KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Layang-Layang

Pagi itu sang surya bersinar dengan kemilau yang indah, cahaynya pun terasa menghangatkan. kabut yang semalam menghiasi desa Al-wadi telah hilang. Sebagai gantinya tampak embun bertaburan membasahi dedaunan. Kriing…terdengar jam weker berdering keras membangunkan pemiliknya. Wah… sudah jam 6 pagi, saatnya untuk menghirup nafas pertama. ujar farah, gadis cantik pemilik rambut hitam dan mata biru, sambil menyibakkan rambut sunsilknya yang tergerai tak karuan. Di raihnya sisir yang tergeletak di meja kecil, yang terletak di samping tempat tidur. Di rapihkanlah rambutnya, lalu ia bergegas menuju ke arah balkon kamar. Setibanya di sana, di hiruplah udara segar dalam-dalam lalu di hembuskannya. Aaahh…terasa sangat menyejukkan….

Ia kemudian menatap jauh ke arah pemandangan gunung Jbail yang berwarna kehijauan dan di selimuti oleh kabut tipis. Tampak pula olehnya danau biru yang terdapat di kaki gunung. Airnya berkilauan di terpa cahaya matahari. Bagaikan terhipnotis oleh pemandangan tersebut, farah hanya bisa terdiam, hati dan pikirannya tak henti-hentinya mengagumi keindahan alam yang terdapat di desa Al-wadi. Agak lama ia terpesona. Namun perhatiannya akan segera terpecahkan oleh sosok pemuda tampan yang berjalan sambil membawa layangan.

Pemuda tampan itu hampir tiap pagi berjalan melewati jalanan yang terdapat di depan villa milik keluarga farah. Di tangannya yang kuat selalu terdapat sebuah layangan besar berbentuk phoenix ( burung api), sementara itu di punggungnya selalu tergantung sebuah tas ransel besar yang entah di gunakannya untuk apa. Pemuda itu akan berjalan menuju ke tepi sungai Layli, sungai yang terbentang luas di desa Al-wadi dan menerbangkan layangan kesayangannya.

Sejak pertama kali melihatnya, farah mulai menaruh perhatian kepada pria muda bertubuh tinggi kekar, berkulit putih serta memiliki mata berwarna lembayung itu. Meskipun sering kali beradu pandang, pemuda tampan itu tidak pernah menegur atau melambaikan tangannya. Hanya menatap sekilas ke arahnya dan pergi. Aneh…belum pernah aku menemukan pria seperti dirinya. tampan dan misterius. apakah ada pria seperti itu di desa ini? tanya farah kepada leila, sahabatnya, yang juga merupakan penduduk asli desa Al-wadi. Leila terdiam sejenak. Otaknya berfikir mencari tahu siapakah pemuda misterius yang di maksud oleh sahabatnya. Agak lama ia berpikir, namun tetap saja ia tidak menemukan jawabannya.

Entahlah…setahuku tidak ada pria dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi. Mungkin ia hanya seorang wisatawan yang datang untuk berlibur. Jawab leila sembari menghela nafas pendek. Agak kecewa hati farah ketika mendengar ucapan dari sahabatnya. Hati kecilnya berteriak ingin mencari tahu siapa sebenarnya pemuda tampan itu. Apa kau yakin? coba kau ingat-ingat lagi. Pinta farah dengan sedikit memelas. Aku yakin sekali farah, bila ia penduduk lokal, pastilah ia tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain layangan di pagi hari. semua pria di sini sibuk bekerja menggaraplahan pertanian mereka atau menggembalakan sapi dan domba. Jawab leila meyakinkan.

Huh….farah menghela nafas panjang. Ia merasa sedikit kecewa dengan jawaban sahabatnya. Terbayang olehnya bahwa ia tidak akan pernah mengetahui siapa pemuda asing yang mengusik hati dan pikirannya selama ini. Melihat kekecewaan di wajah farah, leila segera bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pundak farah dengan lembut. Sudahlah sahabatku, jangan kecewa begitu. Begini saja, besok pagi kalau dia melewati villamu lagi, temui saja dia. kan setelah itu kau bisa berkenalan dengannya.

