KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Surat Terakhir Vendra

Dear Ayu

Gimana kabarmu dan keluarga? Sehat-sehat saja? Aku harap kamu sekeluarga sehat wal afiat. Oh ya, bagaimana kabar Ibumu? Apa Beliau sudah cukup kuat untuk berjalan-jalan keluar rumah? Atau malah, Beliau sudah cukup kuat untuk menemani kamu jogging, seperti yang biasa Beliau lakukan dulu, sebelum sakit. Pokoknya, aku disini selalu berdoa agar Beliau bisa cepat pulih dari sakitnya.

Yu, aku mau minta maaf sama kamu. Soal surat kamu yang kemarin. Maaf ya, maaf banget. Aku baru bisa balas surat itu sekarang. Waktu surat kamu datang, aku dan ibuku sedang dalam perjalanan ke rumah nenekku di Ternate. Itu lo, nenek yang biasa aku ceritakan padamu, nenek yang selalu mengajak aku naik dokar waktu aku kecil dulu. Kamu masih ingat?

Beliau sakit keras, dan di Ternate tidak ada yang mengurus Beliau. Anak-anak nenek yang lain, yang berarti adik-adik Ibuku, kebetulan sedang dinas ke luar kota. Otomatis, Ibuku, sebagai anak tertuanya wajib menemani beliau. Ibuku juga sudah memutuskan untuk menetap disana. Nah, setibanya aku di Nabire, surat kamu sudah ada begitu saja di meja belajarku. Mungkin ayahku yang meletakkannya. Tenang saja, Yu. Surat itu masih tersegel rapi kok. Belum pernah dibuka sekalipun.

Hmm…, mungkin kamu marah sekali padaku ya? Karena aku tidak juga membalas suratmu. Padahal sudah tiga minggu sejak surat itu datang. Tidak apa-apa kok, wajar kalau kamu marah sama aku. Aku juga pasti akan ngambek kalau suratku sampai tidak dibalas sama kamu. Pasti kamu juga bingung, kenapa sampai selama itu aku tidak membalas suratmu. Tapi nanti kamu akan tahu, setelah kamu membaca suratku yang panjang ini hingga akhir.

Aku harap kamu tak akan bosan membacanya. Karena didalam surat ini, banyak isi hatiku yang ingin sekali kukatakan padamu. Banyak perasaan yang ingin aku tunjukkan padamu. Kali ini, aku akan jujur, aku tidak akan menutup-nutupi semuanya. Makanya tolong baca suratku ini hingga akhir, please…

Kamu tahu Yu,

Aku disini kangen banget sama kamu, Yu. Aku kangen sama suaramu, aku kangen sama senyummu, aku kangen sama semua yang ada di dirimu. Aku juga kangen sama cerewetmu. Aku ingin peluk kamu. Aku ingin kamu berada disampingku barang sejenak saja. Cup! Aku rindu sekali padamu.

Aku juga rindu pada kota Malang yang asri dan teduh ini. Apa kamu masih ingat, saat pertama kali aku ngapel kerumahmu yang ada di daerah Batu, Malang, aku menggigil kedinginan. Aku dipersilahkan masuk oleh Ayahmu, dan saat Ayahmu menjabat tanganku, Beliau terlonjak kaget, karena tanganku sedingin es.

Sebenarnya aku sedikit berbohong padamu dan Ayahmu. Sebenarnya aku baru kali pertama itu menginjakkan kaki ke kota Malang. Aku nekad pergi kesana demi kamu. Karena kau kangen sama kamu.

Kalau diingat-ingat lucu juga ya. Ketika itu aku pergi ke rumahmu hanya pakai kaos lengan pendek dan celana jeans saja. Tanpa syal maupun jaket. Padahal saat itu, Malang sedang diguyur hujan yang sangat deras.

Kali dibelakang rumah kamu aja sampai meluap waktu aku melewatinya. Tapi aku tetap mekad pergi kerumahmu. Karena apa? Karena aku sayang sama kamu.

Aku tahu, mungkin kamu menganggap kata ‘sayang’ ku barusan hanya sekedar rayuan saja. Tapi itu bukan rayuan Yu, itu tulus dari dasar hatiku. Aku tidak ingin kata-kataku terdengar gombal ditelingamu. Aku bukan seperti cowok-cowok lainnya yang hanya bisa merayu saja, hanya bisa gombal belaka. Aku sangat sayang sama kamu, Yu.

