Surat Pendek Buat Shinta
Februari 20th, 2007 by king
Salam Kecup Rona rekah Bibirmu,-
Shin di pagi buta nan sejuk, aku bersandar di bangku bale sambil menikmati secangkir kopi dan rokok, juga pemandangan di awal tahun, musim penghujan pemberian alam. Ya, maaf beberapa hari ini aku tak bisa menghubungi kamu, mungkin karena musibah banjir di beberapa tempat di jakarata hingga beberapa fasilitas komunikasi ada yang terputus. Tapi syukurlah semalam semua sudah lancar hingga aku bisa berkirim email ke kamu, walau meski Cuma surat email aku sudah cukup bahagia, sedikit rinduku tercurahkan ke pada kamu. Benar adanya shin betapa aku rindu kamu, rindukan manjamu saat kau sepulang kerja, rindukan senyummu di putih pasih wajahmu nan sendu, ya aku tak menyangkal betapa aku merindukan segalanya dari dirimu shin. Dan akupun tak mau banyak janji tentang cinta kepadamu shin, bagiku selama kamu adalah jiwaku aku terus menantimu dan takan melepaskan kamu, dan mungkin juga akupun tak banyak janji di cerita hidup ini, apakah aku bisa beri cerita indah kepada kamu? Atau panjangnya usia asmara antara kita berdua akupun tak tahu shin, maka dari itu aku berusaha jalan apa adanya sekarang, meski tak romantis, meski kita berjauhan aku percaya kau setia di sana.
Di sini akupun berusaha menjaga kesingkatan sebuah rasa di hidup ini shin, menjaga mawar harum sebuah rasa dari dirimu shin, meski mungkin banyak rintangan yang tercipta oleh diri sendiri. Ya, seperti banjir yang melanda rumahku meski Cuma semalam terus surut itu air, tapi cukup cemas juga, dan akupun tak mau menyebut banjir rumahku ini sebuah cobaan dariNya, aku sadar rumahku dekat danau dan bila musim penghujan air sedikit meluap dari danau itu sedangkan saluran air untuk pembuangan air danau itu cukup minim, dan di timpa warga setempat buang sampah di sebarang tempat. Alhasil ketika musim penghujan airnya tak bisa jalan dan meluap. Oleh karena itu shin aku terus mencoba menjaga dan memupuk rasa yang kau beri terhadap aku, ya! Sungguh aku terus memupuknya, rasa itu yang hadir begitu mempesona. Walau semua keadaan di antara dua, kita berdua bisa sampai menyongsong matahari terbenam di upuk barat sana hingga ke penghujungnya, atau meski Cuma sampai terasa matahari bersinar di atas kepala saja?sungguh! aku tak perdulikan itu yang jelas saat ini hatiku sudah menyebut namamu meski pelan dan tak merdu, tapi tulus di malam saat sebelum tidur. Shinta, ini kali baru terasa di antara singkatnya semua musim, begitu juga mungkin dengan kehidupan ini yang penuh dengan cerita cinta, ya, cerita cinta yang begitu singkat, sesingkat hari yang terus berjalan, kalau kau tak percaya coba saja kau lihat di milis-milis internet atau surat-surat kabar yang menyediakan tempat untuk bahasa sastra, begitu banyak sajak-sajak/syair/puisi tentang cinta, kehidupan, eros, juga berbagai macam paduan tentang birahi yang menggebu-gebu, seolah meneriakan ”AKU RINDU KAMU DAN AKU CINTA KAMU TAHUKAH KAMU ? ”, yer, begitu juga aku terkadang tidak tahan menahan rasa aneh di dada, hingga aku menulis di kertas atau di mana pun yang bisa aku tulis entah itu di