Ternyata Masih Ada Cinta di Pinggir Jalan
Februari 13th, 2007 by Autumn Sulistyawati
Setiap sabtu pagi, saya biasanya pergi jogging ke GOR dekat rumah, pagi itu saya sedikit kesiangan, jadi sesampainya di tempat itu suasananya sudah agak sepi, sepertinya acara aerobic-pagi baru saja selesai.
Di tengah area jogging track, ada lapangan yang cukup luas, di tempat itulah biasanya kelas aerobic diadakan, tempat sekumpulan orang bersenam tai chi atau sekedar tempat untuk melakukan stretching.
Sewaktu saya berlari, saya melihat di tengah lapangan ada seorang anak perempuan berusia kira-kira 10 tahun, anak itu menderita down syndrome… Ia sedang melakukan gerakan seolah-olah Ia adalah instruktur senam dan dua perempuan di depannya menirukan gerakan anak itu, saya melihat kebahagiaan dan kebanggaan terpancar keluar dari raut muka si anak, dan hal yang sama juga saya temukan di wajah kedua perempuan yang bersama sama dengan anak itu, yang saya taksir mereka adalah ibu dan sang nenek
Rasanya seperti meneguk segelas air yang menyegarkan ketika saya menyaksikan kejadian itu. Menjalani hidup di dunia yang serba individualitstis, yang segala sesuatunya diukur oleh materi, dan yang dikejar manusia adalah apa yang dinilai sukses oleh dunia, saya termasuk orang yang beruntung yang masih bisa menemukan cinta seperti itu di pinggir jalan.
Suatu keberanian besar, memperlihatkan di muka umum sesuatu yang dianggap oleh dunia adalah suatu ‘kesalahan’. Saya yakin dibalik semua itu ada kuasa Maha Tinggi yang menaungi sang ibu dan nenek, yang membentuk mereka sedemikian rupa sehingga memampukan mereka melampaui apa yang menjadi kekuatan sendiri. Pancaran cinta yang tulus mengalir dari dalam hati, begitu jelas terbaca pada wajah kedua perempuan itu bahkan ketika apa yang mereka punya bukan apa yang bisa dibanggakan pada dunia.
Dalam perjalanan pulang di kendaraan umum, pikiran saya masih dipenuhi kejadian yang tadi saya alami, lamunan saya tersentak ketika seorang ibu tua berteriak “kiri” meminta pak sopir berhenti, ibu itu segera melangkah pergi setelah membayar ongkos tapi tiba-tiba pak sopir memanggil si ibu, si ibu berbalik dan dengan muka masam mengatakan “biasa juga seribu, kan jaraknya dekat…” lalu pak sopir bilang kalau uang yang ibu kasih adalah sepuluh ribu, sambil menahan malu si ibu menerima uang kembalinya.disertai ucapan terimakasih dan senyum yang sangat tulus.
Saya tidak menyangka hari itu saya menemukan banyak cinta di pinggir jalan, begitu mudahnya kalau pak sopir pura pura tidak tahu dan mengambil ongkos yang kelebihan, apalagi di tengah tuntutan mengejar setoran dan hidup yang serba keras. Satu hal lagi yang unik, si ibu adalah WNI keturunan dan pak sopir orang Pribumi, alangkah indahnya dunia ini kalau cinta bisa menyentuh semua manusia, bahkan yang disertai oleh perbedaan.
Menutup kisah cinta saya, seorang teman berbagi cerita tentang kisah ‘cinta’nya. Sebulan yang lalu, dia secara tak sengaja membuat mobil seorang rekan kerja penyok di tempat parkir di kantornya. Dia begitu terharu mendengar ungkapan yang keluar dari sang bapak pemilik mobil, yang sama sekali tidak marah malahan justru mengeluarkan kata-kata yang menenangkan dia, yang saat itu dalam kondisi panik. Teman saya menutup kisahnya dengan menarik kesimpulan bahwa kita tidak bisa menghindar dari kejadian yang tidak baik tapi kita bisa memilih bagaimana kita bereaksi terhadapnya. kita memilih untuk marah atau melakukan hal yang negatif atau kita memilih untuk tetap tenang dan berpikir positif. Ternyata… di tengah dunia yang seegois ini kita masih bisa menemukan cinta bertebaran di ‘pinggir jalan’…