KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Januari 2007

Waktu berjalan walau perlahan

Terasa dihati cepet dan tak mau kompromi

Daun-daun hijau mulai mengering

Jatuh berguguran satu persatu

Berserakan dibumi tersingkir oleh angin

Tak ada guna lagi semua rasakan itu, tapi adakah cintaku seperti itu?

Ada kegelisahan timbul dalam hatiku

Di sini, di pelabuhan

Aku masih menunggu perempuanperempuan

Yang tak tahu lagi jalan untuk pulang

Jalan yang diputus arus

Dan digulung gelombang yang menggerus

Namun, tiba-tiba dari kejauhan

Seperti ombak, mereka tiba bergelombang

Menitipkan cemas pada sayap burung terbang

Rima belantara di pinggiran kota

Meiza

Dia datang membawa cinta, kukira!
mengumpulkan pencahan-pecahan hatiku
yang berhamburan dalam dada.
satu persatu..
Dia kemas kembali kepingan hatiku yang benar-benar koyak
bersama waktu yang kuhabiskan disisinya
hingga kusadari hatiku telah berada dalam genggamannya.
dalam binar keindahan hati yang mencinta.
oh tidak..!!
aku jatuh cinta lagi.

Atheis

Tertimbun jutaan lara yang mengapung
dalam hati. Rapuh. Peluh. Bimbang. Jatuh?

Satu jiwa telah remuk dalam derita tak berujung
memandang hampa ke padang cakrawala

Kosong
Hampa
Pengap

Kaki seorang pendeta tak lagi utuh
Tulangnya remuk
Dagingnya membusuk dan dikerubungi lalat

: AdamAir & KM Senopati

Gerimis yang menangis

Kembali meneteskan sejarah tragis

Memar cahaya tak nampak lagi di mata

Kenapa?

Apakah sebentar lagi akan terjadi gerhana?

Ingin aku bergegas dari gulita

karena gulita selalu menghadirkan gundah gulana

Berlari menuju sepercik cahaya

Tolong, Jangan Sakiti Aku!

Olia terus menangis. Menangis, dan menangis. Disampingnya ada Ais yang bingung menenangkannya. “Udah, Li.. Elo enggak pantas nangisin dia! Elo terlalu baik buat dia sakitin! Rendy brengsek!” makinya kesal. “Gue udah tau gue gak akan bisa ngedapetin dia! Mungkin elo bener, dia bukan buat gue.. ” bisik Olia lirih.

Mencari Malam

Hembusan angin menerpa kalbu…
Dinginkan hatiku, kalutkan kesepian mencekam

Ada yang kupikirkan, selalu
Menggulung setiap malam-malamku
Ada yang ingin pergi pada malam
Yang dinginkan hari-hari bergejolak

Datanglah pagi, jika malam selalu buram
Terangilah langit-langit hitam kelam

Sudahlah berjalan tanpa batas
Karena manusia selalu berubah-rubah
Kadang ingin hitam malam, kadang ingin disinari cahaya matahari pagi

Seutas Tali Sehelai Selendang

Dari seutas tali yang terikat

Pada sebuah bingkai jendela

Melilit dilehermu

Tersimpul sebuah kisah yang sama

: seorang bocah yang meminjam selendang milik ibu
selendang yang baunya selalu membuatnya rindu
rindu pada masa ketika digendong ibu.

Maka dilehermu teranyam sebuah beban

Beban yang beratnya melebihi

Menyusuri jalan yang diselimuti kabut tipis itu, ia seperti memasuki lorong-lorong masa silam yang sunyi dan mencekam. Desir angin menggugurkan dedaunan tua diranting pohon. Menari gemulai di udara sebelum tersungkur ke bumi. Menatapnya, seolah ia mendengar himne kematian sayup-sayup sampai.

Bulan Purnama

Kala sang surya kembali pulang
Sinarnya sisakan warna tiada bertepi
Menembus di kegelapan malam
Hingga terangi yang tlah tersebunyi

Saat ini bulan purnama
Terasa dekat jika lenganku kuluruskan
Ingin kuraih segala yang ada
Tapi hanya terasa sinarnya menjelma kalbu

« Prev - Next »