tembok, atau di sebuah pagar pinggir jalan, dan akupun tak mau menyebut tulisanku itu sebuah sajak/syair/ ataupun puisi, aku hanya menyebutnya itu adalah catatan harianku, ya catatan harian yang tak punya tempat untuk berdiri dan untuk berteduh di suatu musim hujan, panas, malam, atau Cuma sekedar tidur selepas terbaca. Juga sama yang aku tulis tentang dirimu dengan embel-embel sebuah judul di atasnya, itu adalah catatan harianku, ya mungkin juga aku tak mencatatnya setiap hari. Terkadang aku menulisnya saat semua tak ada batas, bukan sekedar hayalan belaka anak-naka kecil menghayal terbang seperti superman, tetapi aku menghayal/berimajinasi sungguh hidup di hati dan apa adanya, bergelut denganmu di dunia yang lain, coba saja kau baca dan resapi catatan harianku yang aku kirim kepadamu itu dengan hati tulus dan dengan mencoba menangkap imajinasiku di tulisan catatan harianku itu, betapa hangatnya peluk kecup kita berdua di sana. Sungguh, meski Cuma sebuah imajinasi, tapi aku toreh jalan baru di sana, jalan hari depan, yer, sebuah badan jalan-jalan di antara singkat kehidupan, juga lengkap dengan mimpi-mimpi yang bisa menjadi nyata dengan penghayatan jalin kasih asmara antara kita saat ini. Yer, semakin tersadar ketika mendengar kabar seorang teman yang kemarin bermabuk bersama, menghabiskan berbotol-botol minuman keras di malam tahun baru, kini malam tahun barupun telah berlalu, bersama satu temanku itu menyelinap di tahun yang baru dengan hari-hari kelabu, dan kini tinggal tunggu tahun baru di awal tahun depan, dan tak tahu berada di dunia seperti apa ia sekarang?. Maka dari itu dengan hadir surat emailku ini aku sedikit ingin menyakinkan bahwasannya aku tak bisa lepas darimu, aku begitu teramat sayang padamu Shinta Mauli, ya aku sayang kamu. Mungkin episode cerita langkah kakiku akan lebih singkat bila tak ada dirimu di sisiku, dan selalu dirimu aku yakinkan di hatiku ini, inilah jalan asmara antara kau dan aku satu dalam jiwa. Meski semuanya mungkin bisa berakhir dari kesalahan-kesalahan diri kita ini shin, dari sebab itulah aku tulis surat email seperti ini biar kita sama-sama saling percaya satu sama lain dengan jalin asmara ini dengan penuh rasa bumbu yang hadir tercampur di jalan langkah kaki kita. Aku tak mau kehilangan kamu Shin, ya seperti kehilangan indah bulan purnama di malam hari, masih bisa di tunggu kemunculannya tahun depan, tetapi kehilangan kasih yang tercurah dari hati seorang perempuan yang di sayanginya, kemungkinan besar sulit di tunggu kembali kehadirannya. Karena kasih dan rasa sayang adalah satu di badan jiwa, yang mana satu di antaranya hilang serasa hidup tak pernah terbumbui. aku tak bisa janji panjang di angan-angan sebuah tulisan yang mellow dan romantis yang terbumbui khayalan diri dan bukan nyata yang di rasa. Tetapi yang aku berikan sebuah makna nyata dari bait kebait sebuah tulisan yang aku petik dari kesadaran jiwa-jiwa di alam raya, ya, sebuah tulisan catatan harian yang bertaburan di ruang sepi, tetapi berkandung makna untuk bercerita. Percayalah manis!.
Yer, percayalah kepadaku, percayakanlah hatimu kepadaku selamanya.
