KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Seline

Tahukah engkau bahwa kesabaran seorang wanita sangatlah panjang…tahukah kau bahwa ada seseorang yang selalu menanti akan datangnya hari kebahagian…hari di mana dua hati yang berbeda akan menjadi satu…

Malam itu cuaca di kota Ankara, Turki terasa sangat dingin. Sejauh mata memandang, hanya terlihat butir-butir salju yang jatuh dari langit dan pepohonan yang membeku. Jarang terlihat hilir mudik mobil dan bus yang biasanya melewati tempat itu. malam itu adalah malam tahun baru. Semua orang sedang sibuk merayakan tahun baru bersama para kerabat dan handai taulan. Hanya ada beberapa orang saja dan mobil saja yang terlihat melewati kota itu.Di tengah suasana sepi yang menyelimuti kota Ankara, samar-samar terlihat seorang wanita yang duduk di sebuah kursi panjang, di tepi danau. Wanita cantik berambut hitam dan bermata biru itu tengah menunggu datangnya seseorang. Seseorang yang sudah di tunggunya selama 10 tahun lebih dan merupakan bagian dari hidupnya. seseorang itu adalah Kekasihnya, Levent.

Seline apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini? tanya seorang pria muda berpakaian hitam kepada wanita itu. Seline, begitulah nama wanita cantik tersebut, hanya tersenyum danberkata: “aku sedang menunggu Levent”. Mendengar jawaban dari Seline, pria muda yang bernama Hasan dan merupakan kakak dari sang kekasih, Levent itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang. Ia kemudian berjalan menghampiri Seline dan menggenggam tangannya. Seline, hentikanlah semua ini. Levent tidak akan kembali. dia sudah meninggal. Kau masih muda dan cantik, lanjutkanlah hidupmu. ujar Hasan. Seline menatap Hasan dengan tatapan mata yang sedih. Tidak apa, Levent  pasti akan kembali, ia masih hidup. Jawab Seline dengan senyum yang di paksakan.

Hasan kembali menghela nafas panjang, pandangannya menerawang, lalu di hisaplah rokoknya dalam-dalam.  Sampai kapan kau akan menunggunya? Levent sudah meninggal sejak 10 tahun yang lalu. Ia sudah tewas bersama para wartawan lain di Irak. Kali ini Hasan berkata dengan nada yang agak tinggi. ia merasa kasihan melihat mantan tunangan adiknya yang terus setia menunggu Levent. Lagi-lagi Seline hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia masih percaya dengan janji Levent yang akan kembali padanya. Melihat sikap Seline yang tetap keras kepala, Hasan pun pergi dan meninggalkannya sendirian.

Malam semakin larut dan udara pun menjadi semakin dingin. Begitu dinginnya sampai terasa menusuk persendian. Namun seline tetap tidak bergeming dari tempatnya. ia masih teringat akan janji yang di ucapkan levent 10 tahun yang lalu. Seline, suatu hari nanti aku akan kembali bersamamu. Karena itu tunggulah aku. Aku pasti akan kembali. Itulah kata-kata terakhir yang di ucapkan oleh Levent 10 tahun yang lalu, ketika ia hendak di kirim oleh kantor tempat ia bekerja untuk meliput perang teluk antara Kuwait dan Irak. Sejak saat itu Seline tidak pernah mendengar kabarnya darinya. Satu-satunya kabar yang ia terima adalah Levent telah hilang bersama para wartawan lain ketika bertugas di Irak. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Seline untuk tetap menunggu datangnya sang kekasih. Ia masih percaya bahwa suatu saat Levent akan kembali padanya. karena itulah ia tidak membuka hatinya untuk pria lain. Tak pernah pula ia menerima tawaran sesorang yang datang untuk melamarnya. karena baginya cinta adalah kesetiaan.

Waktu terus berjalan dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Seline pun tak kuasa menahan lelah dan kantuk yang menggelayutinya. Ia pun bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke arah jalan setapak yang terdapat di tengah-tengah taman yang berada di tepi danau tersebut. Pandangannya tertunduk lesu. Perasaan putus asa mulai menggelayutinya. Terngiang-ngiang di telinganya kata-kata Hasan tadi. Levent tidak akan kembali. Dia sudah meninggal.