Dulu kamu sering bertanya padaku. Apa yang aku sukai dari kamu. Dan apa jawabanku? Yap, aku hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan kamu. Senyuman kamu. Itu jawabannya. Itu yang pertama kali membuat aku suka sama kamu. Pertama kali aku melihat kamu masuk dalam organisasiku, aku masih biasa saja. Belum ada perasaan-perasaan yang berkecamuk dalam hatiku setiap bertemu kamu saat itu. Aku hanya menganggap kamu adik kelasku yang manis. Hanya itu. Namun saat aku melihat kamu tersenyum (apalagi saat tersenyum padaku), perutku langsung jumpalitan tidak keruan, aku langsung jatuh cinta padamu. Kamu tambah manis kalau tersenyum, Yu. He..he..he.. Tak disangka, ternyata temanku, Dimas, juga naksir sama kamu. Huf! Aku sempat depresi saat Dimas bilang bahwa dia suka sama kamu dan akan menyatakan perasaannya padamu. Aku pikir, kalau Dimas nembak kamu, kamu pasti akan menerima cintanya. Dimas itu sudah sangat perfect bagiku. Cakep iya, pintar iya, kaya juga iya. Sedangkan aku, jelas kalah pamor kalau dibandingkan dengan Dimas. Akhirnya hari yang kutakutkan datang juga. Hari dimana Dimas menyatakan cintanya padamu, di pentas seni sekolah kamu yang kemarin itu. Lebih dari itu, aku tambah surprise, ternyata kamu menolak cintanya. Yes…yes…yes…! Dua minggu setelah insiden penolakan kamu (oh ya, Dimas sampai stress loh, gara-gara ditolak kamu, aku dengar sih dia baru kali ini ditolak sama cewek. Lucu ya) aku memutuskan untuk melakukan hal yang sama dengan Dimas. Nembak kamu. Dengan modal yang minim (tanpa rayuan pulau kelapa), aku lega bisa mengutarakan perasaanku padamu. Kamu menyambut perasaanku. Aku merasa jadi cowok paling berbahagia didunia ini. Hohoho… Terima kasih, Yu.

Ayu…, Ayu

Tentu saja aku senang kamu mau menyambut perasaanku. Kamu itu pacar pertamaku lho! Aku sudah bilang belum? Dan seperti kisah cinta di negeri dongeng, kita menjalani hubungan ini dengan penuh kebahagiaan. Setidaknya itu menurutku.

Aku selalu berusaha membuat kamu tersenyum padaku. Aku selalu berusaha membuat kamu bahagia disampingku. Aku ingin kamu pegang janjiku yang dahulu. ‘ Kalau kamu bahagia, aku pun ikut bahagia’. Aku tak peduli seberapa menderitanya aku, seberapa sakitnya hatiku, asalkan kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku. Aku tak ingin membuat kamu tersiksa ataupun tertekan jika pacaran denganku.

Aku ingin jujur padamu Yu, sebenarnya aku bisa membaca pikiran orang lain. Entah kamu percaya atau tidak, tapi orang-orang seperti aku, yang memiliki kemampuan seperti itu, memang ada Yu. Aku benar-benar memiliki kemampuan itu.

Entah kamu percaya atau tidak, aku mendapatkannya dari kakakku. Yang sekarang sudah terlelap dalam keabadian. Dia sudah mewariskan dua hal padaku. Salah satunya kekuatan itu, dan yang satunya … nanti kamu juga akan tahu. Dalam surat ini aku akan buktikan padamu bagaimana aku membaca pikiranmu. Semua yang aku tahu dari pikiranmu, akan kuungkapkan disini, semuanya. Semoga seluruh bukti ini dapat membuat kamu percaya bahwa aku memiliki kemampuan itu.

