KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Aku Yang Terkasih

Oleh: Harleni Desrian

Es krim itu tumpah. Tepat mengenai baju putihku. Mulutku menganga lebar, hampir tidak percaya pada kejadian yang menimpaku siang ini. Murid-murid lain yang berlalu-lalang di sekitarku berhenti, menunggu detik demi detik luapan emosiku.

Siang yang panas memang dan semua orang menginginkan es krim. Tapi apa pantas kalau kejadiannya seperti ini?

Kugeser letak kacamataku ke atas lalu menatap pada orang yang telah menumpahkan es krimnya ke seragamku yang putih bersih tanpa noda setitikpun.

“M-m-ma-af…..”, ucapnya terbata.

Seorang cewek setinggi telingaku. Murid kelas dua keliataannya.

Tenang….Tenang, Kiran….Banyak orang yang sedang memperhatikanmu sekarang…..Jaga image-mu….kudengar batinku menenangkan.

Batinku benar. Aku tidak mau merusak nama baikku hanya karena masalah ini.

Aku, Kirani Syarief, berdarah biru, berotak encer, sopan, santun, cantik, multi-talenta, dikagumi banyak orang, lembut dan sederet kebaikan lainnya.

Aku tidak boleh mencoreng arang ke mukaku sendiri.

Dia hanya adik kelas yang seharusnya kuperlukan dengan penuh kasih sayang.

Murid-murid masih menantikan ledakan emosiku.

Aku memandang sekeliling lalu kembali menatap gadis di hadapanku itu.

Aku tersenyum.

Semanis mungkin.

Lalu aku mengangkat dagunya.

“Gak pa-pa, kok!”, nada riang palsuku kembali meluncur dari bibir mungilku.

Semua orang melotot tidak percaya, termasuk gadis itu.

“Besok lebih hati-hati, ya?”, aku mengusap kepalanya lalu berjalan ke kamar kecil. Membersihkan noda es krim keparat ini.

* * *

Aku duduk di atas kloset dengan gelisah. Kuremas tanganku yang dingin oleh keringat. Tubuhku bergerak maju-mundur.

Apa?! Apa yang bisa menjadi bahan pelampiasanku sekarang?! Apa?!

Pandanganku mengedar ke pojok-pojok kamar mandi dengan tergesa-gesa.

Apa yang bisa kucabik-cabik?!

Ada seekor cicak, tidak terlalu tinggi untuk kujangkau.

Aku berdiri dengan gelisah lalu pergi ke tempat cicak itu masih menempel.

Kurogoh kantong rokku dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang selalu kubawa kemanapun.

“Mati! Mati lo sekarang! Dasar cicak keparat! Lo pikir lo siapa berani numpahin es krim ke baju gue?!”, aku membunuh cicak tak berdosa itu. Menusuk-nusuk badannya.

Binatang malang itu jatuh ke lantai setelah mendapat tusukan bertubi-tubi dariku.

Setelah melihat ia mati, aku keluar dari toilet dengan wajah tadi. Tenang dan anggun.

* * *

Sebuah penghapus karet melayang ke kepalaku. Aku menoleh ke belakang lalu kulihat Sri sedang menatapku dengan gelisah.

“Nomor dua…”, ucapnya tanpa suara.

Aku berbalik. Kurobek selembar kertas lalu menuliskan jawaban soal nomor dua untuk Sri tak tau diri itu.

Aku melempar kertas itu padanya.

Lalu kepalaku kembali kejatuhan sesuatu. Kali ini sebuah kertas.

Aku mengutipnya. Membaca apa yang ditulis di situ.

Lagi-lagi mengemis jawaban dariku.

Aku menuliskan jawaban soal nomor lima dan enam lalu melemparkannya.

Mia, teman sebangkuku, menarik lembar jawabanku tanpa minta izin terlebih dulu. Kontan aku menganga. Kenapa dia begitu tidak sopan?!

* * *

Aku pulang. Dengan gelisah yang tak pernah berhenti walaupun tubuhku telah banjir oleh keringat.

Di mobil, aku hanya diam dan meledak marah ketika supirku mengajak ngobrol.

Sesampai di rumah, aku langsung menuju kamar.

Lagi-lagi aku duduk sambil meremas tangan yang basah. Tubuhku bergerak maju-mundur. Aku memandang ke seluruh penjuru kamar.

Tidak ada cicak. Tidak ada kecoa. Tidak ada tikus, apalagi nyamuk atau hanya seekor lalat.

Aku berlari ke belakang rumah. Berharap masih ada yang tersisa di kandang. Tapi begitu aku sampai di sana, kandang-kandang itu kosong melompong.

Burung-burung di kandang pertama sudah habis kubunuh setiap aku merasa gelisah karena sikap teman-teman sekelasku yang kurang ajar.

Iguana di kandang kedua juga sudah tidak ada. Kubunuh pada saat aku gelisah karena kedua orangtuaku yang super-duper sibuk melupakan ulang tahunku lagi dan lagi.

Monyet di kandang ketiga sudah kubunuh ketika gelisah menjalar di seluruh sarafku karena ternyata Bimo, pacaraku, kulihat bergandengan mesra dengan cewek lain di mall.

Lalu sekarang apa yang bisa kubunuh untuk meredakan kegelisahan ini?! Apa yang bisa kutusuk untuk melenyapkan emosi terendap ini?!