Menemuinya bagaimana? tiap kali aku turun dan hendak menemuinya, ia sudah tidak ada. menghilang seperti siluman. ujar farah dengan wajah cemberut. Huh..payah juga ya. Ya sudahlah coba saja lagi. Kali ini kau bangunlah lebih pagi dan tunggu saja dia di pintu gerbang villa. pasti kau tidak akan kehilangan dia lagi. saran leila dengan antusias. Baiklah. sahut farah pelan. Dirinya masih tidak yakin akan dapat menemui pemuda misterius tersebut.

Jam dinding berdentang 8 kali dan waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Leila pun segera pamit dan bergegas untuk pulang ke rumahnya yang terletak hanya beberapa ratus meter dari villa milik keluarga farah. Aku pulang dulu ya. Jangan lupa dengan saranku itu. U can do it. Leila memberi semangat. Farah hanya membalas dengan senyuman tanpa berkata apa-apa. Di antarkanlah sahabatnya sampai pintu gerbang villa dan mengucapkan selamat jalan.

*******

Keesokan harinya farah bangun lebih cepat dari biasanya. Ia melakukan saran leila, yaitu berdiri di depan pagar villa, sekedar untuk menyapa dan berkenalan dengan pemuda asing tersebut. Namun pagi hari di desa Al-wadi bukanlah pagi hari seperti hari-hari di perkotaan, di mana matahari akan bersinar dengan hangatnya. Pagi hari di desa Al-wadi adalah perjuangan melawan dingin yang menyengat. Kabut dingin baru akan menghilang sekitar pukul 6 pagi dan suhu berkisar antara 10-15 derajat celcius. Bagi sebagian wisatawan yang datang untuk berlibur, udara dingin tersebut di rasakan sangat menyiksa. Biasanya para wisatawan akan keluar dari villa atau hotel mereka setelah pukul 6 atau 7 pagi ketika matahari mulai bersinar terang dan udara mulai terasa hangat.

Tak terkecuali bagi farah, udara dingin yang menyengat terasa sangat menyiksanya. Tubuhnya bergetar dan giginya bergemeretuk karena menahan hawa dingin. Ingin rasanya ia segera masuk kembali ke dalam kamar dan menyelimuti dirinya dengan cover bed tebal. Namun niat itu segera di urungkannya ketika teringat akan pemuda tampan nan misterius yang akan segera melewati tempat ini.

Tak berapa lama kemudian terdengat suara langkah kaki yang mantap dan cepat. Itu pasti dia, gumam farah dalam hati. Ia merasa sangat gugup dan seluruh tubuhnya bergetar menahan hawa dingin. samar-samar terlihat olehnya sang pemuda tampan yang membawa tas ransel dan layangan besar di tangannya, semakin dekat dengan tempat di mana ia berdiri. Dengan perasaan gugup bercampur malu di kumpulkanlah segala keberaniannya dan segera ia menampilkan dirinya di hadapan pemuda tersebut.

Halo apa kabar…siapa namamu? tanya farah dengan terbata-bata. Sang pemuda yang masih terkejut dengan kemunculan farah yang tiba-tiba hanya bisa terdiam tanpa berucap suatu kata apapun. Ia hanya terdiam dan memandangi farah dengan tatapan aneh. Melihat sang pemuda yang keheranan, farah jadi salah tingkah dan merasa sangat malu. Tanpa banyak bicara ia segera angkat kaki dan berniat meninggalkan sang pemuda tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Namun belum sempat hal itu terwujud, sang pemuda segera meraih tangan farah, seakan-akan memintanya untuk tetap berada di tempatnya. Farah terdiam sesaat. Ia merasa terkejut dan hatinya berdesir. Dengan seksama ia perhatikan sang pemuda yang tengah tersenyum. Senyumnya manis sekali…benar-benar pria yang sangat tampan. Gumam farah dalam hati

Hallo siapa namamu? boleh berkenalan? tanya farah dengan ramah sembari menyodorkan tangannya. Sang pemuda hanya tersenyum ia menjabat tangan farah, lalu ia menggerak-gerakkan hari jemarinya seakan-akan memberi isyarat. Sejenak farah terdiam tak mengerti maksud dari sang pemuda tersebut, lalu ia segera menyadari bahwa pemuda tersebut adalah seseorang yang bisu dan tuli. mengetahui hal itu air muka farah segera berubah. Tak percaya dirinya mendapati kenyataan bahwa pemuda setampan itu ternyata memiliki kecacatan. Tapi bukan farah namanya bila memandang seseorang hanya dari fisiknya saja, ia segera tersenyum dan menjabat lengan sang pemuda dengan erat. Tak lama kemudian terlihat farah dan sang pemuda terlibat dalam perbincangan santai dalam perjalanan menuju ke tepi sungai Al-wadi.