Ayu…sayang

Aku tahu kok, kalau kamu itu sebenarnya tidak benar-benar mencintaiku. Iya kan? Aku bisa melihatnya dari bola matamu. Bukankah aku pernah berkata padamu, ‘ Mata berbicara mewakili hati seseorang’. Aku membaca sifatmu lewat suaramu, aku membaca pikiranmu lewat bola matamu, dan aku membaca perasaanmu lewat hatimu. Aku tahu perasaanmu yang sebenarnya terhadapku. Aku pun tahu, bahwa kamu ternyata menyasal telah menolak Dimas. Benarkan? Aku benar-benar bisa membacanya Yu, percayalah. Kamu baru sadar kalau ternyata kamu menyukai Dimas, setelah kamu jadian sama aku. Kamu baru sadar kalau selama ini kamu memang menyukainya. Sebenarnya kamu rindu kan, sama senyum Dimas yang manis itu, dan pandangan matanya yang selalu melihatmu dengan hangat? Kamu harus bisa jujur pada dirimu sendiri Yu. Aku pun saat ini sedang mencoba jujur pada perasaanku sendiri. Seharusnya, saat kamu mulai sadar bahwa kamu mencintai Dimas, seharusnya saat itu pula kamu mengakhiri hubungan kita. Seharusnya saat itu pula kamu bilang padaku kalau kamu ingin kita putus saja. Tapi kamu baik Yu, sangat baik malah. Kamu tidak meminta padaku untuk mengakhiri ini semua, kamu hanya diam saja, kamu tetap menjalaninya walau dengan setengah hati. Kamu memang baik Yu. Tapi apa kamu tahu, kebaikanmu itu justru menyiksaku. Didalam hatiku ini, aku terus berharap bahwa suatu saat nanti, kamu akan melupakan Dimas, dan berpaling padaku, seiring dengan berjalannya waktu. Aku bersabar menanti hari itu tiba, bersabar dan terus bersabar. Sayangnya, hari yang kunantikan itu tak kunjung tiba. Kemudian aku sadar, bahwa hari itu tak akan datang padaku. Selamanya. Kamu tak mungkin mencintaiku, kamu tak mungkin melupakan Dimas dan berpaling padaku. Aku sedih Yu, saat tersadar akan hal itu. Hatiku menangis jika mengingatnya. Dan aku teringat janjiku padamu. Aku menginginkan kebahagiaanmu. Selama kamu terikat padaku, kamu tak akan bahagia. Saat kamu bersamaku, aku selalu ingin memintamu untuk terus tersenyum padaku. Tapi itu tak bisa kulakukan. Aku tahu aku sudah kalah. Aku tahu aku tak mungkin bisa menggantikan posisi Dimas dihatimu. Aku sudah tak mungkin lagi mendapatkan hatimu. Aku tahu sudah tak ada ruang lagi untukku. Karena aku bisa merasakannya. Semakin hari kamu semakin tersiksa saat bersamaku.semakin hari kamu semakin sadar kalau kamu mencintai Dimas.

Maaf, Yu…

Selama ini aku terlalu egois, lebih mementingkan diriku. Aku bahkan tidak menghiraukan perasaanmu. Aku terlalu ingin memiliki dirimu, padahal kamu tak pernah bahagia bersamaku. Aku sudah berpikir tentang hal ini sepanjang waktu. Maaf Yu…tapi, aku ingin kita putus saja. Maaf. Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu, dan sepertinya hanya Dimas yang bisa memberikannya. Kamu akan menderita bila tetap bersamaku. Maaf ya, Yu… Ada satu hal lagi yang ingin aku kamu tahu. Sudah empat tahun ini aku sakit Yu, sangat sakit. Aku sangat menderita karena penyakit ini. SIROSIS-Pengerasan Hati. Hahaha… rupanya ini yang juga diwariskan oleh kakakku tercinta. Dia baik sekali mau mewariskan sakitnya padaku. Dia…, baik, sangat baik. Hingga detik ini aku masih membencinya. Aku sangat membencinya. Dia begitu tega menghancurkan kehidupanku, mematahkan cita-citaku. Dia tega sekali Yu… Sama seperti aku membencinya, ternyata dia juga sangat membenciku. Aku tak tahu apa alasannya, yang jelas dia tidak pernah menganggapku sebagai adiknya. Dia tidak pernah memandangku dengan hangat. Kebencian selalu terpancar di matanya. Lebih-lebih saat memandangku. Sampai akhir hidupnya, aku berusaha keras untuk menghilangkan kebencianku padanya. Aku mencoba untuk lebih sayang padanya, terutama pada saat-saat terakhirnya di rumah sakit itu. Kulakukan segala cara. Percuma. Api kebencian itu terus berkobar di matanya. Aku menyesal sempat merasa kasihan saat ajal mendekatinya. Pada mulanya aku tak tahu jika dia memberiku sakit ini. Sekarang, setelah aku tahu, kebencianku melebihi kebenciannya padaku. Tapi aku bisa apa? Penyakit ini sudah bersarang di tubuhku. Aku hanya bisa pasrah, Yu. Menunggu waktuku habis. Aku menangis meratapi kehidupanku. Aku menangis mengingat orang-orang yang kusayangi, orang tuaku, nenekku, sahabatku, dan kamu, akan pergi menjauh dariku. Yang aku tahu, jika kematian telah datang pada seseorang, maka orang tersebut tak akan bisa bertemu lagi dengan orang yang dikasihinya. Jika kematian telah datang, maka orang itu akan berada ditempat yang sangat jauh, sendiri, untuk selamanya. Aku sangat takut…