Dan sudikah kamu menghapus air mataku yang terurai, lembab karena rindu?, yer, ini mungkin pertanyaan yang bodoh tetapi memang harus di pertanyakan. Biar terang segala nampak, tiada rasa curiga di matanya hati, tahukah kamu betapa semua yang terlihat hanya bayang-bayang yang gelisah mencari tahu di mana seraut lembut kekasih pagi ini, siang ini, malam ini, begitu telpon berdering hati langsung menggebu di kira yang hadir suara kekasih di sebrang sana, nyatanya bukan. Hingga membuat aku bingung apakah ini memang cinta?, adanya begitu lues, begitu jernih, begitu lembut suara-suaranya, hingga membuat semua nampak ceria dan sesaat menjadi gelisah. Dan untuk ini salahkah aku mengatakannya bukan cinta tetapi sebuah jiwa yang menyatu?, ya sebuah jiwa yang bertemu titik garis batas di luar yang nyata menjadi sunyata, sunyata yang begitu indah dengan jalan-jalan yang berkerlip bertebaran bunga-bunga dengan khas wanginya yang menyengat hidung, sunyata yang bisa berpeluk mesra saling mencumbu di atas segalanya di dalam ruang tiada batas. Bisa membuat segalanya di belakang dan membalik diri menjadi yang pertama, yah, aku merasa ini adalah sunyata dari dunia, aku merasa ini kalikah aku menemu titik pusat yang dikata banyak orang adalah cinta?, mungkin juga benar adanya begitu, tapi yang kurasa memang bukan yang biasa sedulu pernah terjadi. Ini adalah kisah jiwa yang mulai merangkul kelurusan dari hal yang dibilang banyak orang cinta, tapi aku tak mau menyebutnya cinta, sebabnya aku tak tahu artinya cinta, justru aku lebih mengena menyebutnya sebuah jiwa yang bertemu titik batas di luar yang nyata menjadi sunyata, karena jiwa adalah hakiki adanya dan agung ;
” saya telah menerima uang berbentuk keping emas di akhir musim semi ini dua ribu keping banyaknya, tapi Cuma satu malam kuhabiskan di sebuah kedai arak, di tikungan 4 malam 2 kelok jalan kearah barat, bertemu simpang lalu berputar kearah utara. Sungguh tiada harta apapun bagi manusia berperasaan, selain harta jiwa baginya.”
mari bersama kau dan aku berjalan lurus yang telah tercipta antara temu ujung hatimu dan hatiku, jua hilangkan segala ragu dan sesal di dalam hati, mari saling menjabat tangan satukan jemari-jemari tangan kita, biar bersentuhan dengan asmara yang tercipta.
Antara tanah tenang yang tandus
Menghampar luas di telan api
Sepi, sunyi tiada kehidupan, serasa semua;
Telah mau di telan maut mau merangkul …
Cuma asap yang mengepul tinggi
Antara gerimis yang bernyanyi-nyanyi,
mari! Kita menjelma jadi bibit unggul
yang terbawa angin melayang bebas
jatuh di tanah yang tandus,
tumbuh menjadi pohon yang rindang
dengan batang yang sederhana.
Yah, mungkin kita hapal betul ketika berjalan di suatu taman, dan melihat bangku panjang di pinggir danau mini, pas sekali bangku itu di bawah pohon yang rindang kebetulan juga hari mulai sore 16.15 saat matahari terbenam sedang memerahnya awan-awan di ketinggian sana. Sama memerahnya kedua pipi sang kekasih dalam peluk dada ini awan-awan itu.
Tapi mungkin lain hal dengan cerita dan kisah kita, kubuat kau lebih sungkan terhadap dada dan diriku tak seperti sore yang malu merona merah di kedua pipinya, tak juga kau merasakan duduk di bangku panjang pinggir danau mini di bawah pohon rindang di sebuah taman, tapi ku ajak kau menjadi pohon rindang itu. Di mana berakar kuat kokoh tiada sedu dan sedan di bawahnya, meski badai meraung menangis kita tak akan pernah goyah. Mungkin akan tumbang dan mencium tanah-tanah yang tenang setelah ada rasa tak pecaya antara kita, semua kan layu melebur dengan rasa sesal memukul-mukul yang terpendam. Karena ku yakin ini beda adanya dari yang lain bukan sekedar cinta, ya, cinta yang cengeng penuh sedu, tetapi ini adalah sentuhan jiwa antara kau dan aku, begitulah yang kurasa. Ingin kuciptakan nuansa baru tidak terikat komunitas, kita bebas melayang terjelma menjadi angin yang sederhan mengitari alam semesta.