F-a-r-ah. namaku adalah f-a-r-ah…. ucap farah berulang kali kepada pemuda tersebut. Ia sengaja melakukannya agar sang pemuda bisa membaca gerak bibirnya. Cy..rus…jawab sang pemuda dengan terbata-bata sambil melakukan bahasa isyarat. Cyrus.. nama yang indah. puji farah.Cyrus hanya tersenyum dan membalas dengan bahasa isyarat bahwa farah memiliki wajah yang cantik. Sepanjang jalan menuju sungai Al-wadi mereka lalui dengan canda dan tawa. Pertemuan di pagi hari yang dingin adalah awal dari kisah cinta mereka.

*******

Sudah 3 bulan berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Sejak saat itu pula baik cyrus maupun farah menjadi sahabat dekat. Bagi farah cyrus adalah sahabat yang membuka mata dan hatinya akan adanya kehidupan alam yang indah serta menunjukkan kepadanya bahwa menjadi cacat bukanlah suatu hambatan yang berarti dalam kehidupan. Cyrus membawa farah mengarungi sungai Al-wadi di mana ia bisa melihat hamparan padang bunga liar yang indah, pepohonan yang lebat serta air terjun yang curam.

Tak pernah sebelumnya ia melihat pemandangan seindah dan sedamai ini di kota. Ia juga menemukan kenyataan bahwa cyrus adalah seorang fotographer terkenal di propinsinya. Karyanya telah di pamerkan di galeri lokal dan mendapat sambutan hangat dari seluruh lapisan masyarakat. Rupanya kecacatan tidak membuatnya mundur, sebaliknya kecacatan mendorongnya untuk berprestasi. Pandangannya mengenai orang cacat pun mulai berubah. Bila sebelumnya farah berpendapat bahwa cacat adalah suatu kemalangan, kini ia merasa bahwa kecacatan adalah suatu karunia besar dari Tuhan, karena dengan kecacatan itu Tuhan memberikan kemuliaan dan kemampuan intelegensia yang lebih besar dari pada orang normal. Tidak hanya itu ayah farah, Mr. darius zahedi, mulai menyukai kehadiran cyrus yang di nilai memberikan semangat dan kehangatan bagi keluarganya. Mr. darius bahkan memiliki harapan bahwa suatu hari nanti cyrus akan menjadi calon suami farah.

Sebaliknya kehadiran farah yang memiliki sifat lembut dan berhati mulia, menjadi sumber inspirasi baginya untuk berkarya. Melalui farah ia mempelajari tentang dunia luar yang selama ini belum pernah di lihatnya. Seumur hidupnya cyrus tinggal di desa. Belum pernah ia menginjakkan kakinya ke kota. Keadaan orang tua cyrus sebagai seorang pemilik peternakan terbesar di desa Al-wadi memungkinkannya untuk mendapatkan pendidikan privat terbaik di rumah. Kedua orang tuanya takut bila cyrus masuk ke sekolah umum, ia akan mendapatkan cemoohan dari orang-orang yang tidak suka dengan kecacatannya.

Hari terus berlalu dan tibalah saatnya untuk berpisah. liburan akhir semester sudah hampir usai. Farah dan sahabatnya, leila harus kembali ke kota untuk menimba ilmu. Mr. darius, ayah dari farah, bahkan telah kembali seminggu sebelumnya karena harus mengurus perusahaan miliknya. Apakah kau akan kembali? tanya cyrus dengan bahasa isyaratnya, ketika mengantar farah masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak bermuram durja melepas kepergian farah. entahlah…mungkin tidak. Jawab farah sambil menghela nafas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. Kenapa? apa kau tidak suka pada desa Al-wadi ataukah karena…? karena kau takut orang-orang akan mencemoohmu, bila tahu bahwa kau bersahabat dengan orang cacat? tanya cyrus sekali lagi dengan terbata-bata sembari menggunakan bahasa isyaratnya.