 Mungkinkah levent tidak akan kembali? Sia-siakah penantianku selama ini? Gumamnya dalam hati. Butir-butir air mata pun mulai jatuh membasahi pipi. Tak berapa lama setelah ia berjalan, dirinya mendengar suara jeritan Levent dari arah danau. Tolong…tolong aku…. Terkejut dirinya mendengar suara itu. Ya Tuhan itu suara levent…ia masih hidup. Seline pun berlari ke arah suara teriakan itu berasal dan terkejutlah dengan apa yang dilihatnya. Levent, ia masih hidup dan tengah berada di tepi danau bersama dengan seorang laki-laki yang hendak menenggelamkannya. Tampaknya laki-laki yang memakai topeng dan berpakaian serba hitam itu hendak membunuhnya.  Lepaskan dia…..pekik Seline histeris. Dalam keadaan panik, di ambilnya sebuah batang kayu besar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri dan ia pun berlari ke arah danau untuk menolong Levent.

Melihat Seline berlari untuk menolong Levent, pria bertopeng itu segera melepaskan Levent dan mengambil sebilah pisau yang ia sembunyikan di dalam jaketnya. Lalu ketika seline mendekatinya di hujamkannya pisau itu ke tubuh seline. Crashh…darah mengucur dari tubuh Seline. Pisau itu mengenai lengan kanan Seline dan batang kayu yang semula di genggamnya dengan erat pun terlepas. Ahh….teriak Seline kesakitan sembari memegang tangannya. Terlihat olehnya Levent, sang kekasih tengah mengambang di air. Mungkinkah ia meninggal? Pikir seline.

Pria bertopeng itu kemudian mencekik leher seline dan berusaha menenggelamkannya di air. Nafasnya terasa sesak dan ia pun meronta-ronta untuk melepaskan diri. Tapi sepertinya sia-sia saja. Cengkraman tangan pria itu sangat kuat, sehingga sangat sulit baginya untuk melepaskan diri. Sementara itu darah terus mengalir deras keluar dari lengannya. Dalam sekejab air di sekitarnya berubah menjadi merah.Perlahan tubuhnya mulai terasa lemas, tak berdaya. Ingin rasanya ia memejamkan mata. Namun belum sempat ia memejamkan mata, tiba-tiba saja terlihat levent yang berada di tepat di depannya. Kali ini Levent memakai pakaian serba putih dan ia menatap Seline dengan wajah bahagia. Aku sudah menepati janjiku seline. Aku kembali. Ujar Levent dengan senyum manis. Levent…kau telah kembali…gumam Seline dalam hati.

Tiba-tiba saja pria bertopeng melepaskan cengkraman dan hilang entah kemana. Melihat musuhnya telah melepaskan cengkraman tangannya seline pun bergegas keluar dari dalam air dan berlari menuju ke tepi danau. Nafasnya tersengal-sengal. Ia ketakutan. Untuk sesaat ia merasa panik dan ketakutan, sehingga ia lupa bahwa Levent mungkin masih berada di tengah danau bersama dengan pria bertopeng itu. Setelah menyadari bahwa Levent tidak berada bersamanya, Seline pun kembali menjerit-jerit dengan histeris. Ia menjerit-jerit memanggil nama Levent dan berlari kembali ke tengah danau sembari mencari Levent. Tak berapa lama kemudian matanya pun terpejam dan ia pun tak sadarkan diri.

Beberapa hari kemudian terlihat para polisi berada di sekitar wilayah danau. Pita-pita larangan berwarna kuning di rekatkan di sekitar wilayah danau. Di sana-sini terlihat para tim penyelamat sibuk melakukan penyisiran di tengah-tengah danau. Di tengah-tengah hiruk pikuk para polisi yang sibuk melakukan penyisiran dan pengamanan. Tampak Hasan, kakak dari levent, yang juga kepala polisi di kota Ankara, tengah berbicara dengan salah seorang petugas polisi. Sepertinya adik anda meninggal akibat cekikan pada bagian leher dan sabetan pisau pada bagian lengan.  Luka pada bagian lengan itulah yang membuatnya kehilangan banyak darah dan mengakibatkan kematian. Sedangkan pembunuh itu meninggal akibat serangan jantung yang menimpanya dan keduanya pun tenggelam di dasar danau. Ujar petugas forensik tersebut.