Ada banyak gugusan bintang berguguran
Tak satupun akan ku minta dari langit, untuk
Kupersembahkan kepadamu;
Karena kutahu mereka manjadi debu tergugus oleh atmosfir
Begitu indah tali-tali pelangi di senja gerimis di atas sana
Tak satupun warnanya akan kuambil, untuk kupersembahkan
Kepadamu; ku tahu pelangi bila malam tak berseri
Surut gerimispun tak akan datang.
Satu yang kuberi, setetes darah:
Demi menelurkan jiwa-jiwa baru dari alam semesta,
Terlahir sebagai fakta dari jerit ruang tiada batas …
Dari theater-theater keariban malam yang penuh canda
Tawa, amarah, kebencian, kesucian, kebahagiaan, semua!
Jadi satu berbaur dalam setetes darah …
Lahirkanlah darah itu, meski setetes; sungguh terasa arib
Jikalau malam terlalu larut dari kelarutan.
Kau ratuku
Terimalah persembahanku.
Maka dari itu marilah kita menjelma menjadi angin, berada di manapun kita terus akan hidup, di gunung-gunung, di kedalaman laut, di lubang-lubang yang sempit, di hutan-hutan, atau di dalam sumur, bahkan di dalam dada manusia sekalipun. Tak terikat komunitas penuh berbau perekat, yer, untukmu kasih temali jiwa ratu dari segala ratu, sudah aku buat sebuah jalan yang bebas nan sederhana, menyatu bersama air di lautan luas, bergurau bersama tanah-tanah yang tenang, bahkan bersatu padu bersama api, membentuk suatu perisai kesadaran yang kokoh. Ini jalan mulai terbangun tinggal menunggu telapak kakimu meresmikan jalan-jalan yang sudah terbangun.
Maaf kiranya aku tak bisa memberi bahasa yang puitik nan romantis, tapi inilah adanya, sebuah bahasa jiwa yang mulai menggila. Mulai meronta juga mulai melukis cerita hari di sini yang melekat erat denganku, cerita yang selalu membawa bayang jiwamu kemanapun aku melangkah. Entah itu melangkah dekat dengan alam lain ataupun melangkah di nyatanya hidup, mungkin juga bahasa yang aku tulis ini surut akan makna tapi aku tak pedulikan itu, karena ku tahu hadir atau tidaknya makna dalam tulisan itu, tergantung perasaan seseorang yang menelan dan membacanya. Seperti apakah kondisi perasaan jiwa orang itu yang membacanya, karena ” karunia muncul dari perasaan hati dan menghiasi diri ”. Seperti halnya saat ini perasaan hatiku sedang mencurahkan rasanya yang di kecap, sebuah rasa yang tercurah akan hadirnya dirimu, akan terpesonannya dirimu. Itulah rasanya perasaan hatiku saat ini.
Mungkin ini suatu bahan, bahan lembaran baru pijakan kaki, bahan yang bisa membuat perubahan besar akan pandangan terhadap segala sesuatu, padangan terhadap orang lain, pandangan terhadap diri sendiri, yang selalu berpikir ” apakah aku sudah begitu tampankah untuk bertemu dengannya? ”. Akupun tak pernah menyangkal akan hadirnya Bahan ini, bahan yang menghadirkan bisikan-bisikan sebuah lagu, yang melantun merdu. Teramat merdu untuk di lewati.
