KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Februari 2007

Membencimu

darahku mengalir begitu cepat
kepalaku berdenyut-denyut
lambungku terasa perih
setiap aku melihat dirimu
tak mampu kuredam emosiku

ingin aku memakimu
berteriak-teriak didepan semua org
membongkar semua keburukanmu
memaparkan semua kebohonganmu

pedih….perih
terasa jelas setiap waktu
semua krn perbuatanmu
kau goreskan luka yg tak kan pernah terobati
kau sisakan rasa yang tak akan terhapus

Rona Hati Yang Mengiba

kobaran hati menggigil

menangis…

dan entah karena siapa

air bening malah menuruni wajah yang sayu

memerah padam menghentakkan alam yang diam

disayat mati…

ingin berhenti…, tapi

tak dapat berbuat apa

ada pucuk-pucuk ilalang yang bertengger

memesrahkan diri dan terendam luka

pahit…

Musim yang Terik

langkisau bergurau derau
menimpaku dari belakang
menggulung pasir jadi abu
melukis debu jadi arang
di langit

langkisau, merajah bukit
menapak di bebatuan hitam
singgah sebentar, menderaikan daundaun
pohonpohon meranggas

bunga dan rerumputan kering
menyulut api di pagar bayang
langkisau berputarputar
menerbangkan asap partikel
membutakan mata
menegaskan, matahari terbit setengah
mendidih di ubunbun

Lantang

Berdiri di atas angin menyeru
Tak ada lagi yang membuatku malu untuk maju
Siapa aku, bukanlah pertanyaan barumu
Tapi apa dan mengapa aku padamu

Dunia
Biarkan aku selamanya
Itu karena aku biasa dapat semua
Dari-Nya juga pencipta alam selamanya

/1/
apa yang kau dapati pada tikungan jalan itu
selain pilihan dan keputusan
masa lalu kau tinggalkan
selayaknya juga penyesalan

/2/
apa yang kau dapati pada jalan lurus itu
selain langkah-langkah pelan
menunda sampai
berpura tak ada ujung jalan

Jangan Biarkan

Jangan kaupaksa aku untuk selalu mengingatmu
Jika hadirmu tak jua terwujud
Jangan kau lenakan aku dengan kata-kata cintamu
Jika semua itu akan membuatku tak menentu

Palingkan aku dari sinar matamu
Karena terlalu kau! Biarkan aku!
Teganya kau biarkan aku….
Disini, dalam ruang pengap yang terlalu sunyi

Rembulan di Atas Kepala

Cerpen : Nur Faishal

Bahwa rembulan sebagai simbol keindahan seorang wanita, sudah kudengar dari bait syair para pujangga berabad-abad lalu. Bila kemudian rembulan disanksikan keindahannya setelah manusia berhasil mendarat ke bulan, aku juga pernah mendenganya dari syair lagu seorang penyanyi dangdut.

Elegi Orang Fakir

kami yang mencoba jadi fellah
tergopoh-gopoh setiap fajar tiba
mencangkul tanah keras
sambil tetap istiqomah
yakin al-FatahNya masih terbuka
hari berbilang bulan
coba bertahan
dari dekapan tuantuan
tanah, yang cuma doyan
faraj dan fidah
kadang, belalang datang
mencukur kehijauan
rasanya seperti floret yang dihunuskan
ke jantung kami
tangis yang telah kering
mencoba tetap tabah
seperti para fukaha
yang menyiram tubuhtubuh ranggas kami
dan berharap fadilat
segera menjemput kami

Asa

Heningnya malam
Suara rintik air hujan
Buatku terngiang akan kenangan bersamanya
Saat – saat terindah dalam hidupku
Bercanda dan tertawa bersama
Serasa tak ada beban di hati
Hadapi hidup dengan senyuman
Tak ada tangis dan ragu saat bersamanya

Masihkah ada cintaMu
Jika aku selalu ragu terhadap semua kebesaranMu
Masihkah Kau ingatkan aku
Jika aku lupa akan janji setiaku

Maafkan aku …, Tuhan
Yang telah enggankan aku untuk selalu melihatMu, kemarin
Jangan biarkan aku …
Yang selalu terpedaya oleh bisikan-bisikan tak berguna

« Prev - Next »