Bukan-bukan karena itu…sanggah farah cepat. aku anak tunggal dan punya tanggung jawab yang besar terhadap perusahaan milik ayahku. Setelah lulus, aku akan mulai bekerja di sana menggantikan posisi ayah, lalu menikah dengan pemuda pilihan keluarga, jadi aku tidak akan pernah kembali lagi. Jawab farah sembari menahan airmata agar tidak jatuh membasahi pipi.

Setelah mendengar jawaban farah, cyrus tersenyum kecut. Hatinya hancur ketika mengetahui farah akan menikah dengan orang lain. Jauh di dalam hatinya ia sangat mencintai farah yang di anggapnya sebagai bidadari. Semoga kau memiliki kehidupan yang bahagia. Salam untuk ayahmu. selamat tinggal. ujar cyrus dengan bahasa isyarat. Selamat tinggal. Jawab farah sembari menutup jendela mobilnya. mobil pun melaju dengan kencang meninggalkan desa Al-wadi dengan farah yang tengah menangis terisak-isak di dalamnya.

*******

Sembilan tahun berlalu sudah setelah peristiwa perpisahan. Farah telah lulus dari universitas dan menempati posisi CEO di perusahaan milik ayahnya. Selama itu pula telah banyak para pemuda kaya raya yang melamarnya. Namun dengan halus ia menolak semua tawaran itu. Hatinya tetap merasa gundah gelisah dan selalu teringat akan cyrus, sang pemuda tampan yang telah menawan hatinya. farah apa kau ingin menjadi perawan tua? umurmu sudah 29 tahun, namun belum ada seorang pria pun yang berhasil menawan hatimu. apa yang sebenarnya terjadi sayang? tanya Mr.darius suatu kali. tidak ada apa-apa ayah. hanya saja hatiku telah di miliki oleh cyrus sehingga berat bagiku untuk bisa mencintai pria lain. jawab farah sembari menerawang. huh….kenapa kau tidak menemuinya saja sayang? katakan padanya bahwa kau mencintainya. Ayah yakin ia juga sangat mencintaimu. balas mr darius. Itu tidak mungkin ayah. Ayah tahu kan kalau dia itu cacat. dia bisu dan juga tuli. Dia bukan calon yang tepat untuk putri pemilik perusahaan seperti aku. jawab farah sembari menghela nafas

Mr. darius kembali menghela nafas panjang. di tataplah mata putrinya. Ketahuilah farah, meskipun cyrus adalah orang yang cacat namun ia seorang pria yang sangat cerdas. Ia juga seorang pemuda yang ramah dan penuh dengan kehangatan. Bagi ayah, kecacatan cyrus seharusnya bukanlah halangan bagimu untuk menikah dengannya. Seharusnya kau juga sadar bahwa seseorang hanya dapat di nilai dari kecerdasan dan sikapnya, bukan dari kekurangan yang dimilikinya. Nasehat mr.darius kepada putrinya. Farah hanya mengangguk, di peluknya sang ayah

3 Responses to “Layang-Layang”

  1. on 07 May 2007 at 08:44KID

    Ceritanya bagus tapi sayang kenapa endingnya tidak dikembangkan lebih jauh lagi dan ada perasasaan seperti ada cerita yang terpotong.

  2. on 10 Sep 2007 at 18:53kiki

    bags bangt cer1tanya .menynth hati,,
    cRta ini ngingAtin Aq ma TmN Q yang Dh pergI jg.
    thanks Bgt dah Bt cer!ta ini.
    PersahabTn memG sanGt Berarti SekaRg maupn UntK slmx

  3. on 28 Dec 2008 at 10:44jerry

    ternyata berdasarkan yg bernama burung phoenix ada tapi dia adalah burung pada zaman dahulu yg hidu di gunung api

Tinggalkan Komentar