sampai. Aku merasa jalannya kapal begitu lambat. Ketika kapal menyandarkan di pelabuhan Kwandang, aku melompat cepat. Dalam inginku bermain harapan tawaku dalam sebuah keluarga. “aku akan membawamu ke dokter ayah, ini anakmu” ucapku berulang-ulang. Tanah lapang yang membuat aku menangis kemarin malah membuatku lebih gembira hari ini. Dengan langkah setengah berlari aku menggapai rumahku. Tepat di depan rumahku, aku melihat ada sebuah penghuni baru, coba ku cermati, ternyata penghuni baru itu adalah sebuah gundukan tanah di samping rumahku. Semakin dekat semakin tak enak perasaanku. Fikiranku mulai menebak “apakah itu gunduka tanah ayah, tak mungkin ayah masih bisa menungguiku”

Setelah sampai, aku melihat rona ibu seperti kelelahan. Ibu mengernyitkan dahi ke arahku, lantas mengucek matanya. Dan seketika berlarian memecah tangis. Tangis yang tak bisa kumengerti. Apakah tangis bahagia, atau tangis kesedihan, ataukah tangis yang bercampur. “Samin, anakku kamu sudah pulang. Sudah lelahkah kamu menggapai harapanmu.” Sambil memelukku dengan sedu sedannya. Semua saudaraku kecuali Ibrahim menghambur memelukku, semuanya melepaskan tangis dalam pelukku. Aku sesak dan akhirnya terjatuh lunglai ketika ibu berbisik pelan “nak ayahmu telah pergi”

Tangisku menyeruak, dan tak bisa ku tahan gegap gempita berita kesedihan ini. “bu, aku bawa uang untuk ayah ke dokter, kenapa bu, kenapa!” kataku terbata-bata. Setelah mendapatkan kembali kekuatan berita kematian ayah, aku pergi menuju gundukan tanah itu. gundukan yang telah menimbun cita-cita muliaku. Gundukan yang telah mmbuyarkan akan baktiku. Dengan membaringkan badanku di gundukan itu, ada sedikit ketenangan yang ku rasa. Dan uang, uang yang akan aku bawa beliau ke dokter telah kehilangan harga, telah kehilangan arti. Arti akan sebuah baktiku. Aku meremas gundukan uang itu. gundukan peluhku ini tak menggembirakanku. Tapi ada satu yang aku bisa pegang janji ayah, tentang sebuah kejujuranku di tanah rantau. “Aku akan menjadi sepertimu ayah, akan berhenti merantau apabila tenaga menghentikanku. Aku akan bangun keluarga kita dari porak-porandanya kemiskinan. Aku akan buat kamu bangga mempunyai anak sepertiku. Itu janjiku.”

Rembulan malam telah bertengger jauh di atas pelupuk langit. Dan suara jangkrik yang bernyanyi tak pernah ku hiraukan. Yang aku hiraukan hanyalah pembaringan ayah. Pembaringan yang menemaninya ketika sakaratul maut 3 bulan lalu. Yang seisi rumah tak sempat melihat PanggilanNya. Aku mencintaimu Ayah, cinta yang tak akan pernah aku gadaikan di atas sebuah kesenangan nafsu. Ayah Wafat bulan Februari 1979. dan aku terlambat. Terlambat akan janjiku. Ayah Maafkan Samin.

(terinspirasi oleh cerita ayahku)

3 Responses to “Sebuah Janji”

  1. on 16 Mar 2007 at 15:26Resthie Agustini

    Sedih, anak yang ingin berbakti tapi terlambat.
    menyentuh jiwa bangeth yach ini ceritanya, hiks…..hiks…..

  2. on 23 Apr 2007 at 11:29fituchy

    ledakan emosinya membuatku terharu, apakah ini sebuah memoar ataukah imajinasi?
    by fituchy

  3. on 01 Aug 2007 at 19:31Mohammad Taufiq Lihawa

    Haiiiiiii! Lihawa!! Ceritanya seru oi! Terharu aku. Sampai berkaca-kaca kacamataku. Selamattt yaaa!!

    by
    Lihawa

Tinggalkan Komentar