Seekor kucing melompat memasuki halaman belakang rumahku. Lama aku memandangnya lalu masuk ke dapur dan mengambil sebuah pisau panjang untuk mengoyak-ngoyak isi perutnya.

“Apa orang seperti kalian pantas disebut teman?! Kalian hanya benalu! Hanya benalu! Mentang-mentang aku tak pernah marah lalu seenaknya memperlakukanku begitu?! Keparat!”, aku tenggelam dalam emosi terpendamku dan terus mencabik-cabik kucing yang telah tanpa nyawa itu.

Terus kusayat-sayat hingga kurasa gelisahku telah tiada.

* * *

Bimo, orang yang paling kusayangi di dunia ini tiba-tiba datang. Kontan saja aku memeluknya. Meluapkan rasa bahagiaku padanya.

Aku menawarinya macam-macam, tapi dia menolak. Dia bilang tidak bisa lama-lama dan hanya perlu beberapa menit untuk bicara padaku.

Aku menanggapinya dengan semangat yang menggebu-gebu. Aku sudah tidak sabar ketika dia menarik nafas lalu bicara.

“Ran, aku mau putus.”

Aku beku. Kaku. Seketika.

Pandanganku tidak bisa lari darinya.

Aku terkejut. Kata-kata itu begitu mudah meluncur dari mulutnya. Tanpa ragu-ragu Bimo menatapku. Aku bisa melihat keseriusan di matanya. Bimo benar-benar memutuskanku.

Pantas saja ia langsung melerai pelukanku. Menolak ditawari macam-macam. Dan bilang hanya butuh beberapa menit untuk bicara denganku.

Aku diam. Terus diam hingga Bimo berpendapat aku setuju.

Rengekanku agar Bimo tidak memutuskanku tercekat di leher. Aku tidak bisa berkata-kata. Dan akhirnya Bimo pergi tanpa memberikan alasannya.

Bimo. Orang yang paling kucintai di seluruh dunia ini tidak mencintaiku lagi….

Itulah kenyataan.

Aku berlari ke kamar.

Duduk di sudut tempat tidur. Menggerak-gerakkan tubuhku seperti biasa. Meremas kedua tanganku yang kini lebih banyak berkeringat dari biasanya.

Kali ini pandanganku tidak lari kesana-kemari. Hanya menatap kosong ke bawah.

“Saya tidak mau dibuat malu lagi oleh kamu! Kita ini keluarga ningrat! Apa salahnya kamu menaham emosimu dulu dan meluapkannya di rumah agar tidak ada seorangpun yang tau!”, lelaki yang kupanggil Papa itu bahkan tidak sudi menoleh padaku hanya karena aku berkata kasar pada gadis yang menghina gaunku pada pesta ulang tahun Opa. Gaun itu hadiah dari Oma yang kini telah tiada. Oma yang snagat mencintaiku.

“Sekali lagi saya lihat kamu marah-marah di depan umum seperti tadi, jangan harap kamu boleh keluar lagi!”, perempuan yang kupanggil Mama itu menyambung. Ia bahkan tidak membelaku.

“Mulai sekarang kamu harus bisa mengendalikan emosimu! Pecahkan saja barang yang kamu inginkan di rumah! Tapi tidak di depan orang! Mengerti?!”, lelaki itu melotot padaku seolah aku bukanlah anaknya. Urat-urat di lehernya menegang.

Tubuhku terus bergerak maju-mundur. Aku tidak bisa menghentikan otakku yang terus-terusan memutar ulang kejadian itu. Hatiku semakin resah. Jiwaku bertambah gelisah.

Aku melihat gunting di atas meja belajar. Berpikir apa yang bisa kucabik kali ini.

Yang kali ini harus lebih dahsyat dari yang kemarin-kemarin! Batinku menghasut.

Kuraih gunting itu lalu duduk di pojok kamar.

Mulai menusuk-nusuk. Lalu mengalirlah darah segar. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Darah merah itu merembes dari bajuku dan tergenang di lantai.

Aku terus mencabik-cabik hingga kurasa pandanganku mengabur.

Mataku perlahan menutup. Lalu aku sudah tidak sadarkan diri.

Bahkan tidak ada lagi rasa nyeri yang kurasa ketika aku mencabik perutku sendiri.

Nyeri dan perih itu telah mati, dibunuh oleh emosi yang terpendam. Yang sebenarnya tidak pernah hilang karena aku tidak pernah diajari cara memaafkan kecuali cara memendam emosi.

4 Responses to “Aku Yang Terkasih”

  1. on 03 Mar 2007 at 04:49zaini

    Bagus ceritanya, pesan yang disampaikan juga demikian halus membuat tulisan ini sangat menyenangkan.

  2. on 02 Jun 2007 at 20:51dudu

    giiila!!! ini cerita sadis bo! ada bagusnya sich… bagian peran ortu gitu deh! tapi lo! menusuk perut sendiri! berulang kali pula?! GILA!!!!

  3. on 28 Apr 2008 at 12:48Angelie

    Cerpen yg Bagusssssssssss.

  4. on 25 Nov 2009 at 13:44merlinta (merlin)

    Leni,… ini gue.. dulu kita pernah sekls waktu les di Youth Merduati.. tp emank long time no see and i bet we have lost contact for centuries hehehe LOL

    its such a great short story, and emank bnr ad penyakit kejiwaan seperti ni.. I know about her feeling :).. saran gue lbh baik ikut terapis, lumayan bikin cekak sih tp it works :)

Tinggalkan Komentar