Tapi sayang kini dirimu Cuma mimpi yang tak pernah akan tergapai, Cuma angan yang menemani, setelah itu entah apa lagi yang akan hadir aku tak tahu. Sebelum berpucukpun bibit pohon rindang ini telah musnah, yah, bisa di katakan sebuah bibit gagal. Tapi aku tidak putus asa, mungkin benar adanya, aku salah mengarap tanah dari pagi hingga sore, ya, tanah yang salah tidak cocok dengan bakal bibitnya. Mungkin nanti akukan mencoba dengan bibit yang lain, hingga terpeluk jiwa ini dengan batas nyata menjadi sunyata yang hakiki, ya, berpeluk bersama jiwa yang tulus dari ketulusannya, tiada dusta karena dusta telah menjelma menjadi nyata, tiada maya karena maya telah menjelma menjadi fakta, jua tiada tangis karena air mata menjelma menjadi rindu yang merekatkan antara jiwa dan alam semesta. Biarlah dirimu bahagia di sana saling berpeluk dengan jiwa yang benar-benar gugusan dari jiwamu, akan semua ini aku jadi teringat sebuah kisah cinta yang menurutku paling bodoh juga mungkin paling tulus entahlah, nyatanya mereka mati demi hati yang terkasihi, yer, Romeo N Juliet. Tapi disini aku lebih memfokuskan ke seseorang yang banyak orang bilang dia adalah seorang legendaris sastra indonesia.
Yer, seorang yang muda, yang begitu kokoh jiwanya atas kedewasaan dalam diri dan hidupnya, ia adalah Chairil Anwar. Yah aku sangat bersyukur atas pertemuan singkat kita ini, aku jadi mengena dengan hasil karya seorang Chairil Anwar, yang telah lama aku baca tapi tak dapat aku cerna. Beruntunglah aku bisa merasakan hal semacam ini, ya, bisa di katakan patah hati yang sesungguhnya, patah hati yang benar-benar beda dari yang kurasakan sebelumnya. Ini sangat aneh, di sisi lain aku merasa sedih dan di sisi satunya aku merasakan biasa-biasa saja ( sulit di ungkapkan ) perasaan yang satu ini. Mungkin inilah cinta, tapi aku merasa janggal mengatakan ini cinta, lebih sreg di hati mengatakan ini adala ” jiwa”, jiwa yang menyentuh titik garis batas antara dunia nyata dengan syunyata, mungkin sangat aneh bila aku berpendapat demikian, tapi seperti inilah saat ini aku merasakannya. Malah sangat bodoh bagiku menyatakan ini adalah cinta, jadi satu pertanyaan bagi diriku, seperti apa sih cinta itu? Kenapa mulutku rasanya begitu lincah menyebut Cinta?sedang terkadang begitu berbeda dalam hati, jadi seperti lain di mulut lain di hati, sungguh aneh bagiku. Malah lebih enak menyebutnya adalah jiwa yang merasakan sebuah lagu yang amat terindah, dengan tangan dan kakinya mencari sumber lagu itu, betulkan?, ya, seperti halnya seorang Chairil Anwar, iapun tak luput dari perasaan seperti ini ( patah hati ), coba saja kita tengok sajak-sajak puitis akan cinta dari tangannya, begitu menyentuh, begitu indah, begitu kokoh, penuh tangis dibahasa itu. Bahasa yang terkandung penuh dengan cerita dari seorang Chairil Anwar, seperti itulah aku saat ini berpandangan terhadap karya seorang yang muda dari seorang Chairil Anwar yang begitu kokoh di lihat, tapi di balik kekokohan itu begitu banyak tangis. Yer, ini hanya pandanganku saja, bisa juga berbeda dengan pandangan yang lainnya, ya, mungkin juga bisa sama, yer, kalau menurutku tergantung seperti apa perasaan orang itu saat sedang membacanya, betulkan?…..,-
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
