Hikmah Dari Sebuah Ujian
Maret 1st, 2007 by Banhawy
Orang bilang aku adalah seorang gadis yang beruntung. cantik, pintar, kaya dan memiliki segalanya. Orang juga bilang bahwa sejak lahir diri ini di karunai oleh keberuntungan yang tak ternilai. Yah sebagian dari ucapan mereka itu mungkin ada benarnya. Sejak lahir aku tak pernah merasakan susah. Susah dalam pengertian hidup miskin atau kekurangan. Kehidupanku juga terbilang cukup makmur meskipun tidak glamour.
Ayahku adalah pegawai BUMN ternama di Indonesia. Sifat Ayahku yang jujur dan bersih dalam bekerja membuatnya bisa meraih kemakmuran yang besar. Atas kepercayaan perusahaan terhadap kinerjanya, ayahku mendapatkan posisi yang lumayan tinggi yaitu sebagai manager keuangan. Hal itu jelas mendatangkan kemakmuran yang besar bagi keluarga kami. Sejak kecil aku jarang sekali mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci baju atau memasak, karena keluarga kami memiliki pembantu di rumah. Ketika berangkat ke sekolah atau ke kampus, diri ini tak harus berdesak-desakan bahkan berebut di dalam angkutan umum, karena ada supir pribadi yang akan mengantarkan aku dan adik-adik. Dalam hal pendidikan pun baik aku dan adik-adik mendapatkan fasilitas yang memadai. Singkat kata kehidupanku ini sering kali membuat sebagian teman merasa iri.
Enak ya jadi salma, sudah cantik, pintar, kaya lagi. Coba aku jadi kamu. Ujar santi, salah seorang temanku. Mendengar ucapannya aku hanya tertawa geli. Dalam hati aku berkata: kalau saja aku bisa seperti kamu, tentulah orang tuaku akan merasa bahagia sekali. Aneh bukan..bagaimana mungkin aku, si salma yang beruntung, ingin menjadi seorang santi, gadis sederhana yang biasa-biasa saja. Sekilas orang akan heran bila aku mengatakan pemikiranku bahwa aku ingin menjadi seperti santi. Apa yang menarik dari santi? kulitnya hitam, tubuhnya kurus ceking dan keadaan keluarganya juga sangat sederhana. tidak seperti kau yang cantik dan beruntung. Ujar salah satu sahabat dekatku suatu kali.
Santi mungkin tidak cantik, dia juga tidak sepintar diriku, tapi ia memiliki sesuatu yang sangat ku idam-idamkan. Tubuh yang sehat dan keberhasilan. Tapi itu bukan berarti bahwa aku adalah gadis cantik yang penyakitan dan memiliki daya tahan tubuh yang sangat lemah. Hanya saja aku memiliki beberapa penyakit kecil yang membuatku harus mengeluarkan banyak uang. Salah satu kelemahanku adalah GIGI. ya GIGI. Tiap kali aku melihat anak kecil yang menyantap es krim atau orang tua yang meminum teh panas dengan nikmatnya, aku merasa sangat iri. Karakter gigiku yang sangat sensitif dan mudah sakit membuatku harus berhati-hati dalam memilih makanan. Tak bisa diri ini menikmati es krim atau teh panas tanpa rasa ngilu dan sakit yang luar biasa. Sering pula aku mengeluh sakit kepala yang tak tertahankan, sebabkan oleh gigi yang mudah berlubang. Semua ini membuatku harus menjalani serangkaian pemeriksaan rutin yang menghabiskan banyak uang. Hampir 1.5 juta kuhabiskan untuk perawatan gigi setiap kontrol 6 bulan sekali. Selain itu aku memiliki daya tahan tubuh yang sangat lemah pada tenggorokan. Sedikit saja aku memakan makanan berminyak lebih banyak dari biasanya, maka aku akan langsung terserang radang tenggorokan dan mengalami demam.
Semua itu hanya satu dari sekian banyak masalah yang mendera. Stress yang berkepanjangan akibat diri ini belum juga mendapatkan pekerjaan, setelah lulus satu tahun lamanya, membuatku sering bermimpi buruk dan banyak pikiran. Dengan keadaan usia yang sudah menginjak 24 tahun dan masih menganggur serta kenyataan bahwa ayahku akan segera pensiun, membuat hari-hari di lalui dengan penuh kecemasan. Cemas karena bila ayah pensiun nanti, apakah aku masih bisa membayar biaya pengobatan gigi serta kesehatan lain yang membutuhkan biaya besar. Haruskah aku menahan rasa sakit yang membuatku sangat menderita? Adik-adikku pun masih duduk di bangku kuliah dan membutuhkan biaya yang sangat besar, sanggupkah ayah membiayai semua ini?
Semua pemikiran itu membuatku hampir gila. Pernah suatu kali setelah berkonsutasi ke dokter gigi, ibu bersedih karena biaya yang di keluarkan begitu besar. Padahal semua itu terpaksa kulakukan karena aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang mendera. Pernah pula aku mencuri dengar pembicaraan ayah dan ibu yang sangat kecewa dengan kenyataan bahwa aku masih menganggur. Ya sebagai anak sulung aku di harapkan menjadi tumpuan keluarga setelah ayah pensiun, tapi sampai saat ini aku belum bisa memenuhi kewajiban itu. Malahan semakin hari diri ini semakin membuat kedua orang tuaku susah dengan penyakit yang ku miliki. Santi yang lulus dengan nilai rendah saja bisa mendapatkan pekerjaan di bank swasta, masak aku tidak bisa. aku kan jauh lebih cerdas darinya. Gerutuku dalam hati. Perih rasanya hati ini bila melihat seseorang yang secara akademis berada di bawah kita lebih dulu mendulang sukses. Ketika hal ini terjadi ingin rasanya aku menyalahkan Tuhan.
