Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on Februari 28th, 2007 No Comments »
Seperti air dan api
Jika aku ibarat air
Kamu ibarat apinya
Seperti siang dan malam
Jika aku ibarat siang
Kamu ibarat malamnya
Seperti gunung dan laut
Jika aku ibarat laut
Kaupun ibarat gunungnya
Kita berbeda, tapi ingin sama
Tapi kita gak bisa bersatu
Karena aku dan kamu memang berbeda
Posted in Puisi on Februari 28th, 2007 No Comments »
Aku baca dengan seksama
Setiap ayat satu per satu
Membuatku merasakan hidup yang dijanji-janjikan
Bukan hanya kata-kata saja
Sepenuh cinta datang padaku
Semua rasa yang sedang kurasakani
Terasa sejuknya
Tiada jemu terus dan terus membaca
Selama mulutku masih berucap
Selama itu ku membaca ayat-Mu
Selama darahku masih mengalir
Amalan ayat-Mu tak pernah berakhir
Semuanya akan ku baca
Tanpa ada keraguanku
Semuanya membuat hidup ini
Semakin bermakna
Tiada ragu untuk amalkan ayat-Mu
Tiada lelah dan tiada berhenti
Ikuti jalan-Mu
Permanent link to this post (79 words, estimated 19 secs reading time)
Posted in Cerpen on Februari 27th, 2007 No Comments »
Waktu itu jam 9 malam. “wan” terdengar teguran dari arah belakang iwan. 2 orang anak muda sedang menuju arah iwan. Hery dan Toto. Mereka barusan keliling areal perumahan, itu memang pekerjaan mereka. “ jaga malam”. Setiap malam mereka bertugas jaga komplek.
Kedua lelaki yang baru datang itu duduk disamping iwan sambil memperhatikan disekelilingnya.
Posted in Puisi, Kelam on Februari 26th, 2007 2 Comments »
kegelapan malam adalah atapnya
udara dingin adalah selimutnya
dengan lelap dia tertidur
alunan nafasnya bak gamelan jawa
tenang dan pelan
dengan perut yang lapar dia mampu tertidur lelap
mengumpulkan kekuatan untuk hari esok yg berat
ditengah matahari yang terik
dia berkeliling
tak peduli tatapan jijik
umpatan memaki
dengan suara yg sengau
dia mencoba menghibur
mata-mata yg masih punya belas kasih
Posted in Puisi on Februari 26th, 2007 No Comments »
Ketika aku masih kecil selalu ada sepasang tangan menjagaku…
Ketika aku beranjak remaja ku tahu masih ada sepasang tangan menjagaku, meski kali ini mulai menjauh dariku…
Ketika aku dewasa sepasang tangan itu tetap setia menjagaku namun semakin menjauh…
Tetapi, aku tahu sampai seberapapun usiaku…
Sepasang tangan itu kian menjaga, membelai, memberi tanpa bosan…
Sampai kapanpun aku selalu mencintai sepasang tangan itu..
Ya Allah
Kami hanyalah rakyat kecil yang dianggap tidak berguna, ya Allah
Kami hanyalah pemilih terdaftar yang hanya dianggap angka, ya Allah
Dan kami tidak tahu siapa sebenarnya yang benar-benar membela kami, ya Allah
Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang peduli dengan nasib kami, ya Allah
Kami hanyalah kaum tertindas
Kami hanyalah kaum melarat
Dan kami hanya mengharapkan pertolongan dari-Mu, ya Allah
Hanya Kau yang dapat membela kami
Hanya Kau yang peduli dengan nasib kami
Dan hanya Kau yang berkuasa dan berkehendak atas segala sesuatu
Oleh karena itu, ya Allah
Dengan segala ketidakberdayaan kami
Kami tidak meminta sesuatu yang muluk dari-Mu, ya Allah
Dengarkanlah doa kami, ya Allah
Karena kami yakin Kau pasti mendengar
Tidak sekedar mendengar
Tapi kami yakin Kau pasti mengabulkan
Karena kami termasuk kategori orang-orang yang teraniaya, ya Allah
Kami mohon pada-Mu dengan semohon-mohonnya
Bunuhlah para koruptor yang telah merampas hak kami, ya Allah
Bunuhlah para pejabat keparat yang tega membuat rakyat semakin melarat, ya Allah
Bunuhlah para politisi busuk yang telah menipu kami saat Pemilu dan Pilkada, ya Allah
Bunuhlah para konglomerat bejat yang telah merampok uang rakyat dan kabur ke luar negeri, ya Allah
Bunuhlah para pembalak liar yang telah merusak hutan serta menyebabkan banjir dan tanah longsor dimana-mana, ya Allah
Bunuhlah para pengelola transportasi yang hanya mementingkan keuntungan tapi tidak peduli dengan keselamatan penumpang, ya Allah
Bunuhlah mereka yang telah membuat sinetron, infotainment dan acara-acara yang tak bermutu lainnya di televisi, ya Allah
Kami hanya berharap pada-Mu, ya Allah
Karena Kau-lah satu-satunya harapan kami
Please Allah
Permanent link to this post (254 words, estimated 1:01 mins reading time)
Posted in Puisi on Februari 25th, 2007 No Comments »
Namanya sepi,
Aku–kita berjalan
Bertiga
Gedung-gedung kusam
Sudah lama mereka mencongkel matanya sendiri
Tidak sanggup (lagi) meratapi
Debu dan asap berkepulan
Rumah Cinta-Padang, 1206-07
tamat
Permanent link to this post (27 words, estimated 6 secs reading time)
Posted in Puisi on Februari 24th, 2007 No Comments »
buat gadis manis
kepada kasih
di pohon jambu,
ada dedaunnya;
setingkap merapuh terpukul angin
jatuh tersungkur merebah di tanah
di kata tak ada arti!
kepadamu …
kau tak tahu
selembar tubuhnya dari tulang halus
penuh inspirasi dari sekubur kenangan.
beri:jalan-jalan imajinasi cerita cinta
sukar tuk di tulis kelam untuk berucap.
Posted in Puisi on Februari 24th, 2007 No Comments »
Serigala-serigala kesepian,Berlari melintas hutan kekosongan, dan sebuah kehampaan.
Serigala-serigala liar dan lapar,
Mereka mencoba melolong keras.
Mereka haus dan lapar,
Mereka tidak haus akan darah segar,
Mereka tidak lapar akan daging mentah,
Mereka hanya lapar akan sebuah kasih, sayang dan kepedulian.
Serigala-serigala kesepian,
Pagi itu sang surya bersinar dengan kemilau yang indah, cahaynya pun terasa menghangatkan. kabut yang semalam menghiasi desa Al-wadi telah hilang. Sebagai gantinya tampak embun bertaburan membasahi dedaunan. Kriing…terdengar jam weker berdering keras membangunkan pemiliknya. Wah… sudah jam 6 pagi, saatnya untuk menghirup nafas pertama. ujar farah, gadis cantik pemilik rambut hitam dan mata biru, sambil menyibakkan rambut sunsilknya yang tergerai tak karuan. Di raihnya sisir yang tergeletak di meja kecil, yang terletak di samping tempat tidur. Di rapihkanlah rambutnya, lalu ia bergegas menuju ke arah balkon kamar. Setibanya di sana, di hiruplah udara segar dalam-dalam lalu di hembuskannya. Aaahh…terasa sangat menyejukkan….