Di atas sebuah sajak karya Chairil Anwar, menurutku sajak inilah sebuah patahan bahkan keremukan hati yang abadi sepanjang masa, bagi mereka yang merasakan patah hati/gagal menjalin kasih dengan orang yang di cintainya. Meski ada penuturan pada orang yang bersangkutan atas nama Sri Ajati, ia bertutur bahwa Chairil Anwar tak pernah menyatakan cinta, tapi sungguh sajak itu sangat menyentuh perasaan jiwa, atas cerita keadaan alam di sekitarnya, sebuah pelabuhan kecil. Tapi bagiku sajak itu sebuah kekokohan perasaan dan sebuah keikhlasan perasaan jiwa, walau meski banyak orang bilang sajak itu sebuah keremukan hati yang mendalam bahkan para penyair besarpun berkata sajak itu sungguh amat dalam dengan keremukan hati, rasa keputus asaan, tak ada harapan di sana, seperti itulah banyak orang memandangnya. Memang setiap pandangan sungguh sangat berbeda dari satu dengan yang lainnya, tak heran jika ” karunia muncul dari perasaan hati dan menghias diri ”, aku memandang sajak itu dengan sebuah perumpamaan seolah bagiku, Chairil Anwar sedang mencari jiwanya sendiri, seperti berkata ” di mana aku ini saat sedang seperti ini, di mana dia, dia jiwaku saat sedang seperti ini ? ”, memang sungguh sangat ngilu jika kita gagal memetik kasih sayang dari seseorang yang kita sayangi, akupun tak dapat memungkirinya, saat ini saat sedang menulis ini akupun sedang kecewa, ya, kecewa apalah lagi nanti ?. kembali kepada sajak Chairil Anwar, yer, aku merasa sajak itu berbicara dalam perumpamaan seperti, ” biarlah semua bahagia, rasa ini Cuma untuk di kenang dalam kebisuan layak sebuah gudang yang menyimpan kenangan, diam terbungkam Cuma bercerita kepada senja dan panorama pelabuhan ini, menangis, bersedih Cuma memperpuruk perasaan”, seperti itulah aku memandangnya, ya, hingga tampak seorang Chairil Anwar sedang memperkokoh jiwanya, saat mengalami patah hati. Menurutku terasa sangat bodoh sekali bila kita mengalami patah hati, sampai mengakhiri hidupnya sendiri, atau tidak enak makan sampai 1 minggu, ya, memang sangat sulit untuk melupakan seseorang yang sudah pernah saling menyanyangi dan di sayangi. Nyatanya memang seorang Chairil Anwarpun tak luput dari perasaan seperti ini ( patah hati ), patah hati memang sudah melekat kepada diri kita, sebagai mahluk berperasaan. Alangkah indahnya kita ( sedang patah hati ), ikhlaskan saja para kekasih merajut tali kasih bersama yang lain, doakan saja semoga ia menemukan kebahagian yang ia cari, mungkin kebahagian itu tak di temukannya atas diri kita ( yang sedang patah hati ), Seperti itu kan cinta ? yang timbul dari perasaan jiwa. Rasanya sebuah sajak senja di pelabuhan kecil sedang bercerita kekokohan perasaan jiwa, mungkin memang itu hanya pandanganku saja, tapi memang keadaan dari faktanya kan seperti itu.
Aku juga berharap semoga kamu bahagia di sana Shinta, ya, jangan katakan lagi bahagia untukmu tak akan datang, sungguh sebenarnya bahagiamu sudah di depan mata, tinggal bagai mana caranya kamu menyikapi kebahagiaan itu.
Segala yang terjadi, bacalah maknanya jangan harfiahnya.
aking
ketika cinta menggeloran dalam dada apapun bisa terjadi
sesuatu akan nampak terasa indah …
bahkan ketika dalam keadaan apapun juga bila bisa meresapi
hakikat cinta sebenarnya semua pasti terasa surga
meski kita belum sempat mengenyam nikmatnya surga…
bagi penulis seperti aking untuk shinta, setiap kata yang terucap, mimpi yang terbentuk, gairan yang timbul dan tulisan apabila tertulis maka semua akan begitu indah…
Kita sebagai penikmat/ pembaca merasakan hal luar biasa yang dialami sang aking tsb, mungkin hal terluar biasa yang kita alami hari ini…bgitu juga seterusnya bila kita menyempatkan waktu tuk membaca tulisan, kata, hingga puisi yang terbentuk dari sebunga hati yang sedang berbunga bunga karena cinta
cinta itu indah….
cinta itu anugerah…
cinta membawa kita pada kebahagiaan..
cinta membawa kita pada keterasingan..
mungkin aq juga tertarik untuk menulis berbagai kiasan kata tentang cinta….
moga cinta membawa kita pada kedamaian amin….