Aku takut mati, Yu…

Aku sangat takut, jika masaku didunia ini telah habis. Orang tuaku, seluruh keluargaku, tak kuberitahu tentang penyakitku yang mematikan ini. Aku kasihan pada mereka. Lebih-lebih ibuku. Aku tak ingin Beliau merasakan kepedihan yang sama, untuk kedua kalinya, kehilangan anak mereka, dengan penyakit yang sama pula. Aku kasihan pada mereka. Awalnya aku pun tak ingin memberitahumu. tapi kamulah satu-satunya gadis yang kucintai. Aku pikir, kamu berhak tahu akan hal ini. Jangan menangis, Yu… Aku ingin meminta tolong padamu. Kamu mau kan, mengabulkan permintaan terakhirku ini? Tolong Yu, jagalah keluargaku. Sering-seringlah mengunjungi mereka, paling tidak, sampai mereka tenang. Hibur mereka jika waktu itu tiba. Karena aku tahu, aku tak akan sempat bertemu mereka lagi. Tolong…

Satu hal lagi Yu,

Satu hal lagi yang ingin kuberitahukan padamu. Saat kamu membaca suratku ini, mungkin aku sudah pergi. Tolong katakan pada keluargaku, jangan bersedih. Kamu juga, jangan menangis terus.doakan aku ya, Yu… agar jalanku bisa lancar. Tolong, jangan pernah lupakan aku. Kenang aku selalu dihatimu. Semoga kamu bahagia bersama Dimas. Akhirnya selesai juga. Selesailah semuanya. Terima kasih kamu telah mau membaca suratku hingga akhir. Aku benar-benar berterima kasih padamu. Keinginan terakhirku tercapai sudah. aku ingin mati di tanah kelahiranku ini, dan itu sudah tercapai, akan tercapai sebentar lagi. Aku bisa tenang sekarang. Terima kasih, Yu… Terima kasih atas semuanya Terima kasih atas segala yang pernah kamu berikan untukku. Aku sangat menyayangimu.

Nabire, 31 Januari 2007

Your beloved,

Vendra M.

Surat itu kini telah basah oleh air mata. Ayu meremas surat itu, dan mendekapnya erat-erat. Ayu jatuh terduduk, menangisi kematian Vendra, orang yang pernah sangat berarti baginya. Disampingnya, tergeletak berlembar-lembar foto. Foto-foto Vendra di Nabire, Papua. Mata dalam foto itu memandangnya dengan sayu. Mata yang memancarkan kesedihan yang amat sangat.

Vendra sudah pergi.

4 Responses to “Surat Terakhir Vendra”

  1. on 12 Feb 2007 at 10:03resthie agustini

    sediiiiiiiiiiiiihhh bgt, hiks…hiks…. ceritanya BAGUS, KEREN ABIZZZZZ

  2. on 05 Apr 2007 at 18:15naL

    T.T gw koQ jadi berasa mau nangis yaaahhh… T.T … padahaL gw suLit bgt daLam haL menangis…

  3. on 13 May 2007 at 12:27ayu

    Cerpenmu keren bgt . Mg menang deh , tapi ingat klo menang jangan lupa bagi - bagi ma aku cz kamu udah motret secuil dari kehidupanku . hi3x

  4. on 31 Mar 2009 at 15:05vEndrA

    critA ny bAgus n mEnArik..

    mbuAt Qt tErmEhEk - mEhEk..

    tpi VENDRA ny kOq mti sich, Q kn msih bErnAfAs niE(hEhEhE)

    diAngkt jdi fiLm dunkz..!!
    pAsti bnyk yg sukA..

    vEnd_

Tinggalkan Komentar