Tuhan kenapa kau beri aku bencana seperti ini? kenapa kau beri aku keberuntungan yang tiada tara dan di satu sisi kau beri aku bencana? Tuhan, aku ingin mendapatkan pekerjaan tuk membantu kedua orang tua, tapi mengapa sampai saat ini kau belum mengizinkan aku tuk meraihnya? apakah kau ingin membuatku menjadi anak durhaka? apakah aku di takdirkan hanya untuk membuat kesusahan? bila itu adalah kehendakmu maka tolong kau cabut nyawa ini agar aku bisa memberikan kebahagiaan kepada kedua orang tua.
Pernah pula aku berniat mengakhiri hidupku dengan cara menyayat pergelangan tangan. Tapi Tuhan masih sayang padaku, ia mengirimkan malaikat yang membisikkan padaku bahwa hal itu perbuatan dosa dan haram hukumnya. Tapi apa dayaku, bagiku hidup ini semakin lama semakin menyesakkan. Buat apa hidup di rumah besar dan mewah bila dirimu tidak berguna dan selalu menyusahkan?. Begitulah pikiranku saat itu.
Tapi……
Dengan berlalunya hari, Tuhan memberikan petunjuk padaku. Melalui doa yang ku panjatkan ketika aku shalat dan nasehat dari ayah, aku mendapati bahwa yang kulakukan selama ini hanyalah bentuk dari pelarian diri. Aku tidak berani menghadapi masalah, hanya ingin membuangnya jauh-jauh tanpa harus memecahkannya. Kuhapus air mata ini dan kubuang jauh-jauh pemikiran bahwa diriku tidak berguna, kemudian aku mulai merintis cara baru. Aku berusaha menghadapi permasalahan ini dengan cara yang lebih tenang. Kembali aku mengirimkan ratusan surat lamaran melalui pos dan internet, dengan harapan suatu saat akan mendapatkan pekerjaan. Aku juga mengasah bakatku sebagai penulis dengan cara mulai menulis cerita dan artikel yang berisikan curahan hati serta ilmu pengetahuan yang ku miliki dan mengirimkannya ke surat kabar. Siapa tahu saja takdirku bukanlah sebagai pegawai kantoran, melainkan sebagai penulis atau wartawan. who knows?
Sedangkan untuk biaya kesehatan, ternyata ayah sudah menyiapkan tabungan khusus untuk itu. Beliau sudah jauh-jauh hari menabung dan membuat asuransi untuk kehidupan masa depan kami termasuk dalam masalah biaya kesehatan. Sedikit demi sedikit beban di pundak ini terasa lepas.
****************
Hari berganti dan tahun pun silih berganti. Kejadian demi kejadian membuatku itu aku pun mulai menyadari hikmah yang terkandung di dalamnya. Kalau saja Tuhan tidak mentakdirkan aku memiliki penyakit semacam ini tentulah aku akan menjadi gadis kaya yang sombong dan angkuh karena merasa memiliki segalanya. Kalau aku tidak merasakan penderitaan sebagai seorang pengangguran, tentulah aku tidak akan dapat berkarya dan mendulang prestasi sebagai penulis novel terkenal seperti sekarang ini.
Semakin hari aku pun menjadi semakin yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian tanpa ada jalan keluar di dalamnya dan aku juga semakin yakin bahwa Tuhan tahu yang lebih baik untuk ummatnya. Seperti yang ia katakan dalam salah satu suratnya di dalam kitab suci Al-Quran. “Di balik kemudahan ada kesusahan dan di balik kesusahan ada kemudahan”
awal dari kisah ini sampai pengangguran mirip dgn hidupk ak sering berpikir untuk mgakiri hidup tp ak tak dpt mlakukn coz org yg bunuh dri adh pbuatan yg pling dibenci allah. tpi ak bukan anak orang kaya, walupun orang tua ku kecukupan tapi aku didik untk berhemat jadi secara gaya penampiln ak pas2an.
Hey…Hey…Heeeey……..
Kenapa ?
Kenapa dia harus sama2 punya masalah sama gigi kayak aku??
Kenapa dia punya masalah dengan tenggorokan sama kayak aku??
Kenapa dia harus ….??
Kenapa dia harus….??
Kenapa nama dia….
sama kayak nama aku???!!
Kenapa aku jadi SHOCK??!!
~FndjanQ!
bukan masalah sama ato ga nya perjalanan hidup yang dijalani, tapi kesadaran lu tentang hikmah di balik semua, itu yang buat ane suka dengan cerita ini….ga semua masalah harus diakhiri dengan cara bunuh diri!!!!!!!
hidupanpa itu semua kita penuh hikmah,arti dari hidup adalah cobaan dan ujian,sebab tanpa itu semua kita tidak dapat menikmati manisnya kebahagian,teruslah berjuang setiap kesulitan selalu ada jalan keluarnya…………..