Membakar Surga Menghanguskan Neraka
Februari 9th, 2007 by sebaitmakna
Aku ingin bersujud kepada-Mu dengan penuh linangan kalbu
Menebarkan pancaran suci yang memancar dari relung jiwa terdalam
Agar ku menyentuh tepian Robbu
Menuju bayang yang menggurindamWahai Sang Maha Pencipta Mayapada
Mengapa kau menghadirkan keindahan tak terkira dalam surga ?
Mengapa kau menajamkan kepedihan tak terperi di neraka?
Karena itu semua membuat manusia berpamrih
Aku di sini duduk bersimpuh kepada Mu
Aku di sini menyembah mengbumbung tinggikan Asma-Mu
Aku di sini ( masa lalu, saat ini, dan hingga akhir hayat ) aku selalu melakukan perintah Mu dengan sesempurna sebuah untaian ketulusan
Maka jika ku boleh memilih
Akan kubakar surga
Akan kuhancurkan neraka
Agar kami semua bertaqwa kepada-Mu tanpa mengenal balasan pamrih
Ah mungkin kau tertawa melihat ku
Yang hanya memiliki secipak bening genangan sukma
Dan semoga lafazt salam penutup doa ku
Berhembus bersama helaian semilir angin
SEBAIT SAJAK DI ANTARA UNTAIAN DEBU
Aku menemuimu
Di sisi badai dan kekelaman kabut
Lalu kita akan bercerita
Tentang seberapa tebal debu yang menghujam tubuh
Rongga ini hanyalah sebuah ruang
Yang kadang memompa hari kita di persimpangan
Mencoba mengejar bait – bait mimpi
Walau terkadang itu hanyalah sebuah fatamorgana
Lalu akan ku basuh sayatan – sayatan duka mu
Lewat tatapan mata dan sebidang bahu yang dapat kau singgahi
Meski terkadang kita lupa
Kekelaman adalah sebuah batu cadas untuk menempuh kemaknaan hidup
Akhirnya …….
Bersabarlah kita
Menyusuri telapak telapak kehidupan yang pernah kita bersama memahatnya.
Malam memekat
Hanya segaris bayang mengaburkan pandangan
Kau pun tertidur
Dalam damai dan ketenangan di sisi pembaringanku.
Posted by sebaitmakna in Puisi. add a comment , edit post
SEBUAH KEAGUNGAN RASA BERNAMA HARU
Rasa itu akan datang
Mengisi ruang ruang di jiwa mu
Trenyuh tak bertepi
Menimbangan dan menghapus sebongkah keangukahan diri
Rasa itu akan datang
Tak mengenal sepenggalan jarak
Tak mengenal sebelangga waktu
Dan mnyergapmu terjerumus ke dalamnya
Rasa itu adalah sebuah bulir dari sebuah kesucian
Bagaikan sang bayi pertama kali melihat keindahan sang mentari pagi
Maka ……….
Biarkan dia masuk ke dalam jiwa mu
Selamilah dan ambil kandungan maknanya
Dan …….
Biarkan tangis itu menciptakan sebuah telaga bening di keindahan pendar pesona mata
Bukan dan sekali bukan
Tangis itu bukan lah kelemahan
Tangis itu bukan berarti tanda dari sebuah kepengecutan
Akhirnya ……..
Sambutnya rasa itu
Dengan penuh kearifan jiwa
Hingga menjadikan hidupmu lebih berwarna.
KANGEN
(Part I)
Aku merindukan mu di ketinggian malam
Masih mencari rautan wajah mu diserakan bintang
Masih mencari hembusan napasmu lewat semilir angin yang bersahutan
Meski kau tak pernah kunjung menjelma
Kau menghilang ………
Bagaikan tetesan gerimis yang menghapus saputan kenangan
Kau melenyap ………..
Bagaikan untain embun yang terkena pendar sinar mentari pagi
Di ujung samudera
Siluet senja menguning mengisi rarakan mega
Di jung pegunungan
Sang matahari merebah sebelum menyibak tirai malam
Namun hingga saat ini kau masih saja tak kunjung menjelma
Kepergian mu ……..
Meninggalkan penyesalan terdalam di sanubari ku
Namun kehadiranmu akan selalu kunanti
Hingga mataku memejam abadi
-.-
KANGEN
(Part II)
Di ujung pendar sinar rembulan
Aku memandangmu
Tanpa untaian kata dan penggalan bahasa
Kita hanya saling membaca rahasia jiwa
Kau pun menjauh
Sejauh jangkauan yang dapat jemari ku menggengam
Kau pun melenyap
Laksana kabut yang terkena semilir angin
Namun bagi ku sepanjang kebersamaan yang pernah kita pahat
Adalah sebuah kenangan terindah yang akan selalu teringat hingga akhir hayat
Nb: Di sebuah pemakaman seorang laki – laki tersenyum memandang sebuah nisan