Apakah kau bisa menentukan waktu kejadian ketika adikku di bunuh? Tanya hasan. Ya, hasil sementara dari otopsi menunjukkan bahwa adik anda sudah meninggal kira-kira 8-10 tahun yang lalu. Jawab petugas itu datar. 10 tahun? Bagaimana mungkin? Kau lihat sendiri kan bahwa jasad adikku masih utuh dan mengambang di tengah danau? Tanya Hasan keheranan. Air danau yang dingin telah mengawetkan jasad adik anda dan menurut keterangan para saksi mata, wanita yang bernama Seline itulah yang berhasil menemukan jasad si pembunuh dan adik anda. Ia berteriak-teriak seperti orang gila sembari memangil nama Levent, sebelum akhirnya menceburkan diri ke tengah danau dan menemukan kedua jasad tersebut. Ujar petugas tersebut. Maksudmu dia seperti orang yang kerasukan? Kejar hasan dengan tanda tanya. Ya bisa di bilang begitu. Tapi sudahlah. Toh setan atau hantu tidak bisa di jadikan bukti dalam kasus ini. Jawab sang petugas datar. Ya, kau benar. Mungkin ia hanya depresi. Meskipun begitu aku sangat berterima kasih padanya,karena telah membantuku dalam menemukan adikku. Balas Hasan dengan tatapan mata sedih.

Setelah selesai berbicara dengan sang petugas, ia pun bergegas menuju ke arah seline yang sedari tadi berada di pinggir danau dan menatap jauh ke tengah danau, tempat di temukannya jasad Levent. Kau benar-benar hebat bisa menemukan jasad adikku. Tanpa bantuanmu, aku tidak akan pernah tahu kalau adikku meninggal akibat di bunuh oleh rekan kerjanya sendiri. Padahal selama ini aku mengira bahwa Levent tewas terbunuh dalam perang di rak. Ternyata ia selamat dalam perang tersebut dan di bunuh oleh rekan kerja yang iri terhadap kesuksesannya. Ujar hasan sambil memeluk seline. Seline hanya memandang ke arah Hasan dengan pandangan yang tertunduk lemas. Ia telah menepati janjinya. Ia datang kepadaku. Bisik Seline pelan.

Mendengar ucapan Seline, Hasan hanya bisa tersenyum kecut. Ia sangat sedih melihat kondisi Seline yang depresi dan sering berhalusinasi stelah menemukan jasad Levent. Di genggamnya tangan Seline dengan erat lalu di bawanya Seline pergi meninggalkan tempat itu. Ketika ia sedang berjalan menjauhi arah danau, tiba-tiba saja pandangannya terbentur ke tengah danau yang berkabut. Entah halusinasi atau bukan, ia seakan-akan melihat sosok Levent tengah berdiri di atas air dengan mengenakan pakaian serba putih. Wajahnya tersenyum bahagia. Seakan-akan ingin mengucapkan terima kasih kepada Hasan dan Seline. Perlahan sosok itu pun pergi dan lenyap di telan kabut. Tinggallah Hasan yang berurai air mata. ia tak mampu lagi menahan kesedihan karena kehilangan seorang adik yang sangat di cintainya. Ya, kau benar Seline. ia telah kembali. Penantianmu tidak sia-sia. Ia telah kembali bersama kita. Ujar hasan sembari menatap ke arah Seline dengan senyum yang di paksakan. Lalu keduanya bergegas meninggalkan danau dan tidak pernah kembali lagi ke tempat itu selamanya.

TAMAT

2 Responses to “Seline”

  1. on 17 Jul 2007 at 14:40Lina

    adoh sedih kali ceritanya..
    seperti mau menangis ketika membacanya….:

  2. on 28 Apr 2008 at 13:23Angelie

    ceritanya bikin sedihhhhh d

Tinggalkan Komentar