KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Februari 2007

Surat Pendek Buat Shinta

Salam Kecup Rona rekah Bibirmu,-

Januari 1974

Anahita sayang, masihkah teringat di dalam ingatanmu tentang kejadian 4 tahun yang lalu? Saat itu kau bertanya padaku ” apakah cinta sejati itu benar-benar ada dan apakah uang bisa membeli segalanya?” .Saat itu aku dengan lantang menjawab TIDAK. Ku jawab pertanyaanmu dengan senyum sinis dan ejekan. Lalu ku katakan padamu bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih penting dari harta dan kekuasaan. Hanya dengan uanglah kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang terkira, hanya dengan uanglah kau bisa membeli cinta.

Guyuran Hujan Kenangku

jingkat-menjingkat bumi yang basah

terguyur rintikan hujan yang kecil

mengalir…

memasuki dalamnya hati yang tergelincir

meringis…

aduh sakit nian tubuh mungilku

mengadu dan meminta kepastian

air mungil masih menjuntai

mengarak jauh ke punduk rindu

mengombang-ambing otak yang cetek

jauh…

4 some one in some where

buat seseorang yang pernah hadir dihidupku

5 februari…….
masih ingat ngak ama tanggal ini. tanggal yang memiliki arti khusus buat kita. dihari itu kita berusaha meruntuhkan tembok2 perbedaan antara kita demi satu rasa…bersama kita perbaiki perahu kita yang tlah beberapa x kandas. kita berdua sama2 tau kalo itu adalah kesempatan terkhir yang kita punya. krn satu alasan, karna kita sama2 masih sangat saling menyayangi. Dengan hati2 kita mulai berlayar. saat itu aku sungguh berharap tak ada lagi badai yang mampu memporak-porandakan perahu kita. dan aku tahu dirimu pun merasa yang sama

Menunggu

Di mana kau detik ini..aku lelah mencari
Maka kuputuskan hanya berdiri menunggu
Kulawan gertakan hari
Maka aku mulai mati terhadapmu

Rasa sakit itu melunturkan pekanya hati
Dan aku tak lagi bisa merasa
Apa itu..aku sungguh tak mengerti
Akankah diri ini dapat jawaban dari semua

Nasi

Orang Kecil berebut Nasi.
Tak dapat nasi,
Orang kecil mati!
Karena nasi dipolitisi Petinggi.”
Jakarta, 31 Januari 2007

Bergelumung Maut

sayup terdengar insan berteriak

lantang…

mematikan insan yang trbuai

terbujur sarung-sarung kumuh

perih…

hidup tak pernah berhenti

oh… kiamat dunia menghampiri

tiba ke dasar jiwa yang layu

seutas benang yang diikat

terlepas… lalu putus

merobek hati

terluka dalam, memilukan rongga

Y.T.C Shinta mauli

di bawah langit mendung,
kau dan aku duduk bercanda memetik gerimis

sepasang angsa beradu bibir di tengah kolam,
menari, terus beriakan air yang tenang.
angin berhembus, pinggir kolam sejuk menerang
tapi terasa hati, antara pohon beri ritme romantis
suasana jadi panas berapi.

Saat pertama kali aku melihatnya, aku sudah terpesona dengannya. Postur tubuhnya tinggi, kulitnya putih dan wajahnya yang tampan membuatku ingin kenal lebih dekat dengannya. Dia adik kelasku, namanya Bima. Saat itu aku hanya kagum tapi tidak sedikitpun aku punya perasaan apa-apa padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik meskipun aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya padaku. Karena dia tidak memanggilku dengan sebutan kakak melainkan langsung sebut namaku. Hal itu tidak jadi masalah buatku, mungkin dia tidak ingin usia menjadi pembatas bagi persahabatan kami.

Bintang

malam - malam kulalui bersamamu

ada rasa damai menyertaiku

hari- hari tanpamu

ada rasa rindu didiriku

bintang…

mengapa kau teramat memukau

terpancar disetiap cahaya dan keelokanmu

bintang…

kini waktu semakin beranjak

yang akan mengakhiri pertemuan kita

tanpa ada percakapan diantara kita

« Prev - Next »