Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Waktu berjalan walau perlahan
Terasa dihati cepet dan tak mau kompromi
Daun-daun hijau mulai mengering
Jatuh berguguran satu persatu
Berserakan dibumi tersingkir oleh angin
Tak ada guna lagi semua rasakan itu, tapi adakah cintaku seperti itu?
Ada kegelisahan timbul dalam hatiku
Posted in Puisi on Januari 18th, 2007 No Comments »
Di sini, di pelabuhan
Aku masih menunggu perempuanperempuan
Yang tak tahu lagi jalan untuk pulang
Jalan yang diputus arus
Dan digulung gelombang yang menggerus
Namun, tiba-tiba dari kejauhan
Seperti ombak, mereka tiba bergelombang
Menitipkan cemas pada sayap burung terbang
Rima belantara di pinggiran kota
This is a preview of
Perempuanperempuan yang Tak Tahu Lagi Jalan Pulang
.
Read the full post (100 words, estimated 24 secs reading time)
Posted in Puisi on Januari 17th, 2007 No Comments »
Dia datang membawa cinta, kukira!
mengumpulkan pencahan-pecahan hatiku
yang berhamburan dalam dada.
satu persatu..
Dia kemas kembali kepingan hatiku yang benar-benar koyak
bersama waktu yang kuhabiskan disisinya
hingga kusadari hatiku telah berada dalam genggamannya.
dalam binar keindahan hati yang mencinta.
oh tidak..!!
aku jatuh cinta lagi.
Permanent link to this post (47 words, estimated 11 secs reading time)
Posted in Puisi on Januari 17th, 2007 No Comments »
Tertimbun jutaan lara yang mengapung
dalam hati. Rapuh. Peluh. Bimbang. Jatuh?
Satu jiwa telah remuk dalam derita tak berujung
memandang hampa ke padang cakrawala
Kosong
Hampa
Pengap
Kaki seorang pendeta tak lagi utuh
Tulangnya remuk
Dagingnya membusuk dan dikerubungi lalat
: AdamAir & KM Senopati
Gerimis yang menangis
Kembali meneteskan sejarah tragis
Memar cahaya tak nampak lagi di mata
Kenapa?
Apakah sebentar lagi akan terjadi gerhana?
Ingin aku bergegas dari gulita
karena gulita selalu menghadirkan gundah gulana
Berlari menuju sepercik cahaya
Posted in Intermezzo on Januari 16th, 2007 1 Comment »
Olia terus menangis. Menangis, dan menangis. Disampingnya ada Ais yang bingung menenangkannya. “Udah, Li.. Elo enggak pantas nangisin dia! Elo terlalu baik buat dia sakitin! Rendy brengsek!” makinya kesal. “Gue udah tau gue gak akan bisa ngedapetin dia! Mungkin elo bener, dia bukan buat gue.. ” bisik Olia lirih.
Posted in Puisi on Januari 15th, 2007 No Comments »
Hembusan angin menerpa kalbu…
Dinginkan hatiku, kalutkan kesepian mencekam
Ada yang kupikirkan, selalu
Menggulung setiap malam-malamku
Ada yang ingin pergi pada malam
Yang dinginkan hari-hari bergejolak
Datanglah pagi, jika malam selalu buram
Terangilah langit-langit hitam kelam
Sudahlah berjalan tanpa batas
Karena manusia selalu berubah-rubah
Kadang ingin hitam malam, kadang ingin disinari cahaya matahari pagi
Posted in Puisi on Januari 15th, 2007 No Comments »
Dari seutas tali yang terikat
Pada sebuah bingkai jendela
Melilit dilehermu
Tersimpul sebuah kisah yang sama
: seorang bocah yang meminjam selendang milik ibu
selendang yang baunya selalu membuatnya rindu
rindu pada masa ketika digendong ibu.
Maka dilehermu teranyam sebuah beban
Beban yang beratnya melebihi
Menyusuri jalan yang diselimuti kabut tipis itu, ia seperti memasuki lorong-lorong masa silam yang sunyi dan mencekam. Desir angin menggugurkan dedaunan tua diranting pohon. Menari gemulai di udara sebelum tersungkur ke bumi. Menatapnya, seolah ia mendengar himne kematian sayup-sayup sampai.
Posted in Puisi on Januari 13th, 2007 No Comments »
Kala sang surya kembali pulang
Sinarnya sisakan warna tiada bertepi
Menembus di kegelapan malam
Hingga terangi yang tlah tersebunyi
Saat ini bulan purnama
Terasa dekat jika lenganku kuluruskan
Ingin kuraih segala yang ada
Tapi hanya terasa sinarnya menjelma kalbu